Hate Is Love

Hate Is Love
Syukuran


__ADS_3

Acara syukuran kembali digelar oleh keluarga Hikmat. Kali ini giliran Cakra yang menggelar acara tersebut. Dia sangat bahagia karena akan segera menjadi uyut. Semua persiapan untuk menyambut keluarga besarnya sudah dilakukan. Seperti biasa, tim memasak berkutat di dapur untuk menyiapkan hidangan.


Stella tentu sangat bahagia dengan acara yang digelar. Selain bisa berkumpul dengan keluarga besarnya. Dia juga bisa menikmati aneka makanan lezat. Selama ini wanita itu hanya menikmati makanan hasil olahannya, yang rasanya biasa-biasa saja. Bahkan Stella bingung sang suami bisa tahan dengan rasa masakannya.


Sejak pagi mulut wanita itu tak berhenti mengunyah. Ada saja yang masuk ke dalam mulutnya untuk dikonsumsi. Vanila yang sedang sibuk menyiapkan camilan terus memperingatkan sepupunya itu untuk tidak terus memakan makanan yang baru selesai dibuatnya.


“Kak.. tuh mulut bisa berhenti sebentar, ngga? Perasaan gue dari tadi goreng risoles kaga penuh-penuh tuh piring,” protes Vanila.


“Eyang bikin acara ini syukuran buat gue yang lagi hamil. Ya wajar dong kalau gue yang abisin semua makanan.”


“Astaga tuh perut beneran udah kaya ular kadut. Apa aja masuk.”


Vanila menepuk keningnya. Dia kembali melanjutkan acara masaknya. Kali ini Stella mendekati Renata yang sedang membuat asinan Bogor. Wanita itu mengambil mangkok kecil lalu mengisi mangkok tersebut dengan penganan dengan rasa pedas, asam dan manis tersebut.


“Wah nih makanan ajib banget. Mantul, Ren.. nanti kalau Zar udah nikah sama lo, gue curiga perutnya buncit, hahaha..”


Hanya senyuman saja yang diberikan oleh Renata. Wanita itu melanjutkan kegiatannya. Kali ini dia sedang membuat lava cake. Dia memasukkan beberapa wadah kecil ke dalam oven. Kue akan dipanggang dalam durasi yang tidak lama untuk mendapatkan efek lava yang bagus.


Arsy yang sudah benar-benar pulih pasca keguguran, ikut membantu di dapur. Dia juga ingin memperlihatkan kemampuannya mengolah makanan. Walau rasanya masih kalah dibanding Dayana, Renata atau Vanila. Tapi yang penting sudah ada kemajuan. Kemampuan memasaknya juga lebih baik dari Stella dari segi rasa.


“Sy.. lo bikin apaan?” tanya Stella.


“Saos Bolognese. Spesial buat elo, gue bikinin spageti bolognese.”


“Cieee.. kak Arsy udah bisa masak sekarang. Tapi rasanya yakin enak?” celetuk Geya.


“Buat Stella ini. Dia kan ngga peduli rasa, yang penting bisa dimakan, udah cukup buat dia, hahaha..”


“Oh iya, bener juga. Sayur asem dikecapin juga dibilang enak sama dia.”


Dengan kesal Stella menoyor kepala Geya. Wanita itu keluar dari dapur setelah puas mengisi perutnya dengan makanan yang dibuat oleh crew kitchen. Dia menghampiri Dayana yang sedang duduk di taman belakang. Stella mendudukkan diri di samping Dayana.


“Ngapain lo di sini?” tegur Stella.


“Gue eneg nyium bau masakan. Makanya ngungsi di sini.”


“Badan lo kurusan gitu.”


“Iya. Gue turun dua kilo. Ngga nafsu makan, bawaannya eneg terus, mau muntah rasanya kalau lihat masakan. Apalagi yang banyak bumbu, kaya masakan Padang.”


“Kok gue ngga ya?”


“Ya kan ibu hamil beda-beda. Bersyukur aja lo ngga ngalamin morning sick kaya gue. Tiap pagi gue selalu muntah, badan lemas, kepala pusing. Kasihan mas Rafa sering terlambat ke rumah sakit karena ngurus gue.”


“Lo pindah dulu aja ke rumah mama.”


“Maunya, sih. Tapi nanti deh gue obrolin dulu sama mas Rafa. Takutnya dia ngga nyaman.”


Dari arah dalam rumah, Rafa muncul dengan piring dan gelas berisi air putih di tangannya. Melihat itu, Stella segera bangun lalu meninggalkan sepupunya itu. Rafa mendudukkan diri samping sang istri. Liur Dayana hendak menetes melihat nasi dengan telor ceplok yang ditambah saos di atasnya.


“Makan dulu, sayang.”


“Suapin.”


Dengan telaten Rafa menyuapi istrinya itu. Dia sangat kasihan melihat Dayana yang kehilangan nafsu makannya, sampai bobotnya berkurang. Tapi dirinya juga tidak bisa melakukan apa-apa, selain membuatkan makanan yang diinginkan oleh Dayana dan memberi dukungan moril.


“Kamu ngga bosen makan ini terus?” tanya Rafa sambil terus menyuapi Dayana.


“Kan ngga tiap hari juga, mas.”


“Obat anti mualnya diminum kan, sayang?”


“Diminum, mas. Tapi ngaruhnya cuma sebentar.”


“Sabar ya, bawaan hormon kehamilan emang begitu.”


“Iya, mas. Yang penting mas tetap sayang dan perhatian sama aku.”


“Kalau itu sudah pasti, sayang.”


Rafa meraih kepala Dayana lalu mendaratkan ciuman di kening istrinya. Dia kembali menyuapi sang istri. Tangannya meraih sebutir nasi yang menempel di sudut bibir Dayana. Hati wanita itu menghangat melihat sikap suaminya yang begitu perhatian padanya. Sejak menikah sampai sekarang, dia tidak pernah mendengar Rafa meninggikan suara padanya.


“Mas.. gimana kalau untuk sementara kita tinggal sama mama? Mas jadi ngga akan terlambat ke rumah sakit. Ada mama yang jagain aku.”


“Kamu mau tinggal sama mama?”

__ADS_1


“Kalau mas mau. Kalau ngga, juga ngga apa-apa. Sampai trimester pertama aja.”


“Ya udah, besok kita pindah ke rumah mama untuk sementara.”


“Mas ngga apa-apa, kan?”


“Ngga apa-apa. Keluargamu juga keluargaku.”


“Makasih, mas.”


Dengan semangat Dayana menghabiskan makanan di piring. Rafa memberikan gelas berisi air putih. Dayana meneguk habis isi gelas tersebut. Dibelainya wajah sang istri yang terlihat tirus. Wajahnya juga terlihat pucat. Kehamilan anak pertamanya pasti sangat berat untuk istrinya ini.


“Makasih ya, sayang. Kamu mau bersabar dengan kehamilan anak kita.”


“Ini nikmatnya menjadi ibu, mas.”


Rafa meraih tubuh Dayana lalu memeluknya dengan mesra. Dari arah dalam nampak Ravin memperhatikan kemesraan anaknya itu. Dia bersyukur Rafa sangat menyayangi dan menjaga anaknya. Pria itu terjengit ketika Freya menghampiri lalu memeluk pinggangnya dengan mesra.


“Lihat apa, bang?”


“Anak kita. Mereka terlihat bahagia.”


“Alhamdulillah, mas. Rafa memang laki-laki yang baik.”


“Iya, Alhamdulillah.”


Freya mengajak sang suami beranjak dari sana. Semua masakan sudah siap, Cakra meminta semua orang untuk mencicipi hidangan yang sudah tersedia. Wajah pria itu nampak sangat bahagia akan kabar kehamilan Stella. Berkali-kali dia melontarkan pujian pada Tamar yang sudah berhasil membuatnya menjadi calon uyut.


Dengan mangkok kecil di tangannya, Geya menghampiri Daffa yang duduk di teras. Dia memberikan mangkok kecil tersebut pada pria pujaannya. Mata Daffa melihat isi di dalam mangkok.


“Ini apa?”


“Poffertjes, aku tambahin es krim sama saos strawberi. Cobain, bang. Enak loh.”


Tanpa ragu, Daffa mengambil mangkok dari tangan Geya. Dia sudah tidak meragukan lagi rasa masakan gadis itu. Dipotongnya penganan yang terbuat dari campuran tepung terigu, susu cair, gula dan telur tersebut. Rasa poffertjes yang tidak terlalu manis bercampur dengan manisnya es krim ditambah saos strawberi yang manis asam, terasa pas di lidahnya.


“Enak, ngga?”


“Enak. Kamu emang pintar masak.”


“Siapa dulu, Geya. Calonnya abang Daffa.”


“Ya ampun disuapin bang Daffa rasanya tambah manis aja.”


“Gimana magang kamu?”


“Lancar, aman dan terkendali. Tapi aku sebel sama si dokter Ransel. Dia tuh senang banget mampir ke office terus ketemu aku, ngapain coba.”


“Dia suka sama kamu.”


“Abang ngga cemburu gitu?”


“Kita ngga ada ikatan. Jadi aku ngga berhak cemburu.”


Jujur saja Geya kecewa mendengar jawaban Daffa. Padahal dia berharap Daffa cemburu pada Ansel. Tapi sepertinya harapannya itu sia-sia belaka. Gadis itu jadi berpikir, apa selama ini dirinya hanya cinta sendiri saja. Sedang Daffa tidak memilki perasaan apapun padanya. Menyadari kediaman Geya, Daffa kembali mengajaknya bicara.


“Kenapa diam?”


“Ngga apa-apa. Ehmm.. aku tuh ganggu bang Daffa, ya?”


“Kok gitu ngomongnya.”


“Ya kan aku sering nempelin abang. Aku malah bilang ke semua staf humas kalau aku calon istrinya bang Daffa. Pasti abang ngga nyaman,” Geya menundukkan kepalanya.


“Ngga kok, aku ngga merasa terganggu atau ngga nyaman. Malah bagus, jadi cewek-cewek yang ngejar aku berkurang.”


“Cuma buat tameng doang dong akunya.”


Wajah Geya semakin terlihat sendu. Daffa meletakkan mangkok di tangannya yang sudah tak bersisa. Dia melihat pada Geya, meminta gadis itu melihat padanya. Perlahan Geya mengangkat kepalanya.


“Ge.. aku sekarang lagi konsentrasi buat beresin masa residenku. Jujur saja dua bulan ini berat banget buat aku. Ada nama papa yang aku sandang di belakang namaku. Kadang banyak yang menyangka aku sampai di titik ini karena bantuan papa dan juga bang Aqeel. Makanya aku berusaha mati-matian membuktikan kemampuanku. Apalagi sekarang ada dokter Ansel. Dia sering sekali menekanku dan selalu mempertanyakan tindakan yang kulakukan.”


Terdengar helaan nafas berat Daffa selesai mengatakan itu semua. Dibalik sikap cerianya, pria itu menanggung beban yang cukup berat. Geya melihat pada Daffa yang menatap lurus ke depan.


“Aku.. nambah beban abang ya?”

__ADS_1


“Ngga sama sekali, Ge. Justru kamu bisa mengalihkan penat yang kurasakan. Terima kasih ya, kamu selalu menghiburku. Aku sama sekali ngga terganggu sama kamu. Tapi maaf, untuk sekarang fokusku untuk menyelesaikan masa residenku. Aku mau kamu juga fokus dengan magangmu, menaikkan nilai akademikmu dan lulus tepat waktu. Bisa, Ge?”


Kepala Geya mengangguk mendengar apa yang dikatakan Daffa. Selama ini mama dan papanya memang selalu mengeluhkan nilai akademiknya yang lebih didominiasi abjad C. Mendengar apa yang dikatakan Daffa, dia jadi terpicu untuk mengkatrol IPK-nya. Jika dia bisa menyelesaikan masa magangnya dengan baik, maka dia akan mendapatkan nilai baik juga. Tapi Geya sadar dengan kapasitas otaknya yang tidak sebrilian kakak atau adiknya.


“Tapi otakku mentok, bang. Gimana dong?”


“Aku akan bantu kamu.”


“Benar, bang?” mata Geya nampak berbinar.


“Iya. Begitu residenku beres, magangmu juga beres. Aku bantu kamu belajar buat naikin nilai akademikmu, gimana?”


“Maaauuuu…”


Akhirnya senyum terbit juga di wajah cantik Geya. Dia senang Daffa mau membantunya untuk menaikkan nilai akademiknya. Belajar bersama dengan Daffa saja sudah menjadi mood booster untuknya, apalagi kalau diajari olehnya.


“Tapi emang abang tahu soal mata kuliahku?”


“Ngga. Tapi kita kan punya guru lain yang ngga kalah hebatnya. Ada bang Bibie, ada Zar, ada kakakmu juga. Aya sama Stella juga pasti mau bantu. Mereka yang ngajarin kamu, aku jadi tim horenya.”


“Iya, bang. Makasih ya.”


Hanya senyuman saja yang diberikan Daffa untuk wanita di sampingnya ini. Gadis itu nampak bahagia sekali. Melihat Geya senang, hati Daffa juga bahagia. Untuk sejenak dia bisa mengalihkan kepenatannya di rumah sakit.


Setelah acara pengajian dan menikmati makanan yang tersedia, keluarga tidak langsung pulang. Mereka berbincang sesuai dengan genrenya masing-masing. Tamar bergabung dengan para pria dan membicarakan banyak hal. Rafa juga ikut bergabung dengan mereka. Di antara para pria, wajah Arya nampak tertekuk. Dia tidak bisa mengajak Shifa datang, karena wanita itu sedang menjalani turnamen di luar negeri.


“Kenapa tuh muka ditekuk mulu,” tegur Zar.


“Biasa, paling gara-gara Shifa,” jawab Ervano.


“Dia lagi ikut turnamen di Perancis, gue ngga bisa ke sana kasih dukungan.”


“Lo emang ngga bisa kasih dukungan, tapi kan bisa jemput dia pas pulang.”


“Belum bisa. Dia lanjut ikut turnamen Jerman open, Swiss open.”


“Padat bener jadwalnya.”


“Iya. Dia baru bisa balik ke Indo bulan depan. Terus stay di Jakarta ikut pelatihan di pelatnas buat piala Sudirman.”


“Nasib ngecengin atlit ya emang gitu. Apalagi Shifa pemain nomer satu dunia.”


“Lo sendiri gimana, Zar?” tanya Tamar.


“Gue masih nyusun rencana buat nangkep si Richie. Kabarnya dia udah pindah dari safe house terakhir. Diki juga ngga tahu, dia curiga kalau Diki mata-mata kita.”


“Licin juga tuh orang,” celetuk Arya.


“Lo harus secepatnya temuin Richie. Lo ngga mau kan jadi presiden jomblo selamanya, hahaha..”


“Buset nih calon bapak sekarang mulutnya udah lemes ya.”


Tak ada tanggapan dari Tamar, pria itu hanya terpingkal saja mendengar kelutusan Zar. Sudah menjadi rahasia umum soal janji Zar pada Renata. Pria itu tidak akan melamar Renata sebelum menangkap Richie. Tamar bangun dari duduknya ketika melihat Stella keluar dengan membawa empat dus makanan.


“El.. mau kemana?”


“Mau ke pos satpam, mau kasih nasi kotak.”


“Aku antar.”


Stella hanya menganggukkan kepalanya saja. Bersama dengan Tamar, wanita itu berjalan menuju pos satpam. Hanya ada dua orang saja yang berjaga di sana, salah satunya adalah Johan. Melihat kedatangan Stella, pria itu keluar dari pos untuk menyambut istri dari Tamar tersebut.


“Pak Sastro mana?”


“Lagi keliling, bu.”


“Ini buat kalian. Yang ini kasih ke Dito ya.”


“Iya, bu. Makasih.”


“Sama-sama.”


Setelah memberikan nasi kotak, Stella dan Tamar kembali ke rumah. Sesekali dia melihat ke belakang. Dia tahu pasti Suzy melihatnya, namun sayang mereka sudah tidak berinteraksi lagi. Seandainya ada Dito, dia pasti bisa berbicara dengan sahabat beda alamnya itu.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Jadi sebenernya perasaan Daffa ke Geya gimana ya🤔


Udah ah segini aja. Aku olab tadi nulis NR kepanjangan🤣**


__ADS_2