Hate Is Love

Hate Is Love
Sang Penyelamat


__ADS_3

Perlahan Stella membuka matanya. Gadis itu terdengar sedikit meringis merasakan tengkuknya yang terasa nyeri. Sambil memijat tengkuknya, Stella memandangi ruang di mana dirinya berada. Tepat di depannya, Yogi berbaring. Tubuh wanita itu bergidik ketika merasakan udara dingin di sekitarnya.


“Haaah.”


Stella menghembuskan nafasnya dan asap keluar dari mulutnya. Gadis itu menyadari kalau ternyata dirinya berada di dalam ruang pendingin. Dengan cepat dia menghampiri Yogi. Tubuh anak itu nampak menggigil. Stella menegakkan tubuh Yogi kemudian memeluknya. Matanya melihat pada tirai pembatas yang terbuat dari bahan plastik ada di bagian dalam ruangan.


Tubuh Yogi disandarkan sebentar ke dinding ruangan. Stella berjalan ke arah dalam kemudian menyibak plastik putih yang berfungsi sebagai pembatas ruangan.


“Aarrgghh..”


Stella menjerit, tubuhnya jatuh terduduk ketika melihat empat tubuh anak berusia 7 sampai 10 tahun duduk meringkuk. Keempat tubuh anak itu nampak kaku dan sepertinya sudah tak bernyawa. Stella beringsut mundur, kemudian dia merangkak menuju pintu. Kedua tangannya menggedor pintu.


“TOLONG!! TOLONG!!”


Untuk beberapa menit Stella terus menggedor pintu sambil berteriak minta tolong. Namun sia-sia, suaranya seperti tertelan udara dingin di sekitarnya. Stella menangis, ketakutan mulai merayapi hatinya. Gadis itu mendekati Yogi, kemudian memeluknya. Sambil memeluk Yogi, dia berharap ada orang yang menyelamatkannya.


🍁🍁🍁


Dia segera menarik pengait yang ada di papan kayu, dan ternyata itu adalah jalan masuk menuju ke basement. Tamar menyalakan senter dari ponsel, kemudian menuruni anak tangga. Keadaan basement sangat sepi dan dingin. Lalu pandangannya tertuju pada sebuah ruangan yang pintunya tertutup rapat. Pintu tersebut terkunci dan hanya bisa dibuka dengan kode akses.


“Om.. bisa kirim Darren ke lokasiku sekarang? Aku butuh bantuannya untuk membuka kunci akses,” Tamar kembali menghubungi Jayden.


Setelah menghubungi Jayden, Tamar menghubungi Aji, meminta bawahannya itu untuk menyusulnya dengan membawa anggota timnya. Sementara itu, Wintang segera menghubungi Bertrand dan mengatakan apa yang terjadi. Mendapat kabar dari Wintang, Bertrand segera kembali ke rumahnya.


Bergegas Bertrand masuk ke dalam rumah lalu turun ke basement. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan ketika melihat Tamar tengah melihat-lihat basemennya. Dia segera menghambur pada pria itu dan menarik kaos Tamar.


“Apa yang kamu lakukan?!!”


Dengan cepat Tamar menepis cengkeraman Bertrand di kaosnya. Dia lalu memerintahkan Bertrand untuk membuka pintu ruangan. Bukannya menuruti perintah Tamar, pria itu bertepuk tangan tiga kali. Dan tak lama kemudian, lima orang bertubuh tegap turun ke basement.


“Habisi dia!!” titah Bertrand.


Kelima pria tersebut segera mendekati Tamar. Perkelahian pun tak bisa dielakkan. Sementara Tamar masih menghadapi anak buahnya, Bertrand naik ke atas. Dia menghubungi anak buahnya yang lain, memintanya untuk datang ke rumahnya. Kemudian pria itu mengajak sang istri untuk pergi.


Melihat majikannya meninggalkan rumah, Wintang juga hendak menyelamatkan diri. Dia tidak mau terciduk polisi karena kejahatan yang dilakukan majikannya. Dengan cepat wanita itu membereskan barang-barangnya.


Sementara itu di basement, Tamar masih menghadapi kelima penyerangnya. Sudah tiga orang yang berhasil dilumpuhkan olehnya. Kini hanya tersisa dua orang lagi, pria itu melayangkan tendangan dan pukulan pada kedua orang tersebut. Salah satu penyerangnya terpental hingga punggungnya menabrak tembok setelah terkena tendangannya. Tersisa satu orang lagi, Tamar segera menghabisinya. Dengan satu tendangan keras, penyerangnya terkapar di lantai.


Sambil membawa tas di tangannya, Wintang keluar dari rumah. Bersamaan dengan itu Darren datang, di belakangnya menyusul Aji dan anggota tim lainnya. Aji langsung menahan kepergian Wintang. Sebuah mobil berhenti di depan rumah, mereka adalah pengawal Bertrand yang lain.


Aji dan yang lain langsung berhadapan dengan anak buah Bertrand, sedangkan Darren segera masuk ke dalam rumah. Untuk sesaat pria itu mencari keberadaan Tamar, kemudian dia melihat jalan masuk ke basement. Dia segera menuruni anak tangga dan bertemu dengan orang yang dicarinya.


“Dar.. tolong buka pintu ruangan ini.”


Dengan cepat Darren memasang alat yang menghubungkan ke kode akses pintu. Tamar terus mengawasi apa yang temannya itu lakukan. Deretan angka terus bergantian mengisi enam digit kode akses.


“Ini ruangan apa?” tanya Tamar.


“Ini freezer.”


“Apa?? Di.. di mana pengatur suhunya?”


“Pengatur suhunya di dalam sini,” Darren mengetuk kotak hitam yang masih terkunci.


Tamar nampak cemas, jika ruangan ini adalah freezer, dia berharap keadaa Stella baik-baik saja. Matanya terus melihat pada dua digit terakhir yang harus diretas. Terdengar bunyi bip ketika keenam angka kode akses berhasil diretas. Dengan cepat Tamar membuka pintu tersebut.


“Stella!!”


Dengan cepat Tamar menghampiri Stella. Tubuh gadis itu sudah sangat dingin, begitu pula dengan Yogi. Kesadaran gadis itu menghilang ketika Tamar meraih tubuhnya. Darren meletakkan alat di tangannya, kemudian mendekati Yogi. Pria itu menggendong Yogi, membawanya keluar dari ruangan pendingin tersebut bersama dengan Tamar.


Setelah melumpuhkan anak buah Bertrand, Aji segera menuju basement. Tamar memerintahkan Aji memeriksa lemari pendingin yang ada di basement, sedang dirinya segera membawa Stella ke rumah sakit.


Aji dan dua orang rekannya masuk ke dalam lemari pendingin. Pria itu terus masuk lalu menyibak tirai pembatas. Mereka terkejut mendapati empat jasad anak yang sudah kaku dengan posisi duduk memeluk tubuhnya. Aji keluar dari ruang pendingin kemudian memanggil tim forensik untuk mengevakuasi korban. Dia juga melaporkan pada atasannya atas temuannya tersebut.


🍁🍁🍁


Mendengar Stella masuk ke rumah sakit, Irvin dan Anya bergegas ke rumah sakit. Cakra yang masih berada di rumah Jojo juga bergegas ke sana. Tentu saja Abi, Juna, Kevin dan Jojo ikut bersamanya. Aric yang mendengar keponakannya masuk rumah sakit, bergegas meninggalkan kantor dan menuju rumah sakit Ibnu Sina.


Tamar duduk di sisi bed, memandangi Stella yang masih terpejam. Dia menyesal mengabaikan laporan gadis itu dan mendorongnya melakukan hal berbahaya. Beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan. Begitu pula dengan Yogi, keadaan anak itu lebih buruk dari Stella tapi masih bisa diselamatkan.


Pintu ruangan terbuka, berturut-turut Irvin, Anya dan Aric masuk. Dan di belakang mereka, pandawa lima yang baru saja datang juga ikut masuk. Tamar berdiri dari duduknya kemudian memberikan ruang untuk Anya dan Irvin melihat kondisi anaknya.


“Stella, sayang. Stella.. ini mami sayang,” panggil Anya sambil menangis.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Irvin pada Tamar.

__ADS_1


“Dokter bilang Stella terkena hipotermia.”


“Bagaimana bisa? Tadi pagi dia baik-baik saja.”


“Maaf om, tante. Ini salah saya, maafkan saya,” Tamar menundukkan kepalanya.


“Apa maksudmu?”


Tamar mengangkat kepalanya, melihat pada Irvin, Anya dan yang lainnya lebih dulu. Kemudian pria itu mulai menceritakan apa yang terjadi. Berawal dari laporan Stella tentang anak bernama Yogi, sampai dia menemukannya di ruang pendingin. Irvin mengetatkan rahangnya mendengar penuturan Tamar. Begitu pula dengan Cakra. Dia geram cucu kesayangannya harus mengalami kejadian seperti itu.


Cakra mengambil ponsel di saku celananya. Dengan cepat dia menghubungi Duta. Dia memerintahkan ketua tim keamanan keluarga Hikmat untuk mencari keberadaan Bertrand dan Astrid lalu membawanya ke markas.


“Maaf kakek, saya juga sudah mengerahkan anak buah saya untuk mencari kedua orang itu. Sementara ini kami sudah menahan ibu Wintang, asisten rumah tangga mereka.”


“Bertrand dan Astrid biar menjadi urusan kami. Sampai aku memastikan keadaan cucuku baik-baik saja, baru aku akan melepaskan mereka padamu.”


Abi menepuk pundak sahabat sekaligus adik iparnya ini. Dia mengerti bagaimana kemarahan Cakra saat ini. Dan pria itu setuju dengan ide Cakra. Abi juga akan pasang badan jika Reksa, ayah dari Bertrand berusaha melindungi anaknya.


“Sekali lagi, saya minta maaf. Kalau saya tidak mengabaikan laporannya, mungkin Stella tidak akan mengalami hal ini.”


“Stella tau dari mana soal Yogi?” tanya Irvin curiga.


“Itu… dia bilang tahu dari Susi eh Suzy..”


Tubuh Irvin terhuyung mendengar nama Suzy keluar dari mulut Tamar. Pria itu teringat percakapannya dengan Stella tadi pagi. Melihat reaksi Irvin, Anya juga Cakra curiga kalau Irvin tahu soal Suzy.


“Siapa Suzy?” tanya Cakra.


“Dia.. jin yang mengikuti Stella.”


“Stella diikuti jin?” tanya Anya panik.


“Hmm.. Stella, dia tidak sepertimu, sayang. Stella bisa berkomunikasi dengan makhluk astral. Dan Suzy adalah jin yang mengikutinya. Bahkan dia bilang kalau mereka berteman.”


Anya jatuh terduduk di kursi. Tangis wanita itu pecah, mendengar penuturan suaminya. Cakra hanya bergeming di tempatnya. Kemampuan cucunya melebihi dirinya dan juga Anya. Sebenarnya itu bukan hal aneh, kakeknya dulu juga punya kemampuan seperti Stella.


“Maaf.. jadi.. soal Stella bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk astral itu benar?” tanya Tamar hati-hati.


“Iya, dia memang anak indigo.”


🍁🍁🍁


Setelah yakin Stella dalam keadaan baik-baik saja, Tamar kembali ke kantornya. Dia ingin segera menginterogasi Wintang perihal mayat anak-anak yang ditemukan Aji di dalam ruang pendingin. Dia yakin kalau Bertrand lah yang membuat mereka kehilangan nyawa.


Tamar masuk ke dalam ruang interogasi. Nampak Wintang tengah duduk dengan kepala tertunduk. Pria itu menarik kursi di hadapan Wintang, membuat wanita itu mengangkat kepalanya. Wintang menatap Tamar tanpa ekspresi, seperti biasanya.


“Siapa empat mayat anak-anak yang kami temukan di lemari pendingin?” Tamar memulai interogasinya.


“Aku tidak tahu.”


“Apa Bertrand yang sudah membunuh mereka?”


“Aku tidak tahu.”


“Di mana Bertrand mendapatkan anak-anak tersebut?”


“Aku tidak tahu.”


Dengan kesal Tamar membanting arsip di tangannya ke meja. Pria itu bangun dari duduknya. Dengan kakinya dia mendorong kursi yang didudukinya tadi ke belakang. Kedua tangannya bertumpu di meja, matanya menatap tajam pada Wintang.


“Yaa.. apa kamu pikir dengan kamu tutup mulut, kamu bisa bebas dari tuduhan? Apa kamu pikir Bertrand akan mengeluarkanmu dari sini? Dia sudah pergi menyelamatkan diri sendiri. Dan kamu hanya akan membusuk di penjara karena menutupi kejahatannya.”


Wintang masih bertahan dengan kebungkamannya. Dia yakin kalau Bertrand tidak akan membiarkannya membusuk di penjara. Apalagi ayah Bertrand adalah salah satu orang berpengaruh. Pastinya dia akan membela sang anak dan membebaskannya juga. Sejatinya Wintang menyimpan banyak rahasia pasangan suami istri tersebut.


“Masih belum mau bicara?” Tamar kembali bertanya pada Wintang.


Wanita itu menolehkan kepalanya ke arah lain. Dia sudah bertekad untuk menutup mulutnya sampai Reksa mengirimkan pengacara untuknya. Suasana sepi di ruang interogasi dikejutkan oleh deringan ponsel Tamar. Tertara nama Aji yang memanggilnya. Pria itu menaruh ponsel ke meja kemudian menjawabnya. Dia menekan tombol speaker agar pembicaraannya dapat terdengar oleh Wintang.


“Halo..”


“Halo capt, Bertrand tertangkap oleh tim keamanan keluarga Hikmat.”


“Biarkan saja. Kita tunggu saja sampai mereka memberikannya pada kita. Apa laki-laki itu sudah membuka mulutnya?”


“Iya. Dia bilang tidak tahu apa-apa soal anak-anak itu. Dia malah mengatakan asisten rumah tangganya yang melakukannya. Bu Wintang suka melakukan ritual aneh dan menjadikan anak kecil sebagai tumbalnya.”

__ADS_1


Mata Wintang membulat mendengar hal tersebut. Sontak dia melihat pada Tamar. Nampak pria itu tersenyum mengejek. Tamar segera mengakhiri panggilannya, lalu melihat pada wanita di depannya.


“Apa kubilang? Kamu itu hanya akan dijadikan tumbal untuknya. Teruskan saja kebungkamanmu itu. Bersiaplah menghabiskan hidupmu di penjara.”


Baru saja Tamar akan meninggalkan meja interogasi, namun dengan cepat Wintang menahannya. Dia sudah bersiap untuk memberikan kesaksian. Tamar menarik kursi kemudian mendudukkan diri di depan wanita itu.


“Siapa anak-anak itu?”


“Mereka adalah anak dari panti yang ada di luar kota Bandung. Dengan memberi sedikit sumbangan pada panti, dia mengambil salah satu anak panti sebagai gantinya. Selain dari panti, pak Bertrand juga mengambil anak jalanan untuk dibawa pulang ke rumah.”


“Untuk apa dia mengambil anak-anak itu?”


“Pak Bertrand mengalami sedikit gangguan emosional. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya jika sedang marah. Dia perlu melampiaskan amarahnya. Dan dia menjadikan anak-anak itu sebagai pelampiasan amarahnya.”


BRAK


Tamar memukul meja dengan tangan terkepal. Dia benar-benar geram mendengar pengakuan Wintang.


“Jadi dia memukuli anak-anak itu?”


“Iya. Setiap dia emosi, dia menjadikan anak-anak itu sebagai pelampiasannya. Dan lemari pendingin itu tempat untuk mengurung anak yang sudah tidak kuat lagi menahan siksaannya. Mereka ditaruh di sana sampai mati kedinginan.”


“Brengsek!!”


BRAK!!


Tamar berdiri lalu menendang kursi dengan kesal. Pria itu benar-benar dibuat emosi mendengarnya. Untung saja kecerobohan Stella bisa menghentikan aksi pria itu. Jika tidak, entah berapa banyak anak yang akan menjadi korbannya. Dan aksinya itu tidak akan diketahui oleh orang lain, kecuali istri dan asisten rumah tangganya.


“Tolong.. a.. aku hanya bekerja untuk mereka. Kalau aku tidak menuruti keinginan mereka, aku mungkin akan dibunuhnya juga.”


“Tunggu saja hukuman yang pantas untukmu. Apa kamu lupa kalau kamu menyembunyikan informasi tentang Stella? Kamu beruntung gadis itu masih hidup. Jika dia sampai mati, maka kamu juga akan mati di tangan keluarganya.”


Tamar segera keluar dari ruangan interogasi. Dibantingnya pintu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi berdebam. Wintang terkejut mendengar suara keras dari pintu. Wanita itu kini tertunduk lemas. Tak ada lagi sikap arogannya seperti tadi.


🍁🍁🍁


Mendengar kondisi yang menimpa sepupunya, Arsy mengakhiri masa bulan madunya. Dia bersama Irzal langsung kembali ke Bandung. Sebelum pulang ke rumah, mereka menyempatkan diri melihat Stella ke rumah sakit. Keduanya segera menuju lantai 12, di mana ruang perawatan VVIP berada.


“Stel.. lo ngga apa-apa?”


Arsy langsung menghambur kepada Stella, kemudian memeluknya. Wanita itu memeriksa keadaan sepupunya itu. Irzal hanya memperhatikan istrinya yang sedang berbicara dengan Stella.


“Alhamdulillah gue ngga apa-apa. Masih inget lo ternyata sama gue? Kemarin aja gue wa ngga dibales, cuma dibaca doang, kaya koran.”


“Ya lagian elo kepo nanya-nanya bulan madu gue segala. Nanya mas Bibie perkasa apa ngga. Dia romantis atau ngga, kepo banget hidup lo. Lo nikah aja terus rasain sendiri.”


Arsy terus saja mengatakan hal-hal yang ditanyakan Stella padanya. Sontak gadis itu langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. apalagi Irzal memandangnya dengan tatapan dinginnya.


“Ssstttt.. Sy.. buset deh mulut bawel lo kalo ngomong ngga ada remnya. Itu..”


Menyadari arah pandang Stella, Arsy baru sadar kalau masih ada Irzal di sampingnya. Wanita itu langsung menutup mulutnya. Karena pertanyaan yang diajukan Stella melalui pesan wa memang banyak bertanya soal suaminya.


“Ehem! Terus siapa yang udah nyelamatin elo?”


“Itu…”


“Itu siapa?”


“Si Tamara Belepotan,” jawab Stella sangat pelan, sampai Irzal harus menajamkan telinganya mendengar jawaban Stella.


“Siapa?” tanya Irzal.


“Temannya abang, hehehe..”


“Teman aku banyak. Siapa maksudnya?”


“Itu… yang polisi. Tamara belepotan, eehh,” Stella menutup mulut dengan tangannya.


“Ya ampun, dasar perempuan ngga tahu terima kasih. Udah diselamatin nyawanya, bisa-bisanya rubah nama orang sembarangan!”


Stella terkejut mendengar suara Tamar. Dia tak menyangka kalau pria itu sudah berada di ruang perawatannya. Irzal berusaha menahan senyumnya mendengar panggilan Stella untuknya. Perlahan Tamar mendekati bed Stella. Arsy langsung bergeser mendekati Irzal, memberi ruang untuk Tamar agar berada tepat di depan sepupunya itu.


🍁🍁🍁


Nah loh Stella, kena deh🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2