
“Firhan!!”
Dayana berteriak kencang saat sang adik mengambil pasta di tangannya tanpa permisi. Tanpa merasa berdosa sedikit pun, pemuda itu langsung pergi meninggalkan Dayana yang masih misah-misuh. Rafa yang sedang berada di dekat di stall pasta, mengambil makanan khas Italia tersebut. Pria itu kemudian mendekati Dayana.
“Ini,” Rafa menyerahkan piring berisi pasta pada Dayana.
“Eh.. makasih, dok.”
“Kita makan di sana aja.”
Tangan Rafa menunjuk meja yang tak jauh dari mereka. Dayana menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti langkah dokter tampan tersebut. Dayana melihat piring yang diletakkan Rafa. Rupanya pria itu mengambil lasagna.
“Dokter ternyata suka lasagna, ya.”
“Lumayan. And please don’t call me doctor, kita lagi ngga di rumah sakit.”
“Terus aku harus panggil apa?”
“Panggil namaku aja.”
“Ngga sopan. Aku panggil mas Rafa, boleh ngga?”
“Silahkan.”
Senyum terbit di wajah Dayana. Mimpi apa gadis itu semalam bisa duduk berduaan sambil menikmati makanan bersama dengan Rafa. Sambil menikmati pastanya, Dayana mengajak Rafa berbincang.
“Mas Rafa suka makanan Italia?”
“Ngga juga. Aku lebih suka makanan nusantara.”
“Apa tuh contohnya?”
“Semur daging, perkedel kentang. Hampir semua masakan nusantara aku suka.”
“Oh gitu.. kapan-kapan aku bikinin deh.”
“Kamu bisa masak?”
“Bisa dong. Ya walau rasanya masih dipertanyakan hehehe…”
Senyum manis Rafa langsung tercetak mendengar ucapan Dayana. Sepertinya Dayana harus mengucapkan terima kasih pada Firhan. Karena kejahilan adiknya, dia bisa makan berdua dengan Rafa. Tanpa gadis itu sadari, sebenarnya apa yang dilakukan Firhan adalah instruksi dari Abi yang melihat Rafa ada di dekat stall pasta.
“Lihat, Vin.. kamu kalau mau jodohin Aya, harus cerdas kaya aku. Buktinya Irzal sama Arsy bakal nikah bulan depan.”
“Kamu kan otak liciknya ngga ada lawan. Pake acara jebakan sama maksa.”
“Yang penting hasilnya.”
“Aku ngga mau ya, cucuku dijebak-jebak kaya gitu.”
“Aya juga cucuku kalau kamu lupa.”
Kevin mengarahkan pandangannya pada Dayana dan Rafa lagi. Percuma saja berdebat dengan Abi, dirinya tidak akan pernah menang. Namun dalam hatinya tersenyum, bon cabe level maksimum bisa membuat cucunya berada satu meja dengan Rafa. Bahkan mereka sudah terlibat perbincangan seru sepertinya.
“Kegiatan kamu apa sekarang?”
“Lagi menikmati masa-masa jadi pengangguran. Udah ada rencana lanjut kuliah, sih. Tapi masih lama, masih tiga bulan lagi. Jadi sekarang senang-senang aja dulu, refreshing.”
“Kamu kuliah jurusan apa?”
“Manajemen bisnis.”
“Hmm… bagus itu. Kalau kerja tinggal pilih mau di mana kan? Hahaha…”
“Muji apa nyindir nih? Hehehe… ya biar pun aku bisa masuk ke perusahaan mana pun, tetap aja seleksinya seperti orang lain.”
“Masa sih?”
“Iya. Papa Ken itu selektif orangnya. Biarpun keluarga tapi kalo ngga kompeten, tetap aja harus ngerintis dari nol. Papa juga gitu, om Erza, om Barra, om Ikal, sama semua. Jadi, aku mau kuliah dulu, sambil belajar dikit-dikit biar pas kerja ngga malu-maluin, hihihi… tapi kalau ada yang mau jadiin aku ibu rumah tangga, dengan senang hati kuterima.”
Kembali tawa Dayana terdengar saat melontarkan kalimat terakhir. Rafa juga ikut tersenyum mendengarnya. Menurutnya sosok Dayana itu gadis yang supel, cerdas dan enak diajak bicara. Berbanding terbalik dengan istrinya yang pendiam dan pemalu.
“Kamu mau aku kenalkan dengan Daffa?”
“Ngga perlu, mas. Aku udah kenal kok. Bentar lagi juga keluargaku besanan sama keluarganya.”
“Oh ya? Siapa yang mau nikah?”
“Arsy sama bang Irzal.”
“Irzal? Hahaha… ngga nyangka dia bakal nikah cepat.”
“Ngga nyangka ya, mas. Es kering modelan dia cepat nikah, hahaha..”
“Es kering, astaga.. hahaha…”
Rafa tak bisa menahan tawanya mendengar julukan Irzal, salah satu pemegang saham di rumah sakit tempatnya bekerja. Julukan es kering memang sudah melekat pada pria itu. Sang pencetus ide sekaligus humas yang mempromosikan panggilan tersebut, tak lain adalah Stella.
“Kalau aku sih maunya yang kaya mas Rafa, bisa ngga ya?”
__ADS_1
Uhuk.. uhuk…
Rafa langsung terbatuk mendengarnya. Dayana berdiri untuk mengambilkan minuman lalu memberikannya pada Rafa. Gadis itu kembali duduk di samping Rafa. Memperhatikan bagaimana pria itu akan bereaksi dengan ucapannya tadi.
“Ngga apa-apa kan, mas?”
“Apanya?”
“Itu.. tadi keselek atau gimana?”
“Oh.. eh.. hehehe… ngga apa-apa. Cuma kaget aja dengar omongan kamu.”
“Biasa aja, mas. Namanya juga keinginan. Nih, tiap di sepertiga malam aku selalu bangun terus berdoa semoga jodoh aku itu mas Rafa, hehehe…”
“Hahaha.. bisa aja kamu.”
Suara tawa Rafa terdengar hambar. Dia sungguh tidak mengira kalau Dayana akan bersikap agresif seperti ini. Sepertinya dia harus menjaga jarak dengan gadis itu karena tidak ingin memberikan harapan palsu padanya. Hati Rafa saat ini masih dipenuhi kenangan sang istri.
🍁🍁🍁
Malam menjelang, kemeriahan pesta pernikahan sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Kini kedua pengantin sudah berada di kamar pengantin. Aqeel yang sudah membersihkan diri, duduk di ruang depan sambil menonton tayangan televisi. Sedang Iza tengah berganti pakaian di ruang tidur.
Beberapa kali Iza menarik nafas panjang ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Pakaian tidur yang dikenakannya masih sopan, dengan lengan tiga perempat dan panjang sampai ke lutut. Bahannya juga tidak transparan, warnanya putih dan masih bisa menutup tubuhnya dengan baik.
Namun begitu, ini pertama kalinya dia berpakaian terbuka di hadapan Aqeel. Dikarenakan semua anak Yunda dan Reyhan adalah laki-laki, dia senantiasa mengenakan pakaian tertutup walau di dalam rumah. Dan kini, dia akan menunjukkan dirinya yang tidak tertutup hijab, dengan pakaian yang cukup terbuka.
Dengan langkah pelan, Ia keluar dari ruang tidur. Dari pintu kamar, dia bisa melihat Aqeel yang duduk santai di sofa. Pria itu sama sekali belum menyadari kehadiran Iza. Sambil mengucap basmalah di dalam hati, Iza mendekati Aqeel. Gadis itu berhenti di dekat sofa.
Mata Aqeel langsung teralihkan dari televisi begitu menyadari kehadiran gadis yang sekarang sudah sah menjadi istrinya. jantungnya berdegup kencang melihat Iza yang tidak mengenakan pakaian tertutup seperti biasanya. Rambut hitamnya dibiarkan tergerak sampai ke punggung.
“Bang..” panggil Iza pelan.
“Kamu cantik banget, Za. Dengan atau tanpa hijab, tetap cantik. Aku beruntung memilikimu.”
Perlahan Aqeel bangun dari duduknya. Dia meraih tangan Iza, kemudian mengajaknya duduk di sofa. Matanya terus menatap wajah Iza tanpa berkedip. Sebelah tangannya membelai rambut Iza. Bukan hanya Aqeel, tapi jantung Iza pun tak kalah cepat detaknya. Pipinya memerah ketika Aqeel mengusap lembut wajahnya.
Mata Iza menutup ketika Aqeel mendekatkan wajahnya kemudian mengecup bibirnya. Nyawa Iza serasa melayang ketika merasakan sapuan lembut bibir Aqeel. Mendapatkan sentuhan pertama dari lelaki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya, membuat Iza seperti kehilangan separuh jiwanya.
“Kamu mau bulan madu kemana?” tanya Aqeel.
“Terserah abang aja.”
“Tapi kayanya kita ngga bisa bulan madu terlalu jauh. Kamu tahu sendiri pekerjaanku seperti apa.”
“Iya, bang. Kemana aja abang mengajakku, aku sudah senang.”
Aqeel beringsut mendekati Iza, sebelah tangannya kini sudah melingkar di pinggang gadis itu. Posisi keduanya semakin dekat saja. Iza memberanikan diri membelai rahang suaminya. Kembali Aqeel mencium bibir Iza, kali ini dengan durasi yang lebih lama. Dia sudah berani menyesap dan ******* bibir Iza, namun istrinya itu masih belum membalasnya. Iza masih belum tahu bagaimana membalas ciuman suaminya.
“Bo.. boleh, bang.”
Jantung Iza semakin berdegup kencang ketika Aqeel menarik tangannya menuju ruang tidur. Dia semakin gelisah menatap ranjang berukuran king size, tempatnya tidur bersama dengan Aqeel. Iza mendudukkan diri di sisi ranjang, sedang Aqeel sudah naik ke atas ranjang.
“Za.. ayo tidur.”
“I… iya, bang.”
Dengan gerakan sangat pelan seperti slow motion, Iza membaringkan tubuhnya di kasur. Gadis itu menahan nafasnya ketika Aqeel mendekatinya. Wajah suaminya itu berada begitu dekat padanya. Bahkan dia bisa merasakan hembusan nafas Aqeel di wajahnya.
“Kalau kamu belum siap, kita bisa melakukannya nanti. Sekarang kamu tidur aja.”
“A.. abang ngga marah? I.. itu kan hak abang.”
“Aku mau melakukannya kalau kamu sudah siap.”
“A.. aku u.. udah siap kok.”
“Benar?” tanya Aqeel memastikan, dan Iza menjawabnya dengan anggukan.
“Kalau begitu cium aku kalau kamu sudah siap.”
Mata Iza membulat, wajahnya memerah. Jangankan mencium, dicium saja jantungnya sudah berdebar tak karuan. Untuk sesaat gadis itu hanya diam sambil terus memandangi Aqeel. Senyum tercetak di wajah Aqeel. Sudah bisa ditebak kalau istrinya masih malu dan belum siap melakukannya.
Baru saja Aqeel hendak menjauhkan tubuhnya, tiba-tiba tangan Iza menahannya. Kemudian dengan mengumpulkan semua keberaniannya, dia mencium pipi Aqeel. Untuk sejenak Aqeel hanya terpaku. Tak percaya sang istrinya yang pemalu mau juga menjawab tantangannya. Pria itu memposisikan tubuhnya di atas Iza. Wajah sang istri terlihat merah seperti udang rebus.
“Tantangan diterima, ngga bisa ditarik lagi, ya.”
“Iya,” jawab Iza dengan wajah memerah.
Aqeel kembali menyatukan bibir mereka. Dia melakukannya dengan lembut seraya membimbing Iza untuk membalas ciumannya. Perlahan gadis itu bisa juga membalas ciuman Aqeel. Kedua tangannya meremat kaos yang dikenakan suaminya ketika Aqeel mulai membuka kancing baju tidur yang dikenakannya.
Iza hanya mampu memejamkan matanya ketika Aqeel mulai memberikan kenikmatan dunia padanya. Beberapa kali wanita itu tak kuasa menahan suara des*hannya, saat dihantam sensasi yang baru pertama kali dirasakannya. Permainan Aqeel yang lembut dan tak terburu-buru, sedikit mengurangi rasa nyeri yang tadi mendera. Bahkan kini dia sudah bisa menikmatinya.
Tubuh Iza bergetar ketika gelombang hangat menghantamnya. Tulang-tulang di tubuhnya seperti ditarik keluar dari tubuhnya. Nafasnya terdengar memburu, dan keringat membasahi keningnya. Aqeel menjeda sejenak setelah sang istri sudah sampai pada puncaknya. Kini hanya tinggal dirinya yang masih menuju puncak surgawi.
Pelukan di punggung lembab Aqeel semakin erat ketika Iza kembali mendapatkan pelepasannya. Nafasnya semakin terengah ketika Aqeel tak memperlambat temponya. Dia baru berhenti ketika tujuannya sudah sampai. Sambil memeluk tubuh Iza dengan erat, pria itu menembakkan lahar panas ke rahim sang istri.
“Terima kasih, sayang,” ujar Aqeel seraya menciumi wajah Iza yang bersimbah keringat. Wanita itu hanya mengangguk saja seraya melemparkan senyuman.
Udara dingin yang berasal dari air conditioner perlahan mulai mengikis keringat di tubuh pengantin baru itu. Aqeel bangun kemudian memakai kembali pakaiannya. Dia lalu membantu Iza memakai baju tidurnya dan membopong wanita itu menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Di sela-sela jam kerjanya, Irzal menyempatkan diri mengunjungi kantor L’amour. Rain sengaja memanggil calon pengantin ke kantornya untuk membicarakan konsep pernikahan. Waktu mereka untuk menyiapkan pesta hanya tinggal tiga minggu lagi. Sebenarnya Irzal dan Arsy sudah menyerahkan urusan pernikahan pada Rain. Tapi wanita itu tetap ingin mendengar pendapat kliennya.
“Ini konsep buat pernikahan kalian udah mama susun ya. Dari dekor, makanan, make up, pakaian pengantin, sampai run down acaranya. Untuk undangan, coba kalian pilih, mana yang cocok.”
Rain menyerahkan katalog berisi contoh kartu undangan. Irzal melihat sejenak, kemudian memberikannya pada Arsy. Menyerahkan semuanya pada gadis itu, karena dia sendiri tidak begitu peduli dengan desain undangan.
“Ya ini bagus, tante.”
Arsy menunjuk pada undangan dengan warna maroon dan gold. Rain mengambil katalog di tangan Arsy. Dia melihat pada Irzal, dan keponakannya itu hanya mengangguk saja. Setelah menandai undangan, dia lalu memperlihatkan deretan gaun pengantin.
“Ini koleksi gaun pengantin dan tuxedo dari butik mama Al. Kamu pilih mana yang kamu suka, nanti mama Ily yang eksekusi.”
Lagi-lagi Irzal menyerahkannya pada Arsy. Untuk gaun pengantin, Arsy cukup bersemangat melakukannya. Dia cukup bingung harus menjatuhkan pilihan kemana. Semua gaun terlihat cantik dan elegan. Akhirnya Arsy menanyakan pendapat Irzal.
“Bagus yang mana?”
“Serius nanya sama aku?” jawab Irzal sekenanya. Rain hanya menggelengkan kepalanya saja. Ingin rasanya dia menggetok kepala keponakannya ini.
“Minta pendapat aja. Yang ini gimana?”
“Jangan. Terlalu terbuka.”
“Ini?”
“Dadanya kerendahan. Senang ya auratnya dilihatin ke laki-laki lain?”
Mata Arsy mendelik mendengar jawaban Irzal. Dia lalu menunjukkan koleksi lain. Gaun dengan lengan panjang dan panjang gaun menjuntai sampai menyentuh lantai.
“Yakin mau pake itu? Nanti kalau gaunnya keinjek, terus kamu jatuh aku ngga mau nolong.”
“Astaga!”
Dengan kesal Rain memukul kepala Irzal dengan pulpen di tangannya. Dia sudah tidak tahan melihat Irzal yang bersikap menyebalkan di matanya. Mata Irzal membelalak mendapat serangan dadakan dari mertua sang kakak.
“Yang ini gimana?”
Tangan Arsy menunjuk gaun warna putih gading yang tidak sampai panjang menjuntai. Modelnya juga sopan, bisa menutupi tubuh Arsy dengan baik.
“Ya, itu bagus.”
“Tuxedonya mau yang mana?” tanya Arsy lagi seraya menyerahkan katalog di tangannya.
“Kamu aja yang pilih.”
“Yakin? Kalau aku pilihin kamu pake tuxedo tapi bawahnya bokser mau?”
“Boleh kalau kamu ngga malu,” jawab Irzal cuek.
“Tante….”
Arsy merajuk pada Rain, dia sudah sangat kesal pada calon suaminya itu. Rain tak kuasa menahan tawanya. Dia mengambil katalog dari Arsy, kemudian memilihkan salah satu tuxedo yang dirasa cocok dengan Irzal. Pria itu hanya mengangguk saja ketika Rain memperlihatkannya.
“Soal makanan gimana? Mau test food dulu ngga?”
“Ngga usah. Kan cateringnya om Gavin yang nanganin. Bener ngga ma?” tanya Irzal.
“Iya.”
“Aku percaya sama om Gavin. Kaya nikahan bang Aqeel kan?”
“Iya. Kamu, Arsy?”
“Kalau mas Irzal udah oke, ya aku manut aja.”
“Ok.. dua minggu lagi kalian fitting baju pengantin ya. Untuk akad, pake baju adat Sunda kan? Sekalian nanti fittingnya.”
“Udah beres, ma?”
“Udah.”
“Aku balik kantor, ya. Ar.. kamu masih mau di sini atau pulang?”
“Ikut pulang aja.”
Keduanya berdiri kemudian berpamitan pada Rain. Arsy yang baru saja selesai shift malam memang menunggu Irzal untuk menjemputnya dan membawanya ke kantor L’amour. Kini pria itu akan mengantarkan Arsy ke rumahnya.
“Beli cincin nikahnya kapan?” tanya Arsy.
“Terserah. Atau kamu aja yang beli, aku ikut aja pilihan kamu.”
“Ini pernikahan kita, ya. Masa semua kamu serahin ke aku sih,” kesal Arsy.
“Ya udah. Nanti aja pas libur kita belinya.”
Suasana di dalam mobil kembali sunyi. Mengurus pernikahan dengan Irzal susah-susah gampang. Beberapa kali mereka kerap terlibat pertengkaran yang tak penting. Irzal yang terlihat ogah-ogahan dan menyerahkan semuanya pada Arsy. Dan Arsy yang kesal, karena seperti mengurus pernikahan sendiri. Namun dengan cepat keduanya kembali akur. Beberapa kali Irzal akhirnya mengalah walau harus melalui perdebatan lebih dulu.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Berharap reviewnya ngga lama. Entah kenapa novel ini dimasukin ke kategori TEEN. Aku jadi susah mau bikin adegan pemersatu bangsa🤭