Hate Is Love

Hate Is Love
Kisruh


__ADS_3

Rakan memarkirkan kendaraannya di depan Alea’s Butik. Hari ini mereka akan melakukan fitting pakaian pengantin. Bersama dengan Vanila, pria itu masuk ke dalam gedung berlantai tiga tersebut. Kedatangan mereka disambut oleh Firly. Untuk pernikahan keponakannya, dia langsung turun tangan menangani calon pengantin.


“Yangma..” panggil Rakan seraya mencium punggung tangan Firly.


Firly hanya melemparkan senyumnya saja. Walau usianya hanya beberapa tahun di atas Reyhan, wanita itu harus rela dipanggil eyang oleh Rakan. Yangma adalah singkatan dari eyang mama, panggilannya sepasang dengan Dimas yang biasa dipanggil Yangpa.


“Ini pasti Vanila,” ujar Firly.


“Panggil Ila aja.”


“Ok. Rakan, kamu langsung ke lantai dua. Pakaiannya sudah siap. Ila ikut Yangma.”


Firly segera mengajak Vanila memasuki salah satu ruangan yang ada di lantai dasar. Di sana sudah ada dua orang pegawai sudah menunggu untuk membantu gadis itu mencoba gaun pengantinnya. Mata Vanila memandangi gaun pengantin berwarna biru tersebut.



Sesuai permintaan, Firly menyiapkan gaun yang tidak terlalu panjang menjuntai. Dia segera membantu gadis itu berpakaian.


Setelah Vanila memakain gaunnya, Firly mengangkat rambut Vanila kemudian di gelung asal. Dia nampak puas dengan penampilan calon istri Rakan tersebut. Wanita itu mengajak Vanila naik ke lantai dua melalui lift yang ada di ruangan tersebut. Sambil mengangkat gaunnya, Vanila masuk ke dalam lift.


Sementara di lantai atas, Rakan juga tengah mencoba tuxedo yang dibuatkan untuknya. Dengan dibantu seorang pegawai pria, dia mencoba tuxedo dengan warna biru navy.



Sang pegawai membenarkan tuxedo yang dikenakan oleh Rakan. Sang calon pengantin pria terus memperhatikan penampilannya melalui cermin yang ada di sana. Setelah kehilangan tunangannya tiga tahun lalu, akhirnya dia bisa membuka hatinya lagi dan mempersunting Vanila.


Rakan menolehkan kepalanya begitu mendengar bunyi berdenting. Begitu pintu lift terbuka, pemandangan pertama yang dilihat adalah Vanila yang mengenakan gaun pengantin dengan warna senada. Untuk sesaat mata pria itu menatap tak berkedip pada calon pengantinnya itu.


“Rakan.. jangan bengong,” tegur Firly.


Teguran Firly sukses membuat wajah Rakan memerah. Vanila juga menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa malu yang menderanya. Bukan hanya Rakan, tapi dirinya juga terpana melihat calon suaminya yang terlihat tampan dan gagah dalam balutan tuxedo.


“Bagaimana Ila?”


“Cantik, Yangma pintar pilih gaunnya. Simple dan tertutup.”


Sudah menjadi kebiasaan di keluarga Ramadhan, para kaum prianya tidak suka melihat wanita yang dicintainya mengenakan pakaian yang terbuka apalagi yang mengumbar aurat. Akan lebih baik jika pasangan mereka menutup aurat, namun itu harus dilakukan dengan kesadaran masing-masing, bukan karena paksaan.


“Mau ada yang dirubah, ngga? Pakaianmu pas?” Firly melihat pada Rakan.


“Udah pas ukurannya.”


Firly mengangkat sebelah jempolnya. Untuk gaun yang dikenakan Vanila juga tidak ada perubahan. Berat badan calon mempelai wanita itu tetap stabil sejak awal dirinya melakukan pengukuran. Setelah tidak ada lagi perubahan yang akan dilakukan, Firly kembali mengajak Vanila kembali ke lantai dasar. Gadis itu kembali mencoba pakaian pengantin untuk akad nikah. Namun untuk pakaian ini, dia tidak perlu memperlihatkannya pada Rakan.


Usai melakukan fitting baju, Firly mengajak Rakan dan Vanila menuju lantai tiga. Di sana dia sudah menyiapkan minuman dingin dan juga camilan. Rakan mendudukkan diri di selasar yang ada di lantai tiga. Vanila menyusul duduk di sampingnya. Semilir angin sore menambah kesejukan di lantai tiga ini.


“Pernikahan kita tinggal seminggu lagi. Kamu udah putusin mau mahar apa?”


“Udah. Aku mau uang aja buat maharnya.”


“Berapa banyak.”


“1000 dolar dalam pecahan 10 dolar, dibuat buket.”


“Ok..”


Dengan cepat Rakan mengambil ponselnya lalu menghubungi asistennya. Dia meminta Refal, asistennya untuk menyiapkan uang sebanyak 1000 dolar dalam pecahan 10 dolar. Tak lupa dia meminta sang asisten untuk mengantarkannya ke Alea’s Butik agar bisa dirangkai sesuai permintaan calon istrinya.


“Bang.. soal kita yang akan tinggal terpisah selama sebulan, apa abang sudah bilang ke orang tua abang?”


“Belum. Rencananya malam ini. Kamu sendiri gimana?”


“Sama, belum juga. Aku juga mau ngobrol malam ini sama mama dan papa.”


“Kamu serius mau melakukan ini? Abang yakin pasti akan ada tentangan dari pihak keluarga. Abang cuma ngga mau kamu dipojokkan gara-gara permintaanmu ini.”


“Kan cuma sebulan, bang. Habis itu kita tinggal bareng seperti suami istri lainnya. Kita nanti tinggal di mana?”


“Abang udah beli rumah buat kita tinggal. Kita akan tinggal terpisah dari keluarga, supaya lebih mandiri aja.”


“Ok, bang.”

__ADS_1


Senyum tercetak di wajah Vanila. Dia cukup lega calon suaminya mau memenuhi permintaan nyelenehnya untuk tinggal terpisah selama sebulan setelah menikah. Semua itu demi memenuhi keinginannya ingin merasakan sensasi berpacaran seperti orang-orang pada umumnya. Masih tinggal terpisah dengan orang tua masing-masing, bukan pacaran setelah tinggal bersama.


“Habis dari sini kamu mau kemana?”


“Aku mau pulang aja, bang.”


“Ya udah kita pulang sekarang aja. Abang juga masih banyak kerjaan.”


Dengan cepat keduanya menghabiskan minuman, lalu berpamitan dengan Firly. Rakan membukakan pintu mobil untuk calon istrinya, baru kemudian naik ke belakang kemudi. Pria itu segera menjalankan kendaraannya menuju kediaman Juna, tempat di mana Vanila tinggal bersama kedua orang tuanya.


🍁🍁🍁


Usai makan malam, Reyhan bersama seluruh keluarga memilih berkumpul di halaman belakang sambil berbincang santai. Menjelang hari kelahiran, Iza dan Aqeel kembali tinggal di rumah orang tua. Ayunda tak ingin sang menantu tinggal sendirian di rumah mereka. Takut ketika sudah waktunya melahirkan, Aqeel sedang berada di rumah sakit.


Ayunda datang membawakan jus buah untuk anak dan suaminya. Dia meletakkan gelas di atas meja lalu mendudukkan diri di samping suaminya. Aqeel dan Iza memilih duduk bersama di ayunan. Tangan pria itu terus mengusap perut sang istri yang semakin membuncit saja.


“Menjelang HPL, sebaiknya kamu mengurangi kesibukan,” Ayunda melihat pada Aqeel.


“Iya, ma.”


“Sudah menyiapkan nama untuk anakmu?” sambung Reyhan.


“Udah, pa.”


“Aku ikut nyumbang nama, pa,” celetuk Daffa.


“Apa?”


“Kohar, hahaha…”


Aqeel mengepalkan tangannya ke arah sang adik. Dia tidak rela calon anaknya harus menyandang nama Kohar, tukang sayur di kompleks perumahan ini yang menjadi idola para asisten rumah tangga. Menurut sumber yang tidak dapat dipercaya, wajah mang Kohar itu mirip salah satu artis Bollywood legendaris, Amitabachan.


“Ma.. emang bener ya, mang Kohar mukanya kaya Amitabachan?” tanya Daffa.


“Mana mama tau. Kamu tanya aja sama Lilis. Dia yang sering belanja sama mang Kohar. Jam delapan dia udah siap di depan pintu, nunggu mang Kohar lewat.”


“Wah ngga nyangka Lilis penggemar mang Kohar, hahaha..”


Melihat suasana perbincangan yang santai, Rakan memutuskan untuk membicarakan soal permintaan Vanila. Dia berdehem sebentar sebelum memulai pembicaraan.


“Ehmm.. ma.. pa.. ada yang mau aku obrolin.”


“Soal apa?”


“Soal aku sama Vanila.”


“Ada apa?”


“Rencananya setelah menikah, untuk sementara aku sama Ila bakal tinggal terpisah. Ngga lama, cuma sebulan. Aku tetap di sini, Ila di rumah orang tuanya.”


Tentu saja apa yang dikatakan Rakan mengejutkan kedua orang tuanya, dan adik-adiknya. Suasana yang tadi santai, kini mulai berubah serius. Mata Ayunda terus memandangi Rakan. Pasti ada alasannya kenapa sang anak mengatakan hal tersebut.


“Kenapa harus tinggal terpisah?” tanya Reyhan.


“Sebenarnya ini permintaan Ila. Dia mau merasakan gimana rasanya pacaran. Makanya minta tinggal terpisah.”


“Astaga, bang. Calon istrinya aneh-aneh aja permintaannya. Namanya udah nikah ya emang udah seharusnya tinggal bareng. Soal pacaran, kan lebih asik kalau udah langsung tinggal bareng. Jadi bisa langsung kenal satu sama lain dengan cepat,” timpal Aqeel.


“Aku juga bilang gitu, tapi ini kemauannya Ila. Dia pengen ngerasain pacaran kaya orang-orang. Aku ngapel, jemput dia di rumah terus antar dia pulang.”


“Kalau kaya gitu, gimana dia mau jalanin kewajibannya sebagai istri. Terus abang setuju?”


“Setuju aja.”


“Ya ampun, bang,” Aqeel menepuk keningnya. Tidak percaya kalau sang kakak malah menyetujui usulan calon istrinya.


“Alasan Ila ngga masuk akal banget. Kalau emang mau pacaran, ngga usah tinggal terpisah juga. Terus orang tuanya Ila setuju?” kali ini Daffa yang bertanya.


“Belum tahu, baru malam ini dia mau bilang ke orang tuanya.”


“Apa harus sebulan? Kenapa ngga sehari atau dua hari aja?” sahut Ayunda.

__ADS_1


“Dia maunya sebulan ma. Aku udah bujuk seminggu aja, dia ngga mau.”


“Calon istri abang aneh. Heran deh, punya ide kok nyeleneh kaya gitu.”


“Namanya juga masih muda.”


“Ila itu kekanakkan banget. Kalau dia udah mantap nikah sama abang, ya harusnya dia sudah siap dengan namanya hidup rumah tangga. Kalau tinggal terpisah apapun alasannya, buat apa nikah? Sekarang juga abang bisa antar jemput dia, ngga usah tunggu sampai sah.”


Daffa menggelengkan kepalanya pelan. Dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Vanila. Tanpa sadar dia membandingkan Vanila dengan Geya. Walau Geya usianya masih di bawah Vanila, tapi anak itu jauh lebih dewasa menurutnya. Saat gadis itu membicarakan keinginannya untuk menikah muda, dia sudah sangat sadar dengan konsekuensinya. Termasuk kebebasannya yang mulai terbatas.


“Aku sama Iza juga pacaran sesudah nikah. Kita langsung tinggal bareng dan semuanya asik-asik aja.”


“Tapi kalian kan sudah saling kenal. Kalau aku dan Ila baru kenal beberapa bulan aja. Wajar aja kalau dia meminata hal itu.”


Kekesalan nampak di wajah Aqeel, sang kakak terus saja membela Vanila dan ngotot memenuhi keinginan calon istrinya itu. Melihat sang anak yang sudah yakin dengan keputusannya, Ayunda tidak berkomentar apapun. Apa yang dikatakan Aqeel dan Daffa sudah cukup mewakili kekecewaannya. Reyhan pun tidak mengatakan apapun, tapi dari raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan.


“Papa ke kamar dulu.”


Tanpa menunggu jawaban dari yang lain, Reyhan segera bangun dari duduknya. Ayunda yang menyadari perubahan sikap suaminya, segera menyusul masuk ke dalam kamar. Rakan hanya menghela nafas panjang melihat reaksi papanya. Hal ini memang sudah diprediksi olehnya. Tapi di satu sisi, dia juga ingin memenuhi keinginan Vanila.


“Mas..” panggil Ayunda begitu mereka sampai di kamar. Wanita itu mendekati suaminya yang duduk di sisi ranjang.


“Mas kecewa soal usulan Vanila ingin yang tinggal terpisah sementara dengan Rakan?”


“Iya. Tapi Rakan sudah memutuskannya, mas bisa apa? Kalau tidak ingat Ila adalah perempuan yang sudah membuat Rakan mau melanjutkan hidupnya lagi, mungkin mas akan langsung membatalkan pernikahan ini.”


“Sabar, mas. Seperti yang Rakan bilang, Ila masih muda. Jadi pola pikirnya juga masih kekanakkan. Lagi pula mereka hanya tinggal terpisah selama sebulan.”


Tak ada jawaban dari Reyhan, pria itu merangkak naik ke atas tempat tidur lalu membaringkan diri. Ayunda menyusul naik kemudian merebahkan tubuhnya di samping sang suami. Reyhan memang bukan tipe ayah yang suka ikut campur dengan kehidupan anak-anaknya. Namun mendengar apa yang dikatakan anak sulungnya tadi, pria itu merasa kecewa. Baginya pernikahan adalah ikatan sakral dan tidak bisa dipermainkan sesuka hati oleh orang yang menjalankannya.


🍁🍁🍁


Di malam yang sama, Vanila juga tengah mengungkapkan keinginannya tinggal terpisah dari Rakan setelah menikah. Walau rencana tinggal terpisah hanya satu bulan lamanya, namun hal tersebut sukses membuat kedua orang tuanya terkejut. Begitu pula dengan Juna dan Nadia.


“Kamu apa-apaan sih? Ngapain kalian nikah kalau harus tinggal terpisah juga,” seru Alisha.


“Cuma sebulan, ma. Aku cuma mau ngerasain pacaran kaya orang-orang. Datang dijemput, pulangnya diantar. Ngga ketemu tiap hari, paling cuma kirim pesan atau telepon.”


“Emang sekarang kamu ngga kaya gitu?”


“Ya beda, ma. Kalau udah nikah kan kita bisa bebas pegangan tangan, pelukan atau lainnya. Kalau sekarang kan ngga bisa, bang Rakan pegang tanganku aja ngga pernah.”


“Ya ngga harus tinggal terpisah juga, La. Mama dan papa juga pacaran setelah menikah. Tapi kita langsung tinggal bersama. Dan rasanya sama aja,” kali ini Viren ikut berkomentar.


“Mama sama papa kan udah kenal dari masih kecil, kalau aku kan baru kenal beberapa bulan. Masih canggung juga kalau langsung tinggal bareng.”


“Ya kalau gitu undur saja pernikahannya. Grandpa akan beri kalian waktu lagi untuk saling mengenal kalau itu alasanmu. Tapi tinggal terpisah setelah menikah, grandpa sama sekali tidak setuju!”


Mata Vanila berkaca-kaca, dia kesal sekaligus sedih karena tidak ada yang mengerti dan mau mendukung keinginannya. Nadia berpindah duduk ke samping cucunya. Dibelainya dengan lembut puncak kepala cucunya itu.


“Bagaimana dengan Rakan? Apa dia setuju?”


“Bang Rakan setuju kok.”


“Dia setuju karena sayang sama kamu. Kalau papa jadi Rakan, papa akan batalin pernikahan ini.”


Wajah Viren terlihat kesal, dia tidak berani membayangkan bagaimana tanggapan calon besannya nanti. Sikap Vanila secara tidak langsung pasti berimbas pada dirinya juga Alisha. Dia takut dinilai sebagai orang tua yang tidak bisa mengajarkan anaknya dengan baik.


“Posisi istri itu di samping suaminya setelah menikah. Baik mama atau grandma sudah mencontohkan itu padamu. Kenapa kamu punya ide aneh kaya gini sih? Kalian tinggal satu kota dan tidak ada alasan untuk tinggal terpisah,” Alisha masih belum bisa menerima keinginan anaknya.


“Hubungi Rakan, papa mau bicara dengannya besok!” putus Viren.


Pria itu segera meninggalkan ruang tengah, lalu masuk ke dalam kamar. Alisha melihat sejenak pada anaknya itu, lalu bangun dari duduknya, menyusul sang suami masuk ke kamar. Nadia memeluk cucunya itu. Walau dia juga tidak menyetujui usulan Vanila, tapi dia ingin memberikan dukungan moril pada gadis itu. Vanila masih muda, wajar saja kalau masih berpikiran labil.


“Waktu kamu meminta Rakan menunda lamaran, dia menuruti permintaanmu. Akhirnya kamu juga yang minta dia melamarmu cepat-cepat. Dan sekarang kamu ingin tinggal terpisah dengan alasan ngga masuk akalmu. Pernikahan itu bukan permainan. Kamu jangan egois, Ila. Hanya karena Rakan mencintaimu, bukan berarti kamu bisa bersikap seenaknya. Jangan salahkan dia kalau akhirnya dia meninggalkanmu karena sikapmu itu.”


Juna juga bangun dari duduknya. Pria itu masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing mendengar ide gila cucunya. Jika Rakan sudah mengatakan hal tersebut pada keluarganya, sudah pasti akan ada kericuhan. Dan Juna jelas akan merasa malu dengan langkah yang diambil sang cucu.


🍁🍁🍁


Waduh kisruh menjelang nikah🤭

__ADS_1


__ADS_2