
Pukul sembilan malam Renata masih berada di kantor, membereskan pekerjaan yang diberikan padanya. Dikarenakan Rakan sakit, wanita itu terpaksa harus menghandle pekerjaan sang atasan. Zaki, asisten Rakan juga tak kalah sibuk. Bersama dengan Renata, mereka bekerja sama membereskan pekerjaan.
Zaki keluar dari ruangannya kemudian menuju meja yang ditempati Renata. Nampak wanita itu baru saja selesai mengeprint berkas yang tadi dikerjakan bersama Zaki. Setelah menyusunnya, dia memasukkan ke dalam map.
“Sudah beres?” tanya Zaki.
“Sudah semua. Besok begitu pak Rakan masuk, hanya tinggal tanda tangan.”
“Ok, sip. Thanks ya, Ren.”
“Sama-sama.”
“Ayo pulang sekarang, udah malem,” ajak Zaki.
“Ok, bentar.”
Renata membawa beberapa map yang baru saja diselesaikannya tadi ke dalam ruangan Rakan lalu menaruhnya di atas meja. Setelahnya dia keluar dan tak lupa mengunci ruangan sang atasan. Wanita itu mengambil tasnya, kemudian bersama dengan Zaki meninggalkan lantai lima belas tersebut.
Sesampainya di basement, keduanya berpisah dan menuju kendaraannya masing-masing. Jojo memang memberikan Renata kendaraan sendiri untuk memudahkan aktivitasnya dan tidak tergantung pada supir. Namun begitu dia tetap meminta salah satu pengawal keluarga Hikmat untuk terus menjaganya dari kejauhan.
Perlahan mobil yang dikendarai Renata keluar dari area basement. Wanita itu langsung mengarahkan kendaraannya menuju kediaman Jojo. Di pertengahan jalan, dia membelokkan kendaraan ke pom bensin. Selain untuk mengisi bahan bakar, Renata juga ingin membuang hajat.
Terlebih dulu wanita itu memarkirkan kendaraannya di depan toilet yang ada di SPBU tersebut. Bergegas dia menuju toilet yang ada di sisi kanannya. Setelah beberapa saat Renata selesai menuntaskan hajatnya. Ketika dia keluar dari toilet wanita, dari arah toilet pria keluar seorang laki-laki. Mata pria itu langsung melihat pada Renata.
“Rena..” panggilnya dengan suara pelan.
Mendengar namanya dipanggil, Renata menolehkan kepalanya pada sang pemilik suara. Dia terkejut melihat pria yang baru saja memanggilnya adalah salah satu orang yang sudah menghancurkan hidupnya.
Seringai di wajah Abbas muncul melihat Renata ada di hadapannya. Dengan langkah pelan pria itu mendekati Renata. Apalagi di keadaan di sekelilingnya sepi dan membuatnya leluasa untuk mendekati wanita itu. Melihat Abbas yang mendekat padanya, Renata refleks berjalan mundur. Kenangan buruk bersama pria itu kembali muncul ke permukaan dan membuatnya takut.
“Lihat siapa yang kutemukan. Rena… ternyata kamu masih hidup..”
“Mau apa kamu?” tanya Renata sambil terus berjalan mundur.
“Bagaimana kalau kita mengulang masa indah kita, sayang.”
Dengan cepat Abbas bergerak mendekati Renata, bermaksud menyergapnya. Renata segera menghindar, melihat bahaya yang datang, wanita itu refleks mengarahkan kakinya ke arah Abbs untuk melindungi diri. Abbas jatuh terduduk sambil mengerang kesakitan ketika tendangan Renata mengenai juniornya.
“Aaaarrrgghhh.. Rena brengsek!!”
Renata segera pergi dari area toilet untuk mencari pertolongan. Abbas berusaha bangun untuk mengejar wanita itu. Seorang pengawal yang ditugaskan menjaga Renata langsung bergerak ketika melihat sesuatu yang mencurigakan. Dia berlari menuju Renata. Abbas yang menyadari hal itu memilih menuju mobilnya dan melarikan diri.
“Mba Rena ngga apa-apa?” tanya sang pengawal.
“I.. iya.. i.. itu ada Abbas.”
“Mba Rena pulang aja, biar saya yang urus Abbas.”
Pria tersebut segera kembali ke sepeda motornya dan mengejar mobil yang dikendarai Abbas. Renata buru-buru masuk ke dalam mobilnya. Untuk beberapa saat wanita itu terdiam di dalam mobil untuk menetralkan degup jantungnya. Pertemuan dengan Abbas cukup mengguncang jiwanya. Apalagi pertemuan mereka terjadi di tempat yang cukup sepi.
Setelah kondisinya sedikit tenang, Renata mulai menjalankan kendaraannya. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, ingin segera sampai di rumah. Sepuluh menit kemudian, Renata sampai di kediaman Jojo. Wanita itu bergegas masuk ke dalam rumah. Barra yang masih berada di ruang tengah terkejut melihat Renata datang dengan wajah pucatnya.
“Rena.. kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Barra.
“Papa..”
Langkah Renata terhenti melihat Barra. Sejak tinggal bersama dengan Jojo, Barra dan Hanna memang meminta Renata memanggil mereka dengan sebutan papa dan mama. Barra mendekati Renata kemudian mengajaknya duduk di ruang makan. Dia mengambil minuman untuk anak angkatnya itu.
“Kamu kenapa?”
“Ta.. tadi aku bertemu Abbas, pa.”
“Abbas? Di mana?”
“Di pom bensin, waktu aku ke toilet. Dia juga baru keluar dari toilet.”
“Apa dia berbuat sesuatu padamu?”
“Di.. dia berusaha menyakitiku, pa. Tapi aku berhasil lolos dan sekarang bang Pijar sedang mengejarnya.”
“Kurang ajar anak itu tidak ada kapoknya. Ya sudah kamu masuk ke kamar dan istirahat aja.”
“Iya, pa.”
Renata bangun dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamar. Untuk sesaat dia hanya terduduk di tepi ranjang. Kejadian tadi masih mengguncang jiwanya. Bayang-bayang perbuatan Abbas dan kawan-kawannya kembali muncul ke permukaan.
Kamu harus kuat, Rena. Kamu bukan perempuan lemah lagi. Ada banyak orang yang mendukungmu dan melindungimu. Kamu harus kuat. Jangan ingat-ingat lagi masa suram itu. Lupakan dan lanjutkan hidupmu.
Renata terus memotivasi dirinya. Setelah keadaan dirinya tenang, dia bangun dari duduknya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu Barra langsung menghubungi Zar setelah mendengar cerita dari Renata. Seperti halnya Barra, Zar juga terkejut mengetahui Abbas bertemu dengan Renata di tempat yang tidak terduga. Pria itu berjanji akan langsung melacak keberadaan Abbas. Besok dia juga akan menjemput Renata sebelum berangkat ke kantor.
🍁🍁🍁
“Zar..” panggil Renata ketika wanita itu baru selesai bersiap untuk bekerja.
Seperti yang dikatakan pada Barra semalam, Zar memang sengaja datang ke kediaman Jojo untuk menjemput Renata. Dia yang akan mengantar dan menjemput Renata ke tempat kerjanya. Setelah kejadian semalam, pria itu tak ingin mengambil resiko kejadian serupa menimpa wanita yang dicintainya.
“Udah siap?” tanya Zar.
__ADS_1
“Iya, kenapa?”
“Mulai hari ini aku yang bakalan antar jemput kamu.”
“Ngga usah, Zar. Kamu pasti sibuk dengan pekerjaanmu.”
“Ngga ada penolakan ya, Ren. Aku ngga mau kejadian semalam terulang. Untung aja ada bang Pijar yang ngawasin kamu, coba kalau ngga.”
“Tapi..”
“Ngga ada tapi. Ayo..”
Tanpa menunggu jawaban Renata, Zar segera menarik tangan wanita itu. Namun langkah mereka terhenti ketika melihat Pijar datang bersama dengan Duta. Zar memilih berbicara sebentar dengan Duta dan Pijar. Mereka datang pasti ingin memberikan laporan tentang Abbas.
“Bagaimana Abbas?” tanya Zar.
“Maaf, bos. Dia berhasil lolos semalam.”
“Brengsek!”
“Berdasarkan penyelidikan, dia ternyata sering mendatangi hotel Sakura satu minggu sekali. Tadi malam juga dia baru pulang dari hotel itu,” ujar Dion.
“Ngapain dia di sana?”
“Menyewa jasa wanita penghibur. Dia tidak bisa melakukan itu di tempat persembunyian, makanya dia sering berkunjung ke hotel itu. Tapi karena kejadian semalam, om yakin dia ngga akan datang dalam waktu dekat.”
“Tolong terus awasi, om. Orang-orang kita di gank margarita masih aman, kan?”
“Aman. Mereka masih mencari kelemahan gank tersebut. Kamu tenang aja. Cepat atau lambat, kita akan menangkap Abbas dan Richie.”
“Ok, om. Makasih untuk bantuannya. Aku mau antar Rena dulu.”
Dion hanya menganggukkan kepalanya. Zar berdiri kemudian mengajak Renata untuk pergi. Dion dan Pijar juga tak berlama-lama. Keduanya juga langsung pergi setelah kendaraan Zar meninggalkan kediaman Jojo.
Selama perjalanan, Renata hanya diam saja. Dia tengah memikirkan apa yang tadi disampaikan oleh Dion. Selama ini Abbas bisa keluar masuk dari persembunyiannya dengan bebas. Sepertinya pengawal yang disusupkan keluarga Hikmat sengaja ingin mengulur waktu supaya pria itu nyaman dan menunggunya lengah. Namun sialnya kemarin Abbas bertemu dengannya dan dikejar oleh Pijar. Renata yakin kalau Abbas akan lebih berhati-hati sekarang.
“Apa yang kamu pikirkan?” pertanyaan Zar berhasil menarik kesadaran Renata.
“Aku.. lagi mikirin Abbas. Sepertinya walau berada dalam persembunyian, laki-laki itu masih tidak bisa menahan n*fsunya.”
“Kalau sudah kecanduan emang susah.”
“Bagaimana kalau kita jebak dengan tawaran menggiurkan soal hubungan,” tiba-tiba saja Renata memiliki ide untuk menangkap Abbas.
“Tawaran gimana?”
“Bisa aja tapi timingnya ngga pas kalau sekarang. Apalagi Yuke dan Daus juga tertangkap karena jebakan.”
“Kita kasih jeda satu minggu, bagaimana?”
“Hmm.. boleh juga. Aku bakalan cari cewek yang pas buat mancing dia.”
Renata hanya menganggukkan kepalanya saja tanda menyetujui usulan Zar. Dia ingin cepat-cepat menangkap Abbas dan memberinya hukuman setimpal pada pria itu. Ketakutan yang sempat menyergapnya kemarin kini sudah berganti dengan keinginan untuk menangkap salah satu orang yang sudah menghancurkan hidupnya. Di saat dirinya berjuang memulihkan diri, Abbas justru bersenang-senang, ini tidaklah adil untuknya. Karenanya dia bertekad menangkap Abbas dengan tangannya sendiri.
🍁🍁🍁
Tiga hari berselang, Diki memberi kabar pada Zar untuk segera menjalankan rencananya. Sudah dua hari ini dia memberikan obat perangsang dosis rendah untuk Abbas dalam minumannya. Walau masih takut tertangkap, tapi pria itu yakin Abbas pasti akan melakukan berbagai cara untuk menuntaskan hasratnya.
Dibantu dua orang wanita penghibur yang berhasil ditemukan Pijar, Zar mulai membuat iklan untuk memancing Abbas. Beberapa kali wanita yang disewa oleh Zar terus melakukan apa yang diminta lelaki itu. Setelah puas dengan hasilnya, dia segera menuju kantor Zar untuk memperlihatkannya pada Renata.
“Gimana, Ren?”
“Bagus, Zar. Langsung diupload aja.”
“Ok.”
Tanpa menunggu lama Zar langsung mengunggah iklan yang dibuatnya ke media sosial. Kini dia hanya tinggal menunggu Abbas memakan umpannya. Dan jika itu terjadi, dia sudah tidak sabar untuk memberikan hiasan lebam di wajah dan sekujur tubuh pria itu.
🍁🍁🍁
Abbas keluar dari kamarnya. Dia memanggil Diki untuk membuatkan minuman untuknya. Dengan cepat pria itu membuatkan minuman untuk Abbas dan tak lupa memberinya obat perangsang dalam minuman tersebut. Diki memilih duduk di dekat Abbas sambil mengawasi pria itu.
Tangan Diki bergerak mengambil ponselnya. Dia membuka media sosialnya dan langsung melihat iklan yang diunggah oleh Zar. Dia sengaja mengeraskan volume ponselnya demi menarik perhatian Abbas. Ternyata iklan tersebut juga memancing teman-temannya. Tiga orang anak buah gank margarita yang tengah bersamanya langsung mendekat.
Penasaran melihat empat orang di dekatnya yang seperti tengah asik melihat sesuatu, Abbas beringsut mendekat. Pria itu meneguk ludahnya kelat melihat iklan yang ditampilkan seorang wanita cantik. Dengan cepat dia merebut ponsel di tangan Diki kemudian menyaksikan iklan tersebut dari awal.
“Dicari pria kuat yang bisa memuaskan kami. Bisa main bertiga, bersama temanku ini. kalau minat, hubungi nomor ini.”
Wanita berwajah cantik itu mengucapkan kalimat lengkap dengan wajah menggodanya. Abbas menjilat bibir dengan lidahnya melihat dua orang wanita cantik tersebut. Langsung terbayang di pelupuk matanya bermain dengan dua wanita sekaligus. Sebuah permainan yang belum pernah dirasakannya.
Pria itu segera melakukan pemesanan melalui ponsel Diki, tentu saja membuat pria itu dan yang lainnya terkejut. Tak lama terdengar pesan balasan masuk ke ponsel Diki.
[Mau kapan dan di mana?]
[Malam ini jam 20.00, di hotel sakura kamar 805]
[DP nya dulu mas]
[Minta norek kamu]
__ADS_1
Tak berapa lama sebuah nomor rekening dari salah satu bank swasta muncul. Abbas mengambil ponselnya lalu mengirimkan sejumlah uang ke rekening tersebut. Setelah memberikan bukti transfer terdengar teriakan pria itu.
“YESS!!”
“Bos.. nanti kalau ketangkep gimana? Kalau anak buah Zar masih ngintai di tempat kemarin gimana?” tanya Diki pura-pura cemas.
“Makanya lo ikut gue. Jangan lupa kalian bertiga juga ikut. Tenang aja, nanti gue kasih kesempatan nyicip si cewek tadi. Mau ngga?”
“Wokeh!”
Jawab ketiga pria itu dengan kompak. Sambil bersiul Abbas masuk ke dalam kamar. Sebentar lagi ular cobranya bisa melepaskan bisanya yang sempat tertahan selama empat hari. Diam-diam Diki tersenyum, target sudah memakan umpannya. Pria itu bangun dari duduknya lalu menuju toilet. Dia perlu mengabarkan pada Zar agar pria itu bersiap dengan kedatangan Abbas bersama tiga orang pengawal gank margarita malam ini.
🍁🍁🍁
Wajah seorang wanita cantik langsung menyambut kedatangan Abbas. Diki dan yang lainnya diminta menunggu di depan kamar. Setelah Abbas masuk, dari kamar lain muncul seorang wanita yang tak kalah cantik dan seksi lalu menghampiri Diki dan yang lainnya.
“Mau main denganku, mas?” tawar wanita itu dengan nada sensual.
“Ngga, makasih,” jawab salah satu pengawal.
“Aku diminta mas Abbas melayani kalian.”
Mendengar nama Abbas, tentu saja ketiga pengawal itu langsung bersemangat. Mereka segera masuk dan meninggalkan Diki di depan berjaga seorang diri. Setelah masuk ke dalam kamar, wanita cantik itu memberikan minuman pada tiga orang di depannya sambil melepaskan pakaiannya satu per satu.
Begitu sang wanita melepaskan semua pakaian yang membalut tubuhnya. Di saat bersamaan, ketiga tubuh pria itu ambruk ke lantai. Dalam minuman mereka sudah diberikan obat tidur dosis tinggi. Wanita itu hanya tertawa kecil saja, dia memakai kembali pakaiannya lalu keluar dari kamar. Sebuah kedipan diberikan olehnya saat melintasi Diki.
Sementara itu di dalam kamar, Abbas tengah dilayani dua orang wanita cantik yang sudah dibookingnya. Salah seorang menuangkan minuman untuknya dan seorang lagi menari-nari dengan gerakan erotis di depannya.
“Sebenarnya ada satu orang lagi yang akan bergabung dengan kita. Kamu ngga keberatan kan kalau kita main foursome?”
“Perempuan atau laki-laki?” tanya Abbas waspada.
“Perempuan.”
“Boleh kalau perempuan.”
Seseorang yang bersama Abbas menepukkan tangannya. Dari dalam kamar mandi keluar seorang wanita mengenakan gaun panjang dan cadar yang menutupi wajahnya. Wanita itu mendekat lalu berhenti di depan Abbas. Perlahan dia membuka cadar yang menutupi wajahnya.
“Rena!” pekik Abbas terkejut.
“Halo Abbas..”
BUGH
Sebuah bogeman mendarat di wajah Abbas. Renata mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa sakit setelah melayangkan tinjunya ke wajah Abbas. Dua wanita yang bersama Abbas langsung menyingkir dan keluar dari kamar. Bersamaan dengan itu, Zar, Syarif dan Pijar masuk ke dalam kamar.
Pukulan beruntun langsung mengenai wajah dan tubuh Abbas. Syarif segera menghentikan Zar yang tak henti memberikan pukulan hingga wajah Abbas sudah tak berbentuk lagi. Darah mengalir dari mulut dan hidung pria itu. Pijar memposisikan Abbas berdiri dengan lututnya sambil menghadap pada Renata.
“Rena.. maafin gue…” ujar Abbas pelan. Perlahan Renata mendekat lalu berhenti tepat di depan Abbas.
“Itu kan yang mau lo dengar dari gue? Dasar cewek kampung! Mimpi aja lo! Hahaha…”
Zar yang hendak menghajar Abbas lagi segera ditahan oleh Renata. Wanita itu mengeluarkan suntikan dari dalam tasnya. Di dalam suntikan tersebut terdapat cairan yang entah berisi apa. Dia memberikan aba-aba pada Pijar dan Syarif untuk memegangi Abbas. Renata mendekati Abbas dengan jarum suntik di tangannya.
“A.. apa itu? Mau apa kamu Rena?!” tanya Abbas panik.
Tanpa menjawab pertanyaan Abbas, Rena langsung menancapkan jarum di tangannya ke lengan Abbas. Terdengar teriakan pria itu ketika Renata menyuntikkan cairan di dalam suntikan yang dipegangnya.
“Itu adalah plasma dari penderita HIV AIDS. Selamat Abbas, aku baru saja memberimu penyakit itu padamu.”
“Apa??!! DASAR GILA!! RENA!! TOLONG AKU.. TOLONG.. AKU NGGA MAU MATI. RENAAAAA!!”
“Bawa dia ke pulau Rinca. Suruh dia bekerja tanpa dibayar di sana. Dan jaga dia untuk tidak berinteraksi dengan orang kecuali komodo. Aku ngga mau dia menularkan penyakitnya pada orang lain,” titah Zar.
“Baik, bos!”
Pijar dan Syarif segera mengangkat tubuh Abbas hingga berdiri lalu membawanya paksa keluar dari kamar. Di koridor hotel Abbas melihat Diki yang tergeletak pura-pura pingsan. Dengan langkah tertatih Abbas mengikuti Pijar dan Syarif yang menyeretnya pergi. Diki langsung bangun ketika kedua temannya itu sudah membawa masuk Abbas ke dalam lift.
“Hapus semua rekaman cctv di hotel ini,” perintah Zar.
“Oke, bos.”
Bersama dengan Renata, Zar meninggalkan kamar hotel dan berjalan menuju lift. Sebuah senyuman tersungging di wajah Renata. Puas rasanya sudah membalaskan rasa sakit hatinya pada Abbas.
“Dari mana kamu dapat suntikan itu?” tanya Zar sambil menunggu lift.
“Dari Arsy. Dia juga yang mengajarkanku harus menyuntik di bagian mana.”
“Apa isinya?”
“Vitamin.”
“Hahaha…”
Renata sengaja mengatakan pada Abbas kalau cairan yang disuntikannya adalah plasma dari penderita HIV AIDS. Dia ingin membuat pria itu menderita karena menyangka terkena penyakit berbahaya. Zar mengusak puncak kepala Renata sambil melemparkan senyuman. Ketakutan Renata sudah berubah menjadi keberanian, dan dia bangga akan hal itu.
🍁🍁🍁
Sokooorrr Abbas... baek² ya ama neng dan akang komodo🤣
__ADS_1