Hate Is Love

Hate Is Love
Lomba Launching Cebong


__ADS_3

Hari ini Arya mengajak para sepupunya bermain badminton. Mereka akan bermain di GOR milik Azriel. Sepupunya yang masih jomblo akan bermain solo, sedang yang sudah menikah akan bermain ganda campuran. Minus Stella dan Dayana yang baru saja melahirkan, pasangan yang sudah menikah datang semua.


Para pemain tunggal putra sudah bermain lebih dulu. Mula-mula Abrisam melawan Farzan, dilanjut Firhan melawan Alden, Ervano melawan Nalendra, dan terakhir Dipa melawan Gilang. Di ganda campuran, Rakan tidak ikut bertanding, karena Vanila sedang mengandung.


“Zal, lo main kan?” tanya Zar.


“Ngga, gue jadi penonton doang.”


“Ah cemen lo. Udah main aja, noh lawannya si Nal aja. Nal biar pasangan sama Ayumi aja.”


“Ngga, Arsy lagi ngga enak badan. Udah kalian berempat aja yang main. Gue yang siapin hadiahnya.”


“Okelah.”


Pasangan Zar – Renata, Arya – Shifa, Adisty – Aidan dan Daffa – Geya segera melakukan pengundian. Rencananya mereka hanya akan bermain satu set saja. Arya akan melawan Aidan, sedang Zar melawan Daffa. Lebih dulu pertandingan Zar melawan Daffa. Dua pasangan tersebut langsung bersiap di lapangan.


Mereka melakukan pemanasan lebih dulu. Saling memukul kok sambil berlari kecil untuk menghindari kram. Geya yang belum pernah bermain badminton sebelumnya, hanya pasrah saja saat diajak berduet oleh suaminya. Begitu pula dengan Renata, tapi Zar meyakinkan kalau dirinya cukup mampu melawan Daffa dan Geya seorang diri. Rakan yang bertugas sebagai wasit meminta pemain bersiap.


Permainan pun dimulai. Poin lebih banyak didapat oleh Zar dan Daffa, sedang Geya dan Renata bisa dihitung oleh jari. Kadang koknya menyangkut di net, atau keluar dari lapangan. Skor masih berjalan imbang sampai ke angka 18. Karena setiap habis mencetak poin, maka pasangannya melakukan kesalahan.


Daffa mengembalikan kok di depan net, Zar mengembalikannya dengan posisi di depan net juga. Daffa bisa bergerak cepat mengembalikan kok, namun pukulannya menjadi tanggung. Renata langsung menyambar kok dan menepaknya keras. Kok menghujam cepat ke lapangan. Namun sayang jatuh ke lapangan sendiri. Zar menepuk jidatnya, sedang Daffa malah terpingkal.


Permainan kembali berlanjut. Kali ini Geya berada di depan net. Wanita itu hanya bergerak tak jelas, karena hanya suaminya dan Zar saja yang berbalas pukulan. Melihat Geya yang lemah, Zar mengarahkan kok ke arah sepupunya itu. Melihat itu Daffa cepat maju ke depan dan mengembalikan pukulan Zar. Posisi berubah, Geya di belakang, Daffa di depan. Zar kali ini mengarahkan bola ke belakang. Geya langsung menyambar dan memukulnya dengan keras.


“Aduh!”


Terdengar teriakan Daffa ketika kok tepat mendarat di kepalanya. Tawa keras Zar langsung terdengar. Daffa mengusap kepalanya yang terkena kok. Geya segera mendekat kemudian mengusap kepala suaminya.


“Abang.. maaf.. aku ngga sengaja.”


“Iya, ngga apa-apa.”


Permainan kembali berlanjut, Zar unggul 20-19. Pria itu terus menyerang pada Geya, namun Daffa selalu berhasil mengembalikan. Bola sulit dari Zar berhasil dikembalikan Daffa, namun kok melambung tinggi. Tentu saja Zar tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia memukul dengan kencang dan mengarah pada Geya. Melihat kok yang mengarah padanya, Geya hanya pasrah sambil memejamkan mata. Daffa bergerak cepat, dia menghalangi bola dengan punggungnya.


“Whoaaaaa!!”


Zar berteriak kencang, akhirnya berhasil memenangkan pertandingan. Geya membuka matanya saat mendengar teriakan Zar. Ternyata sang suami berada di depannya. Senyumnya mengembang mengetahui kalau Daffa ternyata melindungi dirinya. Sebuah kecupan diberikan oleh Daffa di bibir Geya.


“Woi!!! Pelanggaran!!” seru Arya.


“Bodo! Sosor aja yang di sebelah!” balas Daffa.


Pria itu segera menarik tangan Geya meninggalkan lapangan. Mereka duduk menonton pertandingan Arya melawan Aidan. Untuk kali ini, Nalendra yang akan menjadi wasit. Pertandingan kali ini tidak berjalan seimbang, dengan mudah pasangan Arya dan Shifa mengalahkan Aidan dan Adisty dengan skor cukup telak 21-9.


“Istirahat dulu, baru final. Gue beli hadiah dulu buat kalian,” seru Irzal.


“Kok perasaan gue ngga enak ya. Ngga yakin gue si Irzal kasih hadiah normal ke kita,” celetuk Zar.


“Iya, gue juga ngga percaya dia yang sediain hadiahnya.”


Sementara itu, Irzal segera menuju mini market yang ada di dekat GOR. Dia membeli hadiah untuk juara pertama, kedua dan hiburan untuk yang kalah. Tak lupa dia membelikan minuman dingin untuk semua yang ikut berolahraga. Pria itu juga membeli banyak es krim untuk semuanya.


“Nih.. makan es krim dulu, biar ngga lemes.”


Semua langsung mengambil es krim dan memakannya. Plastik yang berisi hadiah disembunyikan dengan baik oleh Irzal. Pria itu membukakan bungkus es krim berbentuk corong, lalu memberikannya pada Arsy.


“Mas tau aja, aku mau makan es krim ini.”


“Apa sih yang aku ngga tau soal kamu.”


“Gombal.”


Irzal dengan cepat mengecup bibir Arsy dan hal tersebut langsung disambut protesan yang lain, terutama para jomblo. Tapi pria itu tidak mempedulikannya. Dia terus saja menikmati es krimnya.


Setelah beristirahat sebentar, pertandingan final digelar. Nalendra kembali menjadi wasit. Kali ini pertandingan berjalan seru. Zar yang memang cukup baik bermain, selalu bisa mengembalikan kok yang diarahkan padanya atau Renata. Jalannya pertandingan lebih didominasi oleh Shifa dan juga Zar.


“Woii Arya! Lo jadi laki ngga guna banget. Bini lo nyetak poin, lo kerjanya buang poin!” teriak Aidan.


Tentu saja teriakan Aidan disambut gelak tawa dari yang lain. Para jomblo yang sudah selesai bermain, ikut menonton dan memberikan semangat. Celetukan-celetukan kembali terdengar membuat konsentrasi Arya buyar.


“Jangan kasih jatah tar malam, Fa! Laki ngga guna!” Irzal.


“Suruh mijetin aja!” Daffa.


“Suruh pake daster sekalian!” Rakan.


Arya mengepalkan tangannya ke arah para pria yang meledeknya. Zar tertawa senang melihat sepupunya terus mendapat ledekan. Permainan terus berlanjut, kali ini Arya berada di depan, Shifa di belakang. Skor menunjuk angka 20-17, untuk keunggulan Shifa dan Arya. Wanita itu terus mengembalikan pukulan yang diberikan Zar. Arya sedari tadi hanya menundukkan kepalanya saja, takut terkena kok.


Adu pukulan terus terjadi. Masih dalam keadaan Shifa dan Zar yang saling menepakkan raket. Arya masih dalam posisinya yang tadi. Sedang Renata, dengan santai berjongkok. Melihat jalannya pertandingan. Shifa mendaratkan pukulan drop shot, Zar dengan cepat mengembalikannya dengan back hand, tapi mengarah pada Arya. Di luar dugaan refleks Arya begitu bagus, dia mengembalikan pukulan dan mengarah pada Renata. Karena tak siap, wanita itu hanya pasrah saja. Kok jatuh tepat di hadapannya.


“Whooaaa!! Menang!” teriak Arya senang.


“Heleh segitu girangnya. Yang dari tadi kerja keras tetep bini lo!” seru Aidan.

__ADS_1


“Poin terakhir itu hasil karya gue!”


“Bukan, itu karya si Zar, hahaha..”


“Zar kasian sama elo, biar ada gunanya dikit.”


“Kampret!”


“Hahaha..”


Pasangan yang melaju ke final mengistirahatkan diri di pinggir lapangan. Arya meneguk minumnya sampai habis. Padahal pria itu tidak banyak bergerak sepanjang pertandingan, Irzal mengambil plastik berisi hadiah untuk para pemenang, kemudian mengeluarkannya satu per satu.


“Ini buat yang juara satu.”


Irzal memberikan krim untuk memijat yang iklannya dibintangi oleh Agnes Mo. Arya hanya melongo saja melihat hadiah yang diterimanya. Kemudian Irzal memberikan hadiah untuk sang runner-up.


“Ini buat yang juara dua.”


Kali ini Zar yang dibuat melongo ketika mendapatkan koyo untuk meredakan pegal di tubuh. Renata hanya tertawa saja melihat kado yang diberikan oleh iparnya itu.


“Ini hadiah hiburan buat yang kalah.”


Irzal memberikan jamu tolak linu cair pada Aidan, Adisty, Daffa dan Geya. Yang lain hanya terpingkal saja melihat hadiah yang diberikan oleh Irzal. Setelah membagikan hadiah, Irzal kembali duduk di samping istrinya tanpa merasa berdosa sama sekali.


“Ck.. ck… ck… CEO Infinity corp pelitnya kebangetan. Kita tanding nguras tenaga, hadiahnya beginian doang,” celetuk Arya.


“Eh.. gue kasih hadiah sesuai yang kalian butuhkan, hahaha..” balas Irzal tak mau kalah.


“Besok-besok jangan jadiin dia sponsor lagi,” seru Zar.


Tanpa mempedulikan celetukan penerima hadiah darinya, Irzal mengajak istrinya pulang. Pria itu sudah tidak sabar untuk menjenguk calon anaknya, karena larangan berkunjung sudah dicabut oleh dokter kandungan sang istri.


🍁🍁🍁


Arya mengantarkan Shifa sampai ke hotel tempat di mana istrinya itu akan tinggal selama mengikuti turnamen Indonesia master. Untuk turnamen internasional kali ini diselenggarakan di kota Bandung. Jadi Arya bisa tetap memberikan dukungan pada istrinya.


Turnamen baru akan digelar dua hari lagi, namun semua atlit yang mengikuti turnamen ini sudah datang dua hari sebelum hari H. Selain untuk persiapan, mereka juga masih berlatih untuk persiapan pertandingan.


Pria itu mengantarkan Shifa sampai ke depan pintu kamar. Bahkan wanita itu memintanya masuk dan tinggal sebentar di kamar. Arya menuruti keinginan sang istri. Tentu saja dia senang melihat istrinya yang manja seperti ini.


“Aku bakalan kangen banget nanti,” ujar Shifa seraya memeluk tubuh suaminya.


“Kan aku bakalan ke sini tiap hari. Lihat kamu bertanding.”


Kening Arya berkerut. Panggilan sang istri padanya sekarang berubah. Dulu dia memanggilnya dengan sebutan ayang, tapi sekarang memanggilnya dengan sebutan mas. Pria itu mengurai pelukannya, kemudian menatap wajah sang istri lekat-lekat.


“Tumben panggilnya, mas,” ujar Arya seraya mengulum senyum.


“Emang ngga boleh?” wajah Shifa nampak cemberut.


“Boleh, dong. Aku malah suka. Panggil lagi, dong.”


“Mas..”


Arya menjawab panggilan Shifa dengan sebuah ciuman hangat. Pria itu terus memberikan lum*tan pada bibir sang istri. Shifa juga membalas ciuman suaminya tak kalah panas. Kedua tangannya melingkari leher sang suami.


“Aku ke kantor dulu, ya. Ada meeting penting. Nanti pulang kerja aku ke sini lagi,” ujar Arya setelah ciuman mereka berakhir.


“Bawain cake coklat ya.”


“Iya, sayang.”


Sekali lagi Arya mencium bibir istrinya sebelum keluar dari kamar. Shifa segera membereskan barang bawaannya sepeninggal Arya. Wanita itu kemudian berganti pakaian dan bersiap untuk latihan. Sejenak dia duduk di tepi ranjang, memegangi perutnya yang sedikit mulas.


Perlahan Shifa bangun dari duduknya, kemudian mengambil tas berisi raket dan perlengkapan lain, lalu keluar dari kamar. Dia berjalan menuju GOR yang terletak di samping hotel tempatnya menginap. Di sana sang ayah dan juga tim pelatih pelatnas sudah menunggu.


“Fa.. kamu sakit? Muka kamu kok pucat?” tegur Azriel.


“Perutku mulas tadi, pa. Tapi sekarang udah ngga apa-apa, kok.”


“Beneran ngga apa-apa? Jangan dipaksain kalau masih kurang sehat. Kamu istirahat aja di kamar.”


“Aku ngga apa-apa, pa.”


Shifa menaruh tasnya kemudian bersiap untuk latihan. Tapi tiba-tiba saja kepalanya pusing, dia berpegangan pada sisi kursi yang ada di sana. Azriel yang menyadarinya kembali menghampiri anaknya. Pria itu terkejut ketika tiba-tiba Shifa pingsan, beruntung dia langsung menangkapnya.


“Shifa!!”


Teriakan kencang Azriel menarik perhatian semua yang ada di sana. Dengan cepat Azriel membaringkan Shifa di lantai, dan mencoba menyadarkannya. Tim medis segera datang dengan membawa tandu. Mereka langsung membawa Shifa kembali ke kamar setelah berhasil menyadarkannya. Wanita itu hanya terbaring lemah saja di atas tandu.


🍁🍁🍁


Baru saja Arya sampai ke kantor ketika Azriel mengabari keadaan Shifa. Pria itu langsung kembali ke hotel dan membatalkan semua janjinya. Dia memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ingin segera sampai di hotel, karena takut sesuatu terjadi pada istrinya.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, dia sampai di hotel. Bergegas dia menuju lantai di mana kamar sang istri berada. Di dalam kamar masih ada Azriel, ketua tim pelatih dan dokter yang memeriksa Shifa. Arya segera masuk dan mendekati istrinya.


“Istri saya kenapa, dok?” tanya Arya dengan suara cemas.


“Shifa ngga bisa ikut bertanding,” ujar Azriel.


“Shifa sakit apa?”


“Bu Shifa ngga sakit apa-apa. Kondisinya lemah karena sedang hamil.”


“Hamil?”


Arya terkejut sekaligus senang mendengar kabar bahagia tersebut. Dia langsung mendekati Shifa. Meraih tangannya, kemudian mencium punggung tangannya. Dokter menyarankan Shifa untuk langsung diperiksakan ke dokter kandungan. Arya menyetujui hal tersebut. Setelah membereskan barang bawaan Shifa, dia segera mengajak sang istri pulang.


Sebelum kembali ke rumah, mereka menuju rumah sakit Ibnu Sina terlebih dulu untuk memeriksakan kehamilan. Setelah mendaftar, mereka menunggu di depan ruang praktek dokter kandungan. Beberapa pasien yang juga sedang mengantri menyadari kalau wanita yang baru saja datang adalah atlit bulu tangkis terkenal.


Shifa mengabulkan permintaan ibu-ibu hamil tersebut. Beberapa kali mereka berfoto bersama. Arya langsung menjadi fotografer dadakan. Setelah sesi foto selesai, keduanya kembali duduk menunggu giliran masuk. Arya menolehkan kepalanya ketika seseorang menepuk pundaknya. Nampak Aidan dan Adisty sudah berada di dekat mereka.


“Kalian ngapain ke sini?” tanya Arya.


“Mancing,” jawab Aidan asal.


“Ya periksa kandungan, apalagi,” jawab Adisty seraya mendudukkan diri di samping Shifa.


“Kamu udah isi?” Arya bertanya pada Adisty.


“Barusan di test pack, hasilnya positif. Makanya langsung gue bawa ke dokter,” jawab Aidan.


“Kak Shifa lagi isi juga?” tanya Adisty.


“Iya, aku baru tau tadi pas mau latihan. Makanya aku mundur dari turnamen.”


“Alhamdulillah ketahuan sebelum turnamen ya, kak. Emangnya kakak ngga nyadar kalau telat datang bulan?”


“Akhir-akhir ini jadwal datang bulanku berantakan. Mungkin karena capek juga kali. Kadang sebulan dua kali, kadang ngga datang bulan sampai dua bulan. Makanya aku ngga curiga pas telat.”


“Pantes.”


“Jiaahhh… pada ngapain di sini? Reunian?”


Pembicaraan Shifa dan Adisty terpotong ketika mendengar suara Zar. Ternyata pria itu juga datang bersama Renata untuk memeriksakan kehamilan. Renata langsung bergabung dengan Adisty dan Shifa.


“Beneran ya, nikah kejar-kejaran, hamilnya juga sama,” celetuk Aidan.


“Anaknya siapa nih yang udah launching duluan?” tanya Zar.


“Belum tau. Kan baru mau periksa sekarang.”


Terdengar suara suster memanggil nama Shifa. Wanita itu bangun dari duduknya, kemudian masuk ke dalam ruang praktek, bersama dengan Arya.


🍁🍁🍁


Setelah memeriksakan diri ke dokter kandungan, tiga pasangan itu tidak langsung pulang, melainkan berkumpul di café sambil makan siang bersama. Zar cukup penasaran dengan usia kehamilan para istri. Karena sedari tadi Arya dan Aidan belum mengatakan berapa usia kandungan istri mereka.


“Rena hamil berapa bulan?” tanya Aidan.


“Satu bulan,” jawab Zar jumawa.


“Disty berapa minggu?” tanya Zar.


“Enam minggu.”


Senyum Zar tertahan mendengar jawaban Aidan. Itu artinya cebong Aidan lebih dulu launching dibanding dirinya. Keduanya kemudian melihat pada Arya. Mereka yakin kalau kehamilan Shifa yang paling muda. Karena wanita itu tidak menyadari kehamilannya.


“Shifa berapa minggu?” tanya Zar.


“Dua bulan.”


Senyum Arya mengembang ketika mengatakan itu. Kebanggaan tercetak jelas di wajahnya. Dia berhasil menyalip dua calon bapak yang lebih dulu menikah.


“Mohon maaf, nikah boleh belakangan. Tapi ternyata cebong gue kualitas super, makanya nyalip kalian berdua, hahaha..”


“Sombong, cuma beda dua minggu doang,” jawab Aidan.


“Eiittss.. ada lagi. Anak gue kembar.”


Arya tertawa bahagia ketika mengatakan itu semua. Baik dirinya dan juga Shifa memang memiliki keturunan kembar. Jadi tidak heran kalau mereka dikaruniai anak kembar. Senyum kemenangan tercetak di wajah Arya. Sudah usia kehamilan lebih tua, mereka juga dikaruniai anak kembar. Ibarat mengayuh perahu, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.


🍁🍁🍁


**Selamat untuk semuanya🤗


Kisah HIL ngga lama lagi bakalan tamat ya. Buat cerita Azzam bakal dibuat lapak sendiri. Besok aku ngga akan up, lagi ada keperluan🙏**

__ADS_1


__ADS_2