Hate Is Love

Hate Is Love
Main Bola


__ADS_3

Perlahan Irzal mengangkat tubuh Arsy. Kini tubuh istrinya itu sudah berada dalam gendongannya. Arsy melingkarkan kedua kakinya di pinggang Irzal. Kemudian, tanpa melepaskan pertautan bibir mereka, Irzal beranjak dari halaman belakang menuju kamar utama. Dia sudah siap untuk mengahabiskan malam bersama sang istri, menjalankan ibadah bersama.


Pelan-pelan Irzal membaringkan tubuh Arsy di atas kasur. Posisinya kini berada di atas sang istri. Mata keduanya saling memandang dengan penuh cinta. Tangan Irzal bergerak merapihkan rambut Arsy yang sedikit berantakan. Kemudian dengan lembut pria itu menciumi wajah istrinya, dari mulai mata, hidung, pipi, dagu dan terakhir di bibirnya.


Pagutan keduanya kembali terjadi. Arsy memejamkan matanya, kini dia sudah tidak malu lagi membalas ciuman sang suami. Tangan Irzal menelusup ke belakang kepala Arsy, membuat ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Kini pria itu sudah berani memperagakan ciuman ala French kiss. Lidah masuk ke dalam rongga mulut Arsy, menarik dan membelit lidah sang istri.


Suasana di kamar berangsur mulai menghangat. Irzal masih terus mencium Arsy, seakan belum puas dan ingin terus melakukannya. Sampai akhirnya dia mengakhiri ciuman panjangnya itu saat hampir kehabisan oksigen. Nafas keduanya memburu, mata keduanya pun sudah tertutup oleh gairah.


Arsy memejamkan matanya saat bibir Irzal mulai menyusuri leher jenjangnya. Lagi dan lagi suaminya ini membuatnya terbang melayang. Malu-malu, dia mulai mengeluarkan des*h*n manjanya dan membuat Irzal semakin gencar melakukan cumbuannya. Walau tidak pernah berhubungan dengan wanita, tapi pria itu tahu betul bagaimana cara memancing hasrat wanita. Siapa lagi yang mengajarinya kalau bukan Aslan dan Dimas.


Pergerakan Irzal terus berlanjut. Kini dia menciumi tengkuk sang istri seraya membisikkan doa di telinganya. Tanpa bisa dicegah tangannya pun ikut bergerak menelusuri tubuh di bawahnya. Satu per satu kancing dress yang dikenakan Arsy dibuka olehnya. Jantung Arsy semakin berdebar tak karuan. Sebentar lagi suaminya akan melihat seluruh tubuhnya.


Wajah istri dari Irzal itu memerah ketika menyadari dirinya sudah tak mengenakan apapun lagi. Tubuhnya juga sudah tak enak diam merasakan sentuhan Irzal. Beberapa kali wanita itu mengigit bibir bawahnya ketika merasakan sensasi yang baru pertama menyapanya. Semuanya terasa begitu indah dan nikmat.


Refleks Arsy menutup mata dengan kedua tangannya, ketika melihat Irzal sudah tak mengenakan apa-apa lagi. Jantungnya seperti bergeser dari tempatnya saat berdegup dengan sangat kencang. Irzal melepaskan kedua tangan Arsy dari matanya, kini wanita itu bisa melihat dengan jelas tubuh tegap suaminya.


Seperti ada magnet yang menariknya, tangan Arsy bergerak meraba dada bidang dan perut kotak-kotak sang suami laksana roti sobek. Wajahnya tersenyum ketika melihat Irzal juga menikmati sentuhan yang diberikan olehnya. Irzal kembali menyambar bibir istrinya, memagut dan mel*m*tnya dengan rakus.


Arsy terjengit ketika merasakan lato-latonya serasa dielus dan diremat dengan lembut. Wanita itu semakin tak bisa menahan desahannya. Keduanya meneruskan cumbuan sebelum memulai percintaan mereka. Mata sayu Arsy memandangi wajah Irzal yang terlihat semakin tampan saja.


“Cubit, cakar atau gigit aku kalau kamu merasa sakit, sayang,” bisik Irzal sebelum melakukan penyatuannya.


Arsy hanya mengangguk pelan. Namun dalam hatinya sangsi apakah dia bisa melakukannya, melukai pria yang dicintainya demi meredam rasa sakitnya. Detik-detik penyatuan semakin dekat. Arsy harap-harap cemas menantikan hal tersebut datang padanya. Konon ketika gawangnya jebol untuk pertama kali, rasa sakitnya itu luar biasa.


Mata Arsy terpejam ketika Irzal sudah bersiap melakukan tendangan penalty. Bola belum sepenuhnya masuk ke gawang, namun rasa sakit sudah mulai dirasakan olehnya. Irzal juga belum mengeluarkan semua tenaganya untuk merobek jaring gawangnya. Arsy meringis ketika sang suami sudah berancang-ancang untuk menjebol gawangnya. Dan akhirnya dengan kekuatan penuh, Irzal menendang bola dengan kuat dan berhasil menjebol gawang sang istri untuk pertama kali.


Sebisa mungkin Arsy menahan airmatanya yang hendak keluar. Rasa sakit dan nyeri memang menderanya, tapi dia tidak mau menangis karena kesakitan yang dirasakannya adalah kebahagiaan sang suami yang sudah berhasil mendapatkan haknya. Matanya terbuka ketika dengan lembut Irzal mencium kedua matanya. Rematannya di seprai pun mulai mengendur.


“Maaf, sayang. Kamu pasti kesakitan.”


“Karena sudah menyakitiku, mas harus menggantinya dengan yang enak-enak.”


Irzal tertawa kecil mendengar penuturan absurd istrinya. Sejatinya bukan hanya Arsy yang merasakan sakit, tapi dirinya juga merasakannya walau tidak sedahsyat yang dirasakan sang istri. Pria itu kembali memulai cumbuannya, demi menghalau suasana tegang akibat tendangan penaltynya. Ketika melihat Arsy sudah sedikit tenang dan menikmati lagi cumbuannya, Irzal mulai menggocek bola.


Udara malam yang dingin di luar sana sama sekali tidak dirasakan pasangan pengantin ini. Keduanya masih asik berbagi peluh dan saling memberikan kenikmatan. Tubuh keduanya sudah berkilau karena keringat, namun Irzal masih belum berhenti bermain bola. Dia masih terus memberikan gocekannya, sebelum jurus mengeluarkan tendangan tsubasanya di akhir permainan mereka.


Tubuh Arsy sudah terasa lemas. Sejak dia dipaksa mengeluarkan jus oleh sang suami, Irzal masih belum berhenti menggocek bola. Dan kini dia kembali merasakan jusnya akan keluar. Irzal semakin gencar menyerang. Tangan Arsy memeluk erat punggung sang suami yang lembab ketika dia kembali memproduksi jus rasa mangga. Dan tak lama kemudian tendangan tsubasa Irzal berhasil membuatnya mengeluarkan santan premium yang begitu kental dan masuk ke dalam wadah yang sudah disiapkan oleh sang istri.


Tulang-tulang ditubuh Arsy copot begitu mendapat serangan terakhir suaminya. Tangan Irzal menghapus titik-titik keringat di kening istrinya itu kemudian menciumnya dengan cukup lama.


“Terima kasih sayang. I love you,” bisik Irzal di telinga Arsy.


“Love you, mas..” balas Arsy pelan.


Walau pelan dan terdengar lemah karena Arsy sudah tak punya tenaga lagi, namun masih bisa didengar jelas oleh Irzal. Tentu saja pria itu senang karena sang istri juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Perlahan pria itu bangkit, kemudian dia membopong tubuh Arsy lalu membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan sisa percintaan mereka.


Sambil membersihkan diri, sesekali Irzal mencuri ciuman di bibir sang istri. Ternyata benar apa yang orang-orang bilang, bercinta itu selain memberikan kenikmatan juga menimbulkan kecanduan. Pantas saja kakak dan ayahnya senang sekali melakukan olahraga ranjang dengan pasangannya masing-masing.


Usai bersih-bersih, Irzal kembali membopong Arsy lalu membaringkannya di kasur. Dia merangkak naik ke atas kasur dan menarik selimut untuk menutup tubuh mereka yang polos. Mungkin saja tengah malam atau menjelang shubuh mereka akan kembali bermain bola, jadi tidak perlu repot-repot membuka pakaian.


Arsy menelusup masuk dalam pelukan Irzal. Setelah aktivitas panas selesai, kini rasa dingin mulai menyergapnya. Berada dalam pelukan suami membuat tubuhnya menghangat. Dengan lembut Irzal mengusap punggung mulus istrinya. sambil berpelukan, keduanya mengistirahatkan tubuh dan bersiap masuk ke alam mimpi.


🍁🍁🍁


Pagi menjelang, sang surya sudah menunjukkan sinarnya. Cahayanya menembus masuk ke sela-sela gorden yang menutupi jendela kamar sang pengantin. Arsy dan Irzal nampak masih terlelap. Menjelang shubuh, Irzal kembali mengajak istrinya bermain bola, bahkan saat mandi bersama, mereka juga sempat bermain satu babak. Setelah shalat shubuh, keduanya kembali tidur karena kelelahan.


Arsy merapatkan tubuhnya pada Irzal, ketika merasakan udara dingin menghantamnya. Selimut yang menutupi tubuh mereka sudah berada di ujung kasur. Waktu sendiri masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, jadi wajar saja kalau udara masih terasa dingin. Pelukan Irzal di tubuh Arsy semakin erat, seakan tidak rela istrinya itu berada jauh darinya.


Menjelang jam tujuh, pasangan pengantin itu mulai terbangun dari tidurnya. Irzal lebih dulu membuka mata. Arsy masih nyaman berada dalam pelukannya. Dikecupnya kening sang istri yang terlihat masih kelelahan karena dirinya terus mengajak bermain bola. Kelopak mata Arsy bergerak, lalu perlahan membuka.


“Pagi, mas..” sapa Arsy dengan suara serak.


“Pagi sayang,” balas Irzal.


CUP


Pria itu mengecup bibir sang istri. Senyum terbit di wajah Arsy. Pagi hari bangun tidur sudah disuguhi pemandangan wajah tampan suaminya yang memeluk erat dirinya. Ciuman dan kecupan pun didapat olehnya sebagai hadiah di pagi hari. Nikmat mana lagi kau dustakan, itulah yang dirasakan Arsy saat ini. Apalagi jika mengingat kejadian semalam dan menjelang shubuh, membuat wanita itu semakin melayang saja.

__ADS_1


Hidupku sungguh beruntung. Mendapatkan suami yang baik, soleh, tampan dan perkasa. Aaiisshh.. kenapa jadi mesum sih nih otak. Kakek.. makasih ya, kakek udah jodohin aku sama mas Bie. Love you kakek…


“Apa yang kamu pikirkan?” pertanyaan Irzal membuyarkan lamunan Arsy.


“Ngga ada. Aku cuma merasa beruntung mendapatkan suami sepertimu.”


“Bukan cuma kamu, tapi aku juga beruntung mempunyai istri sepertimu.”


“Aku mau telepon kakek. Mau bilang makasih, karena udah jodohin aku sama mas,” senyum mengembang di wajah Arsy.


Wanita itu bangun dari posisinya, kemudian mengambil ponselnya di atas nakas. Dia menekan cukup lama tombol on off, baru kemudian ponsel menyala. Arsy sengaja mematikan ponsel agar tidak ada lagi yang mengganggu kebersamaannya bersama sang suami. Apalagi Stella yang selalu kepo dan menanyakan soal malam pertamanya.


Arsy membaringkan tubuhnya lagi dan merebahkan kepalanya di dada Irzal. Jemarinya mencari nomor sang kakek, lalu mendialnya. Cukup lama Abi tak menjawab panggilan darinya. Saat Arsy hendak mengakhiri panggilannya, terdengar suara sang kakek dari sebrang.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam, kakek lagi apa? Lama banget angkat teleponnya.”


“Kakek abis jalan-jalan pagi. Ini baru sampe rumah. Kenapa, Sy?”


“Ngga ada apa-apa, kek. Aku cuma kangen aja sama kakek.”


“Kirain udah dapet suami, lupa sama kakek.”


“Ish kakek, kok gitu ngomongnya.”


“Irzal mana?”


“Kakek sayang banget sih sama mas Bie, sampe ditanyain terus. Ini mas Bie ada di sampingku. Kakek ngomong aja, udah aku loud speak.”


Dengan gemas Irzal mencubit pipi Arsy. Melihat istrinya cemberut, dia mencium pipi bekas cubitannya. Senyum Arsy terbit mendapatkan ciuman dari sang suami.


“Irzal..”


“Iya, kek.”


“Gimana? Sudah berhasil jebol gawangnya?”


“Hahaha…”


Abi tak bisa menahan tawanya mendengar suara protes manja cucunya. Pria itu iseng mengubah panggilan menjadi mode video call. Karuan saja pasangan pengantin itu kelabakan. Karena posisi tiduran saat ini membuat mereka malu kalau sampai kelihatan sang kakek. Buru-buru Irzal dan Arsy bangun dari tidurnya kemudian duduk dengan menyandarkan punggung ke headboard ranjang. Baru kemudian Arsy menekan icon jawab.


“Kenapa lama sekali? Kalian lagi ngapain?” goda Abi.


“Kakek kepo, kaya ngga pernah muda aja.”


“Hahaha… jam segini masih asik-asikkan di kasur, cape ya?”


Wajah Irzal memerah mendengar godaan Abi. Arsy sampai menutup wajah dengan kedua tangannya. Abi hanya terpingkal melihat pasangan muda tersebut nampak masih malu-malu. Pria itu tak berlama-lama melakukan panggilan video. Setelah merasa puas melihat keadaan cucu dan cucu menantunya, dia mengakhiri panggilan.


“Kamu laper ngga?” tanya Irzal.


“Laper, pake banget.”


“Bisa masak ngga?”


“Dikit-dikit sih bisa, hehehe..”


“Ayo kita buat sarapan sama-sama.”


Dengan semangat empat lima, Arsy menganggukkan kepalanya. Wanita itu segera turun dari kasur. Namun dia sedikit meringis ketika melangkahkan kakinya. Bagian bawahnya masih terasa sedikit perih, dan seperti ada yang mengganjal di sana, membuatnya sedikit kesulitan berjalan.


Arsy berteriak ketika merasakan tubuhnya melayang. Irzal membopong sang istri kemudian membawanya ke dapur. Selagi Arsy menyiapkan bahan untuk membuat sarapan, Irzal membuka gorden dan pintu vila, agar udara segar masuk dan mengganti udara di dalam. Kemudian pria itu kembali ke dapur, membantu Arsy menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


🍁🍁🍁


Setelah sarapan, Irzal mengajak Arsy jalan-jalan, sesuai janjinya. Alih-alih mendatangi kawah putih atau cagar alam, Arsy memilih mendatangi perkebunan Humanity Corp. Dia ingin melihat proses panen yang dikatakan Irzal. Dengan menaiki club car, Irzal dan Arsy menuju lahan yang digunakan untuk menanam tomat, kentang, timun dan cabai.

__ADS_1


Dari dalam club car, Arsy bisa melihat para pekerja yang bersiap untuk memanen. Keranjang untuk memasukkan hasil panen sudah siap. Nantinya hasil panen akan disortir, mana yang masuk grade A atau kualitas premium, dan mana yang masuk grade di bawahnya.


Sebagian hasil panen akan dipasok ke pedagang di pasar. Sedang untuk barang dengan kualitas grade A akan dipasok ke supermarket dan horeca (hotel, restoran dan café). Selain sayuran, perkebunan ini juga menanam buah-buahan. Ada stroberi, anggur, buah naga dan mangga. Sama seperti sayur, buah juga akan disortir dan dimasukkan ke dalam beberapa golongan.


Irzal memberikan keranjang kecil berisi stroberi dan anggur pada Arsy. Wanita itu mengambil sebuah stroberi yang warnanya begitu merah menggoda lalu memakannya. Kepalanya mengangguk-angguk ketika merasakan rasa manis bercampur sedikit asam dari buah tersebut.


“Enak banget, mas. Manisnya lebih dominan dari asemnya. Rasanya super, deh.”


Arsy mengambil satu buah stroberi lalu menyuapkannya pada Irzal. Senyum wanita itu mengembang ketika Irzal membuka mulut dan memakan stroberi yang diberikan olehnya. Beberapa pegawai hanya tersenyum saja melihat pasangan muda yang tengah berbahagia itu.


Kemudian datang seorang wanita yang tadi habis mensortir buah menghampiri mereka. Dia memberikan beberapa buah naga dan mangga pada Arsy. Dengan senang hati Arsy menerima buah pemberian wanita itu.


“Makasih ibu.”


“Sama-sama, neng. Pak Irzal, istrinya meni geulis (sangat cantik).”


“Aamiin.. makasih, bu.”


“Sering-sering ke sini ya, pak. Kasih hiburan sama emak-emak di sini lihat wajah ganteng bapak, hihihi…”


Irzal hanya tertawa mendengar celotehan ibu tersebut. Arsy cukup terkejut melihat Irzal bisa tertawa selebar itu mendengar godaan wanita yang usianya mungkin sudah 50 tahun lebih. Biasanya suaminya itu selalu bewajah masam bila digoda oleh wanita. Sambil menggandeng tangan Irzal, Arsy mengajak suaminya kembali berkeliling.


“Tumben mas ketawa dengar gombalannya, suka ya?”


PLETAK


“Aduh..”


Arsy mengusap keningnya yang terkena sentilan Irzal. Wanita itu memajukan bibirnya tanda protes. Tapi dengan santainya Irzal mengecup bibir sang istri, padahal banyak pegawai berlalu lalang di dekat mereka.


“Mas iihh.. malu tau.”


“Biarin. Itu hukuman buat kamu karena bicara sembarangan.”


“Siapa yang bicara sembarangan. Emang betul kok, mas seneng banget kayanya digoda sama ibu tadi.”


“Ibu itu umurnya sudah lima puluh tahun lebih, setara dengan usia bunda. Masa kamu cemburu sama dia. Aku itu bisa membedakan, mana yang cuma gurauan atau godaan. Menurut kamu, apa ibu tadi benar-benar goda aku?”


“Ngga. Cuma aku kesal aja lihat mas tertawa sama perempuan lain.”


“Dia itu sudah tua, masa kamu cemburu. Kalau aku ketawanya sama yang masih muda, cantik dan seksi, baru kamu boleh cemburu.”


“Awas aja kalau mas berani. Ngga bakal aku kasih jatah malam,” Arsy menjulurkan lidahnya pada Irzal.


“Sayang, kamu jangan mancing-mancing ya. Aku bisa langsung bawa kamu pulang dan ngga akan biarin kamu turun dari kasur.”


“Aaaaa.. takut…”


Arsy berpura-pura memasang ekspresi takut, kemudian segera lari menghindari Irzal. Dengan cepat suaminya itu mengejar. Mereka sudah seperti pemain film India saja yang berkejaran di kebun. Tapi karena Arsy masih merasakan ada yang mengganjal di bagian bawahnya, dia tak bisa berlari jauh. Wanita itu menyandarkan punggungnya ke batang pohon di belakangnya. Irzal datang kemudian menaruh kedua tangannya di pohon, mengurung sang istri.


“Mas jangan macem-macem. Di sini banyak orang.”


“Masa? Coba kamu lihat, di sini sepi. Kayanya kamu sengaja mancing ke sini, ya.”


Mata Arsy melihat sekeliling. Ternyata tempat yang didatanginya memang sepi. Kebun mangga ini sudah selesai dipanen, jadi sudah tidak ada pekerja lagi di sini. Irzal mendekatkan wajahnya kemudian mencium Arsy. Karena tak ada orang, Arsy melingkarkan kedua tangannya ke leher Irzal lalu membalas ciuman suaminya itu. Hanya desir angin dan suara burung saja yang menjadi saksi pertautan bibir mereka.


🍁🍁🍁


**Beuh pengantin baru, kalo ngga reuni bibir pasti main bola😂


Mak emak jangan pada baper ya, inget suami lagi kerja, jangan ditelpon dulu. Yang suaminya ada di rumah jangan main geret aja, masih siang oiii😂


Nih aku kasih lagi visual pengantin baru. Biar lebih poll ngehalunya.


Arsy**


__ADS_1


Mas Bie



__ADS_2