
Renata mondar-mandir di dalam kamarnya sambil memegangi perutnya. Usia kehamilannya kini sudah memasuki tujuh bulan. Terdengar ringisannya saat merasakan sakit di bagian perutnya. Wanita itu memandangi ponsel di tangannya. Sudah lima belas menit berlalu sejak dia menghubungi Zar. Namun suaminya itu masih belum sampai ke rumah.
Kembali terdengar ringisannya, saat merasakan rasa sakit di perutnya. Tak kuat menahan rasa sakit yang terus menyerang, wanita itu segera keluar dari kamar. Dengan langkah pelan, dia menuruni anak tangga. Kedua tangannya memegangi pegangan tangga. Sesekali wanita itu berhenti, menahan rasa sakit yang mendera. Nara yang sedang melintas, langsung menghampiri menantunya.
“Rena, kamu kenapa sayang?”
“Mama.. perutku sakit, ma.”
“Sakit seperti apa?”
Dengan hati-hati, Nara membantu Renata menuruni anak tangga, lalu membawanya ke ruangan tengah. Diambilnya satu kursi tanpa lengan, kemudian mengangkat kaki dan ditaruh di kursi tersebut. Ringisan wanita itu kembali terdengar.
“Sakit, ma..”
“Sabar, sayang. Mama telepon Zar dulu.”
“Aku tadi udah telepon, ma. Tapi mas Zar belum datang juga.”
Tanpa dikomando, airmata mengalir di wajah Renata. Yang dibutuhkannya saat ini adalah kehadiran suaminya. Dari arah depan rumah, terdengar suara mobil berhenti. Tak lama kemudian suara langkah kaki masuk tergesa ke dalam rumah.
“Rena.. kamu kenapa, sayang?”
“Mas.. perutku sakit. Aku… aaaawwwhhh..”
Renata tak dapat menyelesaikan kalimatnya, ketika rasa sakit kembali menderanya. Nafasnya mulai tak beraturan, apalagi ketika dia merasakan ada yang merembes dari sela-sela kakinya.
“Mas…”
Mata Zar membelalak melihat darah yang keluar dari sela-sela kaki sang istri. Dengan cepat pria itu membopong tubuh Renata. Nara bergerak cepat membukakan pintu rumah, lalu berlari membukakan pintu mobil. Pelan-pelan Zar menaruh Renata di jok belakang. Nara segera naik menemani menantunya, sedang Zar langsung duduk di belakang kemudi. Dengan kecepatan tinggi, pria itu memacu kendaraannya menuju rumah sakit.
Sepuluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Zar memasuki pelataran parkir rumah sakit Ibnu Sina. Perawat nampak menunggu di depan pintu masuk IGD dengan blankar. Mereka sudah mendapatkan panggilan akan kedatangan pasien ibu hamil yang mengalami masalah dengan kehamilannya.
Setelah Rena dipindahkan ke blankar, suster segera mendorongnya masuk ke IGD. Melihat darah yang keluar dari bagian bawah ibu hamil itu, mereka segera membawanya ke ruang tindakan. Daffa bergegas menuju ruang tindakan.
“Bagaimana kondisinya?”
“Pasien mengalami pendarahan, dok.”
“Berapa usia kehamilannya?”
“Tujuh bulan.”
“Kita hentikan pendarahannya dulu.”
Dua perawat yang membantu Daffa, bergerak cepat menghentikan pendarahan. Daffa juga memerintahkan memanggil dokter kandungan yang bertugas. Kebetulan sekali, dokter Puspa yang menangani Renata, masih berada di rumah sakit. Zar dan Nara menunggu di depan ruangan tidakan. Wajah Zar nampak begitu cemas.
“Lakukan USG abdomen dan MRI!” perintah Daffa.
“Baik, dok.”
Dengan cekatan perawat tersebut segera memberikan probe pada Daffa. Pria itu segera mengoleskan gel, kemudian menaruhnya di perut Renata. Matanya terus menatap pada layar di depannya.
“Plasenta previa,” ujar Daffa.
Di saat bersamaan, dokter Puspa datang. Dia langsung mengambil alih dari Daffa. Kembali dokter wanita itu melakukan pemeriksaan pada Renata. Dia juga mengambil kesimpulan yang sama seperti yang dikatakan Daffa.
“Lakukan MRI!”
Untuk melihat posisi plasenta pada rahim, dokter Puspa melakukan pemeriksaan menggunakan MRI. Pemeriksaan ini menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio untuk melihat lebih tepat di mana posisi plasenta berada.
“Kadar oksigen pasien menurun!” teriak suster.
“Lakukan intubasi!” titah Daffa.
__ADS_1
Dengan cepat, pria itu bepindah posisi ke belakang kepala Renata. Suster memberikan peralatan pada Daffa untuk melakukan intubasi. Pria itu membuka mulut Renata, lalu memasukkan loringoskop untuk membuka jalan nafas, dan melihat pita suaranya. Setelah itu, Daffa memasukkan tabung endotrakela atau tabung plastik elastis sampai ke batang tenggorokan. Kemudian tabung dihubungkan pada kantong pompa nafas. Seorang suster memegang kantong pompa tersebut dan memompanya perlahan.
Daffa mengarahkan stetoskop ke dada Renata untuk memastikan apakah wanita itu sudah bisa bernafas dengan normal. Pria itu menganggukkan kepalanya, tanda prosedur intubasi sudah berjalan dengan baik. Kemudian dia melihat pada dokter Puspa yang sudah selesai memeriksa.
“Pasien harus segera dioperasi. Pendarahannya masih belum berhenti.”
“Baiklah, dok.”
“Siapkan ruang operasi 4!”
Seorang suster segera keluar untuk memberitahu bagian operasi. Zar masih kelihatan bingung. Dia terus melihat ke dalam. Berharap Daffa keluar dan memberitahu keadaan istrinya. Dokter Puspa melakukan pemeriksaan lain sebelum mengirim pasien ke ruang operasi. Setelahnya dia melepas sarung tangan dan hospital gown yang dikenakannya, lalu keluar dari ruang tindakan. Zar segera mendekati dokter kandungan tersebut.
“Bagaimana kondisi istri saya, dok?”
“Pasien harus segera dioperasi. Kami harus melakukan operasi Caesar. Mohon segera ditanda tangani formulir persetujuannya.”
“Ba.. baik, dok.”
Setelah mengatakan tindakan yang harus dilakukan, dokter Puspa bergegas menuju lantai tiga untuk persiapan operasi. Dua orang perawat mendorong blankar Renata, lalu membawanya ke lantai tiga. Dengan terburu, Zar mengisi dan menandatangani formulir persetujuan operasi. Daffa keluar dari ruang tindakan, lalu mendekati pria itu.
“Zar..”
“Daf.. Rena.. Rena ngga apa-apa, kan?”
“Dia harus dioperasi. In Syaa Allah, Rena ngga apa-apa. Kamu langsung aja ke lantai tiga. Kamu bisa masuk dan menemani Renata saat dioperasi.”
“A.. aku boleh masuk?”
“Iya.”
Tanpa menunggu lama, Zar segera berlari menuju lift. Nara juga menyusul anaknya. Dia tak lupa menghubungi suaminya yang tengah mengantar Azzam ke bandara. Rencananya hari ini, anak bungsunya akan berangkat ke Pekan Baru menggunakan pesawat jet pribadi milik keluarga Hikmat.
🍁🍁🍁
Perawat mendorong bed dengan Renata berada di atasnya memasuki ruangan operasi. Di belakangnya Zar menyusul, setelah mencuci tangan, menggunakan sarung tangan dan juga pakaian steril. Pria itu diminta berdiri di sisi istrinya. Dokter anestesi, dokter kandungan, perawat anestesi, dokter spesialis anak dan perawat perinatologi sudah siap untuk melakukan jalannya operasi.
“Anak kita baik-baik aja kan, mas?”
“Iya, sayang. Dokter akan mulai mengeluarkan anak kita. Katanya dia lagi main bola pas dokter datang buat jemput. Tuh lagi dibujuk dokter biar mau keluar,” ujar Zar asal. Perawat yang mendengarnya hanya tersenyum saja.
“Anak kita kan perempuan, mas. Masa main bola.”
“Oh iya, lupa. Lagi main congklak, bukan bola. Tuh malah ngajakin dokter main congklak. Katanya taruhan, kalau dokter kalah, harus beliin dia Barbie sekontainer.”
Renata menepuk lengan suaminya yang asal bicara. Tapi perkataan absurd Zar, berhasil mengurangi ketegangan Renata sedikit demi sedikit. Pria itu tidak pernah letih mengajak istrinya berbicara, sambil sesekali memberikan candaan agar Renata tidak terlalu tegang.
“Mas sudah siapin namanya.”
“Sudah dong, sayang.”
“Siapa namanya?”
“Markonah.”
“Mas iiihh..”
Dokter dan suster anestesi yang berada dekat Zar hanya tersenyum saja mendengarnya. Apa yang dilakukan pria itu, bukan hanya untuk menghilangkan ketegangan istrinya, tapi juga menghilangkan ketegangan yang dirasakannya sendiri. Sesekali dia mencoba mengintip dari balik kain steril hijau yang dijadikan pembatas. Namun pria itu kembali memalingkan wajahnya, karena tak tahan melihat banyaknya darah yang keluar.
Perawat anestesi segera memasang satu kantong darah untuk mengganti banyaknya darah yang keluar saat berlangsungnya operasi. Mata Zar memandangi tangan suster yang tengah meremat kantong darah tersebut.
“Jangan khawatir, pak. Kondisi ibu Rena stabil bisa dilihat tanda vitalnya di layar,” ujar dokter anestesi.
Zar hanya menganggukkan kepalanya. Dia benar-benar tegang berada di ruang operasi. Menanti kelahiran anaknya yang harus dikeluarkan lebih cepat dari waktunya dan melalui jalan operasi.
__ADS_1
Setelah empat puluh menit berlalu, akhirnya jalannya operasi selesai juga. Zar akhirnya dapat bernafas dengan lega, anaknya berhasil dikeluarkan dengan selamat. Namun bayi kecil itu harus langsung masuk ruang inkubator, karena bobotnya masih kurang. Senyum bahagia juga nampak di wajah Renata. Hatinya tidak henti mengucap syukur, anaknya berhasil keluar dengan selamat.
🍁🍁🍁
Renata masih berbaring di atas bed dengan posisi telentang. Enam jam pasca operasi, dia masih belum boleh banyak bergerak. Bahkan jika ingin tidur miring pun, harus dibantu oleh perawat. Zar tak pernah meninggalkan istrinya, kecuali saat melihat bayinya, dan mengadzaninya di ruang inkubator.
Ibu Sundari sudah datang untuk melihat keadaan anak asuhnya. Azzam juga menunda kepulangannya saat mendengar kabar tentang kakak iparnya. Arsy dan Irzal pun datang untuk mengunjungi Renata. Kedua anaknya dititipkan sebentar pada Azkia. Abi dan yang lain juga langsung menuju ke rumah sakit ketika mendengar Renata sudah melahirkan.
“Rena, gimana keadaan kamu?”
“Alhamdulillah baik, Sy. Cuma aku belum boleh gerak aja.”
“Namanya juga habis operasi Caesar. Pemulihannya emang lebih lama. Yang sabar aja, ya.”
“Anak kalian masih di ruang inkubator?” tanya Irzal.
“Iya.”
“Berapa beratnya pas lahir?”
“2,1 kg.”
“Zar..”
Abi yang baru datang, langsung memanggil cucunya itu. Zar segera menghampiri Abi lalu memeluknya. Kalau tidak ingat malu, mungkin pria itu sudah menangis dalam pelukan Abi. Dia baru saja terlepas dari ketegangan tingkat tinggi. Lebih tegang dari pada saat anak buah Margaritha menculiknya dulu.
“Rena baik-baik saja, kan?” tanya Abi.
“Baik, kek. Alhamdulillah.”
Setelah melihat keadaan Renata sebentar, pandawa lima ditemani oleh Kenzie, segera menuju ruangan di mana cucunya berada. Anak pertama Zar dan Renata itu masih harus berada di dalam ruang penghangat itu. Tak berselang lama, para sepupu Zar datang untuk menengok keponakan baru mereka.
Shifa yang kandungannya sudah hampir sampai pada waktu lahir juga ikut datang, tentu saja bersama dengan Arya. Begitu pula dengan Adisty dan Aidan. Vanila dan Rakan juga tidak ketinggalan untuk menjenguk ibu muda itu. Azzam bersama dengan Arsy dan Irzal menyusul para kakek untuk melihat keponakan cantiknya.
“Wah Rena nyalip di tikungan nih lahirnya,” celetuk Aidan.
“Udah ngga sabar anaknya Zar pengen lihat dunia. Dia penasaran pengen lihat muka bapaknya yang berisik banget pas nengokin dia,” jawab Arya asal.
“Pas nengokin anaknya, palingan si Zar cuma bilang uuhh aahh doang. Mana ngerti anaknya, hahaha..”
“Hahaha…”
Celetukan Rakan sukses membuat tawa mereka pecah. Zar hanya pasrah saja dijadikan bulan-bulanan oleh para sepupunya. Ketegangan yang dirasakannya tadi, belum sepenuhnya hilang. Namun melihat kondisi Renata yang baik-baik saja, semakin membuatnya tenang.
“Udah siapin nama belum? Secara lahirnya ngedadak. Kali aja belum ada nama,” cetus Arya.
“Kalau nama mah udah disiapin dari awal kehamilan. Hampir tiap minggu dia ganti nama anaknya. Katanya ngga cocok,” kali ini giliran Renata yang menjawab.
“Heleh udah jadi bapak, masih aja plin-plan. Terus siapa namanya.”
“Elina Garvita Hikmat.”
“Gue kira namanya Entin,” sahut Arya.Sebuah toyoran mendarat di kepala pria itu.
Mendengar Renata yang harus melahirkan secara Caesar, Shifa ikutan cemas. Pasalnya dokter kandungannya sudah mengatakan kalau wanita itu juga akan melahirkan secara Caesar, karena tulang panggulnya yang sempit. Arya yang mengerti kecemasan istrinya, langsung memeluk pinggangnya dengan mesra.
“Jangan cemas, sayang. Lihat Rena, baik-baik aja, kan? Aku akan selalu di sampingmu.”
“Makasih sayang.”
Pelukan Arya berpindah ke bahu. Pria itu memeluk istrinya dengan erat. Sebenarnya Arya juga merasa cemas. Namun melihat Renata yang bisa melahirkan dengan selamat, pria itu cukup tenang juga. Semoga saja Shifa bisa melahirkan anak kembarnya dengan selamat.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Selamat ya, Zar dan Renata.
Selamat Hari Raya Idul Adha. Aku besok libur ya🤗**