
Selain Irzal dan Arsy, pasangan Arya dan Shifa pun langsung tancap gas berbulan madu. Mereka tidak seperti dua pendahulunya yang harus menunda bulan madu karena masalah si bulan. Arya termasuk yang beruntung bisa langsung mengajak sang istri berbulan madu. Karena keduanya juga tidak ada niatan menunda momongan, maka ajang bulan madu dijadikan ajang beternak cebong.
Tempat bulan madu yang dipilih Arya juga bukanlah luar negeri. Shifa memang ingin menghabiskan bulan madu di tanah air, terutama di daerah Jawa Barat. Dia sudah terlalu sering mengunjungi negara luar jika bertanding. Dan untuk kesempatan kali ini, wanita itu ingin mengunjungi wisata dalam negeri yang belum pernah didatanginya.
Arya mengajak sang istri berbulan madu di Sukabumi, dia mengambil lokasi di Geopark Ciletuh. Selain karena keduanya memang belum pernah berkunjung ke sini. mereka juga mendengar kalau kawasan geopark ketiga di Indonesia ini sudah tidak diragukan lagi keindahannya. Bahkan masuk ke dalam daftar UNESCO Global Geopark.
Berhubung lokasi yang ditempuh cukup jauh, Arya memilih jasa supir untuk mengemudikan mobilnya. Selain untuk menghemat tenaga, dia juga ingin menjadikan sp*rmanya berkualitas super dengan tidak terlalu letih. Selama enam jam lebih mereka menempuh perjalanan dari Bandung menuju Ciletuh, Sukabumi. Dia telah menyewa hotel di salah hotel di sana.
Udara khas pantai langsung terasa ketika Shifa membuka pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon. Wanita itu berdiri di sana dengan tangan berpegangan pada pagar balkon. Pemandangan laut lepas langsung terpampang di hadapannya. Sang suami ternyata memilih kamar yang memiliki pemandangan indah, sesuai dengan harga yang harus mereka keluarkan untuk menginap di sini.
Arya datang, lalu memeluk sang istri dari belakang. Diletakkan dagu ke bahu sang istri. Dirinya ikut menikmati pemandangan indah, sekaligus semilir angin yang menyejukkan. Shifa menyandarkan kepala ke dada sang suami. Untuk beberapa saat, mereka masih berada di pose yang sama.
“Besok kita mau kemana?” tanya Shifa.
“Besok kita ke desa Hanjeli, lusa kita ke curug Sodong, besoknya lagi kita jalan-jalan di sekitar pantai sini aja, sisanya ke pantai Karang Hawu sama curug Cikaso, gimana?”
“Ehmm.. aku suka.”
“Tiap hari kita dateng ke lokasi yang beda. Sisa hari kita pakai buat produksi anak.”
“Ish.. pabrik kali.”
“Hahaha..”
Arya mengurai pelukannya, kemudian membalikkan tubuh istrinya hingga menghadapnya. Diraihnya wajah sang istri, kemudian mendaratkan ciuman di bibir yang sudah menjadi candunya. Gayung bersambut, Shifa pun langsung membalas ciuman sang suami. Keduanya kemudian masuk ke dalam kamar saat sudah tidak bisa menahan hasrat mereka lagi. Beternak cebong edisi pertama akan dimulai sore ini.
🍁🍁🍁
Hari Pertama
Sesudah sarapan, Arya dan Shifa sudah bersiap untuk mengunjungi Desa Hanjeli. Sudah ada pemandu wisata yang akan menemani mereka berkeliling selama bulan madu. Pria berusia tiga puluh tahun itu segera naik ke kursi penumpang bagian depan. Tak berapa lama kemudian, sang supir segera menjalankan kendaraannya.
Destinasi pertama dari rangkaian bulan madu Arya – Shifa adalah Desa Hanjeli. Desa ini berada di kecamatan Waluran. Desa Hanjeli adalah desa eduwisata pertama di Indonesia yang mengembangkan olahan pangan hanjeli. Hanjeli atau yang biasa dikenal dengan jali adalah sejenis tumbuhan biji-bijian tropika dari suku padi-padian. Hanjeli ini bisa dikonsumsi sebagai pengganti beras. Dan menjadi salah satu ketahanan pangan di Indonesia.
Begitu sampai di desa Hanjeli, keduanya diajak melihat tanaman hanjeli. Bersama sang pemandu dan penduduk setempat, keduanya menuju ladang tempat hanjeli ditanam. Mereka diterangkan apa yang dimaksud dengan hanjeli. Mereka belajar bagaimana cara menanam dan memanennya dengan alat tradisional. Beberapa kali Arya dan Shifa mengambil gambar dengan tanaman hanjeli sebagai latar belakang.
Selanjutnya mereka diajak ke tempat pengolahan hanjeli. Dengan wajah sumringah, Shifa mencoba mengolah hanjeli yang sudah dipanen. Dia menggerakkan tangannya ketika menampah tanaman tersebut. Selesai ditampah, biji-bijian tersebut dimasukkan ke dalam lesung. Kini giliran Arya yang menumbuknya. Dengan cepat Shifa mengabadikan sang suami yang tengah menumbuk hanjeli.
Setelahnya, mereka diajak untuk melihat cara mengolah hanjeli menjadi hidangan siap santap. Beberapa ibu terlihat sedang sibuk mengolah hanjeli. Ada yang membuat liwet hanjeli, rangginang dan dodol. Shifa mengajukan diri untuk mencoba mengaduk dodol yang terbuat dari hanjeli. Tak lupa sang suami mengabadikan apa yang dilakukannya.
Puas berkeliling sambil belajar tentang hanjeli, keduanya kini bersiap untuk menikmati makanan yang terbuat dari hanjeli. Bersama dengan pemandu wisata dan sang supir, keduanya menuju saung yang ada di sana. Liwet hanjeli, tahu dan tempe goreng, ikan goreng, tumis sayur, sambal dan lalap sudah tersedia di sana. Perut Arya langsung bergemuruh melihat itu semua.
Setelah menikmati makan siang, tak lupa mereka membeli oleh-oleh untuk semua keluarga. Arya memborong hanjeli yamg sudah dikemas, rangginang hanjeli dan juga dodol hanjeli untuk dibawa pulang. Hari pertama bulan madunya selesai, mereka pun segera kembali ke hotel.
🍁🍁🍁
Hari Kedua
Di hari kedua ini, Arya mengajak sang istri mengunjungi curug Sodong. Curug Sodong adalah salah satu curug yang ada di kawasan Geopark Ciletuh. Curug ini terletak di desa Ciwaru, kecamatan Ciemas. Curug sodong atau yang biasa dikenal dengan nama curug kembar, memiliki ketinggian 20 meter.
Di sekitar air terjun ini ditumbuhi pepohonan rindang nan hijau. Dinamakan sodong, karena dibalik air terjun terdapat cekungan yang menyerupai gua. Cekungan yang menyerupai gua itu dinamakan sodong, dalam istilah bahasa Sunda.
Shifa terpekik senang ketika melihat keindahan air terjun di depannya. Dengan cepat dia mengabadikan gambarnya dengan air terjun sebagai latarnya. Tak lupa dia mengambil gambar di spot yang berbeda. Wanita itu kemudian memosting keberadaannya ke laman IG-nya. Tak butuh waktu lama beragam komentar langsung masuk ke berandanya. Banyak rekan seprofesinya dari luar negeri menanyakan di mana letak tempat yang indah itu.
Puas mengambil gambar, Shifa menaruh ponselnya di salah satu batu yang letaknya tidak terjangkau cipratan air. Kemudian wanita itu menarik tangan suaminya. Dia ingin bermain air di sungai tersebut. Air yang sejuk langsung dirasakannya ketika memasukkan dirinya ke dalam air.
Beberapa kali dia mencipratkan air ke wajah dan tubuh suaminya. Terdengar teriakannya ketika Arya mengangkat tubuhnya. Cukup lama mereka bermain di pinggiran sungai, membuat sang pemandu dan supir hanya bisa melihat iri pada mereka. Andai saja pasangan mereka ada di sini. Tentu mereka akan langsung syuting film India bersama.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Hari Ketiga
Di hari Ketiga, Arya mengajak Shifa mengunjungi pantai Geopark Ciletuh. Di sana terdapat beberapa pantai yang menyuguhkan keindahan masing-masing. Arya mengajak Shifa menuju pantai Palangpang. Pantai palangpang merupakan gerbang pintu masuk Geopark Ciletuh. Di sini pula Arya menyewa kamar hotel untuknya menginap.
Palangpang memiliki hamparan pantai yang cukup luas dan panjang. Pasir pantainya halus dan airnya jernih. Di sebelah kanan, bisa terlihat air terjun Cimarinjung, curug yang paling dekat dengan pantai. Arya mengajak Shifa ke sana setelah puas bermain di pantai. Tidak lama waktu yang ditempuh untuk sampai ke sana, hanya beberapa menit saja.
Keindahan air terjun Cimarinjung langsung tersuguh di depan mata. Air terjun dengan ketinggian 50 meter ini dikelilingi batuan besar. suasananya mirip seperti hutan di jaman purba. Shifa dan Arya hanya bisa menikmati keindahan air terjun dari kejauhan saja. Namun tetap tidak mengurangi keindahan yang tersaji.
Tak banyak waktu yang mereka habiskan di sini. Keduanya kembali ke pantai palangpang untuk mengisi perut mereka dengan hidangan seafood yang tersaji di sana. Selepas dzuhur Arya mengajak Shifa mengunjungi pulau yang berada di dekat pantai Palangpang menggunakan speedboat.
“Bee.. kita ke pulau Kunti, yuk. Ngga jauh kok, paling cuma setengah jam.”
“Pulau kunti?”
“Iya. Katanya dari pulau itu suka terdengar suara kaya kunti ketawa.”
“Ih serem.”
“Kan ada aku. Kalau takut tinggal peluk aja, gitu aja kok repot.”
“Ish modus banget.”
“Hahaha.. mau ngga? Biar seru bulan madu kita.”
“Boleh, siapa takut.”
Mereka segera menuju dermaga, tempat di mana speedboat terparkir. Dibantu Arya, Shifa naik ke atas speedboat. Kendaraan air itu segera bergerak menuju pulau yang dimaksud. Perjalanan yang mereka tempuh tidak terlalu lama, hanya setengah jam saja mereka sudah sampai di pulau tersebut.
Pulau kunti ternyata berada di kawasan semenanjung Hutan Suaka Margasatwa Cikepuh atau Cagar Alam Cibanteng. Di sini terdapat habitat unik, seperti Elang jawa dan rusa. Sejenak Arya dan Shifa beristirahat melihat pemandangan teluk Pelabuhan Ratu.
“Di sini katanya habitat bapaknya Irzal,” celetuk Arya.
“Hah? Maksudnya?”
“Di sini banyak Elang Jawa, hahaha..”
“Dasar.. aku bilangin ayah El, ya.”
“Eh jangan, tar aku dikutuk jadi kastrol, bahaya. Hahaha..”
“Mending dikutuk jadi kastrol, bisa dipake bikin nasi liwet. Kalo dikutuk jadi bisul gimana, hahaha…”
Setelah beristirahat sebentar, keduanya kemudian melanjutkan perjalanan. Mereka bertemu dengan salah satu Georanger. Pria itu kemudian berbaik hati untuk memandu mereka mengelilingi pulau Kunti. Pria bernama Dayat itu juga menjelaskan asal muasal kata Kunti yang menjadi nama pulau ini.
“Pulau ini kenapa dinamain pulau Kunti sih, pak? Emang bener ya suka ada suara kunti ketawa gitu? Seneng banget kunti di sini, berasa jadi komika kali ya, ketawa mulu.”
“Hahahaha.. kang Arya bisa aja. Jadi, di sini batuan di bawah pulau ini bentuknya mirip dam tapi berongga. Saat ada gelombang menghantam, suaranya bergema dan mirip suara kuntilanak. Makanya pulau ini disebut pulau Kunti.”
“Oh gitu. Kirain di sini tempat perkembangbiakan kunti. Tiap ada kunti yang lahir langsung ketawa, hihihihi….”
Shifa mencubit lengan suaminya yang selalu berbicara sekenanya. Dayat hanya tertawa saja. Pertanyaan soal nama kunti memang selalu didengarnya ketika memandu wisatawan yang datang ke sini.
“Akang mau ke gua anti jomblo, ngga?” tanya Dayat.
“Gua anti jomblo? Emang ada?”
“Ada, kang. Ayo kita ke sana.”
__ADS_1
Dayat berjalan lebih dulu menuju lokasi gua yang dinamakan gua anti jomblo. Gua tersebut hasil karya alam, berasal dari abrasi laut ketika pasang. Konon katanya yang masuk ke gua ini akan cepat mendapatkan pasangan.
“Nah ini gua anti jomblo,” ujar Dayat.
“Wah harusnya Ervan, Sam, Azzam, Nal sama Dipa ajak ke sini biar ngga jadi jomblo terus, hahaha,” celetuk Arya.
“Gilang ngga disebut?”
“Masih piyik dia. Expirednya masih lama.”
Tak ayal Shifa tertawa mendengar ucapan nyeleneh suaminya. Keduanya masuk ke dalam gua mengikuti langkah Dayat. Tidak ada yang istimewa sebenarnya dalam gua tersebut. Panjangnya 9 meter dan tingginya 5 meter. Hanya mitos yang tersemat pada gua tersebut, yang menjadikannya istimewa.
“Selain gua jomblo, ada lagi yang fenomenal, kang.”
“Apa tuh?”
“Karang k**tol namanya. Bentuk karangnya mirip perabotan kita, makanya namanya itu, hahaha..”
“Serius, kang?”
“Iya. Adanya di pantai Legon Pandan, ngga jauh juga kok, masih sekitar sini.”
“Ke sana yuk, bee,” ajak Arya.
“Ngapain? Mau nyamain bentuk?”
“Hahaha…”
Menjelang sore, Arya mengajak Shifa kembali. Keduanya kembali menggunakan speedsoabt untuk sampai ke pantai Palangpang. Mereka memutuskan langsung pulang ke hotel. Tubuh mereka sudah lelah, seharian berjalan mengeksplore keindahan pantai Palangpang.
🍁🍁🍁
Hari keempat dan kelima, acara bulan madu tidak berjalan sesuai jadwal. Rencana semula, mereka akan mengunjungi pantai Karang Hawu dan curug Cikaso, nyatanya mereka hanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Arya lebih senang mendekap istrinya berbaring di atas kasur. Tentunya melakukan aktivitas yang menyenangkan adik kecilnya.
Menjelang sore, keduanya masih berada di atas kasur. Mereka tidak kemana-mana tapi sudah bolak mandi sampai tiga kali. Tentu saja itu terjadi karena aktivitas panas yang mereka lakukan di atas kasur. Arya tidak mau menyia-nyiakan waktu bulan madunya, sebelum kembali ke Bandung dan bergelut dengan kegiatan di kantor.
Begitu pula dengan Shifa yang hanya mengambil cuti sampai akhir bulan. Di awal bulan, dia bersiap mengikuti turnamen di Dubai. Rencananya wanita itu akan tetap mengikuti turnamen sampai kejuraan Dunia. Itu pun kalau dirinya belum berbadan dua. Selepas tahun ini, dia akan lebih fokus pada rumah tangganya. Dan Arya juga tidak keberatan dengan rencananya itu.
“Bee.. kapan-kapan kita ke sini lagi, yuk. Kan masih banyak tempat yang belum kita datengin.”
“Boleh.”
“Jangan lupa ajak para jomblo biar dapet jodoh, hahaha..”
“Kita nanti ke gua siluman, ya. Katanya bagus pemandangan di sana. Cuma gelap aja, makanya disebut gua siluman.”
“Sama ke karang k**tol ya, hahaha..”
“Ya ampun masih penasaran aja.”
“Biar si Vano bisa nyamain bentuknya, sama atau ngga, bhuahaha..”
Tawa Arya kembali terdengar. Dia membayangkan para sepupunya yang masih jomblo menyamakan bentuk senjata pusaka mereka dengan karang yang konon memiliki bentuk seperti perabotan pria. Tak ayal Shifa juga tertawa dibuatnya. Sepertinya seru juga liburan ke sini lagi dengan keluarganya.
Lamunan Shifa buyar ketika Arya menciumi wajahnya. Sejak pagi, suaminya ini tidak pernah puas menciumi dan menyentuh dirinya. Namun begitu, dia juga menyukainya. Sepertinya esok pun mereka akan kembali menjalani bulan madu di dalam kamar saja sampai waktunya pulang ke Bandung.
🍁🍁🍁
**Edisi hari ini masih wisata online. Semoga puas ya🤗
Arya gasss teroooosss jangan kasih kendor. Mau nyusul Irzal - Arsy nih kayanya**.
__ADS_1