
Keesokan harinya Viren bersama dengan Alisha mengajak Rakan bertemu. Vanila juga ikut dalam pertemuan tersebut. Keempatnya bertemu di sebuah café yang ada di dekat kantor Rakan. Sepanjang jalan menuju café, Vanila terus berusaha membujuk kedua orang tuanya agar tidak membatalkan pernikahan.
Rakan mempersingkat waktu meeting dengan para kepala bagian. Sisa pekerjaan diberikan pada Refal dan juga Renata. Pria itu lalu bergegas menuju café yang ada di sebrang kantornya. Baru saja pria itu sampai, nampak kendaraan yang ditumpangi Viren berhenti di depan café. Pria itu menghampiri Viren dan Alisha lalu mencium punggung tangan mereka.
“Baru datang, Kan?” tanya Viren.
“Iya, om. Ayo om.”
Rakan lebih dulu masuk ke dalam café. Dia segera menuju meja yang sudah dipesannya. Sejak datang Vanila hanya menundukkan kepalanya, dia tidak berani melihat pada calon suaminya itu. Sebenarnya Rakan juga bingung dan bertanya-tanya mengapa calon mertuanya meminta bertemu menjelang hari pernikahannya.
“Mau pesan apa, om?”
“Nanti saja. Ada yang mau kami bicarakan lebih dulu.”
“Soal apa, om?”
Lebih dulu Viren melihat pada anaknya. Vanila menggelengkan kepalanya pelan seraya menunjukkan wajah sendunya. Namun Viren tetap bersikeras untuk berbicara dengan calon menantunya itu. Alisha sendiri berharap Vanila mau merubah keputusannya, namun ternyata anaknya itu keras kepala, sama seperti suaminya.
“Soal pernikahan kalian. Om pikir lebih baik ditunda saja.”
“Hah? Kenapa om?”
Tentu saja Rakan terkejut mendengarnya. Semua persiapan sudah dilakukan dengan matang. Pakaian, dekorasi, makanan bahkan undangan sudah selesai semua. Hanya tinggal menyebarkan undangan saja. Bahkan untuk mas kawin pun siang ini siap dikirim ke Alea’s Butik. Rakan melihat pada Vanila, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun gadis itu hanya diam saja.
“Maaf, om. Kenapa harus ditunda? Persiapannya sudah selesai semua.”
“Om tidak setuju dengan rencana kalian tinggal terpisah selama satu bulan setelah menikah.”
Terdengar helaan nafas panjang Rakan. Jangankan Viren, dirinya juga sebenarnya tidak setuju. Tapi karena itu keinginan calon istrinya, maka Rakan mau tidak mau mengikutinya. Melihat reaksi Viren yang seperti ini, pasti semalam Vanila mendapat penolakan keras dari keluarganya. Sama seperti dirinya.
“Om tahu kalau itu keinginan Ila. Dan kamu juga pasti terpaksa menuruti keinginan konyolnya. Jadi lebih baik ditunda saja pernikahan ini sampai Ila siap menjalaninya dan tidak bersikap kekanakkan lagi.”
“Papa..”
“Papa dan mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap seperti itu, Ila. Kamu sudah melihat bagaimana mamamu menjalani rumah tangga dengan papa. Ketika kamu menikah dengan Rakan, maka dia yang akan menjadi penanggung jawab hidupmu. Kamu harus menurutinya, mengikutinya selama mengajak dalam kebaikan. Kamu juga harus menjalankan kewajibanmu sebagai istri. Belum apa-apa kamu sudah mengajak suamimu dalam keburukan. Lebih baik tidak usah menikah. Karena papa juga akan ikut menanggung dosamu!”
Kepala Vanila tertunduk mendengar ucapan panjang lebar papanya. Jika Viren dalam mode serius, maka pria itu bisa mengeluarkan banyak kata. Rakan terus memandangi wajah Vanila yang terlihat sedih. Mata gadis itu berkaca-kaca. Tak disangka keinginan sederhananya ternyata berbuntut panjang seperti ini.
“Apa tidak ada solusi lain, om? Apa memang harus diundur?”
“Tanyakan saja pada calon istrimu yang keras kepala itu.”
“Maaf sebelumnya, om. Aku memang tidak setuju dengan usulan Ila. Tapi mengingat pertemuan kami yang singkat, aku mencoba mengerti apa yang menjadi keinginannya. Ila hanya ingin merasakan seperti orang lain, berpacaran dalam artian kami masih tinggal terpisah. In Syaa Allah saya ikhlas kalau itu yang menjadi keinginan Ila.”
“Om tahu kamu anak yang baik. Kamu juga mencintai Ila, makanya kamu mau mengabulkan keinginannya. Tapi sebagai orang tua, om tidak bisa melakukannya.”
“Ehmm.. begini aja, om. Bagaimana kalau waktunya saja yang dipangkas? Waktu yang Ila minta satu bulan, bagaimana kalau kita pangkas waktunya jadi tidak selama itu.”
“Kamu yakin, Kan? Apa kamu tidak apa-apa kalau anak ini meminta tinggal terpisah sementara waktu?” kali ini Alisha ikut bersuara.
Wanita itu memang tidak menyetujui usulan Vanila. Tapi dia juga tidak mau membatalkan pernikahan. Alisha sudah terlanjur menyukai Rakan. Dia takut kalau pembatalan terjadi dan Rakan berubah pikiran, maka pernikahan di antara Rakan dan Vanila tidak akan pernah terjadi.
“Seperti yang sudah tadi aku bilang. In Syaa Allah aku ikhlas. Sekarang tinggal Ila aja, apa mau memangkas waktunya. Kalau tidak mau, aku menyerahkan semua keputusan pada om dan tante saja.”
Semua mata kini tertuju pada Vanila. Gadis itu masih belum mengatakan apapun. Sebenarnya dia sudah merencanakan banyak hal selama tinggal berpisah dari Rakan. Kalau waktunya dipangkas, maka ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan olehnya. Setelah berpikir sejenak, gadis mengangkat kepalanya.
“Aku setuju, pa. Waktunya dipangkas aja, jadi dua minggu.”
“3 hari!” jawab Viren.
“Papa… terlalu cepat kalau tiga hari. Dua minggu aja ya, pa.”
“3 hari atau pernikahan batal!”
Rakan terus memandangi wajah Vanila, gadis itu masih sangat keras kepala rupanya. Kalau mau jujur, dia sangat kesal pada calon istrinya itu. Namun sekali lagi, perbedaan usia mereka yang cukup jauh membuatnya harus lebih banyak bersabar.
“Ila, aku tahu pasti sudah banyak hal yang kamu rencanakan selama satu bulan yang kamu minta. Tapi kita tetap bisa melakukan itu walau sudah tinggal bersama. Tapi kalau kamu bersikeras, maaf.. aku akan mengikuti keinginan papamu. Kita batalkan saja penikahan ini.”
“Dua minggu ya, pa. Boleh ya.”
Kepala Alisha tiba-tiba terasa pening, baik suaminya maupun anaknya sama-sama bergeming dengan keinginannya masing-masing. Melihat hal tersebut, tidak ada pilihan lain bagi Rakan. Pria itu mengambil ponsel dari saku jasnya. Dia segera menghubungi Rain.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Mama, aku ganggu, ngga?”
“Ngga, sayang. Ada apa?”
Kepala Vanila langsung menoleh pada Rakan. Sepertinya calon suaminya itu akan mengikuti keinginan sang ayah untuk membatalkan pernikahan. Hati gadis itu makin kalut. Dipikirnya Rakan akan berada di pihaknya, namun ternyata dia malah mengikuti keinginan Viren.
“Maaf, ma. Maaf sebelumnya kalau aku sudah membuat mama repot. Tapi.. sepertinya aku harus membatalkan pernikahan.”
Bukan hanya Vanila tapi Rain di seberang sana juga terkejut mendengar ucapan keponakannya. Persiapan sudah hampir rampung dan sekarang tiba-tiba Rakan meminta dibatalkan.
“Kenapa? Ada apa dengan kalian?” tanya Rain bingung.
“Maaf mama, nanti aku akan mengatakan pada mama. Tapi bisakah mama menghentikan semua proses persiapannya?”
“Tapi Rakan…”
Suara Rain sudah tidak terdengar lagi, tiba-tiba Vanila menyambar ponsel dari Rakan lalu mematikannya.
“Aku setuju, pa. Tiga hari aja,” jawab Vanila pelan. Raut wajah gadis itu menunjukkan kekecewaan.
“Kalau kamu merasa terpaksa lebih baik tidak usah. Aku mencintaimu, La. Tapi aku juga tidak mau memaksakan pernikahan ini. Kalau memang kamu belum siap dan tidak nyaman tinggal bersamamu sebelum waktu yang kamu minta, kita batalkan saja pernikahan ini. Bisa kuminta hapeku kembali? Aku harus menghubungi mama Rain lagi.”
Segurat senyum tipis tercetak di wajah Viren. Dia suka melihat ketegasan Rakan. Pria itu bisa bersikap sabar, lembut dan juga tegas pada anaknya. Viren yakin kalau Rakan akan bisa menjadi imam yang baik untuknya. Cinta tidak membuatnya menjadi pria bodoh yang akan terus mengikuti keinginan wanitanya.
__ADS_1
“Maaf, bang. Aku sudah bersikap kekanakkan. Aku bukannya tidak nyaman, aku hanya ingin mewujudkan keinginanku. Tapi aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Aku akan ikut apa yang papa katakan. Kita akan tinggal terpisah selama tiga hari. Setelah itu aku akan mengikuti kemana abang membawaku.”
“Kamu yakin?” tanya Viren.
“Yakin, pa.”
“Baiklah kalau begitu. Hanya tiga hari kalian tinggal terpisah. Setelahnya kamu harus menebus dosamu pada suamimu nanti setelah kalian tinggal bersama.”
Alisha tersenyum lega mendengar anak dan suaminya mengambil kata sepakat. Melihat apa yang dilakukan Rakan tadi, dia semakin yakin pada pria itu. Alisha bersyukur anak sulungnya bisa mendapatkan pria seperti Rakan.
“Sekarang bagaimana kalau kita makan?” tawar Rakan yang hanya diangguki yang lain.
Tangan Rakan terangkat untuk memanggil pelayan. Di saat bersamaan, ponselnya berdering. Nampak nama Mama Rain tertera di layar. Wanita itu penasaran karena pembicaraannya dengan Rakan tadi terputus.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Rakan.. kenapa telponnya mati tadi? Kamu bercanda kan?”
“Iya, ma. Maaf tadi aku cuma bercanda aja.”
“Bercanda kamu ngga lucu. Hampir aja mama telepon mamamu. Ya sudah kalau begitu. Nanti sore Tama akan mengantarkan undangan ke rumahmu juga rumah Ila.”
“Iya, ma. Terima kasih ya, ma. Love you..”
“Love you too, sayang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Rakan segera mengakhiri panggilannya. Dia menunggu Vanila dan calon mertuanya memesan makanan, baru kemudian dirinya. Diam-diam pria itu melihat Vanila sambil tersenyum. Ternyata cara jitu mertuanya berhasil membuat calon istrinya yang keras kepala itu bisa mengalah juga. Setidaknya dia bisa memangkas waktu 27 hari tinggal berpisah dari istrinya nanti.
🍁🍁🍁
Sebuah sedan berwarna hitam berhenti di depan lobi rumah sakit. Dari dalamnya keluar Juna. Pria itu sengaja datang ke rumah sakit Ibnu Sina untuk bertemu dengan Reyhan. Sebagai kakek dari Vanila, dia ingin meminta maaf atas sikap kekanakkan cucunya. Pria itu segera masuk ke dalam gedung dan langsung menuju lantai tiga. Sebelum berangkat, dia lebih dulu menghubungi Reyhan.
Baru saja pria itu hendak masuk ke dalam lift, nampak Reyhan berjalan mendekatinya. Pria itu mencium punggung tangan Juna. Dengan penuh kasih sayang Juna memeluk pria itu seraya menepuk pelan punggungnya.
“Kamu sengaja menunggu om di sini?” tanya Juna.
“Iya, om. Ngga pantas kalau aku menunggu om di ruangan. Aku harus menyambut om. Anggap saja penyambutan anak pada orang tuanya.”
Senyum terbit di wajah Juna. Pria itu benar-benar mengagumi sikap Reyhan yang santun dan tahu bagaimana memperlakukan orang tua dengan baik. Bersama dengan Juna, Reyhan memasuki lift. Beberapa dokter muda yang berada di dalam lift menyapa dokter senior tersebut. Juna hanya memperhatikan Reyhan yang bersikap ramah pada juniornya.
“Om mau bertemu denganku atau sekalian mau diperiksa?”
“Om hanya ingin bertemu denganmu. Minggu kemarin om sudah check up. Alhamdulillah sehat.”
“Alhamdulillah, sehat-sehat terus ya, om.”
Pintu lift terbuka. Reyhan mempersilahkan Juna keluar lebih dulu. Pria itu kemudian menyusul dari belakang dan memandu Juna menuju ruang kerjanya. Mata Juna memandangi ruang kerja Reyhan yang cukup luas tersebut. Reyhan meminta Juna duduk di sofa.
“Mau minum apa, om?”
Reyhan hanya menganggukkan kepalanya. Melihat gelagat Juna, sepertinya pria itu hendak membicarakan masalah Rakan dan Vanila. Reyhan segera mendudukkan diri di depan Juna.
“Sebenarnya tujuan om ke sini untuk membicarakan soal Ila. Anak itu.. om tidak tahu harus bicara apalagi. Sebagai kakek dari Ila, om meminta maaf padamu, Ayunda dan Rakan. Anak itu masih muda, jadi pola pikirnya masih kekanakkan.”
“Ngga apa-apa, om. Rakan juga setuju dengan usulan Ila. Sebagai orang tua, aku hanya mendukung dan mendoakan saja. Aku yakin Rakan memutuskan itu juga setelah mempertimbangkannya dengan matang.”
“Iya, om dengar kalau Rakan setuju. Tetap saja om merasa tidak enak. Tapi tadi om dengar dari Viren kalau mereka sudah sepakat dengan perubahan waktunya. Jadi hanya tiga hari saja mereka tinggal terpisah.”
“Alhamdulillah kalau begitu, om.”
“Harap maklum ya, Rey. Vanila memang belum pernah pacaran. Om sempat dengar dia dekat laki-laki tapi tidak lama. Itu pun mereka hanya bertemu di kampus saja. Belum pernah pergi keluar berdua apalagi dibawa ke rumah.”
“Ngga apa-apa, om. Yang penting masalah mereka sudah selesai.”
Juna mengangguk-anggukkan kepalanya. Untung saja Viren bisa mengatasi semuanya dengan baik. Sudah pasti ada peran Rakan juga dibaliknya.
“Oh ya, katanya Geya magang di sini.”
“Iya, om. Dia magang di bagian humas. Om mau ketemu Geya?”
“Boleh?”
“Boleh, om. Mau aku antar?”
“Kalau kamu tidak sibuk.”
“Ngga, om. Kantor Geya ada di lantai dasar. Ayo, om, aku antar.”
Kedua pria itu bangun dari duduknya. Mereka keluar dari ruangan lalu kembali menuju lift. Juna sangat penasaran dengan salah satu cucunya yang tingkahnya mirip dengan sang daddy. Entah apa saja yang sudah dilakukan anak itu di tempat magangnya. Sesampainya di lantai dasar, Reyhan segera mengajak Juna menuju kantor Geya.
“Dokter Reyhan,” sapa Tiwi.
“Geya ada?”
“Ada, dok. Dokter mau ketemu calon mantu ya?” tanya Tiwi seraya melemparkan senyuman.
Baik Reyhan maupun Juna terkejut mendengarnya. Refleks keduanya saling berpandangan dan melemparkan senyuman. Seperti dugaannya, ternyata Geya memang membuat ulah di tempat magangnya. Bisa-bisanya anak itu mengaku sebagai calon istri Daffa di tempatnya magang.
“Grandpa..”
Geya terkejut ketika keluar dari ruangan atasannya melihat Juna dan Reyhan berada di kantor divisinya. Dia mendekati Juna lalu mencium punggung tangannya. Gadis itu juga melakukan hal yang sama pada Reyhan.
“Bagaimana pekerjaanmu di sini?”
“Alhamdulillah lancar, grandpa. Grandpa ngapain di sini? Jangan-jangan grandpa sakit.”
__ADS_1
Geya membolak-balik tubuh Juna lalu melihat wajahnya. Dia ingin tahu apakah sang grandpa sedang tidak baik kondisi tubuhnya. Juna hanya terkekeh saja melihat tingkah cucu dari Abi ini.
“Grandpa baik-baik aja. Grandpa ke sini cuma mau ketemu calon papa mertuamu.”
Merona wajah Geya mendengar ucapan Juna. Apalagi ketika melihat Reyhan melihatnya sambil tersenyum. Kelakuannya memproklamirkan diri sebagai calon Daffa di divisinya bekerja ketahuan oleh Reyhan.
“Om, kalau aku tinggal ngga apa-apa? Ada panggilan tugas.”
“Ngga apa-apa. Terima kasih, Rey.”
“Sama-sama, om. Ge.. papa pergi dulu ya.”
Ingin rasanya Geya berteriak kencang mendengar Reyhan memanggil dirinya dengan sebutan papa untuknya. Gadis itu hanya mesam-mesem saja sambil memandangi Reyhan yang keluar dari ruangannya bekerja.
“Bu Tiwi, saya ijin sebentar boleh?” Geya melihat pada Tiwi.
“Boleh. Tapi jangan lama-lama, ya.”
Geya hanya mengangkat jempolnya saja. Gadis itu memeluk lengan Juna lalu membawanya keluar dari ruangan. Dia senang Juna mengunjunginya di rumah sakit. Geya membawa Juna menuju IGD. Ansel yang sedang berada di IGD senang melihat Geya datang ke tempatnya bekerja. Dengan cepat pria itu mendatangi Geya.
“Rania,” panggil Ansel.
Kening Juna berkerut mendengar dokter muda di depannya memanggil sang cucu dengan sebutan Rania. Dia melihat pada Geya, namun gadis itu nampak cuek saja.
“Ini siapa?” tanya Ansel lagi.
“Ini grandpa.”
“Halo grandpa, kenalkan saya Ansel,” Ansel mengulurkan tangannya pada Juna dan langsung dibalas pria itu.
“Granpa mau diperiksa? Mari saya bantu.”
“Ngga usah. Grandpa mau diperiksa dokter lain aja.”
“Siapa?”
“Kepo. Ayo grandpa.”
Tanpa mempedulikan Ansel, Geya mengajak Juna menuju salah satu blankar yang kosong. Gadis itu meminta Juna naik ke atas blankar.
“Ngapain kita ke sini, Ge? Grandpa ngga sakit.”
“Sssttt.. grandpa diam aja. Ok,” Geya mengedipkan matanya.
Arsy yang melintas di depan blankar yang Juna tempati terkejut melihat sang grandpa ada di IGD. Buru-buru dia menghampiri kakak dari kakeknya itu.
“Grandpa sakit?” tanya Arsy tiba-tiba.
“Ish.. kakak ngapain ke sini, sana keluar,” Geya mendorong tubuh Arsy keluar dari bilik pemeriksaan.
“Ge.. grandpa sakit apa?”
“Malarindu.”
“Hah?”
Dari arah dalam rumah sakit muncul Daffa. Dokter residen tersebut baru saja selesai memeriksa pasien yang dioperasi olehnya. Bergegas Geya menghampiri pria itu. Sebuah senyuman dilayangkan pada Daffa.
“Bang… tolong periksa grandpa.”
“Grandpa? Kenapa sama grandpa?”
Tanpa menjawab pertanyaan Daffa, Geya segera menarik tangan Daffa menuju blankar di mana Juna berada. Mereka melintasi Arsy begitu saja. Melihat itu, Arsy baru mengerti kalau sepupunya itu hanya menggunakan Juna sebagai modusnya saja.
“Dasar cacing kremi. Modus aja kerjaannya,” gumam Arsy pelan. Wanita itu memilih menuju meja perawat.
Juna yang hendak turun dari blankar mengurungkan niatnya begitu Geya dan Daffa mendekatinya. Pria itu paham apa maksud Geya membawanya ke IGD. Modus Kenan benar-benar menurun pada putrinya.
“Grandpa sakit apa?” tanya Daffa. Pria itu hendak memeriksa Juna dengan stetoskopnya.
“Kepala grandpa pusing.”
“Pusing di bagian mana, grandpa?”
“Pusing mikirin cucu grandpa yang ajaib ini. Bisa-bisanya grandpa diseret ke sini. Dasar modus.”
“Grandpa..”
Daffa tertawa kecil mendengar penuturan Juna. Dia melihat pada Geya yang tengah cengar-cengir padanya.
“Maaf grandpa, kalau pusing yang itu, aku ngga punya obatnya.”
“Emang ngga ada obatnya. Obatnya cuma satu.”
“Apa grandpa?” tanya Geya dengan mata berbinar.
“Dinikahin sama monyet.”
“Hahaha…”
Tawa Daffa lepas begitu saja. Geya memajukan bibirnya beberapa senti. Dia bingung kelima kakeknya sampai sekarang belum ada pergerakan untuk menjodohkan dirinya dengan Daffa. Dirinya harus bekerja keras sendiri memutar otak bagaimana agar Daffa takluk padanya.
🍁🍁🍁
**Tidak terasa Ramadhan sudah sampai di penghujungnya. Maafkan kalau ada kata² yang tidak berkenan dan menyinggung perasaan🙏
Mamake bersama keluarga besar Hikmat & Ramadhan mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H. Minal aidin wal faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin🙏
__ADS_1
Met pake baju baru, met makan ketupat, opor dll. Met dompet kempes🤭Ingat jangan mengajarkan investasi bodong pada anak²🤣**