
“Bang.. bangun bang.”
Ayumi terus menggucang bahu suaminya yang masih tertidur. Perlahan mata Nalendra terbuka. Matanya langsung menangkap sang istri yang sudah mengenakan mukena. Dengan cepat pria itu menegakkan dirinya. Rasanya dia baru tertidur sebentar, ternyata waktu sudah shubuh. Semalam dia harus berkutat menyelesaikan tugas kuliah dan juga pekerjaan.
“Abang kok tidur di sofa?”
“Maaf, Ay. Semalam aku ketiduran kayanya waktu negrejain tugas.”
Mata Ayumi memandangi kertas yang berserakan di atas meja. Gadis itu segera membereskan kertas-kertas tersebut. Nalendra bangun kemudian menuju kamar mandi. Tak lama kemudian dia keluar setelah menggosok gigi dan berwudhu. Pria itu segera mengenakan sarung dan menggelar sajadah.
Melihat suaminya sudah siap, Ayumi segera mengambil tempat di belakang suaminya. Nalendra segera memimpin shalat shubuh berjamaah. Hati Ayumi bergetar mendengar suara merdu Nalendra melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Perasaannya menjadi tenang saat mendengarnya. Tuhan berbaik hatinya, menghindarkan dirinya dari lelaki seperti Kemal dan menghadiahkan Nalendra untuknya.
Gadis itu langsung mencium punggung tangan suaminya setelah selesai shalat. Usai memanjatkan doa, Nalendra memutar tubuhnya, berbalik menghadap istri kecilnya. Melihat Ayumi yang manis, dan berkepribadian baik, tak sulit rasanya untuk jatuh cinta padanya. Acara jalan-jalan ke perkebunan tempo hari meninggalkan kenangan manis di hati Nalendra.
“Ay.. hari ini kita ke perkebunan. Acara syukurannya hari ini. Nanti keluarga kita juga bakalan ke sana.”
“Iya, bang.”
“Kita kayanya bakal nginap dua malam di sana. Kamu ngga ada kuliah, kan?”
“Aku masih libur seminggu, bang. Kan lagi minggu tenang.”
“Ya udah. Kalau gitu ngga ada masalah kan kalau nginep di sana?”
Ayumi hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia berdiri kemudian melipat mukena yang dipakainya tadi. Begitu pula dengan Nalendra. Pria itu hendak olahraga di gym yang ada di hotel, supaya tubuhnya lebih bugar.
“Abang mau nge-gym, kamu mau ikut atau di kamar aja.”
“Pengen ikut, bang.”
“Siap-siap dulu.”
Ayumi berjalan menuju lemari, kemudian membuka kopernya. Dia mencari-cari pakaian yang cocok digunakan untuk gym. Tangannya meraih legging berwarna hitam, lalu kaos lengan pendek. Gadis itu segera menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Kening Nalendra berkerut melihat penampilan istrinya. Tubuh bagian bawahnya terbalut legging ketat, sedang bagian atasnya mengenakan kaos dengan panjang sampai sepinggang saja.
“Kenapa, bang?”
“Kamu ngga ada kaos lain? Coba cari kaos yang agak panjang, yang bisa nutupin bokong kamu.”
“Oh.. bentar, bang.”
Gadis itu kembali menuju lemari. Setelah mencari-cari, akhirnya dia menemukan kaos yang sedikit panjang dan bisa menutupi bokongnya. Setelah itu, barulah Nalendra mengajaknya menuju gym. Pagi ini belum banyak yang menggunakan fasilitas tersebut, baru sekitar tujuh orang saja, termasuk Nalendra dan Ayumi. Istrinya menjadi satu-satunya wanita yang ada di sana.
Ayumi berjalan menuju treadmill. Setelah mengatur waktu dan kecepatan, gadis itu segera naik ke atasnya. Sedang Nalendra berlatih fisik dengan peralatan lain. Seorang pria yang berada di samping Nalendra, segera menghentikan kegiatannya yang tengah mengolah otot tangan. Pria itu berjalan menuju treadmill, dan mengambil tempat tepat di samping Ayumi.
Nalendra yang tengah menggunakan pec deck machine, untuk melatih otot dada dan bahunya, melihat pada istrinya dan juga pria di sebelahnya. Nampak pria itu mencoba berbasa-basi pada sang istri. Kepalanya terus saja tertoleh pada Ayumi, namun gadis itu tidak menghiraukannya.
“Hai.. namanya siapa?” tanya pria di sebelahnya. Namun Ayumi masih belum menanggapi.
“Ke sini sendiri aja? Mau aku ajari menggunakan peralatan yang lain?” sambungnya lagi.
“Bisa diam, ngga? Kamu ganggu konsentrasi aja,” jawab Ayumi tanpa melihat pada pria di sebelahnya.
Mendengar kata-kata Ayumi, tidak menyurutkan niat pria itu untuk terus menggoda pengantin baru itu. Pria itu berlari mengikuti gerakan dan kecepatan treadmill. Matanya memindai tubuh Ayumi dari atas sampai bawah. Bukan hanya wajahnya yang cantik, tapi gadis di sebelahnya juga memiliki bodi yang bagus.
“Bisa ngga, itu matanya dijaga, ngga jelalatan,” hardik Ayumi yang menyadari pandangan pria itu.
“Kenalan dulu, dong. Boleh kan? Namaku Miko.”
Pria bernama Miko itu mengulurkan tangannya ke arah Ayumi, namun sama sekali tidak dipedulikan oleh gadis itu. Miko menarik kembali tangannya, seraya mengulum senyumnya. Jinak-jinak merpati, itulah yang ada dalam pikirannya tentang Ayumi. Nalendra masih berada di tempatnya, namun matanya masih mengawasi Miko dan juga istrinya.
Ayumi menghentikan latihannya. Dia mematikan mesin treadmill, kemudian turun dari sana. Melihat itu, Miko pun melakukan hal yang sama. Nalendra menyudahi latihannya, begitu melihat Miko mengikuti istrinya. Dia segera mendekati sang istri, kemudian memeluk pinggangnya dengan mesra.
“Sudah selesai latihannya? Kok cuma sebentar.”
“Males, bang. Ada laler.”
Mata Miko terus mengawasi Nalendra yang masih menaruh tangannya di pinggang Ayumi. Pikirannya terus menebak-nebak, apa hubungan pria muda itu dengan gadis yang tadi digodanya. Nalendra membawa Ayumi menuju cable machine. Dia mengajarkan gadis itu bagaimana menggunakan alat tersebut.
“Bebannya segini aja dulu, ya. Kamu tarik cable-nya pelan-pelan,” Nalendra memberi arahan.
“Uuuhh.. berat, bang.”
“Iya. Kalau baru melakukan dan belum terbiasa, pasti bakalan berat. Coba beberapa kali.”
Ayumi mengikuti apa yang dikatakan Nalendra. Pria itu juga berlatih menggunakan alat yang sama. Hanya saja dia menambahkan beban yang bisa ditarik olehnya. Hanya sepuluh menit saja Ayumi mampu menggunakan alat ini. Dia kemudian duduk di bangku yang ada di sana, seraya menyeka keringatnya.
Melihat Ayumi lepas dari Nalendra, Miko kembali mendekat. Di tangannya terdapat air mineral dingin, kemudian menyodorkannya pada Ayumi. Gadis itu tak bereaksi apapun, hanya melihat pada Miko dengan tatapan sebal.
“Kamu pasti haus. Ini minum aja,” Miko menyodorkan botol di tangannya.
“SKSD banget sih.”
“Emangnya ngga boleh aku kenal dekat dengan gadis secantik kamu. Siapa namamu?”
“Kamu punya nyali juga ya, godain istri orang di depan suaminya.”
Untuk sesaat Miko hanya terdiam, mencoba mencerna apa yang diucapkan Ayumi. Dari arah belakang muncul Nalendra. Pria itu berdiri di samping Miko, kemudian menepuk pundak pria itu.
__ADS_1
“Apa ada sesuatu dengan istri saya? Kenapa dari tadi kamu terus mendekatinya?” tanya Nalendra santai.
“Oh.. eh.. maaf. Saya pikir dia masih single. Maaf, ngga ada maksud.”
Bergegas Miko meninggalkan Ayumi. Dia tidak mau mencari masalah dengan istri orang. Apalagi melihat bodi suaminya yang jauh lebih gagah darinya. Ayumi tersenyum senang melihat Nalendra yang datang dan melindunginya. Walau kata-katanya terdengar biasa, namun nadanya tegas ditambah sorot mata tajam, berhasil membuat nyali Miko ciut. Berbeda dengan Kemal yang cuek saja ketika Ayumi digoda pria lain di depan matanya.
“Aku kira abang ngga akan negur tuh cowok ganjen,” seru Ayumi.
“Abang masih mengawasi aja tadi. Tapi ternyata tingkahnya makin meresahkan.”
“Makasih ya, bang. Udah lindungin aku.”
“Kamu istriku, sudah kewajibanku melindungimu. Lagi pula suami mana yang suka melihat istrinya digoda laki-laki lain.”
Wajah Ayumi bersemu merah mendengar ucapan Nalendra, padahal bukan gombalan. Namun tetap saja sukses membuatnya senang.
“Kamu mau latihan lagi, ngga?”
“Ngga ah, cape.”
“Ya udah, tunggu aja. Abang latihan sebentar lagi.”
Hanya anggukan kepala yang diberikan Ayumi. Matanya terus mengikuti langkah sang suami menuju squat rack. Nalendra terlihat semakin seksi ketika tengah mengangkat beban di tangannya. Pantas saja tubuh pria itu tegap dan berotot, ternyata dia rajin fitness. Ayumi jadi tidak sabar ingin melihat perut kotak-kotak suaminya. Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran nakal yang tiba-tiba saja melintas.
🍁🍁🍁
Acara syukuran pernikahan Nalendra dan Ayumi digelar di perkebunan. Farel mengundang semua karyawan dan juga warga di sekitar perkebunan untuk datang menikmati hidangan dan tentunya memberikan ucapan selamat pada pengantin baru. Tentu saja semua terkejut mendengar pernikahan yang terkesan mendadak ini. Namun begitu, mereka turut bahagia dengan pernikahan pria yang sehari-harinya selalu bersikap ramah pada siapa saja.
Barisan patah hati, tentu saja ada. Berita tentang banyaknya penggemar Nalendra di perkebunan, sudah menjadi rahasia umum. Dari mulai gadis, hingga janda muda banyak yang berlomba-lomba menarik perhatian Nalendra. Namun ternyata pilihan pria itu jatuh pada Ayumi, anak kedua dari Barra.
Para barisan patah hati menatap sendu ke arah pasangan pengantin yang pada kesempatan kali ini hanya mengenakan pakaian casual, alih-alih pakaian resmi. Nalendra terlihat tampan mengenakan kaos polo berwarna abu yang dipadankan dengan jeans hitam. Sedang Ayumi mengenakan dress selutut dengan lengan tiga perempat warna putih yang di bagian pinggirnya terdapat ornament hitam.
Walau kecewa melihat pria pujaan mereka menikah, namun mereka juga tidak bisa menafikkan apa yang ada dalam diri Ayumi. Cantik, ramah, berperilaku baik, memiliki bodi aduhai dan pastinya berasal dari keluarga terpandang. Cocok bersanding dengan Nalendra yang gagah, tampan dan juga ramah lingkungan.
“Istrina kang Nalen meni geulis kitu. Cocok pisan sareng kang Nalen (istrinya kang Nalen cantik banget. cocok banget sama kang Nalen),” puji salah seorang pemuja Nalendra.
“Duh ayeuna mah teu tiasa ngintun emameun deui. Sieun dipolototan ku istrina (sekarang ngga bisa ngirim makanan lagi. Takut dipelototin sama istrinya).”
“Kirim ka abi we, atuh hihihi.. (kirim ke saja aja).”
“Ih teu haying teuing (ogah banget).”
Terdengar suara tawa yang lainnya mendengar perdebatan kedua penggemar Nalendra tersebut. Sambil menikmati hidangan, mata mereka terus memandangi pengantin baru yang sedang berbincang dengan para sepupunya.
Semua sepupu dari kedua belah pihak memang datang. Yang sudah menikah, tentu saja datang dengan pasangannya masing-masing. Mata para jomblowati benar-benar dimanjakan dengan wajah tampan keturunan Hikmat yang masih jomblo. Ervano, Farzan, Sam, Firhan, Alden, Dipa dan Gilang tak luput dari perhatian mereka. Dikarenakan pria-pria tersebut terlihat bergerombol, bisa dipastikan kalau mereka belum memiliki pawang.
“Coba disurvey, dari para jomblo ini siapa yang dapet polling paling tinggi,” sahut Irzal.
“Gue yakin si Gilang di urutan paling buncit,” sambar Zar.
“Weh sekate-kate lo, bang. Gue ganteng gini ngga mungkin urutan buncit.”
“Tapi lo tuh modelan kaya belatung nangka. Pada ilfil cewek-cewek lihat elo, hahaha..”
Gilang hanya mendengus kesal saja mendengar ucapan Zar. Pemuda itu sengaja berjalan menuju meja yang menyajikan aneka kue basah. Sengaja dia melemparkan senyuman pada jomblowati yang ada di sana. Karuan saja terdengar kasak-kusuk para wanita itu. Gilang melihat jumawa pada Zar. Dia berhasil membuktikan pesonanya ternyata mempan untuk mantan fans Nalendra.
“Adek lo, Sam. Narsis abis, heran gue, dia refill di mana sih?”
“Ngga pernah direfill narsisnya. Full terus, ngga ada habisnya,” jawab Sam tak kalah absurd.
Gelak tawa langsung terdengar menyambut ucapan Sam. Sedang yang menjadi topik pembicaraan, sedang asik tebar pesona di antara para gadis juga janda. Gilang mengambil mic seraya berbincang dengan pemain organ tunggal yang disewa Farel. Tak lama kemudian dia mulai bernyanyi di hadapan para jomblowati.
“Abang pilih yang mana? Perawan atau janda? Perawan lebih menawan, janda lebih menggoda.”
“Asik..”
“Hobah..”
Mendengar musik dan suara merdu Gilang, sontak saja semua ikut bergoyang. Tak terkecuali para jomblowati. Para bapak juga ikut bergoyang. Mengambil kesempatan mepet-mepet pada Hasna, janda kembang nan bahenol yang paling terkenal di daerah ini.
“Kalau Abang pilih perawan. Masih muda, masih segelan. Belum disentuh orang. Belum berpengalaman.”
Gilang mendekat pada barisan gadis muda saat menyanyikan lirik ini. Mereka asik bergoyang mengikuti irama musik. Untuk bait selanjutnya, Gilang segera menuju deretan para janda. Dia mendekati bu Juriah, janda paling senior di sini. Usianya sudah 65 tahun. Dia memeluk bahu wanita tua itu.
“Kalau Abang pilih janda. Sudah pasti lebih dewasa. Sudah bermain cinta. Banyak pengalamannya. Betul nek?” Gilang melihat pada Juriah.
“Si kasep bisa wae. Nini mah tos seeur pangalaman, hihihi.. (si cakep bisa aja. Nenek mah udah banyak pengalaman).”
CUP
Mata Gilang membulat ketika mendapat ciuman di pipi dari Juriah. Semua yang ada di sana terbahak melihatnya. Zar sampai memegangi perutnya karena tidak berhenti tertawa. Bukannya kapok, Gilang malah makin menjadi. Dia memegang tangan Juriah ke atas, kemudian memutar tubuhnya.
“Woii Gilang! Ati-ati tar semaput neneknya!” teriak Zar.
“Kalau pingsan tanggung jawab kasih nafas buatan, lo!” lanjut Arya.
“Hahaha..”
__ADS_1
Sementara itu, di bagian lain, Zahra hanya menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia malu melihat kelakuan anak bungsunya yang ajaib.
“Ngga usah malu, Ra. Wajar kalau Gilang kaya gitu. Tuh bapaknya kan modelan kompor mledug,” seru Barra seraya terkekeh.
“Pas hamil si Gilang, pasti kamu sebel banget ya sama si Nan. Makanya kelakuannya plek ketiplek,” timpal Nara.
“Ngga apa-apa, orang ganteng emang harus rada gila dikit biar yang suka tambah klepek-klepek. Coba tanya, siapa yang punya penggemar paling banyak, bang Ken apa aku? Pasti jawabannya Kenan, hahaha.." seru Kenan jumawa.
Semua hanya menggelengkan kepalanya saja. Ternyata sampai saat ini kenarsisan dan kepedean Kenan tidak pernah luntur. Dan dilestarikan dengan menurunkannya pada Gilang. Acara syukuran pernikahan menjadi semakin meriah dengan aksi Gilang.
🍁🍁🍁
Kemeriahan syukuran dari pagi hingga sore hari akhirnya berakhir sudah. Semua keluarga pun kembali ke Bandung, meninggalkan pasangan pengantin baru yang akan menginap di Ciwidey karena Nalendra masih harus mengurus pekerjaan di perkebunan. Sebelum pulang, Barra menitipkan anaknya pada sang menantu.
Suasana di kediaman Nalendra nampak sepi. Pasangan pengantin sudah masuk ke dalam kamar. Ayumi mendudukkan diri di atas ranjang sambil bersandar ke headboard ranjang, sementara Nalendra masih berada di belakang meja kerjanya. Mata Ayumi terus memandangi suaminya yang masih menyelesaikan tugas kuliahnya.
“Abang mau aku buatin minuman?” tawar Ayumi.
“Ngga usah, Ay. Sebentar lagi abang selesai kok.”
Lima menit berselang, pekerjaan Nalendra selesai. Pria itu merentangkan tangannya, kemudian menyandarkan punggung ke kursi kerjanya. Matanya melihat pada Ayumi yang masih memperhatikannya sedari tadi. Tangannya melambai, meminta sang istri untuk mendekat. Ayumi bangun dari duduknya kemudian mendekati suaminya.
“Mau duduk di sini?” Nalendra menepuk pahanya.
Malu-malu Ayumi duduk di pangkuan Nalendra. Tangan pria itu langsung memeluk pinggag sang istri. Wajah keduanya berdekatan, bahkan Ayumi bisa merasakan hembusan nafas suaminya. Tangan Nalendra terangkat, kemudian merapihkan anak rambut gadis di pangkuannya.
“Sepertinya abang harus bertemu dengan Kemal.”
“Mau ngapain, bang?”
“Mau bilang terima kasih, karena sudah melepas gadis sebaik dan secantik kamu. Karena kebodohannya, abang bisa mendapatkanmu.”
“Aku sebal sama dia. Tapi kalau dia ngga pergi di hari pernikahan, kita ngga mungkin menikah. Jadi, ya aku bersyukur aja atas semua yang terjadi.”
“Sepulang dari sini, kita beli cincin nikah, ya. Biar orang lain tahu kalau kamu sudah ada yang punya.”
“Abang juga harus pakai. Supaya ngga ada yang berani lirik-lirik abang lagi,” Ayumi memberanikan diri memeluk leher suaminya.
CUP
Sebuah kecupan diberikan Nalendra di bibir sang istri. Hal yang sudah ingin dilakukannya sejak tadi pagi. Namun terpaksa harus ditundanya karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Memerah wajah Ayumi mendapat kecupan singkat itu.
“Abang suka fitness, ya?” mencoba menghilangkan groginya dengan menanyakan hal lain.
“Iya. Kenapa?”
“Ngga apa-apa. Pantes badan abang bagus. Pasti perut abang kotak-kotak. Jadi pengen lihat, uuppsss.”
Refleks Ayumi menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia merutuki mulutnya yang keceplosan. Nalendra melepaskan tangan Ayumi dari mulutnya, kemudian kembali mengecup bibir ranum itu. Kali ini dia menyambung dengan memberi sesapan kecil di bibir itu.
“Kamu mau lihat perut abang?”
Goda Nalendra begitu ciumannya berakhir. Kepala Ayumi mengangguk, kemudian menggeleng dengan cepat. Terdengar tawa kecil Nalendra yang gemas melihat tingkah istrinya.
“Ay.. kita belajar biologi yuk.”
“Belajar apa, bang?”
“Belajar anatomi tubuh.”
Kembali wajah Ayumi memerah mendengar ucapan nyeleneh suaminya. Dia membenamkan kepalanya ke dada sang suami.
“Katanya kamu mau lihat perut abang.”
Kepala Ayumi menggeleng kencang. Dia tidak berani mengangkat wajahnya, terlalu malu melihat Nalendra yang terus menggodanya. Ayumi terpekik ketika tiba-tiba Nalendra bangun sambil menggendongnya. Posisi Ayumi kali ini persis seperti anak koala yang nemplok di ibunya.
Pelan-pelan Nalendra membaringkan Ayumi di kasur. Kemudian pria itu melepas kaos yang dikenakannya. Tubuhnya yang kekar dan perut kotak-kotak hasil latihan langsung terpampang nyata di hadapan Ayumi. Jantung gadis itu berdegup kencang melihat tubuh kekar di hadapannya.
Nalendra meraih tangan Ayumi, kemudian meletakkan di atas perutnya. Jantung Ayumi berdetak tak karuan ketika tangannya meraba roti sobek di perut suaminya. Namun gadis itu terus menggerakkan tangannya, meraba perut sexy itu.
“Kamu kan udah lihat badan abang. Sekarang gantian abang yang lihat badan kamu, ya.”
“Ngga!”
Tanpa sadar Ayumi menghalangi dadanya dengan kedua tangan. Nalendra tertawa melihat tingkah istrinya. Dia memakai kembali kaos yang dikenakannya, lalu berbaring di samping sang istri.
“Udah malam, ayo tidur.”
“Abang ngga jadi mau lihat?”
“Nanti aja. Kalau abang lihat sekarang, nanti abang ngga kuat iman. Kamu pasti cape banget hari ini, jadi kita tidur aja.”
Kepala Ayumi mengangguk pelan. Padahal tadi Ayumi sudah ketar-ketir kalau Nalendra akan meminta haknya malam ini. Syukurlah pria itu mau menundanya. Bukannya Ayumi tidak mau melayani suaminya, hanya dia masih takut. Konon katanya begitu selaput tipis miliknya robek, rasa sakitnya luar biasa.
Nalendra menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Harum aroma tubuh sang suami yang maskulin langsung masuk ke indra penciuman Ayumi. Tangan Nalendra bergerak mengusap punggung istrinya. Mata Ayumi mulai terpejam. Tubuhnya benar-benar lelah malam ini. Gadis itu tidak butuh waktu lama untuk masuk ke alam mimpi.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Jiaaahhh Nal modus ngajak belajar anatomi tubuh🤭