Hate Is Love

Hate Is Love
Azzam


__ADS_3

Hai readers keceku. Terima kasih buat doa kalian semua. Alhamdillah kondisiku sudah lumayan, walau belum fit benar. Tapi aku luangkan waktu up buat kalian. Uo nya slowly dulu ya🤗


🍁🍁🍁


Setelah membersihkan diri dan menunaikan ibadah shalat isya, Irzal membaringkan tubuhnya di atas kasur. Mulai besok dia sudah mengambil cuti untuk pernikahannya yang akan dilaksanakan lusa. Tak banyak waktu libur yang bisa diambil karena kesibukan di kantor. Bahkan untuk rencana bulan madu, mungkin hanya dihabiskan di seputaran Bandung saja.


Sudah lima hari lamanya dia tidak bertemu dengan Arsy. Jangankan bertemu, pria itu juga menahan diri untuk tidak mengirimkan pesan atau telepon. Dia sengaja melakukan hal itu untuk menguji perasaan masing-masing, terutama perasaannya. Dan ternyata lima hari tak bertemu dengan calon istri, cukup menyiksanya.


“Arsy..” gumam Irzal pelan seraya menatap langit-langit kamar.


Untuk beberapa saat pria itu masih mengarahkan pandangan ke atas. Seolah-olah pria itu tengah melihat wajah wanita yang diam-diam sudah menghuni hatinya, entah sejak kapan. Ingin rasanya dia menghubungi Arsy, namun ditahannya. Dia ingin kerinduannya nanti terlampiaskan setelah hubungan mereka sah di mata hukum dan agama.


Baru saja Irzal akan memejamkan matanya ketika terdengar ketukan di pintu. Pria itu bangun lalu membukakan pintu kamar. Ternyata Ita, asisten rumah tangga di kediamannya yang datang.


“Maaf mas Bibie.. ada tamu yang mau bertemu.”


“Tamu? Siapa?”


“Saya ngga tau, mas. Belum pernah ke sini sepertinya.”


Irzal hanya menganggukkan kepalanya seraya keluar dari kamar. Ita juga bergegas meninggalkan anak majikannya itu. Setelah menutup pintu kamar, Irzal bergegas menuruni anak tangga. Dia cukup penasaran, siapa yang ingin bertemu dengannya di waktu hampir menunjukkan pukul sembilan malam.


Irzal terus berjalan menuju teras, di mana tamunya berada. Untuk sesaat dia tertegun melihat seorang pemuda yang tingginya hampir setara dirinya dan tubuh yang cukup tegap berdiri membelakangi dirinya.


Mendengar suara langkah di belakangnya, pemuda itu membalikkan tubuhnya. Dia melayangkan senyuman seraya mendekati Irzal, kemudian mengulurkan tangan pada pria itu.


“Bang Irzal?”


“Iya.”


“Kenalkan, saya Azzam. Adiknya kak Arsy.”


“Ooh..”


Hanya itu saja yang keluar dari mulut Irzal seraya menyambut uluran tangan pemuda itu. Pantas saja wajahnya tidak terasa asing. Wajah Azzam lebih banyak mewarisi wajah Kenzie. Sikapnya juga lebih banyak mengikuti sang ayah. Irzal mempersilahkan Azzam untuk duduk. Keduanya menempati kursi yang ada di teras.


“Maaf sebelumnya, bang, kalau aku datang bukan dijamnya bertamu.”


“Tidak apa, santai aja.”


“Aku cuma penasaran, seperti apa calon yang akan menikahi kakakku,” Azzam, kembali melemparkan senyumnya.


Ita datang menbawakan minuman dingin untuk tamu Irzal. Setelah menaruh gelas di meja, dia kembali masuk ke dalam. Irzal mempersilahkan Azzam untuk menikmati minumannya. Pemuda itu mengangkat gelas kemudian meneguknya sampai habis setengah. Sambil meneguk minumannya, Irzal terus memperhatikan Azzam.


“Kata Arsy, kamu kuliah di akademi angkatan udara.”


“Iya, bang. Sebentar lagi beres.”


“Alhamdulillah. Habis dilantik apa langsung tugas di korps?”


“Belum, bang. Aku harus ambil pendidikan pilot dulu selama satu setengah tahun, lanjut pendidikan di korps enam bulan, baru aku gabung di korps.”


“Rencana ambil korps apa?”


“Aku mau ambil korps pesawat tempur.”


“Wah keren itu. Aku doakan semoga lancar.”


“Aamiin..”


Suasana di antara Irzal dan Azzam mulai mencair. Keduanya saling bercerita mengenai kegiatan masing-masing. Mereka juga saling menilai lawan bicaranya. Menurut Irzal, Azzam adalah orang yang tegas namun juga sangat menyayangi keluarganya. Pasti kedatangannya ke sini untuk memastikan sendiri seperti apa pria yang akan menikahi kakaknya.


Begitu pula dengan Azzam, yang menilai kepribadian Irzal dari percakapan ringan mereka. Sikap Irzal yang hampir mirip dengan papanya, membuatnya berpikir kalau sang kakak akan mudah menerimanya. Selain itu, Irzal juga terlihat sangat bertanggung jawab. Namun yang membuatnya penasaran, apakah Irzal memiliki perasaan pada Arsy.


“Aku dengar kakek Abi ya yang punya ide ngejodohin kalian, hahaha..” Azzam tak bisa menahan tawanya.


“Ya begitulah..” Irzal ikutan tersenyum.


“Tapi kakakku tuh bar-bar banget loh, bang. Abang harus banyakin stok sabar kayanya.”


“Kakakmu juga cerboboh. Dia senang sekali melakukan sesuatu tanpa dipikir dahulu.”


“Iya, itu salah satu kelemahan kakak. Kakak itu susah kalau dinasehati dengan cara keras, dia pasti ngelawan. Tapi kalau kita ngomongnya baik-baik, justru lebih ngena di hatinya. Dan aslinya kakak itu aslinya manja kalau sama ayah dan aku. Kalau sama bang Zar malah ribut mulu, kaya musuh bebuyutan.”


“Tapi mereka saling sayang.”


Azzam hanya menganggukkan kepalanya saja tanda setuju. Pemuda itu mulai menyukai Irzal, padahal mereka baru pertama bertemu. Hatinya lega melepaskan sang kakak pada pria yang tepat. Memang pilihan sang kakek tidaklah salah.


“Bang.. aku tahu kalau pernikahan kalian memang karena perjodohan. Tapi.. bagaimana dengan perasaan abang sendiri. Apa abang mencintai kak Arsy?”


Irzal tak langsung menjawab pertanyaan Azzam. Dia terdiam, mencoba mengingat kebersamaannya dengan Arsy, termasuk apa yang dia rasakan selama hampir seminggu ini ketika tak bertemu dengannya. Irzal menatap Azza, lekat-lekat sebelum menjawab pertanyaan pemuda di depannya.


“Sepertinya aku memang sudah jatuh cinta padanya,” akhirnya Irzal mengakui perasaannya pada calon adik iparnya.


Wajah Azzam menyunggingkan senyuman mendengar pengakuan Irzal. Hatinya bertambah tenang menyerahkan sang kakak pada pria ini. Walau pun belum mendengar secara langsung dari mulut Arsy, namun lewat pembicaraan mereka tiga hari lalu, dia yakin kalau kakak perempuannya itu juga sudah jatuh cinta pada calon suaminya.


“Aku titip kak Arsy, bang. Aku percaya abang bisa jadi imam yang baik untuknya dan menjadikannya wanita yang lebih baik lagi.”


“Aamiin.. doakan saja yang terbaik untuk kami.”


“Aku pulang dulu, bang.”


“Sebentar, Zam. Ada yang mau kutitip.”


Irzal bangun dari duduknya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Dia menuju kamarnya, lalu mengambil sebuah bingkisan dari atas meja. Bergegas pria itu keluar dari kamarnya dan menuju Azzam lagi.


“Ini.. tolong berikan ini untuk Arsy.”


Tangan Azzam terulur mengambi bingkisan dari tangan Irzal. Matanya terus memandang bingkisan di tangannya yang berbentuk tabung.


“Ini, apa bang?”


“Kakakmu suka makanan manis, kan? Itu untuknya.”


“Ok, bang. Nanti aku berikan sama kakak. Aku pulang dulu.”


Azzam melangkah menuju mobil yang dikirimkan sang papa untuk menjemputnya di bandara tadi. Irzal mengikuti dari belakang. Sebelum masuk ke dalam mobil, Azzam menoleh sebentar pada Irzal.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”

__ADS_1


Setelah Azzam masuk ke dalam mobil, tak lama kemudian kendaraan roda empat tersebut meluncur pergi. Irzal masih berdiri di tempatnya sambil mobil yang ditumpangi Azzam tak terlihat lagi. Lalu pria itu masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Berbincang dengan Azzam, sedikit banyak mengurangi kerinduannya pada Arsy.


🍁🍁🍁


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam.”


Nara yang hendak masuk ke kamar tidur, terpaksa menundanya begitu mendengar suara yang begitu dirindukannya. Matanya berbinar melihat anak bungsunya yang sudah setahun lebih tidak ditemuinya berdiri di depannya. Dengan cepat wanita itu menghambur pada Azzam, kemudian memeluknya.


“Anak mama… gimana kabarmu, sayang,” tanya Nara seraya melepaskan pelukannya kemudian mengusap lembut rahang sang anak.


“Alhamdulillah, sehat, ma. Mama sendiri gimana?”


“Alhamdulillah, mama juga sehat. Kenapa datang ngga bilang-bilang?”


“Bilang kok, ma sama papa. Kan papa juga yang kirimin jemputan ke bandara.”


“Oh ya?”


Nara nampak kesal karena Kenzie tak mengatakan apapun perihal kedatangan Azzam. Bahkan saat dia menanyakannya, suaminya itu hanya mengatakan kalau sang anak tengah sibuk dan tidak bisa datang.


“Papamu itu benar-benar keterlaluan.”


“Jangan marah, ma. Kayanya papa mau bikin surprise buat mama.”


Sebuah pelukan kembali diberikan Azzam pada mamanya untuk mengurangi kemarahannya. Tak lama kemudian, Kenzie keluar dari ruang kerjanya lalu menghampiri istri dan anak bungsunya. Azzam melepaskan pelukannya pada Nara, kemudian mendekati Kenzie. Setelah mencium punggung tangannya, Azzam memeluk sang ayah dengan erat.


“Papa senang kamu bisa kembali untuk melihat kakakmu menikah.”


“Pasti, pa. Aku tuh sayang banget sama kak Arsy, masa aku ngga datang di hari spesialnya.”


Segurat senyum terbit di wajah Kenzie. Sambil merangkul bahu anaknya, pria itu mendekati Nara yang masih dalam mode ngambek karena dikerjai suaminya.


“Lihat mamamu, masih ngambek sama papa.”


“Iya, pa. Kasihan banget papa, kayanya butuh usaha keras buat bujuk mama, hahaha..”


“Dasar anak nakal.”


PLETAK


Sebuah sentilan mendarat di kening Azzam. Nara jelas kesal melihatnya, dia menarik tangan Azzam untuk bersembunyi di balik punggungnya. Matanya semakin mendelik melihat pada suaminya. Azzam tak bisa berhenti melihat reaksi kedua orang tuanya.


“Oii mas bro!”


Azzam langsung menolehkan kepalanya begitu mendengar suara Zar. Buru-buru pria itu menuruni anak tangga untuk sampai ke depan adik kesayangannya. Keduanya langsung berpelukan ala lelaki, disambung dengan saling mengepalkan tangan dan menyatukannya. Salam khas yang sering mereka lakukan.


“Kapan dateng?”


“Baru aja.”


“Mama sama papa kenapa?”


“Biasa, bang. Mama lagi merajuk, hahaha…”


“Zam…” panggil Nara.


Zar mendorong tubuh Kenzie, sedang Azzam mendorong tubuh Nara sampai keduanya masuk ke dalam kamar. Dua kakak beradik itu dengan kompak melongokkan kepala ke pintu yang hampir menutup.


“Ingat ya, pa. Jangan sampai si Azzam punya adek. Aku ngga rela loh,” goda Zar.


“Iya, pa. Aku tetap mau jadi anak bungsu, hahaha..”


“Dasar bocah edan,” seru Kenzie namun sambil tersenyum.


Pintu langsung menutup, meninggalkan pasangan yang sudah tidak muda lagi namun masih terlihat mesra walau tak pernah mengumbar kemesraan di tempat umum. Kenzie mendekati Nara yang masih ngambek padanya. Dipeluknya tubuh wanita yang sudah memberinya tiga orang anak.


Terdengar tawa kecil Nara saat sang suami memberikan kecupan-kecupan di tengkuknya. Kenzie selalu tahu di mana letak titik-titik sensitifnya. Wanita itu membalikkan tubuhnya kemudian memeluk leher sang suami sambil memandanginya lekat-lekat.


“Makasih ya, mas. Sudah membawa anak bungsuku pulang.”


“Sama-sama, sayang. Tapi soal Azzam yang sedang sibuk dan tidak bisa pulang memang benar. Mas ngga bohong.”


“Tapi itu Azzam bisa pulang.”


“Ya terpaksa mas lewat jalan pintas. Mas ngga mau lihat istri mas bersedih terus.”


“Oh ya ampun, suamiku memang the best. Love you, mas.”


“Love you too.”


Nara berjinjit kemudian mendaratkan ciuman di bibir suaminya. Kenzie menahan tengkuk Nara lalu membalas pagutan sang istri. Sebelah tangannya memeluk punggung Nara, sedang bibirnya tetap memagut. Perlahan dia membawa Nara ke ranjang dan selajutnya tentu saja mengajaknya berolahraga malam.


Sementara itu, Azzam dan Zar sudah naik ke lantai atas. Azzam masuk ke dalam kamarnya disusul oleh Zar. Kakak laki-lakinya itu menghempaskan tubuhnya di kasur Azzam yang sudah diganti seprainya oleh sang asisten rumah tangga. Sementara Azzam melepaskan kaos yang melekat di tubuhnya.


“Wuih.. badan lo tambah kebentuk saja, Zam.”


“Iya, bang. Latihan fisik terus gitu loh.”


“BTW waktu di Magelang kalian latihan apa aja?”


“Di sana kan kita pendidikan militer, bang. Ya kita dilatih fisik, dilatih bertahah hidup dan lain-lain deh, termasuk mengatur taktik juga.”


“Lama lo di Magelang?”


“Ngga, cuma enam bulan. Terus kita balik ke Sleman, mulai kuliah.”


Zar hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia kagum pada sang adik yang sungguh-sungguh mengejar cita-citanya sebagai TNI angkatan udara. Dia rela tinggal terpisah dari keluarga tercinta dan ditempa fisik dan mentalnya dengan pendidikan ala militer.


“Kak Arsy udah tidur belum?”


“Belum kayanya. Dia kan lagi galon, hahaha..”


“Galon kenapa?”


“Rindu berat sama calon suami.”


“Serius? Aku tadi abis ketemu bang Irzal. Kita lumayan ngobrol banyak lah.”


“Oh ya? Bagus deh. Irzal itu laki-laki yang baik. Gue sih tenang Arsy nikah sama dia. Gue yakin dia bakal jaga Arsy seperti kita menjaganya.”

__ADS_1


“Aamiin.. gue mandi dulu, bang. Abis itu mau lihat kak Arsy. Eh itu di ransel ada oleh-oleh, lupa gue. Keluarin aja.”


“Wokeh.”


Dengan cepat Azzam masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Zar pun tidak membuang waktu untuk menggeledah ransel Azzam. Dia mengeluarkan beberapa makanan khas Yogya yang dibelinya untuk oleh-oleh. Kemudian Zar mengeluarkan sebuah botol berbentuk pipih dengan motif loreng ala tentara. Lalu dia juga mengeluarkan beberapa makanan kaleng tanpa merk dari tas sang adik.


Azzam keluar sambil mengusak kepalanya dengan handuk kecil. Dia mendudukkan diri di samping Azzam yang masih melihat deretan makanan kaleng dan juga botol pipih yang ditemukannya. Dia sudah membukanya, dan sepertinya itu adalah lotion.


“Ini apaan?” Zar menunjuk pada makanan kaleng dan botol pipih.


“Ini makanan yang biasa dimakan tentara kalau lagi tugas. Waktu aku ikut latihan militer, kita nginep di hutan beberapa hari, belajar perang gerilya dan susur hutan. Nah kita makannya beginian. Mayan, bang, enak kalau darurat mah, hahaha..”


“Terus ini?”


“Itu lotion anti nyamuk. Ajib pake itu, nyamuk hutan juga ngga bakal gigit. Kalah lah lotion anti nyamuk yang dijual bebas. Lebih ampuh ini. Gue bawain buat elo.”


“Buat apaan?”


“Ya kali lo mau kemping gitu. Bawa deh tuh makanan kaleng sama lotionnya, hahaha..”


Azzam segera memakai pakaiannya, kemudian mengambil bingkisan titipan Irzal padanya. Dengan gerakan kepala, dia mengajak Zar untuk keluar dan menuju kamar Arsy. Zar segera mengetuk pintu kamar Arsy. Karena taka da jawaban, Zar langsung membukanya. Nampak sang adik tengah tiduran dengan posisi menyamping.


“Sy… dah tidur lo?”


“Apaan?”


“Nih.. ada yang mau ketemu.”


“Siapa?”


“Aku, kak Sy sayang.”


Mendengar suara Azzam, Arsy langsung menolehkan kepalanya. Dengan cepat dia bangun dari tidurnya. Azzam mendekati ranjang kemudian memeluk kakak perempuannya ini.


“Zam… kangen banget. Kamu kapan datang?”


“Tadi, kak. Sengaja aku mandi dulu, biar wangi pas peluk kakak, hehehe..”


“Sini, Zam..”


Arsy menepuk ruang kosong di sebelahnya, meminta sang adik untuk duduk. Tanpa disuruh, Zar juga naik ke atas ranjang dan mengambil tempat di sisi kanan sang adik. Arsy kini berada di antara adik dan kakaknya.


“Gimana kabar kamu? Kenapa jarang pulang?”


“Aku sibuk, kak. In Syaa Allah ngga lama lagi aku bakal dilantik.”


“Wah selamat ya, abis itu kamu langsung tugas?”


“Ngga, kak. Aku masih harus sekolah sampe dua tahun lagi, baru tugas.”


“Belajar yang rajin ya. Biar kamu bisa jadi pilot hebat,” Arsy mengusak puncak kepala sang adik.


“Oh iya, ini buat kakak.”


Azzam memberikan bingkisan berbentuk silinder pada Arsy. Gadis itu mengambilnya lalu langsung membukanya. Ternyata isinya adalah coklat kesukaannya. Tentu saja Arsy sangat senang mendapat hadiah tersebut. Dia langsung membuka dan memakannya satu. Dengan inisiatif tinggi, Zar juga mencomot satu buah coklat tersebut.


“Ish.. mau aja lo. Zam beli khusus buat gue.”


“Bodo.”


“Itu bukan dari aku.”


“Terus dari siapa?” tanya Arsy seraya menyuapkan coklat ke dalam mulut.


“Dari bang Irzal.”


“Mas Irzal? Kamu kapan ketemu sama dia?”


Melihat Arsy yang begitu antusias mendengar nama Irzal, Azzam yakin kalau sang kakak sudah memiliki perasaan pada calon suaminya itu. Dia lalu menceritakan pertemuannya dengan Irzal tadi. Dan pria itu menitipkan coklat ini padanya.


“Itu coklat obat kangen buat kakak,” ujar Azzam seraya tersenyum.


“Apaan sih,” wajah Arsy nampak memerah.


“Sy.. lo udah lope-lope ya sama si Irzal?” tanya Zar.


“Ngga.”


“Preeettt.. ngga salah maksudnya. Ngaku aja kenapa sih, gengsi banget.”


“Iya gue udah suka, emangnya kenapa? Puas lo?”


Azzam tak dapat menahan tawa melihat kedua kakak kembarnya yang sudah seperti anjing dan kucing jika bertemu. Momen seperti ini yang dia rindukan saat berada jauh dari keluarga.


“Awas lo jangan ember. Malu gue kalau ketahuan suka duluan, terus dianya masih lempeng-lempeng aja.”


“Kata siapa? Bang Irzal juga udah cinta sama kakak.”


“Hah? Serius, Zam? Kamu tahu dari mana?”


“Dia sendiri yang bilang waktu aku tanya soal perasaannya sama kakak.”


“Bisa aja kan dia bilang itu karena ngga enak, soalnya kamu adikku.”


“Udah kaga udah galon, tinggal buktiin aja nanti pas udah sah, bener ngga dia udah lope sama elo,” sambung Zar.


“Iya, kak. Nanti pas udah nikah, kakak bakal lihat seberapa besar cinta dia ke kakak.”


Arsy hanya mampu terdiam. Ucapan Azzam sama seperti ucapan Ily beberapa hari yang lalu saat mereka melakukan fitting baju. Tanpa sadar dia memeluk wadah coklat yang tadi diberikan oleh Irzal melalui perantara Azzam. Rasanya ingin segera sampai di hari di mana Irzal membayarnya tunai di depan papa dan penghulu.


🍁🍁🍁


**Senangnya bisa menyapa kalian lagi🤗


Menuju part halalnya Arsy sama Irzal, mamake tambah dag dig dug. Mikirin gimana bikin part pemersatu bangsa di tengah genre TEEN yang melekat di novel ini🤭


Kalau ternyata up nya nanti lama pake banget, berarti proses reviewnya yang emang lama dari neneng entuuunnn🤭 syukur² ngga ditolak🤣


Ini mamake kasih visual Azzam. Berhubung belum nemu visual pentol korek yang sesuai dengan visual doi, jadi mamake kasih visual Azzam sebelum jadi taruna🤭


Azzam sebelum jadi taruna**

__ADS_1



__ADS_2