
Rooftop Humanity Corp sudah disulap menjadi tempat akad nikah sekaligus syukuran pernikahan Adisty dan Aidan. Rain menyanggupi mengurusi pernikahan dadakan Aidan dan Adisty yang hanya berselang tiga hari saja saja dari pernikahan Zar. Kebetulan hari ini adalah tanggal merah. Apalagi mereka hanya mengadakan akad dan syukuran biasa saja. Bukan hal sulit untuk mereka.
Sebuah meja akad dengan enam kursi sudah tersedia di bagian depan. Lalu kursi untuk pengantin dengan latar belakang hiasan bunga dan juga kain tipis untuk mempercantik sudah siap. Meja dan kursi bagi tamu yang datang sudah tertata rapih. Kurang dari lima belas menit lagi, acara akad nikah akan dilangsungkan.
Keluarga dua belah pihak sudah datang ke tempat acara. Adisty berada di ruangan yang ada di rooftop, sedang Aidan tengah bersiap di ruang kerja Aslan. Cucu keluarga Hikmat dan Ramadhan juga sudah sampai di rooftop. Mereka terkejut mendengar pernikahan Adisty yang mendadak. Padahal baru beberapa hari lalu gadis itu menolak cinta Aidan, membuat pria itu harus menepati janjinya berjoged di lampu merah.
Zar memandang sekeliling, dia belum melihat mempelai pria di sana. Kemudian matanya menangkap orang tua mempelai pria yang sedang berbincang dengan Azra dan Fathan. Pria itu mendudukkan diri di dekat Irzal.
“Tumben si Aidan ngga ke sini. Biasanya dia ngintilin elo mulu. Apa dia ngga kuat iman dan hati lihat Disty nikah?”
Tak ada jawaban dari Irzal. Pria itu menatap bingung pada kakak iparnya ini. Dia menanyakan pria yang sedang bersiap di lantai bawah. Sadar diperhatikan oleh Irzal, Zar menolehkan kepalanya.
“Kenapa?”
“Lo tau siapa yang dinikahin Disty?”
“Tau.. kan waktu itu gue ada di lampu merah juga.”
“Udah tau, tapi lo masih nanyain Idan juga?”
“Ya basa-basi busuk lah, hahaha.."
Irzal semakin tidak mengerti apa yang dikatakan Zar. Namun pria itu mengabaikan saja apa yang dikatakan kakak iparnya itu. Tak lama kemudian, datang Arya. Sama seperti Zar, pria itu juga mencari keberadaan Aidan. Tidak biasanya pria itu absen dalam perayaan besar seperti ini.
“Aidan mana?” tanya Arya pada Irzal. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya saja, malas menanggapi Arya.
“Si Idan lagi nangis di pojokan sambil ngelap ingus, hahaha..” ujar Zar yang langsung disambut tawa Arya.
Tawa keduanya terhenti ketika melihat calon pengantin pria memasuki rooftop. Mereka memandang lekat-lekat pria yang mengenakan beskap putih dengan samping yang melingkar di pinggangnya. Hampir saja kedua netra pria-pria itu meloncat dari tempatnya ketika mengenali kalau mempelai pria adalah Aidan. Dengan cepat keduanya segera menghampiri Aidan.
“Dan.. ini beneran elo?”
Arya membolak-balik balik tubuh Aidan. Begitu pula dengan Zar. Saking tak percayanya, Zar mencubit pipi Aidan hingga pria itu meringis kesakitan. Dengan kesal pria itu menepak bahu Zar.
“Sakit, monyong.”
“Lo ngapain di sini?” tanya Zar.
“Ya nikahlah. Lo ngga lihat gue pake baju apa?” sewot Aidan.
“Jadi elo yang nikah sama Disty? Bukannya Arga?” tanya Zar bingung.
“Kan elo udah ditolak Disty,” sambung Arya.
“Sorry sorry Jack.. Disty bukan nolak gue, dia cuma ngetes gue doang. Lo juga ngga usah sebut-sebut nama si Arga. Dia itu cuma mantan, tempatnya di tong sampah. Lagian Disty ngga bilang dia mau nikah sama siapa?”
“Disty ngga ngomong apa-apa sama gue. Gue taunya dari Zar,” ujar Arya.
Zar mengingat perbincangannya dengan Adisty saat gadis itu meminta ijin menikah lebih dulu. Sepupunya itu memang tidak mengatakan akan menikahi siapa, namun Zar yakin sekali kalau yang dinikahi Adisty adalah Arga. Pantas saja sepupunya itu mengatakan kalau calonnya itu orang yang baik.
“Aaarrggghhh.. kalo tau calonnya Disty, elo. Ngga bakalan gue kasih ijin nyalip,” kesal Zar.
“Sorry Zar.. kesalahan bukan pada Disty. Tapi sama otak elo, hahaha…”
Aidan segera menuju meja akad ketika melihat pria yang akan menikahkannya sudah sampai. Seorang pria berusia lima puluh tahunan, sudah sampai dan langsung menuju meja akad. Mata pria itu nampak sayu, sepertinya kondisinya kurang sehat.
“Hatchi!”
“Bapak baik-baik aja?” tanya Surya, ayah dari Aidan.
“Biasa, pak. Flu.. dari semalam ini. Badan juga agak meriang. Hatchi!”
“Bagaimana kalau minum obat dulu, pak. Bapak makan aja dulu,” tawar Fathan.
“Hatchi! Hatchi!”
Fathan tak tega melihat wajah sang penghulu yang sedikit pucat, hidungnya memerah karena flu yang dialaminya ditambah bersin-bersin. Dia meminta istrinya mengambilkan makanan untuk penghulu yang akan menikahkan anaknya. Pria itu juga meminta Daffa yang ada di sana untuk membelikan obat.
Penghulu bernama Sulaiman itu mengikuti saja apa yang dikatakan Fathan, dari pada dirinya gagal melakukan tugasnya. Acara akad nikah terpaksa ditunda, karena Sulaiman harus makan dan minum obat lebih dulu. Aidan menjauh dari meja akad, dia mengambil minuman yang ada di meja untuk membasahi kerongkongannya.
“Belum mulai akadnya?” tanya Zar.
“Belum. Penghulunya disuruh makan sama minum obat dulu. Lagi sakit kayanya.”
“Mending batalin aja nikahnya. Kasihan tuh penghulu, kalau sampai dia masuk rumah sakit, tanggung jawab, lo.”
__ADS_1
“Bener tuh. Mending diundur habis gue. Lebih aman, kalau dipaksain sekarang, ngga akan benar deh,” timpal Arya.
“Jangan bilang sama gue. Bilangnya sama Disty. Dia yang minta nikah sekarang.”
“Emang harus banget ya, hari ini? Emang elonya aja yang pengen nyalip gue.”
“Gue emang pengen nyalip elo, Zar. Tapi ngga jadi, pas gue pikir-pikir nyiapin pernikahan kan ngga bisa dalam waktu semalem.”
“Lah ini lo bisa nikung gue?”
“Ya kan cuma akad doang. Ngga pake resepsi. Awalnya kan gue pengen adain resepsi juga.”
“Terus apa yang bikin lo berubah pikiran?” cecar Arya. Pria itu masih kesal karena disalip lagi untuk kedua kali tanpa sen.
“Adisty pengen nikah sebelum Arga dan Maya nikah. Dia males direcokin mulu sama pasangan itu. Si Arga ngotot ngajak Disty balikan.”
“Si Disty putusnya kenapa sih?” tanya Zar. Walau kesal dirinya disalip oleh Aidan. Tapi pria itu bersyukur, sepupunya menikahi pria baik seperti Aidan. Bukan Arga yang brengsek.
“Si Arga udah hamilin Maya.”
“Buset tuh laki minta dibejek. Udah hamilin perempuan lain, mau balikan lagi sama Disty.”
“Nah jelas, kan? Gue nikung ada alasannya loh,” Aidan membela diri.
Perbincangan mereka berakhir, ketika Surya memanggil Aidan. Penghulu yang akan menikahkannya sudah selesai makan dan minum obat. Pria itu duduk berhadapan dengan Fathan. Sulaiman masih memeriksa dokumen. Sesekali pria itu mengusak hidungnya yang masih terasa gatal.
“Pengantin sudah siap?” tanya Sulaiman dengan mata sayu dan suara lemah.
“Sudah, pak,” jawab Aidan mantap.
“Silahkan pak.”
Sulaiman melihat pada Fathan. Mendengar ucapan Sulaiman, Fathan segera menggenggam tangan Aidan. Baru saja pria itu mengucapkan kalimat ijab kabul, Sulaiman menginterupsi tiba-tiba.
“Ananda Muhammad Aidan Basman, saya nikahkan..”
“Hatchi! Maaf.. pak.. silahkan lanjut.”
“Ananda Muhammad Aidan Basman, saya nikahkan engkau dengan putri saya..”
“Hatchi!”
“Gimana, pak? Aman?” tanya Fathan.
“Aman. Maaf atas gangguannya. Silahkan lanjutkan.”
“Ananda Muhammad Aidan Basman, saya nikahkan engkau dengan putri saya, Aidsty Danurdara Hikmat dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan kalung seberat 25 gram dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Aidisty dengan mas kawin..”
“Hatchi!”
Acara ijab kabul kembali terhenti. Aidan tak bisa melanjutkan kalimatnya, karena terkejut mendengar suara bersin Sulaiman. Pria itu melemparkan senyuman kikuk. Tak enak hati sudah mengganggu akad nikah dengan suara bersinnya.
“Maaf.. maaf… silahkan lanjutkan.”
Sulaiman mengusak hidungnya. Obat yang tadi diminum sudah menunjukkan khasiatnya. Namun sekarang pria itu justru dirundung kantuk. Beberapa kali dia menggerakkan kepalanya, agar tidak sampai jatuh tertidur.
“Ananda Muhammad Aidan Basman, saya nikahkan engkau dengan putri saya, Aidsty Danurdara Hikmat dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan kalung seberat 25 gram dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Aidisty Danurdara Hikmat dengan mas kawin tersebut, tunai!”
Semua mata melihat pada Sulaiman yang tidak mengatakan apapun setelah ijab kabul selesai dikatakan. Pria itu menundukkan kepalanya, dan hampir saja tertidur. Kenzie yang menjadi saksi dari pihak Adisty, menepuk pelan tangan Sulaiman. Pria itu segera mengangkat kepalanya.
“Eh… iya.. bagaimana saksi, sah?”
“SAH!”
“Alhamdulillah,” ujar Sulaiman sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, guna mengusir kantuk.
Terdengar ucapan hamdalah dari yang lain ketika terdengar kata sah. Dari ruangan yang dulu dijadikan tempat menginap Irzal dan Arsy saat penjebakan, muncul Adisty bersama dengan Azra dan Alisha. Ketiga wanita itu berjalan menuju meja akad. Adisty duduk di samping Aidan.
Irzal menyerahkan kotak beludru yang sedari tadi dipegangnya pada Aidan. Dengan cepat mempelai pria menyematkan cincin pernikahan ke jari manis Adisty. Begitu pula gadis itu menyematkan cincin ke jari manis Aidan. Dia mencium punggung tangan Aidan yang dibalas dengan ciuman di keningnya.
Pasangan pengantin itu membalikkan tubuhnya, menghadap pada penghulu. Mereka bermaksud menandatangani dokumen pernikahan. Keduanya hanya terbengong melihat kepala sang penghulu yang tertunduk, sesekali kepala itu bergoyang.
__ADS_1
“Pak.. pak..” panggil Aidan pelan. Namun sang penghulu bergeming.
“Pak.. pak..” kali ini Aidan menepuk lengan Sulaiman.
“Eh iya.. gimana, mas?”
“Buku nikahnya mana?”
“Oh iya.”
Sulaiman memberikan buku nikah yang ada di dekatnya. Aidan dan Aidsty segera menandatangani buku pernikahan tersebut. Setelahnya keduanya memberikan kesempatan pada fotografer untuk mengambil gambar mereka yang tengah memegang buku nikah. Tak lupa mereka juga bergaya memamerkan cincin pernikahan. Ketika acara foto selesai, terlihat Sulaiman kembali tertidur.
“Gimana nih?”
Aidan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedianya sang penghulu akan memberikan tausyiah singkat soal hukum pernikahan. Namun mengingat kondisinya, sepertinya hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Akhirnya Elang yang menggantikan penghulu tersebut. Pria itu menyampaikan tausyiah singkatnya yang tak lebih dari tujuh menit.
Setelah akad nikah yang diselingi acara bersin dan tidur sang penghulu, acara kembali dilanjutkan. Daffa membangunkan sang penghulu dan mengantarkan pria itu kembali ke rumahnya. Acara dilanjutkan dengan pemberian nasehat dari kedua orang tua. Dengan bersungguh-sungguh kedua mempelai mendengarkan apa yang disampaikan para tetua.
Semua yang hadir dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan. Pasangan pengantin berpencar, duduk sesuai habitatnya masing-masing. Ucapan selamat berdatangan dari para sahabat Aidan. Zar dan Arya juga memberikan ucapan selamat dan doa tulus, ditengah kegondokan yang melanda.
“Gue heran deh, kenapa pas nikahan keluarga kita, ada aja yang ngga beres sama penghulunya. Waktu nikahan ppssttt sama Ila, penghulunya somplak. Pas nikahan Geya, penghulunya gagap. Sekarang nikahan Disty, penghulunya bersin sama ngantuk,” Zar menggelengkan kepalanya.
“Kayanya emang udah jadi kutukan, hahaha..” sambar Daffa.
“Cuma nikahan Aya sama bang Rafa aja ya yang normal,” sahut Ervano.
“Nikahan gue juga normal,” balas Irzal.
“Oh iya. Iya cuma nikahan mereka berdua aja yang normal.”
“Sama gue juga pastinya. Penghulu gue kan yang nikahin Aya sama bang Rafa.”
“Gue siapa?” tanya Zar.
“Yang nikahin Stella sama Ila. Siap-siap aja, lo. Hahaha…”
“Buset penghulu somplak ya. Wah.. ngga bisa nih. Gue harus bisa ngelawan dia. Pokoknya gue ngga bakal buat dia bikin gue mati kutu.”
“Bukan lo doang, Rena juga, hahaha..”
Zar menggaruk kepalanya yang tak gatal. Entah kenapa dia jadi was-was sendiri menghadapi hari pernikahannya yang hanya tinggal tiga hari lagi. Selain menyiapkan mental, dia juga harus menyiapkan diri membalas ucapan nyeleneh yang mungkin akan keluar dari mulut penghulu itu.
Untuk pasangan pengantin, Ravin sudah menyiapkan kamar pengantin untuk mereka berdua. Pria itu memerintahkan pegawai hotel Yudhistira menyiapkan kamar suite room untuk disulap menjadi kamar pengantin.
Di kamar sudah banyak terdapat bunga-bunga, jangan lupakan kelopak mawar yang sengaja ditaburkan di atas ranjang. Ditambah lilin therapy yang ditaruh di sudut kamar dan juga kamar mandi. Adisty ternganga melihat kamar yang begitu cantik sudah disiapkan untuknya.
Tak lama setelahnya, Aidan masuk ke dalam kamar. Seperti halnya sang istri, pria itu juga terkejut melihat isi kamar yang dimasukinya. Jantung Adisty berdetak kencang begitu melihat Aidan datang. Gadis itu bergegas membuka lemari untuk mengambil pakaiannya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Cukup lama juga Adisty berada di kamar mandi. Selain melepaskan kebaya yang dikenakannya, dia juga harus menghapus make up di wajahnya. Sebelum melakukan itu, terlebih dulu dia menuju kloset untuk membuang hajat. Betapa terkejutnya dirinya melihat ada warna merah di segitiga pengamannya.
Pelan-pelan Adisty membuka pintu kamar mandi. Dilihatnya Aidan sudah selesai berganti pakaian. Dia keluar dari kamar mandi lalu menghampiri suaminya. Gadis itu berdiri di samping pria yang sudah berstatus sebagai suaminya.
“Euungg.. bang.. a.. aku bisa minta tolong?”
“Minta tolong apa?”
“Itu.. tolong beliin pembalut,” suara Aidsty semakin mengecil.
“Apa?”
“Pembalut.”
“Oh pembalut. Hah? Aku harus beli itu? Wajah Aidan berubah panik.
“Iya. Aku baru aja datang bulan. Maaf ya, bang. Tolong beliin.”
Adisty menangkupkan kedua tangannya. Aidan hanya bisa menghela nafas panjang. Dengan langkah lunglai, dia keluar dari kamar pengantin. Niat hati ingin mengakhiri masa perjakanya. Dia justru mendapatkan pengalaman pertama. Membeli pembalut untuk istrinya. Pria itu mengusak kepalanya sambil masuk ke dalam lift.
🍁🍁🍁
**Selamat ya Disty & Aidan🤗
Untuk besok aku ngga janji ya bisa up HIL sama SM. Kondisi lagi kurang fit. Ini aja aku ngetik sambil nahan kantuk abis minum obat, kaya penguhulu🤭
Kalau ada typo atau ceritanya gaje harap maklum. Begitu syulit menahan kantuk🙏**
__ADS_1