Hate Is Love

Hate Is Love
Kencan


__ADS_3

Vanila terbangun dari tidurnya saat merasakan kecupan di keningnya. Perlahan matanya terbuka. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Rakan yang duduk di sampingnya. Suaminya itu masih mengenakan baju koko dan sarung. Dia baru saja pulang dari masjid setelah mengikuti shalat shubuh berjamaah.


“Abang..” panggil Vanila dengan suara serak.


“Maaf sudah membangunkanmu. Tidur aja lagi kalau masih ngantuk.”


“Ngga, kok.”


Pelan-pelan Vanila bangun dari tidurnya. Dia duduk menyandar ke headboard ranjang. Rakan mengusap lembut pipi sang istri yang kelihatan masih mengantuk. Setelah mengumpulkan nyawanya, wanita itu turun dari ranjang. Rakan menyusul di belakangnya. Dia membuka lemari lalu memberikan handuk pada Vanila.


“Makasih, abang.”


Dengan cepat Vanila masuk ke dalam kamar mandi. Tak lupa dia membawa pembalut model celana yang dibelinya semalam. Antisipasi kalau Alden mengantarkan kopernya terlalu siang. Sepeninggal sang istri, Rakan mengganti pakaiannya, lalu turun ke bawah. Kesibukan sudah mulai terlihat di dapur. Mamanya dan juga bi Marni, asisten rumah tangganya sudah bersiap untuk membuat sarapan.


Rakan memilih keluar rumah untuk menghirup udara segar. Dia menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri untuk melakukan peregangan. Beberapa meter dari rumahnya, nampak Aqeel sedang menuntun Iza berjalan-jalan pagi. Sesekali Aqeel mengusap perut buncit istrinya.


Tak berapa lama Daffa keluar dari dalam rumah. Pria itu langsung bergabung dengan sang kakak, melakukan stretching sebelum memulai lari paginya. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap pagi jika dia tidak sedang masuk shift malam.


“Bang.. Ila ke sini semalam?” tanya Daffa.


“Iya.”


“Kayanya dia ketakutan banget sama Sasha.”


Terdengar kekehan Daffa setelahnya. Bukan hanya sang adik, tapi dirinya juga ingin tertawa kalau mengingat gaya Sasha yang sudah seperti ulat bulu. Entah bagaimana cara Aidan meyakinkan wanita itu untuk berakting menggodanya. Padahal Sasha baru saja menikah dua bulan lalu. Untung suaminya mengijinkan wanita itu. Semalam pun suami Sasha ikut berkumpul di rumah Irzal. Dia hanya terpingkal saja saat Sasha mengatakan akan menjadi pengganti pengantin wanita di malam pertama.


“Abang kapan rencana pindah? Atau mau tinggal di sini?”


“Hari ini abang langsung pindah ke rumah.”


“Nanti aja tunggu Iza lahiran.”


“Lebih cepat pindah lebih baik. Biar Ila bisa belajar mandiri. Kamu sendiri gimana?”


“Gimana apanya, bang?”


“Residen kamu.”


“Bentar lagi beres. Tinggal sebulan lagi. Cuma ya itu, dokter Ansel bener-bener ngeselin. Bisa aja dia cari celah buat nyalahin aku.”


“Sabar.. namanya hidup kan ngga selamanya mulus. Yang penting kamu tetap fokus aja.”


“Si Ansel ada masalah apa sama kamu?” sela Aqeel.


Pria itu baru saja tiba setelah menemani istrinya jalan-jalan. Iza langsung masuk ke dalam rumah, membiarkan suaminya berbincang bersama kakak dan adiknya. Aqeel mendekati Daffa dan Rakan, pria itu memang sudah mendengar desas-desus kalau dokter baru di IGD kerap menindas juniornya, salah satunya adalah Daffa.


“Ngga ada masalah apa-apa, bang. Emang dia kaya gitu aja. Tapi mungkin juga karena Geya, sih.”


“Geya?” kening Aqeel berkerut mendengarnya.


“Dia naksir Geya, dan ngga pernah ditanggapin sama Geya. Lihat Geya dekat sama aku, jadi keki dia.”


“Ngga professional banget. Harus pisahinlah mana masalah pribadi, mana kerjaan.”


“Emang dasarnya belagu aja sih tuh orang. Apa yang kita lakuin selalu salah di matanya. Selalu aja membandingkam pola kerjanya di luar sama di sini.”


“Suruh balik lagi aja ke tempat asalnya kalo belagu,” kesal Aqeel.


“Udah.. udah… kamu kenapa jadi kompor kaya gitu. Harusnya kamu kasih dukungan sama Daffa. Kamu juga, Daf.. lakukan pekerjaan dengan benar. Jangan kasih peluang Ansel sedikit pun untuk menemukan kesalahanmu.”


Daffa hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar nasehat bijak dari kakak tertuanya. Walau sebaik dan sebenar apapun dia melakukan pekerjaan, Ansel tetap akan mencari-cari kesalahannya. Dan dia yakin Geya yang menjadi alasan Ansel melakukan itu. Tapi Daffa tidak peduli, lebih baik dirinya yang ditindas Ansel dari pada Geya harus meladeni pendekatan Ansel.


Perbincangan ketiganya terhenti ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah. Dari dalamnya turun Alden. Pria itu membuka bagasi, lalu mengeluarkan koper milik Vanila yang tertukar semalam.


“Hai, Al..” sapa Daffa.

__ADS_1


“Kak Ila, ada?”


“Lagi mandi. Ini kopernya?”


“Iya, bang.”


Tanpa banyak bicara, Rakan segera membawa koper tersebut masuk ke dalam rumah. Alden memilih menunggu di depan rumah sambil berbincang dengan Daffa dan Aqeel. Tak lama kemudian Rakan kembali dengan membawa koper milik Alden.


“Ini kopermu.”


“Makasih, bang.”


“Jadi ada insiden ketuker koper?” tanya Daffa.


“Iya. Kakak gue bener-bener deh. Dia yang salah ambil, dia yang nyolot. Ampun deh, bang Rakan yang sabar ya punya bini kaya dia.”


“Hahaha… ada-ada aja, kamu. Eh sarapan di sini aja ya. Kita sarapan bareng.”


“Iya, sarapan di sini aja,” Daffa ikutan mengajak.


“Oke deh.”


“Gue cabut dulu, mau lari pagi.”


Daffa menarik hoodie untuk menutupi kepalanya, kemudian pria itu mulai berlari meninggalkan kediamannya. Aqeel bersama Rakan dan Alden masuk ke dalam rumah. Aqeel langsung menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap untuk ke rumah sakit. Pria itu memiliki jadwal operasi pagi.


Vanila turun dari lantai atas. Tubuh dan wajahnya sudah lebih segar. Gadis itu nampak cantik mengenakan celana jeans dan kaos lengan pendek. Dia segera menuju dapur untuk membantu mama mertuanya membuatkan sarapan. Ayunfa menyambut menantu barunya ini, dia segera memberi instruksi apa yang harus dilakukan Vanila.


Daffa yang sudah selesai berlari pagi segera menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap. Dia juga harus berada di IGD pagi-pagi. Bergegas pria itu menuruni anak tangga, lalu bergabung dengan yang lainnya di meja makan.


“Hari ini kamu ada kuliah, Al?” tanya Reyhan sambil melihat pada Alden.


“Ada, pa. Tapi siang.”


“Calon jaksa kita harus kuliah yang benar ya. Makan yang banyak.”


“Berasa anak tiri,” celetuk Daffa.


“Makanya cepat lamar Geya, kalau udah bosen jadi jomblo.”


Tak ada jawaban dari Daffa, dia hanya memberikan lirikan maut pada kakak keduanya. Aqeel hanya mengangkat bahunya, wajahnya terlihat cuek. Pria itu kembali meneruskan makannya. Reyhan hanya mengulum senyum saja melihat tingkah kedua anaknya.


“Pengantin baru ada acara apa nih?” celetuk Alden.


“Kepo.”


“Jagain suami baek-baek, jangan sampe dideketin ulet bulu.”


Dengan kesal Vanila menendang kaki adiknya yang selalu bicara tanpa saringan. Alden hanya menjulurkan lidahnya saja pada sang kakak. Pertengkaran kecil di meja makan memang kerap terjadi di antara keduanya, dan terbawa sampai di meja makan mertua.


“Tenang aja, Ila. Nanti mama kasih jurus buat melenyapkan para ulet bulu.”


“Serius, ma?”


“Serius. Papamu dulu juga banyak penggemarnya. Maklum papa kan terkenal ramah sama semua orang, jadi kesannya kaya tebar pesona. Mama sampai keluarin banyak jurus buat nyingkirin ulet bulu yang pengen nempel-nempel sama papamu.”


“Ehem!”


Ayunda hanya melemparkan senyum tipisnya saja saat sang suami berdehem. Popularitas Reyhan saat muda di rumah sakit sudah menjadi rahasia umum. Banyak wanita yang ingin mendekati pria itu. Bahkan ada seorang ibu yang terang-terangan menemui Ayunda, meminta wanita itu agar anaknya bisa jadi istri kedua Reyhan.


“Pesona papa kayanya nurun ke bang Rakan, hati-hati aja, La.”


Kali ini Rakan yang menendang kaki adik bungsunya. Aqeel hanya terkekeh saja. Senang rasanya menggoda pasangan pengantin baru. Vanila hanya tersenyum manis mendengar ucapan Daffa. Padahal dalam hatinya dongkol, jangan sampai suaminya juga ditempeli oleh para ulet bulu.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Dengan senyum tersungging di wajahnya, Vanila berjalan memasuki area mall The Ocean bersama suaminya. Tangan keduanya saling menaut dan tidak lepas sepanjang mereka berjalan menyusuri mall. Karena waktu masih terbilang pagi, Rakan lebih dulu mengajak sang istri menuju ke departemen store.


Beberapa kali Vanila menunjukkan pakaian yang dipilihnya, namun Rakan terus menolaknya. Ada saja alasan yang diberikan pria itu untuk menggagalkan pilihan istrinya.


“Terlalu terbuka.”


“Terlalu pendek.”


“Terlalu tipis.”


“Terlalu ketat.”


Itulah komentar-komentar dari Rakan yang membuat Vanila pusing sendiri. Wanita itu mendudukkan dirinya di kursi yang ada di dekat kamar pas. Tak ada keinginan darinya untuk mencoba pakaian lain.


“Kenapa ngga pilih lagi?”


“Ngga usah, abang protes terus.”


“Bukan protes, tapi abang mau kamu pakai pakaian yang pantas. Kamu kan sudah menjadi seorang istri. Jadi kenakan pakaian yang bisa menjaga auratmu dengan baik.”


“Abang mau aku pakai hijab?”


“Abang ngga maksa. Kalau kamu belum siap, ngga usah dipaksakan. Tapi cobalah pakai pakaian yang lebih tertutup mulai sekarang.”


“Kemarin-kemarin abang ngga protes.”


“Kemarin aku bukan suamimu. Aku belum punya hak untuk melarangmu. Tapi sekarang aku adalah suamimu, paham?”


Rakan yang berdiri di depan Vanila menundukkan tubuhnya, agar wajahnya sejajar dengan sang istri. Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh wanita itu. Dia saja tidak mau ada perempuan lain yang mendekati suaminya. Wajar saja kalau Rakan tidak mau ada lelaki lain yang melihat lekuk tubuhnya.


“Mau cari pakaian lain?” tawar Rakan lagi.


“Iya, bang.”


Vanila menyambut uluran tangan Rakan. Wanita itu bangun kemudian kembali mengelilingi area yang memajang pakaian wanita. Kali ini dia lebih berhati-hati memilih pakaian yang diinginkannya. Untuk pilihannya sekarang tidak ada bantahan dari Rakan. Pria itu langsung menyetujui apa yang dipilih istrinya.


Usai memilih beberapa potong pakaian, Vanila segera membawa semua pakaian tersebut ke kasir. Rakan langsung membayar semuanya. Dengan tas belanjaan di tangannya, Vanila keluar dari departemen store.


“Sekarang kita mau kemana?”


Rakan tak langsung menjawab, dia lebih dulu melihat jam di pergelangan tangannya. waktu menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit.


“Kita shalat dulu, baru nonton. Atau mau makan dulu?”


“Abis shalat makan dulu terus nonton.”


“Ok. Tapi… kita harus taruh belanjaan ini dulu di mobil,” Rakan menunjuk tas belanjaan di tangan Vanila.


“Siap, bos.”


Vanila kembali merekatkan tangan mereka. Sambil menggoyang-goyangkan tangan, wanita itu mengajak sang suami menuju basement. Setelah menaruh barang belanjaan, mereka segera pergi ke lantai lima. Tempat di mana mushola yang ada di mall ini berada.


Usai menunaikan shalat dzuhur dan mengisi perut, keduanya segera naik ke lantai teratas gedung ini. Suasana di bioskop sudah mulai ramai. Selain rombongan para ABG, banyak juga pasangan yang datang untuk menonton. Bioskop memang menjadi salah satu tempat untuk kencan.


Sambil terus menggandeng tangan suaminya, wanita itu berkeliling melihat poster film yang terpajang. Ada tiga genre film yang saat ini sedang diputar, horror, action dan komedi romantis. Pilihan Vanila jatuh pada film komedi romantis. Jarinya menunjuk poster film yang dibintangi salah satu aktor favoritnya.


Rakan segera menuju loket untuk membeli tiket. Dia memilih kursi yang ada di deretan atas. Tidak banyak peminat untuk film ini. Terlihat di layar, bioskop hanya terisi setengahnya saja. Selesai membeli tiket, seperti pasangan lainnya, mereka juga membeli popcorn dan minuman. Teman setia saat menonton film. Sambil menunggu pintu studio terbuka, mereka duduk di sofa yang ada di lobi.


Terdengar suara operator memanggil penonton untuk masuk ke dalam studio. Vanila berdiri dari duduknya, disusul oleh Rakan. Keduanya segera masuk ke dalam studio yang lampunya masih menyala. Mereka terus naik menuju kursi paling atas. Rakan dan Vanila mendudukkan diri di bagian tengah. Sebelah kanan dan kirinya kosong, tidak terisi satu pun.


Perlahan lampu mulai padam. Seluruh penghuni studio mulai serius melihat tayangan yang tersaji di layar lebar di hadapan mereka. Sambil memakan popcorn-nya Vanila terus menikmati film yang dipilihnya. Wajahnya terlihat bahagia, akhirnya impian kencan di dalam bioskop bersama kekasih halalnya bisa menjadi kenyataan.


Rakan meraup popcorn yang sengaja ditempatkan di antara kursi mereka. Sebuah kecupan diberikannya di pipi sang istri. Segurat senyum tercetak di wajah Vanila. Dia menolehkan kepalanya, lalu melakukan hal yang sama. Rakan meraih wajah istrinya, lalu mendaratkan ciuman di bibirnya.


Perhatian Vanila langsung teralihkan ketika Rakan mencium bibirnya. Deretan di samping kanan dan kirinya yang kosong, membuat keduanya bebas untuk melakukan reuni bibir dalam durasi yang cukup lama. Mereka mengabaikan tayangan di depannya yang menampilkan adegan sedih.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Cieeee... Yang lagi kencan, dunia serasa milik berdua, yang lain nge-kost😂


__ADS_2