Hate Is Love

Hate Is Love
Suksesi


__ADS_3

Aidan dan Zain yang telah resmi pindah ke kantor Infinity Corp, kembali mendatangi Humanity Corp untuk melaporkan perkembangan persiapan acara suksesi CEO Infinity Corp. Keduanya telah bekerja keras menyelenggarakan acara suksesi yang akan digelar minggu ini.


Semua undangan sudah disebar, run down acara pun sudah tersusun rapih, pengisi acara juga dipilih yang sesuai dengan konsep yang mereka usung. Hanya saja Aidan masih ingin memberikan hiburan yang lebih istimewa lagi dengan memberikan penampilan spesial dari orang yang spesial juga. tapi pria itu tidak yakin yang bersangkutan akan mau melakukannya.


“Bagaimana persiapan acara suksesi, apa ada kendala?” tanya Elang.


“Secara keseluruhan ngga ada, pak. Cuma saya masih ingin menambah pengisi acara kalau memungkinkan. Jadinya acara akan lebih spesial. Tapi saya ngga yakin juga, pak. Kira-kira bapak bisa bantu ngga?”


“Siapa?”


“Bibie, hehehe..”


“Oh kalau itu tanya aja langsung sama orangnya.”


“Nah itu dia, pak. Saya ngga yakin dia bakalan mau. Tapi kalau dia mau kan acara jadi lebih spesial. Betul kan pak? Kaya dulu bapak sama kakek Irzal pernah duet nyanyi pas ulang tahun Humanity Corp.”


Elang hanya tersenyum saja mendengar hal tersebut. Terbayang kembali ingatan di masa lalu, saat dirinya baru menjabat sebagai wakil CEO Humanity Corp. Ketika itu dirinya dan Irzal bernyanyi saat ulang tahun perusahaan. Sebuah kenangan indah yang tidak akan terhapus dari ingatannya.


“Coba saja kamu bujuk Bibie. Biar lebih spesial, coba kamu ajak cucu keluarga Hikmat untuk kolaborasi juga. Banyak dari mereka yang bisa menyanyi.”


“Wah benar juga, pak. Terima kasih atas pencerahannya,” wajah Aidan terlihat sumringah. Bagaimana pun caranya dia harus bisa mengajak Bibie memamerkan suara merdunya saat acara suksesi nanti.


“Bagaimana denganmu, Zain? Bekerja dengan Bibie, apakah sulit?”


Elang melihat pada Zain yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraannya dengan Aidan. Pria itu hanya melemparkan senyum tipisnya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aidan yang melihat itu tak bisa menahan tawanya. Selama seminggu lebih bekerja bersama Irzal, membuat pria tersebut lumayan stress.


“Dia masih sawan, pak. Bapak tahu sendiri modelan Bibie gimana, hahaha,” sahut Aidan.


“Ya begitu deh, pak. Harus banyak stok sabar dan paham bahasa isyarat.”


“Hahaha…”


Sama seperti Aidan, Elang juga tak bisa menahan tawanya. Orang yang bekerja sebagai sekretaris untuk Aslan awalnya pun merasa seperti itu. Tidak seperti dirinya yang didampingi para sahabatnya saat itu, Virzha dan Farel. Tapi untuk Aslan dan Irzal, diberikan orang baru yang berasal dari hasil seleksi. Bahkan sekretaris pertama Aslan mengundurkan diri setelah bekerja selama seminggu. Sampai akhirnya pria itu menemukan orang yang tepat.


“Kalau kamu ngga paham, lebih baik bertanya. Dia lebih senang ditanya dari pada kamu kerjakan apa yang dia mau tapi tidak tahu apa-apa. Ya kadang dia masih suka lupa kalau tidak semua orang bisa membaca pikirannya. Tapi saya yakin, kamu adalah orang yang tepat untuk mendampingi Bibie, bersama Aidan.”


“Iya, pak.”


Mendengar kata-kata Elang, semangat Zain kembali terbit. Padahal dia sudah ingin menyerah. Untung saja Aidan banyak membantunya, memberinya masukan apa yang disukai dan tidak disukai oleh atasannya itu. Sebenarnya Irzal sendiri tidak neko-neko, asalkan Zain bisa bekerja dengan benar dan tidak melanggar prinsip yang diterapkan olehnya.


“Kalau begitu, saya permisi dulu, pak.”


“Silahkan.”


Setelah melaporkan perihal perkembangan acara suksesi, Aidan dan Zain berpamitan. Mereka akan kembali ke kantor. Aidan juga tengah menyusun kata-kata untuk membujuk sahabatnya agar mau tampil saat acara suksesi nanti. Walau dia yakin, acara pembujukan akan berlangsung alot. Sepertinya dia harus meminta bala bantuan untuk melakukannya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Jum’at pagi, kediaman Ega sudah ramai oleh suara orang-orang yang tengah berbincang. Karena hari ini adalah tanggal merah, cucu keluarga Ramadhan memutuskan untuk berkumpul bersama di hari ini. Besok mereka akan menghadiri acara suksesi CEO Infinity Corp. Hal ini dimanfaatkan Aidan untuk membujuk Irzal.


Para pria berkumpul di lantai atas. Mereka berbincang bersama di selasar yang ada di lantai dua tersebut. Sedang para wanita berkumpul di halaman belakang. Hari ini Arsy mendapat shift siang, jadi dia bisa berkumpul dengan keluarga suaminya. Wanita itu sudah mulai akrab dengan para wanita dari keluarga sang suami.


Sebelum acara kumpul bersama, Aidan sudah mengatakan pada semua yang hadir untuk sama-sama membujuk Irzal. Jika mendapat serangan bertubi-tubi, dia yakin Irzal tidak akan bisa menolak permintaannya. Dia juga meminta Arsy jangan sampai tahu. Biarkan ini menjadi kejutan untuk nyonya Irzal. Selain keluarga Ramadhan, Tamar juga dipaksa datang.


“Bie.. gue langsung aja ya. Buat acara suksesi, lo nyanyi ya.”


“Kenapa harus gue? Lo ngga mampu bayar bintang tamu?”


Aidan menghembuskan nafas kesal mendengar respon sahabatnya. Jawaban tajam dan menyebalkan memang sudah diprediksi akan keluar dari mulut Irzal. Dia melihat pada Aslan dan Daffa, meminta bala bantuan.


“Bener kata bang Idan, mending abang nyanyi. Percuma punya suara bagus diumpetin mulu,” celetuk Daffa.


“Lo aja yang nyanyi, trio sama bang Aqeel dan bang Rakan,” jawab Irzal.


“Buset, lo mau tamu undangan bubar jalan?” sahut Aidan kesal.


“Hahaha….” tawa yang lain langsung terdengar. Semua anak Reyhan dan Ayunda memang tidak ada yang bisa bernyanyi.


“Bang Aslan aja,” seru Irzal.


“Bang Aslan emang mau nyanyi. Malah mau duet sama kak Shaina,” jawab Aidan.


“Emang kak Shaina bisa nyanyi?”


Bantal sofa langsung melayang ke arah Aidan, sudah tentu sang pelaku adalah Aslan. Pria itu harus mengakui kegigihan sang istri yang mau berlatih vocal demi bisa mengimbangi suara merdu suaminya. Dan sekarang hasilnya sudah lebih baik.


“Ayolah Bie, lo juga nyanyi. Gue juga nyumbang suara,” ujar Dion, anak kembar Firlan.


“Ya abang kan nyanyi bareng band sendiri.”


“Ya sama aja, kan. Judulnya nyanyi. Lagian emang lo pernah nyanyi buat istri lo? Belum pernah kan?”


“Gue juga ngga yakin Arsy tau kalau lakinya bisa nyanyi,” sambar Aqeel.


“Betul. Dulu kakek lo pernah nyanyi buat nenek Poppy pas acara ultah Humanity. Pernah duet juga sama bokap lo. Masa elo ngga mau nyanyi buat bini lo? Biar pegawai tau kalau elo udah punya bini dan elo bucin abis.”


Lagi sebuah bantal sofa mendarat di kepala Aidan, jika tadi Aslan, sekarang Irzal yang melakukannya. Tidak masalah bagi Aidan, bahkan jika sofa yang mendarat di kepalanya, dia akan terus berusaha membujuk sahabatnya itu.


“Lo ngga usah nyanyi sendiri. Lo nyanyi duet sama calonnya Tamar,” lanjut Aidan.


“Calon gue siapa?” tanya Tamar.


“Heleh, sok amnesia. Ya yayang Stella, hahaha…”


Tak ada tanggapan dari Tamar. Dia baru sadar kalau sebentar lagi dirinya akan melepas masa lajangnya bersama dengan Stella. Mimpi apa dia semalam, harus mengakhiri masa lajang karena terjebak mulut ember Stella.

__ADS_1


“Nanti anggap aja Stella nyanyi buat elo. Lo juga, Bie. Anggap aja lo nyanyi buat Arsy. Stella udah setuju, tinggal elonya. Lagunya terserah kalian sih, yang penting duet. Ok?”


“Kenapa harus duet? Kan mereka bisa nyanyi sendiri-sendiri?” tanya Rakan.


“Slotnya tinggal satu, bang. Jadi biar keren, nyanyinya duet tapi formatnya mereka nyanyi buat orang spesial masing-masing, gitu loh,” terang Aidan.


Rakan hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia jadi tidak sabar untuk melihat penampilan duet Irzal dan Stella. Apalagi dirinya cukup penasaran dengan sosok Stella, gadis yang sudah berhasil membuat Tamar mau mengakhiri masa lajangnya walau terpaksa.


“Ya udah gue mau,” akhirnya Irzal menyerah juga.


“Woke, sip. Latihannya besok aja sekalian gladi resik. Gue udah ngomong ke Stella. Tam.. lo jangan jelaous ya,” Aidan melihat pada Tamar.


Lagi-lagi tak ada tanggapan dari Tamar. Namun dalam hati, dia penasaran juga dengan penampilan Stella nanti. Tak bisa dibayangkan, Irzal yang cenderung tanpa ekspresi berduet dengan Stella yang tidak mau diam seperti ondel-ondel. Pasti penampilan di atas panggung akan menarik.


🍁🍁🍁


Acara suksesi Infinity Corp akhirnya diselenggarakan juga. Sudah banyak tamu yang berdatangan untuk menghadiri acara penting perusahaan yang sempat membuat geger dengan sepak terjangnya, tak terkecuali keluarga Hikmat. Kenzie tak menyangka kalau Infinity Corp adalah perusahaan besutan Elang dan Farel yang diperuntukkan untuk Irzal.


Para tetua keluarga Hikmat juga turut hadir. Abi yang paling bersemangat untuk datang. Dia ingin melihat cucu menantunya dinobatkan sebagai CEO Infinity Corp. Ada perasaan bangga terselip dalam hatinya. Cucunya Arsy sudah berhasil mendapatkan suami yang sukses di dunia dan In Syaa Allah mampu membimbing istrinya sampai ke surga.


Zar yang datang bersama sepupunya yang lain, menuju meja yang ditempati oleh Rakan. Tak disangka, kakak dari Daffa itu mendukung perasaannya pada Renata dan mau membantunya untuk bersatu. Pria yang disangkanya akan menjadi saingannya, justru mau menjadi mak comblang untuknya.


“Zar!”


Tangan Rakan melambai, memanggil Zar agar duduk satu meja dengannya. Zar segera melangkahkan kakinya ke sana. Di sana sudah ada Renata.


“Apa kabar, bang?” tanya Zar sambil menyalami tangan Rakan.


“Alhamdulillah baik.”


“Hai Ren,” sapa Zar.


“Hai..”


Renata menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan kebahagiaan yang dirasakannya. Dua minggu tidak melihat Zar, tidak disangka dia begitu merindukan pria tersebut. Zar mengambil tempat di antara Rakan dan Renata.


Acara masih belum dimulai, mungkin sekitar lima menit lagi. Mata Zar memandang sekeliling. Hampir semua meja sudah terisi. Kemudian matanya melihat pada seorang gadis yang tengah mencari tempat untuk duduk. Tangan Zar langsung terangkat ke atas, memanggil sang gadis.


“Iler!!”


🍁🍁🍁


**Siapa Iler?🤔


Siapa yang pengen lihat duet Irzal - Stella🙋


Maaf up masih mode irit, masih lelah hayatun. Berhubung udah janji, aku berusaha up walau ngga banyak. NR kalau ngga sore, malam ya🙏**

__ADS_1


__ADS_2