Hate Is Love

Hate Is Love
Pasangan Seumur Hidup


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang ada di dalam ballroom Arjuna hotel, Stella nampak tengah mematut dirinya di depan cermin. Sesekali dia membenarkan rambutnya yang dicepol sederhana. Kebaya modern warna biru muda yang membalut tubuhnya, membuat gadis itu terlihat semakin cantik saja.


Pada pernikahan Arsy dan Irzal, Arsy memang memilih warna biru laut sebagai warna seragam keluarganya. Biru adalah warna kesukaannya. Hal tersebut tak mendapat tentangan dari Irzal, karena pria itu juga menyukai warna biru dan hitam. Terlihat dari beberapa hal, pasangan itu memang terlihat cocok.


Dayana yang ada di ruangan tersebut, hanya memandangi sepupunya yang sedari tadi tak henti-henti mematut dirinya di depan cermin. Ada saja yang dibetulkannya. Riasan rambut, kebayanya atau memoles ulang lipstiknya.


“Ay.. hubungan lo sama dokter Rafa gimana?” celetuk Stella tiba-tiba.


“Hubungan apa? Yang ada ngenes. Dia selalu ngehindarin gue. Kalau gue ajak makan bareng selalu nolak. Kalau gue kirim makanan juga, malah dikasih ke perawat. Bikin gedeg,” keluh Dayana.


Beberapa kali Dayana mencoba mendekati Rafa, namun pria itu selalu saja menolaknya dan terkesan menjauh. Padahal gadis itu sudah menyingkirkan rasa malu, dan bersikap sedikit agresif, di luar kebiasaannya. Namun ternyata hanya penolakan yang didapatnya. Stella meninggalkan cermin di depannya, kemudian duduk di samping Dayana.


“Laki-laki modelan kaya gitu sekali-kali di skak mat aja. Nyebelin banget sih.”


“Mungkin dia ngga mau kasih harapan ke gue karena masih cinta sama mantannya.”


“Kalau mantannya masih hidup, bolehlah dia seperti itu. Kemungkinan untuk balikan lebih besar, tapi kan mantannya udah meninggoy. Seberapa lama pun dia nunggu tetap ngga bisa balikan. Emangnya dia ngga mau ngelanjutin hidup? Ngga mau punya anak gitu? Aneh deh sama laki yang gamon kaya gitu,” cerocos Stella.


“Tau, ah.. puyeng gue. Mending berhenti aja deh. Gue mau cari yang pasti-pasti aja dan ngga bikin bengek.”


“Bener, tuh. Coba lo diemin dulu. Cuekin gitu, pengen tau merasa kehilangan ngga dia?”


Dayana hanya mengendikkan bahunya saja seraya menghembuskan nafas panjang. Stella kembali berdiri. Dia ingin memastikan penampilannya sekali lagi sebelum akad nikah sang sepupu dimulai. Baru saja dia melihat ke cermin, gadis itu dikejutkan dengan kehadiran Suzy yang tiba-tiba. Membuatnya terlonjak saking kagetnya.


“Astaghfirullah!!”


Melihat saudara sepupunya yang begitu terkejut, Dayana menolehkan kepalanya. Tapi dia tidak melihat siapapun di dekat sang sepupu. Sedang Stella nampak melihat ke sebelahnya tanpa berkedip.


“Ngapain lo ke sini lagi? Kan urusan kita udah beres,” ujar Stella.


“Aku ngga punya teman. Kamu mau kan jadi temanku? Aku bakalan bantu kamu ngusir kaumku yang mukanya nyeremin terus selalu ganggu kamu. Aku bakal jadi bestie kamu deh.”


Stella melongo mendengar penuturan panjang Suzy. Dayana yang melihat keanehan sang sepupu memanggil namanya, namun sepertinya Stella tak mendengarnya. Dia berdiri kemudian mendekati Stella.


“Stel.. lo ngobrol sama siapa?”


“Nih sama si Suzy,” Stella menunjuk ruang kosong di sebelahnya, namun Dayana tak bisa melihat siapa pun di sana.


“Mana?”


“Oh iya, lo ngga bakalan bisa lihat. Dia itu Suzy, jin penunggu apartemen yang penghuninya mati dibunuh. Gue pernah cerita kan, soal bantu polisi songong nangkep pembunuh? Nah si Suzy juga yang bantuin gue.”


“Oh begono… mana si Suzy? Kenalin, gue Aya, sepupunya Stella.”


Dayana mengulurkan tangannya ke dekat Stella, namun sepupunya itu mengubah posisi tangannya ke arah Suzy. Tangan Suzy bergerak menyalami Dayana dan tentu saja hanya menyentuh angin saja.


“Udah salamannya,” ujar Stella. Dayana menurunkan tangannya.


“Jadi boleh ya, aku tetap temanin kamu?” tanya Suzy lagi.


“Ya boleh aja asal ngga pake penampakan nyeremin.”


“Ngga lah. Aku bakalan pake penampakan ini, Bae Suzy.”


“Okelah. Eh tapi kalo bisa ya, gue pengen lo bantuin gue.”


“Bantu apa?”


“Getokin kepala si Tamara Belepotan, jadi polisi ngga ada terima kasihnya.”


“Bhuahaha… jangan segitunya lo benci, tar bucin. Lihat noh si Arsy, segitu gedegnya ama bang Irzal eh ujung-ujungnya bucin.”


“Lah si bang Irzal masih ada manis-manisnya. Kalo si Tamara Belepotan, yang ada asem ama kecut.”


“Udah ah. Ayo, akad nikahnya udah mau mulai.”


Dayana menarik tangan Stella keluar dari ruangan tersebut. Di dalam ballroom kedua keluarga mempelai sudah berkumpul. Di meja akad juga petugas dari KUA, Kenzie, Irzal dan kedua saksi sudah duduk bersama. Dari pihak Irzal, Gara yang menjadi saksi. Sedang dari pihak Kenzie, Irvin yang menjadi saksi.


Irzal menarik nafas perlahan untuk menyingkirkan rasa gugup yang melanda. Kepalanya masih tertuju ke bawah, dan baru mengangkat kepalanya setelah mendengar kalau semua kelengkapan administrasi calon pengantin sudah siap. Sang penghulu mempersilahkan Kenzie untuk memulai acara ijab kabul.


Dengan mengucap bismillah, Kenzie menggenggam erat tangan Irzal. Tangan calon menantunya itu sedikit dingin. Sepertinya pria itu merasakan kegugupan. Sama seperti dulu dirinya hendak mempersunting Nara.


“Ananda Irzal Habibie Ramadhan. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Arsyana Diandra Hikmat binti Kenzie Nagendra Hikmat dengan mas kawin satu set perhiasan dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Arsyana Diandra Hikmat binti Kenzie Nagendra Hikmat dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”


“Bagaimana para saksi? Sah?” sang penghulu melihat pada Irvin dan Gara.


“SAH!” tegas keduanya.


Semua yang menyaksikan langsung mengucapkan hamdalah bersamaan. Irzal mengusap wajah dengan kedua tangannya. Akhirnya dia berhasil melewati fase paling menegangkan dalam hidupnya. Senyum kelegaan nampak di wajah pria itu.


Pintu ruangan yang ada di ballroom terbuka. Dari dalamnya Arsy muncul ditemani oleh Nara dan juga Rain. Kedua wanita itu membimbing Arsy menemui suaminya yang kini tengah menatap padanya. Jantung gadis itu langsung berdegup kencang. Irzal nampak begitu tampan dalam balutan beskap putih. Nara dan Rain mendudukkan Arsy di samping Irzal. Daffa menyerahkan kotak beludru berisi cincin pernikahan pada sang sepupu.

__ADS_1


Tangan Irzal mengambil cincin pilihan wanitanya kemudian menyematkan di jari manis Arsy. Hal yang sama dilakukan Arsy. Dia menyematkan cincin berbahan tungsten ke jari Irzal. Kemudian gadis itu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Kedua tangan Irzal menangkup wajah Arsy kemudian memberikan kecupan di keningnya.


Seperti ada aliran listrik yang mengaliri tubuh pasangan pengantin, keduanya sama-sama bergetar. Ini pertama kalinya mereka melakukan sentuhan seperti ini. Perasaan Arsy tidak bisa digambarkan bagaimana bahagianya. Jantungnya terus saja menabuh genderang seperti mau perang.


Irzal mengakhiri ciumannya kemudian menggenggam kedua tangan Arsy dengan erat. Matanya terus memandangi wajah cantik gadis yang saat ini sudah sah menyandang status sebagai istrinya. Wajah Arsy bersemu merah dilihat begitu intens oleh Irzal. Namun begitu, dia tak melepaskan genggaman tangan sang suami.


Keduanya mendengarkan nasehat pernikahan yang diberikan sang penghulu. Kemudian menandatangani dokumen pernikahan. Sang fotografer mengarahkan kedua pengantin untuk berpose memamerkan cincin dan buku pernikahan. Selanjutkan pasangan pengantin akan mendengarkan nasehat dari para orang tua.


Azkia menciumi kening Irzal dan Arsy bergantian. Wanita cantik itu kemudian memeluk anak bungsu dan menantunya bersamaan. Hatinya bahagia, putra terakhirnya telah mendapatkan pendamping yang baik.


“Bibie.. Arsy.. bunda doakan keluarga kalian sakinah mawadah warohmah. Bibie.. bimbinglah istrimu dengan baik. Perlakukan dia dengan lemah lembut. Jangan pernah menyakitinya, apalagi menduakannya. Arsy.. sekarang kamu adalah tanggung jawab Bibie.. kamu wajib menaati suamimu selama membawamu dalam kebaikan.”


“Iya, bunda,” jawab keduanya bersamaan.


Kali ini kedua pengantin mendekati Elang. Irzal langsung memeluk sang ayah. Cukup lama mereka berpelukan. Arsy hanya memandangi kedekatan ayah dan anak itu. Elang mengurai pelukannya, kemudian meminta Arsy mendekat. Dia juga memeluk menantu terakhirnya itu.


“Ayah akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Binalah rumah tangga kalian dengan landasan agama dan kepercayaan. Bibie.. ayah tahu kamu adalah anak yang bertanggung jawab, maka bertanggung jawablah untuk istrimu, dunia akhirat. Arsy.. terimalah kelebihan dan kekurangan Bibie sebagai suamimu. Jagalah hubungan kalian dengan komunikasi yang baik. Dan cepat berikan ayah cucu.”


Senyum Elang terbit ketika mengucapkan kalimat terakhirnya. Wajah Arsy kembali memerah saat mendengarnya. Irzal meraih tangan Arsy kemudian membawanya menemui Nara. Pria itu mencium punggung tangan mama mertuanya dengan takzim.


“Titip Arsy ya, Zal. Dia terkadang masih manja dan cepat emosi. Tapi dia anak yang baik. Tolong jaga kesayangan mama.”


“Iya, ma.”


“Arsy.. sekarang kamu dan Irzal sudah menjadi satu kesatuan. Turunkan egomu dan hilangkan gengsimu. Jadilah istri yang baik untuknya.”


“Iya, ma.”


Setelah Nara, kini giliran Kenzie yang mereka datangi. Arsy langsung menghambur dalam pelukan sang papa. Tangis yang sedari tadi ditahannya, akhirnya pecah juga. Kenzie mengusap pelan punggung putrinya yang masih menangis dalam pelukannya. Perlahan pria itu mengurai pelukannya. Dia lalu melihat pada Irzal yang berdiri tak jauh darinya.


“Irzal.. papa titip permata hati papa padamu. Dia memang masih harus banyak belajar untuk menjadi seorang istri yang baik. Papa harap kamu mau bersabar padanya. Jika kalian sudah tidak sanggup bersama, kembalikan dia pada kami secara baik-baik.”


“In Syaa Allah, Arsy akan menjadi pasanganku sampai maut memisahkan. Aku akan menyayangi dan menjaga Arsy seperti yang papa lakukan. Doakan kami bisa membina rumah tangga sampai ke Jannah-Nya.”


“Aamiin..” jawab Kenzie. Pria itu lalu melihat Arsy yang masih berada dalam pelukannya.


“Arsy.. jadilah istri yang baik. Ikuti semua perkataan suamimu. Sekarang dia adalah surgamu.”


“Iya, pa.”


Kenzie menyerahkan Arsy pada Irzal. Pria itu meminta tisu pada Stella kemudian menghapus airmata sang istri. Dipeluknya tubuh Arsy sambil mengusap punggungnya pelan. Zar dan Azzam tak bisa menahan haru melihat Irzal memperlakukan Arsy begitu lembut. Para jomblo pun dibuat baper melihat aksi sederhana Irzal namun sukses membuat mereka iri.


“Si es kering bisa romantis juga ya?” bisik Stella pada Dayana.


“Sini gue peluk,” celetuk Zar.


“Najong.”


“Hahaha…”


Setelah kondisi Arsy sudah mulai tenang, Irzal membawanya bertemu dengan para tetua. Dari pihaknya tentu saja ada Dimas dan Rena. Pasangan pengantin itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh dari kedua orang tua itu. Lalu mereka menemui Kevin, Juna, Cakra, Jojo dan terakhir Abi.


“Kakek..” Arsy memeluk kakeknya. Dalang dibalik pernikahannya dengan Irzal.


“Kenapa? Mau bilang makasih udah dijodohin sama Irzal?” goda Abi.


“Ish kakek..”


“Hahaha… kakek bahagia, akhirnya kalian bisa bersama. Irzal.. jaga cucu kakek dengan baik. Kalau dia nakal hukum aja, jangan boleh turun dari kasur, hahaha..”


“Kakek iihh..”


Arsy menepuk lengan Abi yang tetap saja tidak ada saringan ucapannya. Nina sampai mencubit pinggang suaminya. Irzal hanya mengulum senyum saja. Sepertinya ide Abi patut untuk dicoba.


“Sudah, jangan menangis. Ini kan hari bahagia kalian. Harus banyak tersenyum.”


Abi melemparkan senyuman pada cucu dan cucu menantunya. Dia memeluk pasangan pengantin itu bergantian. Satu misi berhasil diselesaikan. Tinggal menyusun rencana untuk misi selanjutnya. Sudah ada dua cucu yang akan mengantri untuk dijodohkan olehnya. Yang terdekat adalah Dayana.


🍁🍁🍁


Acara resepsi berlangsung meriah. Kenzie dan Elang mengundang cukup banyak tamu pada pernikahan Irzal dan Arsy. Belum ditambah teman kuliah Arsy dan juga rekan kerjanya di rumah sakit. Kapasitas ballroom Arjuna hotel yang besar, hampir tak bisa menampung tamu yang datang.


Di jam-jam awal resepsi, banyak tamu yang berdatangan. Sang pembawa acara sampai harus mengatur tamu yang hendak memberikan ucapan selamat. Antrian cukup panjang, seperti antrian sembako saja. Arsy dan Irzal juga cukup pegal berdiri sambil memasang senyum membalas ucapan selamat para tamu.


Dayana baru saja selesai mengantri zupa-zupa. Matanya berkeliling mencari meja yang kosong. Pandangannya kemudian tertuju pada meja yang ditempati oleh Rafa seorang. Gadis itu segera menuju meja tersebut. Sebelum menarik kursi, dia meminta ijin dulu pada Rafa.


“Mas Rafa ngga keberatan kan, aku duduk di sini?” tanya Dayana.


“Ngga, silahkan.”


Dayana mengambil kursi yang berjarak tiga kursi dari pria itu kemudian mendudukkan diri di sana. Dengan santai dia meletakkan piring dan juga clutch bag-nya. Gadis itu kembali melihat pada Rafa.


“Santai aja ya, mas. Anggap aja aku ngga ada, atau angin lalu. Aku cuma mau menikmati makanan aja kok.”

__ADS_1


Kepala Rafa kembali menoleh pada Dayana. Gadis itu menikmati makanannya dengan tenang sambil memainkan ponselnya. Beberapa kali gadis itu tersenyum sendiri, entah apa yang dilihatnya. Rafa bingung sendiri melihat sikap Dayana. Biasanya gadis itu gencar sekali mencari perhatiannya.


“Ay..” Daffa datang dengan piring berisi sate, kemudian mendudukkan diri di samping Dayana.


“Sore ini kamu ada rencana, ngga?” tanya Daffa.


“Ngga, kenapa?”


“Jalan yuk. Ada film baru loh.”


“Masa? Boleh deh.”


“Nanti aku jemput aja ke rumah.”


“Sip.”


Keduanya langsung terlibat pembicaraan seru. Rafa kembali fokus pada makanannya. Rasanya aneh melihat Dayana yang mengabaikannya. Gadis itu juga nampak akrab sekali dengan Daffa. Tapi pria itu bersyukur setidaknya dia bisa terlepas dari kejaran Dayana.


“Kamu bisa duduk di sini,” ujar Tamar yang melihat Stella tengah mencari kursi kosong.


Untuk beberapa saat Stella masih bergeming di tempatnya. Tapi kemudian dia melangkah mendekati meja yang ditempati Tamar, kemudian mendaratkan bokongnya di samping pria yang selalu membuatnya keki.


“Terima kasih, buat bantuanmu.”


Perkataan Tamar sontak membuat Stella terkejut. Dia langsung melihat pada Tamar. Wajah pria itu juga nampak bersungguh-sungguh saat mengatakannya. Gadis itu melihat sejenak pada Tamar kemudian menganggukkan kepalanya.


“Ke depannya aku harap kamu tidak mencampuri urusanku lagi.”


“Kenapa? Kamu merasa ngga berguna karena dapet bantuan dari aku?”


“Bukan. Tapi pekerjaanku itu berbahaya. Kamu bisa celaka kapan saja. Jadi.. jangan campuri lagi urusanku. Mengerti?”


“Ok. Lagian siapa juga yang mau terlibat sama kamu lagi.”


“Bagus,” jawab Tamar cuek.


Ingin rasanya Stella melemparkan dimsum di piringnya. Tapi sayang saja, kalau dimsum tersebut harus mendarat di wajah Tamar. Akan lebih baik masuk ke dalam perutnya. Gadis itu memakan dimsum dengan cepat dan tak mempedulikan Tamar lagi.


Sementara itu di panggung pelaminan. Nampak Aqeel naik bersama dengan Iza. Keduanya segera menghampiri pasangan pengantin. Rona wajah Irzal berubah melihat kedatangan sepupunya.


“Kenapa tuh muka, anyep banget. Senyum napa? Pelit amat,” celetuk Aqeel.


“Bodo,” jawab Irzal malas.


“Sy.. suami kamu kenapa? Kurang sajen ya?”


“Kurang vitamin C, bang. Hihihi..” Iza menutup mulut menahan tawanya.


“Pantes. Sy.. kasih dulu vitamin C nya biar ngga anyep mukanya.”


“Di sini mana ada vitamin C, bang,” jawab Arsy polos.


“Adalah. Kasih aja cap bibir kamu, pasti mukanya yang anyep langsung cerah ceria.”


Sontak wajah Arsy merona mendengar godaan Aqeel. Irzal yang awalnya tak berekspresi apapun, mulai sedikit menyunggingkan senyuman.


“Udah jangan ditekuk mulu tuh muka, jelek tau.”


Aqeel menepuk lengan Irzal, kemudian membawa Iza pergi dari sana setelah mengucapkan selamat. Setelah Aqeel turun, Genta, dokter residen yang naksir berat pada Arsy naik ke pelaminan. Dia cukup terkejut melihat pria yang menjadi suami Arsy ternyata bukan Zar. Orang yang dikenalkan padanya sebagai pacar.


“Selamat ya, Sy.. ngga nyangka ternyata kamu player juga. Pacaran sama siapa, nikahnya sama siapa.”


Kening Irzal berkerut mendengar pernyataan Genta. Sontak dia melihat pada Arsy. Tapi sang istri nampak tak peduli dengan yang dikatakan Genta. Dokter residen itu memberikan ucapan selamat pada Irzal, kemudian turun dari panggung pelaminan.


“Siapa pacar kamu?” tanya Irzal.


“Zar. Aku dulu ngenalin Zar jadi pacarku. Abisnya dia ngejar-ngejar mulu. Udah ditolak berkali-kali, ngga mempan juga.”


“Kasihan banget si Zar,” gumam Irzal pelan namun masih terdengar oleh Arsy.


“Apa?” mata Arsy melotot sambil mencubit pinggang Irzal.


“Aduh. Sakit, Ar.”


Arsy melepaskan cubitannya. Namun gadis itu terkejut ketika tiba-tiba Irzal menarik pinggangnya dan posisi tubuh mereka kini sangat rapat. Jantung Arsy berdetak kencang ketika Irzal mendekatkan wajahnya. Sebuah kecupan mendarat di kening Arsy. Gadis itu membenamkan wajahnya ke dada Irzal saking malunya. Segurat senyum tipis tercetak di wajah sang pengantin pria.


🍁🍁🍁


**Beuhh.. Bibie.. Udah SAH bawaannya nyosor mulu ye🤣


Mohon maaf kalau undangan ngga nyampe ke kalian. Pas aku sakit, aku udah titip ke mang Kohar, tapi kenapa ngga nyampe ya🤔😂


Tenang aja, Irzal bilang kalian boleh datang tanpa undangan. Dress codenya ijo ulet bulu ya. Jangan lupa bawa keresek atau karung buat bekel makanan😂**

__ADS_1


__ADS_2