
BYUR!!
Seketika Yuke terbangun dari pingsannya ketika seember air mendarat di wajahnya. Perutnya terasa ditendang-tendang oleh seseorang. Walau gerakannya pelan tetap saja terasa sakit, karena sebelumnya pria itu habis dipukuli oleh anak buah Duta atas perintah Zar.
Perlahan Yuke membuka matanya. Samar-samar dia melihat seseorang berdiri di dekatnya. Pria itu menurunkan tubuhnya lalu berjongkok di depan Yuke. Pandangannya mulai jelas dan kini dia tahu siapa pria yang tadi menendang-nendang perutnya.
“Zar…”
“Udah sadar? Lemah.. baru dipukul beberapa kali udah pingsan.”
Yuke melihat ke kanan dan kiri, sekeliling ruangan dicat warna hitam. Penerangan di dalam ruangan juga minim. Dan ada beberapa pria berjaga di depat pintu sambil menatap tajam padanya. Yuke ingat kalau dirinya dibawa pergi saat hendak mengambil hadiah dari game yang dimenangkannya.
“Mana dua temanmu itu?” tanya Zar, namun tetap menutup mulutnya. Jika sampai dia membocorkan di mana Richie dan Abbas berada, maka dirinya hanya akan tinggal nama.
“Aku tidak tahu.”
“Ya.. ya.. ya.. lindungi saja temanmu itu. Kamu beritahu atau tidak, aku akan tetap menemukannya.”
“Kami tidak punya urusan denganmu. Kenapa kamu mengejar kami?” kesal Yuke.
“Wah.. benar-benar tidak tahu malu. Sudah berulah, masih tidak mau mengaku. Tunggu saja, bukan aku yang akan memberikan hukuman untukmu.”
Zar segera bangun kemudian menjauh dari Yuke. Perlahan Yuke mulai menegakkan tubuhnya, rasa sakit masih cukup menderanya. Samar-samar telinganya menangkap ketukan high heels mendekati ruangan yang ditempatinya. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, Renata masuk ke dalamnya.
Mata Yuke membulat melihat kedatangan Renata. Mata wanita itu menatap tajam padanya. Walau terkejut, namun Yuke justru bersyukur Renata yang datang. Dia yakin wanita itu tidak akan berani memberikan hukuman sadis padanya.
“Rena.. masih hidup rupanya kamu. Aku kira kamu sudah bunuh diri,” ledek Yuke.
BUGH
Sebuah tendangan mendarat di wajah Yuke. Pria itu meringis kesakitan, memegangi rahang kanannya yang terkena tendangan. Dia melihat dengan mata nyalangnya ke arah Zar. Tapi pria itu tak merespon apa-apa.
“Zar.. bisa aku minta tolong?” tanya Renata.
“Apa.”
Renata mendekati Zar kemudian mengatakan apa yang diinginkan wanita tersebut. Kepala Zar hanya mengangguk saja. Tangannya kemudian bergerak memberi tanda pada Imron untuk mendekat. Zar memerintahkan pada Imron apa yang diminta oleh Renata. Dengan cepat pria itu melakukan perintah atasannya.
“Heh.. apa yang kamu rencanakan p*l*cur?”
Kesal mendengar ucapan Yuke, Zar bermaksud menghajarnya lagi, namun Renata mencegahnya. Wanita itu berjalan mendekati Yuke. Pria tersebut melemparkan senyuman penuh ejekan pada Renata.
“Bangun,” ujar Renata.
“Mau apa? Apa kamu merindukan goyanganku?”
Dengan cepat dua anak buah Imron menegakkan tubuh Yuke. Kini pria tersebut berdiri berhadapan dengan Renata. Mata Renata menatap tak berkedip pada Yuke. Kemudian kakinya bergerak menendang sel*angk*ngan Yuke, tepat mengenai senjata andalannya.
AAAARRRGGHHH!!
Yuke berteriak kencang. Dia langsung jatuh terduduk sambil memegangi entongnya yang baru saja terkena tendangan Beckham. Zar tak bisa menahan tawanya melihat apa yang menimpa Yuke. Sudah pasti bukan hanya sakit, tapi juga linu dan malu ikut mendera.
Tak berapa lama anak buah buah Imron datang. Mereka membawa kolam renang karet untuk anak-anak berbentuk bulat. Mereka mengisinya dengan air. Kemudian dibawanya Yuke ke dalamnya. Pria itu ditaruh duduk di tengah-tengah kolam. Kedua tangan Yuke direntangkan kemudian dipegang oleh anak buah Imron di kanan kirinya.
“Mau apa kalian? Mau apa??!!”
Tak ada jawaban dari orang-orang yang ditanyanya. Kemudian Yuke melihat Imron datang dengan ember di tangannya. Dia terkejut ketika Imron menumpahkan sesuatu dari ember ke dalam kolam. Puluhan belut langsung memenuhi kolam.
“Aaaaaa!!! Tolong!! Singkirkan belut ini, aaaaa!! Tolong.”
Tubuh Yuke berontak ingin keluar dari kolam tersebut. Namun seorang pria bertubuh tinggi tegap berjalan ke arah Yuke lalu berdiri di belakang pria tersebut. Ditekannya pundak Yuke dengan kencang, hingga pria itu tidak bisa bergerak.
“Aaaaaaa… tolong Rena, jangan begini. Aaaaa…. Tolong aaaaaaa….”
Teriakan Yuke terus bergema ke sekeliling ruangan. Pria itu sebisa mungkin bergerak menghindari belut yang menaiki kaki, paha dan ada yang berada di perutnya. Renata tersenyum tipis melihat ketakutan yang melanda Yuke. Sejak Zar berhasil menemukan Daus untuknya, dia mulai mencari tahu apa saja yang ditakuti oleh pria-pria yang telah melecehkannya.
Belut adalah hewan yang paling ditakuti oleh Yuke. Entah kenapa pria tersebut begitu takut pada belut. Sebagai hukuman awal, dia sengaja melakukan hal tersebut untuk menyiksa Yuke. Suara pria itu sampai parau karena terus berteriak. Wajahnya bahkan sudah sangat pucat saking takutnya.
“Apa kamu sudah memikirkan hukuman apa yang pantas untuk Yuke?” tanya Zar.
“Aku mau dia dikirim ke desa terpencil di Ciamis. Ada sepasang suami istri yang sudah tua. Sehari-harinya mereka hidup hanya mengandalkan hasil berkebun dan bertani. Aku mau dia kerja mengolah kebun dan sawah untuk kehidupan kedua orang tua itu. Gajinya makan sehari-hari dan juga tempat untuk tinggal.”
“Dia bisa kabur.”
“Tenang aja, bro. Dia itu kan penjahat kelamin. Jadi di kakinya akan kita pasangi gelang yang biasa digunakan oleh tahanan para penjahat kel*min di luar negeri. Dia hanya bisa berjalan menjauh dari rumah sepanjang 500 meter. Lebih dari itu maka gelang akan memberikan kejutan untuk melumpuhkannya. Begitu juga ketika hormon tubuhnya berubah ketika melihat perempuan cantik, maka gelang itu akan kembali bereaksi.”
Darren datang dengan satu kotak kecil di tangannya. Sebelum Yuke tertangkap, Renata telah berdiskusi soal ini dengan Rakan. Dan pria tersebut mengusulkan hukuman seperti itu. Setidaknya tenaga Yuke akan berguna untuk kedua orang tua tersebut.
“Bos.. pingsan lagi nih,” celetuk salah satu anak buah Imron.
“Ya ampun baru dikasih belut aja udah pingsan. Angkat-angkat,” seru Zar.
Dua anak buah Imron mengangkat tubuh Yuke keluar dari kolam, kemudian membaringkannya di lantai. Darren mendekat, lalu memasangkan gelang ke kaki Yuke. Gelang dipasangkan ke kedua pergelangan kaki Yuke. Dia lalu menghubungkan alat tersebut ke laptopnya.
“Done,” seru Darren.
“Besok kirimkan dia ke Ciamis. Ke daerah mana Ren?” tanya Zar.
__ADS_1
“Desa Darmacaang, kecamatan Cikoneng. Aku share alamatnya.”
Renata mengambil ponselnya kemudian mengirimkan lokasi di mana Yuke akan dikirimkan. Renata juga mengirimkan gambar rumah yang dihuni oleh dua orang tua, tempat Yuke akan tinggal. Dan juga foto kebun dan sawah yang harus digarap Yuke.
“Waduh… sebulan juga udah nangis darah tuh si Yuke,” celetuk Darren.
“Biarin jadi kebo dia buat bajak sawah,” sambung Zar.
“Sampai tiga kali panen dia berada di sana. Setelahnya terserah kalian mau dikirim kemana,” ujar Renata.
“Kumpulin aja di pulau Rinca bareng si Daus. Biar dia ada temannya ngelatih komodo nari, hahaha…”
“Boleh.. boleh..” jawab Zar menyetujui usulan Imron.
Mata Renata terus melihat pada Yuke yang masih belum sadar dari pingsannya. Semoga saja hukuman yang diberinya bisa menyadarkan pria itu dan memberi manfaat untuk orang lain.
Merasa tak ada urusan lagi, Renata bermaksud kembali ke kantor. Zar bergegas mengejar wanita itu. Panggilan Zar menghentikan pergerakan Renata yang hendak memesan taksi online.
“Ren.. Yuke udah ketangkep. Aku boleh kan minta hadiah?”
“Hadiah apa?”
“Makan malam. Akhir minggu ini kita makan malam, gimana?”
“Euung.. boleh deh.”
“Ok sip. Nanti aku jemput di rumah KiJo.”
“Ok.”
“Ayo aku antar ke kantor.”
Zar membukakan pintu untuk Renata, kemudian dirinya masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan kendaraan. Ketika mobil melaju, Renata lebih banyak diam dan mengarahkan pandangan ke jendela samping.
“Soal hukuman Yuke, kamu dapat ide itu dari mana?”
“Aku diskusi sama bang Rakan.”
“Ooh.”
Hanya itu saja yang keluar dari mulut Zar. Lagi-lagi pria itu merasa cemburu mendengar nama Rakan kembali disebut oleh Renata. Dan sepertinya Renata juga sangat menuruti Rakan. Pria itu semakin curiga ada hubungan khusus antara keduanya. Hanya saja Renata masih menutupinya.
Tak ada pembicaraan lagi setelahnya. Perasaan Zar sudah kadung terbakar cemburu hingga malas untuk berbincang lagi. Begitu pula Renata yang memilih untuk diam. Sampai akhirnya mobil yang dikendarakan Zar berhenti di depan lobi kantor Rakan Putra Group.
“Makasih Zar,” ujar Renata seraya melepaskan sabuk pengaman.
Tangan Renata bergerak membuka pintu kemudian turun dari mobil. Zar pun langsung melajukan kendaraannya meninggalkan gedung kantor. Renata masih terpaku di tempatnya berdiri memandangi mobil Zar yang masih melaju. Melihat sikap Zar padanya, sempat terpikir kalau pria itu masih menyukainya. Namun segera ditepiskan pikiran tersebut. Dia sudah tidak pantas untuk bersanding dengan siapa pun. Dengan langkah pelan, Renata memasuki gedung kantor.
🍁🍁🍁
Beberapa mobil polisi terparkir di depan gang yang berada di salah satu jalan protokol di Bandung. Selain mobil polisi, juga terparkir ambulans dan mobil tim forensik. Tamar dan Aji nampak masih meneliti mayat yang ditemukan salah satu warga di dekat bak sampah. Seorang mayat pria berusia sekitar 28 tahun.
Dilihat dari beberapa luka yang dideritanya, jasad tersebut adalah korban pembunuhan. Terdapat beberapa luka tusukan di bagian perut, wajahnya juga babak belur dan korban kemungkinan meninggal karena kehabisan darah. Setelah petugas forensik selesai mengambil gambar dan membuat garis posisi mayat, jasad tersebut dipindahkan oleh petugas medis untuk dilakukan autopsi.
Anak buah Tamar nampak berpencar untuk mencari saksi yang melihat kejadian tersebut. Mereka juga mencari cctv yang merekam aksi keji tersebut. Warga masih belum meninggalkan area TKP. Mereka juga bertanya-tanya, siapa korban tersebut. Yang pasti bukan warga sekitar. Dan kebanyakan tidak mengetahui kapan pastinya peristiwa tersebut terjadi.
Tamar mendudukkan dirinya di depan kios rokok. Diambilnya minuman dingin dari iced box yang terpajang kemudian meneguknya sampai habis setengahnya. Laporan kasus lain masih belum selesai untuk diserahkan berkasnya ke pengadilan, kini sudah muncul kasus baru. Sudah bisa dibayangkan dirinya akan terus berada di kantor untuk lembur mengerjakan semua laporan.
“Hai pakpolgan.”
Hampir saja air yang kembali diminum oleh Tamar tersembur keluar ketika tiba-tiba Stella datang dan duduk di sampingnya. Matanya melihat bingung pada gadis itu. Dari mana dia mendapatkan informasi keberadaan dirinya. Stella sudah seperti jailangkung saja yang datang tak dijemput, pulang tak diantar.
“Kenapa? Kok kaget gitu mukanya?”
“Kamu tahu dari mana aku di sini?”
“Aku kan punya radar pakpolgan. Di sini radarnya,” Stella menyentuh dadanya seraya melemparkan senyuman manis.
Tamar hanya memutar bola matanya mendengar gombalan remeh Stella. Yang pasti bagaimana pun caranya dia harus segera mengusir gadis tersebut dari TKP. Stella melirik pada Tamar yang masih menikmati minumannya sampai habis.
Sampe mana juga, gue bakalan kejar. Kita kan partner, hehehe..
Demi bisa memecahkan kasus bersama dengan Tamar, Stella sampai harus membujuk Abi agar sang kakek mau meminta ijin pada Jayden untuk bisa mengakses chip yang tertanam di tubuh Tamar. Dan tentu saja informasi soal Tamar yang juga memakai chip buatan Jayden didapat dari Arsy.
“Ini kasus pembunuhan ya, bang?”
“Ngga usah kepo.”
“Ish.. aku bisa bantu tau.”
“Bantu apa? Bantu ngerecokin?”
“Lihat aja. Aku bakal dapat informasi yang berguna.”
Tamar tak bisa mencegah gadis itu pergi untuk membantunya mendapatkan informasi seputar kasus yang ditanganinya kini. Dia hanya terpaku di tempatnya, sambil berpikir bagaimana caranya melepaskan diri dari gadis tersebut.
Stella berjalan melihat-lihat lokasi di sekitar TKP. Dia mengandalkan instingnya untuk mencari saksi yang benar-benar berguna. Suzy yang tadi sempat menghilang saat Stella berbicara dengan Tamar kembali datang.
__ADS_1
“Suzy.. lo lihat-llihat sekitar. Kira-kira ada yang aneh ngga di sekitar ini. Orang kek atau bukti yang mungkin dibuang. Harus dapet, taruhannya nama baik gue di depan tuh polisi songong.”
“Ok.”
Suzy langsung menghilang kembali. Stella melanjutkan pencariannya. Walau pun dia bingung sendiri tengah mencari apa. Karena lelah, dia mendudukkan diri di bangku yang terbuat dari bambu. Di sana ada seorang wanita tua yang juga duduk sambil menatap ke arah kerumunan.
“Kasihan..” ujar sang nenek.
“Apanya nek yang kasihan?”
“Itu korbannya. Dia sudah tidak berdaya tapi terus dipukuli dan ditusuk perutnya.”
“Hah? Nenek tau dari mana?”
“Nenek lihat sendiri.”
“Serius?”
Melihat anggukan kepala nenek tersebut, Stella jadi bersemangat. Dia langsung mengambil ponselnya kemudian menghubungi Tamar, meminta polisi tersebut ke tempatnya berada sekarang. Gadis itu kembali bertanya pada sang nenek.
“Nenek tau yang bunuh siapa?”
“Nenek lihat mukanya.”
“Masa?”
“Iya. Kamu bisa gambar? Nenek akan sebutkan ciri-cirinya.”
“Sebentar.”
Dengan penuh percaya diri Stella mengeluarkan kertas dan pensil dari dalam tasnya. Dia meminta sang nenek untuk mengatakan ciri-ciri pembunuh tersebut. Tangannya bergerak menggambarkan apa yang dikatakan sang nenek. Tamar yang baru saja datang memilih diam dan mendengarkan saja apa yang dikatakan saksi yang ditemukan oleh Stella.
“Sudah?” tanya sang nenek.
“Euung… sudah nek.”
“Mana? Mau nenek lihat?”
Melihat cengiran aneh Stella, Tamar segera mengambil kertas dari tangan gadis itu. Matanya membulat melihat hasil gambar yang dibuat oleh Stella.
“Yaa.. gambar apa ini?”
“Sssttt..” Stella menaruh jari di depan mulutnya.
Sang nenek yang sudah bersusah payah mendeskripsikan pelaku pembunuhan, hanya diam memperhatikan Stella dan Tamar yang tengah berdebat. Tamar segera mendekati sang nenek untuk memastikan apakah dia saksi yang benar.
“Nenek lihat kejadian dari mana?”
“Dari situ. Nenek kalau malam tidur di situ.”
Nenek itu menunjuk bangunan semi permanen yang ada di lahan kosong yang ada di samping rumah yang cukup besar. Rupanya di sana sang nenek tinggal. Semalam, dia terbangun ketika mendengar suara-suara aneh dari luar. Nenek itu mengintip dari jendela rumahnya.
“Kejadiannya jam berapa?”
“Nenek ngga tahu. Yang pasti sudah malam. Mungkin di atas jam dua.”
"Nenek bisa melihat dengan jelas? Kalau malam pasti sulit sekali melihatnya," tanya Tamar curiga.
"Kejadian awal di dekat lampu jalan. Jadi nenek bisa lihat wajahnya."
“Nenek mau ikut ke kantor polisi? Kita perlu membuat sketsa pelaku pembunuhan.”
“Loh bukannya nona itu sudah buat?” tangannya menunjuk pada Stella.
“Ehem.. gambarnya kurang jelas. Biar yang professional saja yang mengerjakannya.”
“Oh begitu.”
“Nenek bisa ikut saya sekarang?”
Kepala nenek itu hanya mengangguk. Tamar segera membawa saksi ke kantornya. Stella dengan cepat mengikuti langkah polisi tersebut. Setelah memasukkan nenek ke dalam mobil, Tamar berbalik melihat pada Stella. Dia menaruh telunjuk ke kepala Stella lalu mendorongnya ke belakang.
“Lebih baik kamu pulang.”
Tanpa mengatakan apapun lagi, Tamar segera masuk ke dalam mobil kemudian membawa kendaraan roda empat tersebut pergi dari sana. Stella menghentak kakinya dengan kesal. Lagi-lagi dirinya dibuang setelah berhasil mendapatkan saksi penting.
“Dasar polisi rese. Lihat aja, gue bakal bikin hidup lo merana. Gue tempel terus lo kaya perangko.”
Stella berlari menuju tempat di mana mobilnya terparkir. Gadis itu segera memacu kendaraannya menuju kantor bareskrim, kantor Tamar bertugas. Dia yang sudah menemukan saksi, jadi dia juga harus tahu perkembangan kasus tersebut.
🍁🍁🍁
**Tamar oh Tamar, hidupmu mulai kisut sekarang😂
Maaf ya baru up sore. Mendadak kepalaku pusing dan cuma bisa nyungsep di kasur🙏**
__ADS_1