
Dikarenakan waktu kelahiran Alma dan Aditya hanya berselang satu bulan saja, Dayana dan Stella memutuskan untuk menyatukan pesta ulang tahun anak mereka. Hal tersebut memicu perdebatan antara Kevin dan Cakra. Masing-masing bersikeras mengadakan pesta di kediamannya.
Lagi-lagi Abi menjadi penengah kedua sahabatnya. Keputusannya, pesta ulang tahun akan diselenggarakan di tempat netral. Pria itu mengusulkan pesta dilangsungkan di panti asuhan Meniti Harapan. Panti asuhan di mana sang istri dibesarkan setelah menjadi yatim piatu. Semua menyambut senang usulan tersebut. Persiapan pun segera dilakukan dan melibatkan banyak orang.
Duta, Dion, Septa dan Jamal tentu saja bersemangat saat mendengar pesta ulang tahun cicit dari pandawa lima akan diadakan di panti asuhan. Seperti halnya Nina, keempat orang tersebut juga dibesarkan di sana. Sejak keluar dan bekerja di keluarga Hikmat, mereka tak pernah melupakan dari mana mereka berasal. Secara rutin mereka juga sering mengunjungi panti tersebut, melihat adik-adik mereka yang setiap harinya semakin bertambah.
Nina memandangi bangunan kokoh di depannya. Berpuluh tahun lalu, Abi membangun tempat ini untuknya, memindahkan adik pantinya ke tempat yang lebih layak dan memberikan dukungan dana agar mereka tidak kekurangan. Sejak kepergian bu Lidya, panti asuhan berada dalam pengawasan anaknya, Nurmala. Kepemimpinan Nurmala juga tidak kalah baik dari ibunya.
Di aula yang berada di lantai dasar, ruangan sudah dihias sedemikian rupa untuk merayakan ulang tahun pertama Alma dan Aditya. Hiasan balon dan kertas krep warna warni sudah menghiasi ruangan. Sebuah kue berukuran besar juga sudah siap di atas meja yang ditaruh di tengah ruangan. Nuansa biru dan pink mendominasi ruangan tersebut. Semua tamu yang diundang, wajib mengenakan dress code biru atau pink.
Dua anak yang menjadi pemilik hajat sudah siap di depan kue besar tersebut. Tema doraemon dan kuda pony menyatu di dalam kue bertingkat tersebut. Alma berada dalam gendongan Rafa, sedang Aditya berada dalam gendongan Tamar. Kedua istri mereka dengan setia berada di samping para suami.
Naima yang didapuk sebagai MC, segera membuka acara. Gadis itu sangat luwes saat menjalankan perannya sebagai MC. Dia juga dapat menghidupkan suasana yang mendapat respon positif dari anak-anak panti.
“Sekarang kita sama-sama nyanyi selamat ulang tahun ya. Suaranya yang kencang ya,” Naima memberikan instruksi.
“Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat panjang umur, kita kan doakan. Selamat ulang tahun, sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia. Tiup lilinnya.. tiup lilinnya… tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang.. juga, sekarang juga.”
Bersamaan Rafa dan Tamar mendekatkan anak mereka. Kedua pria itu membantu anaknya untuk meniup lilin. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya lilin tersebut mati juga. Suara tepukan tangan terdengar setelahnya. Senyum manis Aditya dan Alma terlihat. Mereka ikutan menyatukan kedua tangannya, mengikuti gerakan semua yang datang.
Stella dan Dayana memotong kue, kemudian memberikannya pada suami mereka. Rafa mengambil kue, kemudian menyuapkannya pada Alma. Begitu pula dengan Tamar yang ikut menyuapi Aditya kue. Selanjutnya ibu muda tersebut membagikan kue pada yang lainnya dibantu oleh Naima.
Untuk memeriahkan acara ulang tahun kali ini, Naima juga membuat beberapa permainan. Orang tua yang berulang tahun sudah menyiapkan hadiah bagi semua yang ikut berpartisipasi dalam acara. Bermacam lomba diadakan dan anak-anak nampak antusias mengikuti lomba. Selain itu, acara juga diisi dengan hiburan badut dan sulap.
Gilang mengajak Dipa untuk memberikan hiburan pada semua yang hadir. Pemuda itu akan menyanyikan lagu ulang tahun untuk keponakan tercinta. Dipa juga memiliki suara bagus, mewarisi gen kakek, nenek dan mamanya. Kedua pria tampan itu sudah bersiap di depan dengan memegang mic. Suara musik mulai mengalun.
“Hari ini hari yang kau tunggu. Bertambah satu tahun usiamu, bahagialah kamu. Yang kuberi bukan jam dan cincin. Bukan seikat bunga, atau puisi, juga kalung hati,” Gilang memulai lagunya.
“Maaf, bukannya pelit. Atau nggak mau ngemodal dikit. Yang ingin aku beri padamu doa s'tulus hati,” Dipa menyambung nyanyian sepupunya.
“S'moga Tuhan melindungi kamu. Serta tercapai semua angan dan cita-citamu. Mudah-mudahan dib'ri umur panjang. Sehat selama-lamanya,” Gilang dan Dipa menyanyikan lirik bersama-sama.
Suasana bertambah ramai ketika semua yang hadir juga ikut menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh Jamrud tersebut. Suara teriakan Alma dan Aditya terdengar. Mereka ikut senang dan tubuhnya tak berhenti bergerak mengikuti irama musik up beat tersebut.
__ADS_1
“Ok, terima kasih pada duo jomblo atas hiburannya. Acara selanjutnya adalah lomba makan pisang. Kita akan melakukan lomba berpasangan. Kepada yang terhormat, ibu dan bapak hajat silahkan maju ke depan. Anak-anaknya bisa dititip dulu pada siapa saja yang mau menampungnya.”
Tamar menitipkan anaknya pada Anya dan Irvin. Begitu pula dengan Rafa yang meitipkan Alma pada Freya dan Ravin. Kemudian dua pasangan tersebut segera maju ke depan. Delapan buah kursi sudah disiapkan di sana. Naima kembali memanggil peserta berikutnya untuk maju ke depan.
“Selanjutnya, kepada bang Bibie dan kak Arsy. Bang Zar dan kak Rena. Bang Arya dan kak Shifa. Bang Idan dan kak Disty. Bang Daffa dan Geya. Dan last but not least, bang Nalen dan kak Yumi, dipersilahkan maju ke depan. Silahkan menempati kursi masing-masing. Untuk bapak-bapak silahkan duduk di kursi, dan para ibu di sini berkumpul di dekatku.”
Semua langsung mengikuti arahan Naima. Para pria sudah duduk di kursinya masing-masing. Para Wanita berkumpul di dekat Naima. Rakan dan Vanila tidak diikutsertakan, karena mereka baru saja dikaruniai seorang anak. Begitu pula dengan Aqeel dan Iza. Anak mereka sedang manja dan tidak mau dititip ke kakek, nenekya. Vanila dan Iza membantu Naima dengan menutup mata kaum pria dengan kain tipis.
Kursi yang diduduki para suami sengaja dibuat melingkar, sedang sang istri berada di tengah. Naima dan Vanila menutup juga mata para istri. Sebelumnya mereka menaruh pisang ambon di tangan, yang sudah dikupas setengah. Setelah semua sudah siap dengan posisinya masing-masing, Naima kembali mengatakan aturan permainan.
“Untuk game suapan pisang ini, yang boleh bersuara hanya para suami aja, ya. Kalian harus mengarahkan sang istri agar berjalan menuju kalian. Buat ibu-ibu, bergeraknya pelan-pelan aja. Ingat, kalian sedang membawa genderang perang. Tenang aja, aku, kak Ila dan kak Iza akan membantu kalian sampai di pasangan yang menurut kalian benar. Untuk para suami, hanya suara, ya. Anggota tubuh lain ngga boleh dipake, terutama tangan. Siap, yaa… one.. two.. go!”
Untuk sejenak, para wanita masih berada di tempatnya. Mereka masih memilah suara para suami yang sudah terdengar. Bagi pasangan yang sudah menikah cukup lama, tentu saja tidak menemui kesulitan untuk mengenali suara pasangannya. Namun mereka harus berjalan ke arah yang benar. Naima, dibantu oleh Vanila juga Iza mengawasi jalannya para ibu hamil.
“Sayang.. sini sayang.. mas di sini.”
Terdengar suara Irzal memberi arahan pada istrinya. Pria itu terus berbicara, sedikit demi sedikit Arsy mulai bergerak menuju arah suara suaminya. Melihat Arsy sudah menuju arah yang benar, Iza segera membantunya menuju Irzal.
“Mas di sini Aya sayang,” seru Rafa.
“Ella sayang! Abang di sini.”
Sambil menjulurkan tangannya, Stella berjalan menuju arah suara. Semakin lama, dia semakin mendekati kursi Tamar. Vanila segera membantu sepupunya untuk sampai di depan suaminya.
“Renaaa… aku di sini.. Renaaaa..”
Renata langsung mengenali suara suaminya. Zar sengaja membuat suaranya terdengar cempreng dengan sedikit hentakan di akhir nama sang istri. Itu adalah ciri khas Zar ketika memanggil nama Renata. Dengan cepat Renata berhasil menemukan lokasi suaminya. Vanila membantu wanita itu sampai ke depan Zar.
Keempat pasangan lain juga masih berjuang. Namun mereka tidak seberuntung keempat pasangan tadi. Naima, Vanila dan Iza segera membantu para istri menuju tempat yang diyakini adalah kursi suaminya. Geya menuju Arya, Adisty menuju Nalen, Shifa menuju Daffa dan Ayumi menuju Aidan.
Begitu sampai di depan para suami, para istri segera mengarahkan pisang pada mulut sang suami yang entah di mana posisinya. Zar merentangkan tangannya, lalu menarik tangan Rena dan mengarahkan pisang ke mulutnya. Irzal juga merentangkan tangannya, dia meraih pinggang sang istri, lalu mendudukkan di pangkuannya. Pria itu mengarahkan tangan Arsy yang memegang pisang ke mulutnya.
Dayana juga berusaha mengarahkan pisang ke mulut suaminya. Rafa berusaha meraih tangan sang istri, namun tidak berhasil. Dayana mengarahkan pisang ke pipi suaminya, Rafa segera menolehkan kepalanya. Pisang di pipinya terus bergeser hingga bisa masuk ke mulutnya. Namun pipinya belepotan oleh daging pisang.
__ADS_1
Stella dengan penuh percaya diri mengarahkan pisang ke depan. Ujung pisang mengenai mata Tamar yang tertutup kain. Sadar salah sasaran, Stella menurunkan pisang tanpa menjauh dari wajah suaminya. Pisang terus turun melewati pipi, berbelok ke hidung, hingga akhirnya berhasil masuk ke mulut Tamar.
Berbeda dengan Geya. Wanita itu mengarahkan pisang ke kening Arya, kemudian menggesernya ke samping kanan, kembali bergeser ke tengah, lagi bergerak ke samping kiri, hingga kening Arya penuh dengan daging pisang.
Sama seperti Geya, Shifa juga mengarahkan pisang ke kening Daffa, kemudian menggerakkan pisangnya ke bawah, mengenai kain tipis yang menutupi mata pria itu. kembali Shifa menggerakkan ke bawah dan mengenai pipi Daffa.
Adisty hampir saja mengarahkan pisang ke mulut Nalendra, namun melenceng beberapa senti. Lalu menaikkannya sampai ke pipi. Digeser lagi sampai mengenai telinga pria itu. Kepala Nalendra bergerak untuk menyingkirkan pisang dari lubang telinganya.
Begitu pula dengan Ayumi yang sekarang berhadapan dengan Aidan. Mula-mula pisang berada di pipi. Kemudian tangan wanita itu bergerak ke arah kanan dan berhenti tepat di atas bibir Aidan. Lalu Ayumi mengarahkan pisang ke atas, bukan bawah. Alhasil pisang dipaksa masuk ke dalam lubang hidung Aidan.
“Ok.. game over! Silahkan dibuka kain penutup mata masing-masing!” teriak Naima.
Daffa bergegas membuka penutup matanya. Dia terkejut ternyata orang yang sudah melumuri wajahnya dengan pisang adalah Shifa, bukan istrinya.
“Sengaja ya, bikin muka gue penuh pisang!” kesal Daffa.
“Hahaha.. sorry, Daf.. hahaha..” Shifa tak bisa menahan tawanya.
Berturut-turut, Aidan, Nalendra dan Arya membuka penutup matanya. Mereka terkejut melihat wanita di depannya bukanlah sang istri. Nalendra meraba telinganya yang penuh dengan pisang. Pun dengan Aidan yang lubang hidung sebelah kirinya penuh dengan pisang. Sedang Arya, keningnya yang menjadi tempat pisang bersarang.
“Bang Idan, bininya sadis. Kuping gue dijejelin pisang!”
“Hahaha… nih bini lo juga, jejelin hidung gue pake pisang.”
“Bhuahaha… lo kenapa, Daf? Pake masker pisang?” seru Arya.
Gelak tawa terdengar memenuhi seisi ruangan. Daffa bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka, disusul oleh Aidan, Nalendra dan Arya. Rafa dan Tamar juga harus ke kamar mandi, kecuali Irzal dan Zar yang aman sentosa.
“Bang Bibie sama bang Zar didis, ya. Aturan kan ngga boleh pake tangan,” seru Naima.
“Bodo,” jawab Irzal dan Zar bersamaan.
Semua yang menghadiri ulang tahun Alma dan Aditya cukup terhibur dengan acara yang disusun oleh Naima. Acara seperti ini diharapkan akan menjadi ajang untuk menambah erat tali persaudaraan di antara mereka. Selain keluarga Hikmat dan Ramadhan, keluarga Rafa dan Tamar juga ikut datang. Begitu pula dengan Sundari yang ikut bergabung dengan anak pantinya yang lain.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Mohon maaf kemarin aku ngga up. Kondisi badan tiba² nge drop, seharian nyungsep di atas kasur abis minum obat🙏