Hate Is Love

Hate Is Love
Bertemu Adik Kecil


__ADS_3

Stella membuka gorden yang menutupi jendela ruang perawatan suaminya, membiarkan sinar matahari masuk ke ruangan. Kemudian dia merapihkan barang-barang yang dibawakan maminya. Pakaian ganti untuknya dan Tamar juga peralatan kosmetiknya. Tamar yang sudah terbangun, masih berada di ranjangnya dalam keadaan duduk.


Pintu ruangan terbuka, seorang suster masuk dengan peralatan mandi di tangannya. Dia menaruh peralatan tersebut di dekat bed kamar. Stella segera menghampiri perawat tersebut.


“Ibu ini peralatan mandi bapak. Tolong dibantu ya bapaknya untuk mandi.”


“Hah?”


“Ibu.. istrinya pak Taufik kan?”


“Iya.”


“Tolong dibantu bapaknya mandi. Setelah mandi dan sarapan, nanti ada dokter yang akan memeriksa.”


Setelah mengatakan apa yang harus dilakukan Stella, perawat tersebut segera keluar dari kamar. Kini hanya tinggal Stella saja yang kebingungan. Walau mereka sudah menikah dan resmi menyandang status sebagai suami istri, tetap saja dia masih canggung jika harus melakukan hal tersebut. Bukan hanya Stella, Tamar pun merasakan hal yang sama.


“Ka.. kamu ngga usah bantu. Aku bisa mandi sendiri.”


“Oh.. syukur deh kalau abang bisa sendiri.”


Tamar menganggukkan kepalanya, kemudian turun dari bed. Dia mengambil peralatan mandi yang diberikan suster, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Susah payah pria itu menyiapkan peralatan gosok gigi. Tangan sebelah kanannya masih sakit jika digerakkan, jadi dia hanya mengandalkan tangan kiri saja.


Sementara itu, Stella masih berada di dalam kamar. Dia menyalakan televisi sambil menunggu giliran untuk mandi. Sudah sepuluh menit Tamar di dalam sana, namun belum ada tanda-tanda pria itu memulai ritual mandinya. Wanita itu terjengit ketika mendengar suara pintu ruangan terbuka.


“Bang Tamar mana?” tanya Daffa.


“Lagi mandi.”


“Emang dia bisa mandi sendiri?”


“Katanya sih bisa. Tapi udah sepuluh menit belum keluar juga.”


“Tangan kanannya masih belum bisa digerakkin seperti biasa. Pasti dia kesusahan. Kamu bantu aja, kalau dia udah selesai mandi telepon aku. Nanti aku yang ganti pembebatnya.”


“Tapi..”


Ucapan Stella menggantung begitu saja karena Daffa langsung keluar dari ruangan. Penasaran dengan yang dikatakan Daffa, Stella mendekat ke kamar mandi. Dia mendekatkan telinga ke daun pintu. Belum terdengar suara gemericik air dari dalam. Wanita itu pun memberanikan diri mengetuk pintu.


TOK


TOK


TOK


“Abang.. mandinya udah belum? Abang?”


“Be.. belum.”


“Aku masuk ya.”


“Ja.. jangan.”


Terlambat, Stella sudah membuka pintu kamar mandi. Nampak Tamar masih berdiri di depan wastafel, pria itu baru saja selesai menggosok gigi, dengan penuh perjuangan pastinya. Pakaian yang dikenakannya juga belum dilepaskan.


“Aku bantu mandi ya. Sebentar aku pinjam kursi plastik dulu.”


Stella keluar dari kamar mandi untuk meminjam kursi plastik. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa kursi di tangannya. Stella meletakkan kursi tersebut di dekat bak mandi lalu meminta Tamar mendekat.


Jantung Tamar berdetak dengan kencang ketika Stella membantu membuka pakaiannya. Tak jauh beda, Stella pun merasakan hal yang sama. Ini pertama kalinya dia melihat Tamar tak mengenakan baju atasnya. Dada bidang suaminya itu langsung terpampang nyata di hadapannya.


Pelan-pelan Stella melepaskan pembebat di bahu dan tulang selangka suaminya itu. Terdengar ringisan Tamar saat berusaha menggerakkan bahu kanannya. Mata Stella langsung tertuju pada luka di punggung sang suami. Luka bekas tusukan saat pria itu menyelamatkannya. Tanpa sadar dia meraba luka tersebut.


“Ini.. masih sakit ngga, bang?”


“Ngga.”


“Abang duduk sini. Mandinya sambil duduk aja. Tapi celananya dibuka ya harusnya.”


“Hah?”


“Nanti kalau basah gimana?”


“Yakin mau dibuka?”


“Ehem.. kalau ngga dibuka nanti kakinya ngga bisa disabunin kan?”


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Tamar menyetujui usulan Stella. Wajahnya memerah ketika sedikit demi sedikit pria itu menurunkan celananya. Stella berinisiatif membantu agar lebih cepat. Dia berjongkok di depan Tamar dan menurunkan celana panjang yang dikenakannya.


Matanya membulat ketika melihat segitiga pengaman yang membungkus ular cobra suaminya tepat di hadapannya. Refleks wanita itu menundukkan kepalanya. Tamar juga mengalihkan pandangannya ke arah samping. Rasanya malu saja bersitatap dengan Stella dalam keadaan seperti ini.


Usai melepas celananya, Tamar langsung duduk di kursi plastik. Segitiga pengaman dibiarkan saja membungkus ular cobranya itu. Stella mulai menyalakan air dan memandikan suaminya. Jantung Stella berdegup tak karuan saat mulai meyabuni tubuh suaminya. Tamar memilih memejamkan mata saja. Sentuhan Stella di tubuhnya membuat bulu kuduknya berdiri.


Saat Stella menyabuni kaki dan juga paha suaminya, dia berjongkok tepat di depan ular cobra Tamar yang masih terbungkus rapat. Sebisa mungkin wanita itu menahan rasa malunya dan meneruskan kegiatannya.


Inget Stella, dia suami elo. Kalian udah nikah, udah sah. Wajar aja kan kalo kalian dalam keadaan seperti ini. Tapi ya ampun.. malu bingit gue.. itu.. itu kok segitiga pengamannya bentuknya berubah ya..


Stella sibuk berperang dengan pikirannya sendiri. Ketika tangannya menyabuni bagian paha, sedikit demi sedikit terlihat pergerakan dari kain segitiga pengaman yang dikenakan suaminya. Lambat laun bentuknya seperti tenda terbalik. Tamar yang menyadai kalau adik kecilnya terbangun karena sentuhan istrinya hanya bisa merutuki dirinya.


Ya ampun ini si otong kaga lihat sikon. Mau taro di mana muka gue. Kan keliatan banget kalo gue mupeng kalo gini.


Stella mempercepat kegiatannya. Selesai menyabuni tubuh Tamar, wanita itu berdiri dan membilas tubuh suaminya. Karena tidak berhati-hati selang ditangannya menyemburkan air ke arahnya, seketika pakaiannya basah. Stella meletakkan sebentar selang di tangannya, lalu mengibas-ngibas pakaiannya yang basah.


“Baju kamu basah. Buka aja, sekalian kamu mandi biar cepat.”


Wait.. what?? Gila lo Tam, ngapain juga ngomong kaya gitu!

__ADS_1


“Hah?”


“Ehem.. i.. itu.. baju kamu kan basah, buka aja sekalian. Kamu mandi bareng aku aja, biar efisien.”


“Ngga mau. Malu.”


“Kamu pikir aku ngga malu apa kaya gini di depan kamu? Ya biar impas aja, kita malu barengan.”


Lagi-lagi Tamar merutuki mulutnya yang asal bicara saja. Sepertinya mulut dan hatinya tidak bisa berkompromi dengan baik. Apalagi otongnya yang semakin berdiri melihat tubuh istrinya yang basah. Perlahan Stella melepaskan pakaian yang dikenakannya. Toh Tamar adalah suaminya, tak salah kalau dia melakukan itu.


Wajah Stella memerah ketika sudah melepas pakaiannya dan hanya menyisakan segitiga pengaman dan penutup bukit kembarnya saja. Tamar menelan ludahnya kelat melihat tubuh molek di depannya. Stella mengguyur tubuhnya dengan air kemudian memakai sabun. Tamar bantu menggosok punggung sang istri dengan sebelah tangannya.


Pria itu mengerang pelan ketika merasakan sang junior semakin berdiri tegak. Sepertinya dia perlu menidurkan adik kecilnya itu. Tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin dia meminta Stella yang melakukannya.


“Kenapa, bang?” tanya Stella yang mendengar erangan Tamar.


“Ngga apa-apa.”


“Itu.. kok makin tegak aja ya?” tangan Stella menunjuk ke arah segitiga pengaman pria itu.


“Oh.. ini.. ini.. ba.. ngun.”


“Kok bisa?”


“Ya bisa. Kan lihat kamu.”


“Te.. terus gimana cara nidurinnya?”


“Ngga usah dipikirin, biar abang aja.”


“Yakin?”


Tamar menganggukkan kepalanya, walau dia tidak yakin bisa dengan cepat menidurkan juniornya. Stella segera mengakhiri ritual mandinya, kemudian membungkus tubuhnya dengan handuk. Dia berteriak kencang ketika melihat Suzy sudah berada di depan kamar mandi.


“Aaaaaa… ngagetin aja lo!”


“Kalian ngapain di dalem?”


“Kepo.”


“Kalian mandi bareng?”


“Iya.”


“Terus laki kamu baik-baik aja?”


“Maksudnya?”


“Itunya.. baik-baik aja?”


“Ngga.. katanya mau ditidurin sama dia.”


“Iih gue ngga tau caranya.”


“Ya udah gue aja deh.”


“Eeeehh.. enak aja lo mau masuk ke dalem. Modus lo mau lihat badan suami gue. Diem sini lo!”


Stella segera menuju nakas di dekat bed, kemudian mengambil ponsel dari atasnya. Dia perlu bertanya pada Arsy, apa yang harus dilakukannya saat ini. Sepupunya itu lebih berpengalaman dalam hal seperti ini. Dalam deringan ketiga, Arsy menjawab panggilannya.


“Sy..”


“Apa?”


“Tolongin gue dong.”


“Tolong apa?”


Mau tak mau Stella menceritakan apa yang dialaminya tadi di kamar mandi. Dia bingung harus melakukan apa. Tamar juga terlihat kesakitan. Wanita itu bertanya pada Arsy apa yang sebaiknya dilakukan.


“Hahaha…”


“Lo malah ketawa. Bantuin gue!”


“Bentar.. ada pasien dateng. Gue kirim aja videonya buat lo tutorial, ok.”


Tanpa menunggu persetujuan Stella, Arsy segera memutuskan panggilan. Tak berapa lama, masuk kiriman video berdurasi tiga menit dari sepupunya itu. Mata Stella membulat melihat adegan dari video yang dikirimkan sepupunya. Karena penasaran, Suzy ikutan melihat ke layar ponsel bestie-nya.


“Nah bener kaya gitu!”


“Astaga! Bikin kaget gue aja.”


“Sana masuk, lo harus kaya gitu buat bantuin suami elo.”


“Sok tau.”


“Iih gue kan sering nonton beginian waktu di apartemen Ferdi. Udah sana masuk. Jangan lupa lo harus buka semua baju lo, jangan ada tersisa biar lebih cepet.”


“Ah gila, ngga mau. Malu gue.”


“Kan dia suami elo, ngapain malu. Ibadah tahu. Udah sana.”


Dengan langkah pelan, Stella berjalan mendekati kamar mandi. Dia kembali menempelkan telinga ke daun pintu. Dari dalam kamar mandi terdengar suara-suara aneh yang dikeluarkan Tamar. Beberapa kali Stella menarik nafas panjang sebelum dirinya membuka pintu.


Tamar yang sedang berusaha menidurkan adik kecilnya terkejut melihat Stella kembali masuk. Belum sempat dia berkata apa-apa, Stella mendekat seraya melepaskan kain terakhir di tubuhnya. Wanita itu menyingkirkan semua rasa malunya dan berdiri di depan Tamar kemudian berjongkok.

__ADS_1


Melihat sang istri yang seperti itu, tentu saja adik kecilnya semakin mengeras dan menegang. Dengan tangan bergetar, Stella memegang adik kecil suaminya dan mulai menggerakkan tangannya seperti adegan yang tadi dilihatnya.


Mata Tamar tak lepas memandangi Stella yang tengah berusaha menidurkan adik kecilnya. Tangannya terulur kemudian mengusap rambut sang istri. Tak berapa lama kemudian pria itu berhasil mengeluarkan lahar panasnya dan memenuhi tangan Stella.


“Makasih, Stel..”


Dengan wajah memerah Stella menganggukkan kepalanya. Dia buru-buru bangun untuk membersihkan tangannya. Tamar bangun dan melakukan hal yang sama. Tamar terpaksa harus kembali mandi. Stella kembali membantu suaminya. Dia juga ikut mandi kembali.


Setelah drama panjang di kamar mandi, keduanya kini sudah berada di kamar. sang perawat sudah mengantarkan sarapan untuk Tamar. Stella juga sudah menghubungi Daffa. Setelah menangani pasien, dokter muda itu akan segera mengunjungi Tamar.


“Makan dulu aja, bang. Daffa masih ada pasien katanya.”


Stella membukakan plastic wrap yang membungkus wadah tempat makannya. Wanita itu membantu sang suami untuk makan. Perutnya juga sudah lapar, tapi dia berusaha menahannya. Setelah selesai mengurusi Tamar, baru dirinya akan mencari sarapan.


Pintu ruangan terbuka ketika Stella meletakkan nampan berisi sarapan Tamar yang sudah dilalap habis oleh pria itu. Arsy dan Irzal masuk ke dalam. Di tangan Arsy terdapat kotak makanan. Dia meletakkan kotak makanan di atas meja.


“Nih buat sarapan. Gue yakin cacing di perut lo udah pada demo minta diisi.”


“Ck.. mulut lo, ngga enak bener. Tapi makasih, emang gue udah laper, hehehe..”


“Sudah kudugong.”


Arsy dan Stella mendudukkan diri di sofa. Stella langsung membuka kotak makan yang dibawa sepupunya itu dan memakannya dengan lahap. Sementara Irzal menghampiri Tamar. Dia menarik kursi di dekat bed lalu mendudukkan diri di sana. Matanya terus memandangi Tamar yang ada di dekatnya.


“Gimana rasanya kena kualat?” cetus Irzal.


“Apaan sih lo.”


“Kejadian yang nimpa elo tuh karena kualat sama istri. Lo tuh abis nikah, bukannya diem di kamar malah kelayapan nangkep napi. Syukur cuma dislokasi doang, gimana kalo jadi almarhum? Tega lo bikin Stella jadi janda muda?”


Tamar mendengus kesal mendengar cerocosan sahabatnya. Tapi apa yang dikatakan Irzal tidak salah. Dia cukup beruntung bisa menghindari mobil yang dikemudikan napi yang kabur. Kalau tidak, entah bagaimana nasibnya kini.


“Tam.. lo harus ingat, sekarang lo udah nikah. Artinya lo punya tanggung jawab besar yang harus lo jaga. Di atas pekerjaan, ada istri yang harus lo nomor satukan. Sebelum bertindak lo harus berpikir ulang, sekarang ada orang yang nunggu lo pulang dengan selamat. Pekerjaan lo itu berbahaya, makanya lo harus lebih hati-hati mulai sekarang.”


“Iya.”


“Jangan iya-iya doang. Pikirin apa kata-kata gue. Sekarang lo lihat Stella. Dia mungkin keliatan biasa-biasa aja, bisa tertawa karena bawaan perempuan itu juga ceria. Tapi apa lo yakin perasaannya sama? Dia mungkin aja kecewa, ketika lo tiba-tiba pergi demi pekerjaan. Dia bisa aja merasa ngga dianggap sama sekali, merasa bukan orang penting dalam hidup lo. Karena lo lebih memilih bekerja dari pada sama dia di malam pernikahan kalian. Apa lo pernah mikir sampe situ? Menyakiti perempuan bukan hanya dengan siksaan fisik, tapi apa yang lo lakuin juga udah menyakiti dia. Dosa besar lo kalau sampe menyakiti istri, apalagi kalau istri lo ngga punya salah.”


Kepala Tamar tertunduk mendengar penuturan panjang lebar sahabatnya. Dia melihat pada Stella yang masih menikmati sarapannya sambil berbincang dengan Arsy. Kemudian pria itu teringat akan kata-kata Stella semalam. Betapa wanita itu mencemaskan dirinya. Perasaan menyesal langsung menghentaknya.


“Buset cepet amat abisnya, laper apa doyan?” seru Arsy yang melihat Stella sudah menghabiskan makanan yang dibawanya.


“Dua-duanya.”


“Gimana tadi? Lo ngapain aja tadi?” tanya Arsy dengan suara berbisik.


Uhuk.. uhuk..


“Ngga usah pura-pura batuk. Kalian ngga main kuda-kudaan kan di kamar mandi?” Arsy terkikik geli.


“Berisik.”


Stella menyambar minuman di depannya, kemudian meneguknya sampai habis. Tak dipedulikannya pertanyaan sang sepupu yang kembali sukses membuat wajahnya merona. Melihat gelagat Stella, Arsy yakin kalau sepupunya itu melakukan seperti yang ada dalam video yang dikirimkannya.


“Gue cabut dulu. Pikirin apa yang gue bilang tadi.”


Irzal berdiri seraya menepuk pelan pundak sahabatnya. Dia berjalan mendekati sang istri yang masih bersama dengan Stella.


“Sayang, mas mau ke kantor.”


“Bareng aja, mas. Aku juga mau ke IGD lagi. Stel, gue ke IGD dulu, nanti gue ke sini lagi. Bang Tamar cepat sembuh ya.”


Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Tamar. Sambil memeluk pinggang Arsy, Irzal membawa istrinya keluar. Di luar ruangan mereka berpapasan dengan Daffa yang hendak membebat bahu Tamar.


“Udah selesai mandinya?” tanya Daffa ketika masuk ke dalam ruangan.


Pria itu segera berjalan mendekati bed. Dia membantu Tamar melepas pakaiannya, kemudian mulai membebat bahu dan tulang selangka yang terluka. Stella bangun dari duduknya lalu menghampiri kedua pria tersebut.


“Beres,” ujar Daffa.


“Gue bisa pulang ngga?” tanya Tamar.


“Sebenarnya bisa sih.”


“Ya udah pulang ajalah. Males gue di rumah sakit.”


“Oke, gue bikin surat pengantarnya dulu.”


Daffa segera meninggalkan ruang perawatan tersebut. Sepeninggal Daffa, Tamar mengulurkan tangannya pada sang istri, memintanya untuk mendekat. Pria itu menepuk ruang kosong di sebelahnya. Stella pun mendudukkan diri di sana. Mata Tamar memandang lekat wajah istrinya.


“Stel.. maafin aku, ya.”


“Soal?”


“Soal aku yang mutusin pergi malam kemarin. Maaf kalau aku sudah membuatmu cemas.”


“Aku harap abang ngga seperti itu lagi. Jujur aja, aku jadi merasa ngga penting diperlakukan seperti itu sama abang.”


Perasaan menyesal kembali menghentak hati Tamar. Baru saja sahabatnya mengatakan hal tersebut, dan ternyata benar Stella memang berpikiran begitu. Ditariknya Stella ke dalam pelukannya. Kedua tangannya memeluk punggung istrinya itu.


“Maafin aku. Aku emang salah. Aku janji, hal seperti itu ngga akan terjadi lagi. Kamu.. penting bagiku karena kamu istriku. Sekali lagi aku minta maaf.”


Stella menganggukkan kepalanya. Tangannya ikut membalas pelukan sang suami. Perlahan Tamar melepaskan pelukannya. Sebelah tangannya menangkup wajah istrinya. Kemudian pelan-pelan Tamar mendekatkan wajah dan memberikan ciuman di bibir sang istri. Dengan gerakan lembut dia mulai menyesap bibir ranum Stella.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**MP nya belum ya tapi rudal sama apem udah saling lihat🤣


Udah mau puasa nih. Calon pengantin harus buru² nikah ya🤣**


__ADS_2