
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Rafa berjalan gontai memasuki rumahnya. Pria itu menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Kepalanya di sandarkan ke sandaran sofa. Terdengar helaan nafasnya beberapa kali. Dayana yang tengah memakaikan baju pada anaknya, meminta asisten rumah tangga menyelesaikan untuknya. Wanita itu segera menghampiri suaminya.
Di ruang tengah, nampak Rafa tengah duduk sambil memejamkan matanya. Kelelahan dan kesedihan tercetak di wajahnya. Dayana segera menghampiri sang suami. Sebuah kecupan lembut di bibirnya, sukses membuat Rafa membuka matanya. Tanpa mengatakan apapun dia langsung memeluk tubuh istrinya.
“Kenapa, mas?” tanya Dayana. Tangannya mengusap pelan punggung suaminya.
Tak ada jawaban dari Rafa, dia semakin mengeratkan pelukannya, seraya menghidu aroma tubuh istrinya. Perasaannya sedikit tenang setelah mendapatkan pelukan hangat dan mencium aroma istrinya. Perlahan pria itu mengurai pelukannya.
“Ada apa, mas? Apa terjadi sesuatu di rumah sakit?”
“Ehm.. pasien mas meninggal di meja operasi. Bahkan kita belum sempat melakukan apapun. Tidak lama setelah dibius, tiba-tiba dia mengalami henti jantung dan tidak bisa diselamatkan.”
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sabar, mas. Yang penting mas sudah berusaha merawatnya.”
“Harusnya dia dioperasi lebih cepat. Umurnya masih muda, baru 29 tahun. Dua bulan lagi juga mau menikah.”
“Itu bukan salah, mas. Semua udah menjadi takdir. Umur manusia tidak ada yang tahu. Yang jelas mas sudah berusaha semaksimal mungkin. Soal jadwal operasi, balik lagi ke takdir, mas. Biar pun mas operasi dia lebih cepat, tapi kalau memang waktunya di dunia sudah habis, pasti dia bakal meninggal juga.”
“Kamu benar, sayang.”
Dayana kembali memeluk suaminya. Rafa menaruh dagunya di bahu sang istri. Kedua tangannya memeluk erat punggung Dayana. Puas memeluk, pria itu melepaskan istrinya kemudian mendaratkan ciuman di bibirnya. Hanya sesapan singkat saja yang diberikan olehnya.
“Alma mana, sayang?”
“Lagi dipakein baju sama bi Nunung.”
Tak lama setelah Dayana mengatakan itu, bi Nunung muncul dengan Alma berada dalam gendongannya. Wanita itu segera menyerahkan Alma pada Dayana, kemudian dia bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Alma mengasongkan tangannya pada Rafa.
“Alma sayang.. papa kangen sama kamu.”
Ciuman diberikan Rafa ke kedua pipi dan kening anaknya. Anak itu memegang wajah anaknya. Sebuah senyum manis diberikan Alma pada sang papa, membuat Rafa semakin dibuat gemas. Dayana bangun dari duduknya, lalu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar pribadinya. Dia mengisi bath tub di kamar mandi dengan air hangat.
“Alma sama mama dulu, ya. Papanya biar mandi, bau acem.”
Dayana mengambil Alma dari gendongan Rafa. Setelah mencium pipi anaknya, Rafa segera menuju kamarnya. Dilepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya, kemudian masuk ke kamar mandi. Berendam di air hangat bisa menghilangkan rasa letih di tubuhnya dan juga membuat pikirannya menjadi rileks.
Usai membersihkan tubuhnya, Rafa segera menuju ruang makan. Di sana sudah tersedia makan malam untuknya. Alma juga sudah duduk di kursinya, menikmati nasi tim buatan istrinya. Dengan lahap Rafa menikmati masakan istrinya. Sejak menikah bobot tubuhnya bertambah akibat rasa masakan istrinya yang lezat. Untung saja pria itu rajin berolahraga, hingga tidak ada penimbunan lemak di perutnya.
Jam sembilan malam, Rafa masuk ke dalam kamarnya. Nampak Dayana tengah menidurkan anaknya. Rafa naik ke atas ranjang, kemudian merebahkan diri di samping Alma yang sudah setengah terpejam.
“Mas.. seminggu yang lalu aku udah lepas KB. Kita promil anak kedua, ya.”
“Kamu yakin? Apa jaraknya ngga terlalu dekat?”
“Ngga, mas. Mumpung aku masih muda. Mas setuju, kan?”
“Iya, sayang. Mas ikut kamu aja.”
Rafa menarik tengkuk sang istri, kemudian membenamkan bibirnya. Setelah memberikan beberapa pagutan, dia melepaskan tautannya. Matanya terus memandangi wajah cantik Dayana. Wanita yang dulu sempat ditolaknya karena dirinya belum bisa melupakan mendiang istri terdahulu. Namun sekarang, kehadiran Dayana dan juga Alma sudah melengkapi hidupnya. Betapa pria itu merasa beruntung mendapatkan Dayana sebagai pendamping hidup.
🍁🍁🍁
Rakan yang sedang menyelesaikan pekerjaan di ruang kerja pribadinya, segera beranjak dari duduknya begitu mendengar suara tangis anaknya. Bergegas pria itu menuju kamarnya. Rupanya Divya terbangun, sedang sang mama nampak masih pulas tertidur di sampingnya. Rakan mendekat, lalu menggendong anaknya. Tangis Divya langsung berhenti saat sudah berada di gendongan ayahnya.
Vanila terbangun dari tidurnya, saat tangannya meraba ruang kosong di sebelahnya. Dia terkejut karena sang anak sudah tidak ada di sampingnya. Wanita itu bisa bernafas lega ketika melihat Divya berada dalam gendongan suaminya.
“Mas..” panggil Vanila dengan suara serak.
“Kamu pasti capek banget ya, sayang. Sampai Divya nangis, ngga dengar.”
“Iya, mas. Seharian aku capek, Divya ngajak jalan terus. Pingangku berasa pengen copot.”
“Namanya juga anak lagi belajar jalan. Nanti mas pijetin.”
__ADS_1
Rakan melihat pada anaknya, karena tidak terdengar suaranya lagi. Ternyata anak cantik itu sudah kembali tidur. Pelan-pelan pria itu menaruh anaknya di boks, kemudian menghampiri istrinya. Dia mengambil minyak zaitun yang ada di nakas dan mulai memijat tubuh sang istri. Mulai dari betis, sampai ke punggung.
“Mas.. akhir pekan ini, opa ngajak liburan, sama grandpa juga.”
“Liburan kemana, sayang?”
“Ngga jauh-jauh, ke Lembang aja. Kita nginep di vila grandpa. Ajak mama Yunda sama papa Rey juga.”
“Ok, sayang. Sekalian bulan madu kedua ya.”
“Maunya mas. Divya gimana?”
“Tenang, banyak yang nagsuh, hahaha..”
“Ish..”
Tak ayal Vanila ikut tertawa juga mendengarnya. Tak sabar dia ingin mengerjai Alden, adiknya. Dia akan membuat adiknya itu tidak berhenti berjalan, mengikuti sang anak yang sedang belajar berjalan. Saat sedang menikmati pijatan, tiba-tiba dia terpekik saat tangan Rakan, dengan nakalnya meremat bukit kembarnya.
“Mas.. iih.. jangan kesempatan dalam kesempitan.”
“Aku mau kasih pijat plus-plus kok kamu malah protes. Udah diem aja, sayang. Nikmati pelayanan dari suamimu.”
Vanila hanya bisa pasrah saja saat tangan suaminya terus bergerilya menyentuh titik-titik sensitif di tubuhnya. Sesekali terdengar ******* Vanila, menikmati telusuran jari dan tangan suaminya. Melihat sang istri yang sudah terbuai, Rakan bersiap mengajak wanita tercintanya itu untuk terbang ke langit ke tujuh.
🍁🍁🍁
Di dapur, nampak Arya tengah sibuk membuat susu untuk anaknya. Dari dalam kamar terdengar teriakan Shifa memanggil suaminya. Wanita itu baru saja selesai menyusui anak kembarnya, dan keduanya belum juga merasa kenyang. Tangan Arya bergerak mengocok botol susu, kemudian bergegas menuju kamar.
Pria itu segera naik ke atas ranjang, kemudian memasukkan dot ke mulut Farraz. Anaknya itu langsung mengenyot susu buatan sang papa. Sedang kakaknya, Fara, masih menyusu dari sumbernya langsung. Dalam hitungan menit, susu yang tadi dbuat Arya sudah habis. Farraz yang masih belum kenyang, kembali menangis.
“Kamu belum kenyang?” tanya Arya.
“Mas salah botol. Itu kenapa yang 60 ml, ya mana kenyang. Biasanya minum 180 ml.”
“Jadi gimana?”
Kembali Arya menuju dapur. Dia mengambil botol lain yang ukurannya sesuai dengan apa yang dikatakan Shifa. Dia melihat pada tulisan yang ada di kulkas. Di sana terdapat catatan, berapa sendok susu yang harus dituangkan. Setelah menambahkan air hangat, Arya mengocok botol susu, lalu membawanya ke kamar.
Farraz kembali anteng ketika dot kembali masuk ke mulutnya. Sambil memejamkan mata, anak itu mengenyot susunya. Baru saja Arya merebahkan tubuhnya, perkataan Shifa kembali membuat pria itu bangun dari tidurnya.
“Susu buat Fara, mana?”
Arya beranjak dari kasur, kemudian keluar dari kamar. Dia mencari-cari botol berukuran 180 ml. Pria itu tidak mau bolak balik lagi membuatkan susu. Setelah merasakan susu yang dibuatnya sudah pas suhunya, dia segera kembali ke kamar. Disodorkannya botol susu pada sang istri.
“Kenapa 180 ml, mas?”
“Ya kan, kamu bilang biasanya 180 ml.”
“Itu Farraz. Kalau Fara cuma 120 ml.”
“Ya ngga apa-apalah, mending lebih dari pada kurang.”
Pria itu membaringkan tubuhnya ke kasur. Ternyata menjadi orang tua yang memiliki anak kembar cukup melelahkan juga. Bergantian anaknya itu terus meminta perhatian darinya. Matanya melirik Farraz yang berbaring di sebelahnya. Mata anak itu sudah terpejam. Susu di botol juga sudah habis. Arya berinisiatif memindahkan sang anak ke dalam boks.
Setelah menyelimuti tubuh anaknya, dia kembali ke kasur dan memposisikan diri di belakang Shifa. Pria itu memeluk tubuh sang istri, kemudian mengusap-ngusapnya dengan lembut. Dia harus bersabar menunggu Fara tidur agar bisa mengajak istrinya berolahraga malam. Sejak Shifa selesai masa nifas, pria itu jarang mendapatkan jatah malam gara-gara sang anak.
Sekilas Arya melihat kalau Fara sudah tertidur. Pelan-pelan dia bangun, kemudian memindahkan Fara ke boks. Secepat kilat Arya kembali ke kasur. Tanpa membuang waktu, Arya langsung mel*mat bibir istrinya dan mencumbunya. Terdengar des*han Shifa saat Arya sudah berhasil memberikan rangsangan. Pria itu bangun untuk membuka pakaian yang membungkus tubuhnya. Namun dia harus berhenti karena tiba-tiba Farraz terbangun dan menangis.
Shifa bangun, kemudian mengambil anaknya itu. Dia menggendong Farraz, berusaha membuat sang anak berhenti menangis. Arya hanya melihat pasrah saja dari atas kasur. Lima belas menit kemudian, Farraz sudah tenang dan tertidur kembali. Shifa menaruh kembali Farraz ke boks.
Wajah Arya sumringah melihat Shifa kembali ke kasur. Dia bermaksud melanjutkan kembali kegiatannya yang tertunda tadi. Baru saja pria itu melepaskan kaos di tubuhnya, kini Fara yang terbangun dan menangis. Shifa kembali bangun untuk menenangkan anaknya. Karena frustrasi, Arya memakai kembali kaosnya. Dipeluknya guling, lalu memejamkan matanya.
Pelan-pelan Shifa meletakkan Fara ke boks, kemudian kembali ke kasur. Dia tersenyum melihat suaminya yang sudah tertidur pulas. Shifa menarik selimut, kemudian menutupi tubuh suaminya. Sebuah kecupan diberikan di pipi suaminya. Shifa membaringkan tubuh di samping sang suami, kemudian memeluknya.
Arya mengubah posisi tidurnya. Dia merentangkan tangannya, membiarkan Shifa merebahkan kepala di lengannya. Kemudian dipeluknya tubuh Shifa dengan erat. Pasangan suami istri itu akhirnya tertidur dengan pulas.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Usai memandikan dan menyusui anaknya, Adisty mengajak Nagendra berjemur di halaman belakang. Anak tampan tersebut nampak anteng di pangkuan sang mama. Aidan keluar dari kamarnya, kemudian mengambi baby stroller dan menaruhnya di teras depan. Dia lalu menuju halaman belakang dan mengajak istrinya keluar.
“Yang.. kita jalan-jalan yuk, ajak Gendra.”
“Mas duluan aja, aku mau mandi dulu.”
“Aku gendong Gendra aja deh, ngga usah bawa baby stroller.”
Aidan mengenakan gendongan di dadanya. Adisty menaruh sang anak di gendongan yang menghadap depan. Aidan memegang tangan Nagendra, kemudian melambaikannya pada Adisty. Pria itu lalu keluar dari rumah miliknya. Dia berjalan menuju taman yang jaraknya 200 meter dari rumahnya.
Sudah banyak yang berkumpul di taman. Para penghuni kompleks memang biasa menghabiskan hari Minggu pagi di taman ini. hanya untuk sekedar berjalan-jalan, berolahraga, atau pun mencari sarapan. Di sini sudah banyak pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya.
Aidan berjalan menuju tengah taman, mengajak anaknya melihat air mancur yang ada di sana. Beberapa ibu-ibu yang ada di sana memuji ketampanan Nagendra. Sesekali mereka bertanya tentang nama anak itu atau umurnya sekarang. Nagendra adalah anak yang ceria. Dia tidak pelit senyum, dan tentu saja semakin membuat gemas siapa saja yang menyapanya.
Tak berapa lama, datang tiga orang wanita berusia lanjut. Diperkirakan usai para wanita yang kerap dipanggil Aidan dengan sebutan Charlie’s Angels itu, sekitar 70 puluh tahunan. Mereka langsung mendekati Nagendra.
“Gendra.. ya ampun ganteng banget cucu eyang,” nenek berjilbab coklat itu mencubit pipi Adian saking gemasnya.
“Tambah chubby aja pipinya,” nenek berjilbab ungu mencubit pipi Aidan yang menganggur.
“Kalau ada yang nakalin kamu, bilang aja. Biar eyang jewer kupingnya,” nenek berjilab putih menjewer telinga Aidan.
“Aduh eyang.. sakit,” pekik Aidan.
“Abisnya aku gemes sama anak kamu.”
“Ya tapi kenapa aku yang dicubit,” protes Aidan.
“Dari pada nyubit anakmu, mending nyubit kamu. Mana tega eyang nyubit anakmu yang ganteng ini.”
Sekali lagi ketiga nenek itu mencubit pipi Aidan dan menjewer telinganya. Adisty yang baru saja sampai di taman, hanya tertawa melihat aksi kekerasan yang didapatkan suaminya. Dia segera mendekati suaminya yang tengah dikelilingi Charlie’s Angels.
“Sayang,” panggil Aidan. Pria itu langsung bersembunyi dibalik tubuh istrinya.
“Eyang, suamiku diapain?”
“Aku gemes sama anakmu. Tapi ngga tega kalau harus nyubit pipinya, jadi ya mending cubit bapaknya aja.”
“Aku mau cium suamimu boleh ya,” seru nenek yang berjilbab coklat.
Dia membuka mulutnya, lalu melepas gigi palsu yang dikenakannya. Setelah itu, sang nenek mendekati Aidan. Melihat bahaya yang mengancam, Aidan langsung mengambil langkah seribu. Pria itu bergegas kembali ke rumah. Adisty kembali tertawa, wanita itu mengikuti langkah suaminya.
“Mas..” panggil Adisty sesampainya di rumah.
“Mas di kamar, sayang,” jawab Aidan.
Adisty segera menuju kamar. Pria itu sedang berbaring di kasur, sambil bermain dengan anaknya. Adisty segera menghampiri suaminya, lalu memeluknya dari belakang.
“Mas gimana sih, masa aku datang ke taman malah ditinggal.”
“Maaf, sayang. Tadi gawat darurat. Beneran yah, nenek ipah tuh nyeremin banget.”
“Hahaha..”
Adisty tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan sang suami. Semenjak kehadiran Nagendra, hidupnya semakin berwarna saja. Aidan dirasakan semakin menyayangi dirinya. Pria itu juga tidak segan untuk membantunya mengurus si kecil. Dan yang paling menyenangkan, tentu saja kehadiran Charlie’s Angels yang selalu dapat mengocok perutnya.
“Mas..” panggil Adisty.
“Kenapa, sayang?”
Aidan menolehkan kepalanya, sebuah ciuman mendarat di bibir pria itu. Aidan membalikkan tubuhnya, lalu membalas ciuman sang istri. Untuk beberapa saat mereka saling mel*mat dan berbagi saliva. Aidan mengakhiri ciumannya, kemudian mengusap sisa saliva di bibir sang istri.
“I love you, sayang,” bisik Aidan.
“I love you too, mas.”
🍁🍁🍁
__ADS_1
Udah bahagia ya mereka. Habis bahagia, terbitlah tamat🤭