
“Bang.. ada yang mau aku omongin,” ujar Vanila begitu melihat Rakan sudah menghabiskan makannya.
“Soal apa?”
“Kalau kita udah nikah, bisa ngga selama sebulan kita tinggal terpisah dulu. Aku tetap tinggal di rumah ini, begitu juga abang tinggal di rumah orang tua abang.”
“Kenapa?”
Jujur saja Rakan terkejut mendengar permintaan Vanila. Dirinya seperti sedang menjalani pernikahan gantung saja. Vanila membasahi dulu tenggorokannya dengan air putih agar penjelasannya dapat lancar keluar.
“Seperti yang abang bilang kalau udah nikah, kita bisa pacaran dengan halal. Nah aku pengen ngerasain masa pacaran itu dalam arti sebenarnya. Kita tinggal terpisah, abang datang ngapelin aku terus nganterin aku pulang. Kaya gitu bang, sebulan aja aku pengen ngerasain pacaran kaya orang lain.”
Untuk sesaat Rakan hanya terbengong saja mendengar penuturan Vanila. Jika secara pribadi, dia bisa saja menuruti kemaunan gadis itu. Tapi dia juga harus mempertimbangkan keluarganya. Mamanya mungkin akan bertanya-tanya mengapa mereka harus tinggal terpisah setelah menikah, padahal mereka tinggal di kota yang sama. Dirinya sudah membayangkan banyak pertanyaan yang akan menerpanya jika mereka tinggal terpisah untuk sementara.
“Bang..” panggilan Vanila membuyarkan lamunan Rakan.
“Permintaan kamu aneh. Kalau sudah menikah, ya sudah seharusnya kita tinggal bersama. Apalagi aku juga kerja di sini, bukan di luar kota. Jadi tidak ada alasan untuk tinggal terpisah. Bagaimana nanti kalau keluarga kita bertanya-tanya?”
“Aku bakal bilang sama mama dan papa. Abang juga bilang sama keluarga abang. Cuma sebulan aja, bang. Setelah itu kita tinggal bareng. Mau ya, bang?”
Cukup lama Rakan memandangi wajah Vanila. Akhirnya pria itu menganggukkan kepalanya. Senyum Vanila terbit melihatnya. Sejak mantap menerima Rakan sebagai imam hidupnya, dia sudah memikirkan soal ini. Tinggal terpisah untuk sementara waktu dan merasakan sensasi pacaran seperti kebanyakan pasangan lain, adalah hal yang ingin dilakukan gadis itu.
Berbeda dengan Vanila yang nampak senang, Rakan justru dibuat pusing. Dirinya pasti akan diberondong pertanyaan dari keluarganya. Tapi di sisi lain dia juga mengerti, Vanila yang masih muda, pasti masih ingin merasakan hal-hal yang beum pernah dialaminya, salah satunya pacaran.
“Makasih ya, bang. Aku cuma minta waktu sebulan aja. Setelah itu aku akan menjadi istri yang baik buat abang. Makasih ya, bang.”
Hanya anggukan yang bisa diberikan oleh Rakan. Memang benar apa yang pernah Aidan katakan padanya, menikahi wanita dari keluarga Hikmat maka harus siap menerima sikap mereka yang ajaib. Kini dia bisa merasakan sediri begitu mendengar permintaan nyeleneh calon istrinya.
“Untuk maharnya, kamu mau apa?”
“Apa ya?”
“Jangan minta yang aneh-aneh.”
“Hehehe.. ngga, bang. Nanti aku semedi dulu deh. Janji ngga akan aneh, paling sedikit langka aja.”
Sebuah senyuman diberikan Vanila setelah mengatakan hal tersebut. Rakan hanya mampu menepuk keningnya. Resiko menikahi wanita muda yang mungkin pikirannya masih labil ya seperti ini. Tapi lagi-lagi Rakan tak bisa menolak. Semua karena rasa cintanya pada gadis itu.
Usai makan malam bersama dan berbincang santai, Reyhan beserta anak dan istrinya berpamitan. Viren dan Alisha mengantarkan keluarga calon besannya sampai di depan mobil mereka, begitu pula dengan Vanila. Sebelum masuk ke dalam mobil, Ayunda melihat pada Daffa.
“Daf.. yakin ngga mau sekalian? Mumpung kita di sini, rumahnya juga cuma keseling dua rumah. Biar sekalian mama sama papa capenya.”
“Astaga, mama.”
“Hahaha…”
Terdengar tawa yang lain melihat reaksi Daffa. Pria itu segera naik ke dalam mobil sebelum godaan demi godaan datang padanya. Namun baru saja dia mendudukkan diri di kursi penumpang bagian belakang, sebuah ketukan di kaca jendela terdengar. Daffa membuka kaca jendela, matanya membulat melihat Geya tengah melemparkan senyuman manis padanya.
“Geya..”
“Bang Daffa kok ngga bilang mau ke rumah grandpa. Kalau bilang aku kan bisa ikutan nimbrung.”
“Mau ngapain ikutan nimbrung?”
“Minta kakek Abi sama daddy ngelamar abang buat aku.”
__ADS_1
Untuk sesaat Daffa memandangi wajah Geya yang tengah mesam-mesem padanya. Kemudian tawanya terdengar, diusaknya puncak kepala gadis itu. Tingkah Geya memang sering membuatnya gemas. Ada saja ucapan atau tingkahnya yang membuat dirinya terkejut.
“Kamu beresin kuliah dulu, baru mikirin nikah. Magang, nyusun skripsi dan wisuda. Daddy pasti pengen lihat kamu pake toga.”
"Aku udah pernah pake toga, bang. Pas lulus TK juga pake toga, hehehe..."
Daffa hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Geya. Aneh tapi memang benar. Sekarang bukan hanya sarjana aja yang memakai toga saat kelulusan.
“Abang mau nunggu aku sampe aku beres kuliah?”
“Residenku juga belum beres. Aku juga mau lanjut ambil fellowship, aku masih harus belajar. Jadi.. kita sama-sama beresin studi kita dulu, ok?”
“Abang suka ngga sama aku?”
“Aku suka sama kamu. Kamu anaknya ceria, supel dan ajaib.”
“Kalau cinta?”
“Soal itu abang akan jawab kalau kamu udah beresin kuliah. Deal?”
“Deal!”
Geya menyambut tangan Daffa kemudian bersalaman, tanda sepakat dengan apa yang dikatakan pria itu tadi. Pegangan tangan keduanya terlepas ketika mendengar deheman Ayunda. Ternyata sang mama sudah duduk di sampingnya.
“Mama.. eh tante,” sapa Geya.
“Panggil mama aja. Mama lebih suka panggilan itu.”
Senyum terbit di wajah Geya. Hatinya benar-benar bahagia ternyata Ayunda tidak keberatan dirinya memanggil mama. Kepalanya terangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan calon mama mertuanya.
“Kita pulang dulu, ya. Kamu sering-sering main ke rumah. Nanti kita masak bareng makanan kesukaan Daffa,” ujar Ayunda.
Daffa hanya memutar bola matanya mendengar ucapan sang mama. Geya melambaikan tangannya saat mobil yang dikendarai Rakan mulai bergerak meninggalkannya. Di belakangnya kendaraan Aqeel juga ikut beregrak. Geya melambaikan tangannya pada Iza. Alisha mendekati keponakannya yang datang tanpa diundang.
“Kamu ngapain ke sini? Mau ketemu Daffa ya?”
“Iya, ma. Mama ngga bilang-bilang kalau kak Ila mau lamaran. Kan aku bisa ikutan nebeng.”
“Emang Daffanya udah mau?”
“Udah. Dia bilang suka sama aku tadi.”
“Suka bukan cinta loh,” sambar Vanila.
“Bang Daffa juga bilang bakal bilang cinta ama aku kalau aku udah beres kuliah.”
“Bilang cinta apa kasih jawaban soal pernyataan cinta kamu?”
“Jawab perasaan aku, hehehe.. tapi tenang aja. Sebelum itu tiba, aku akan buat bang Daffa cinta sama aku, lihat aja. Kalau ngga, jangan sebut namaku Geya,” ujar Geya dengan penuh kepercayaan diri.
“Terus mau dipanggil apa?” tanya Alisha.
“Jaran kepang, hahahaha…”
Geya mencebikkan bibirnya mendengar jawaban Vanila. Alisha juga tidak bisa menahan tawanya. Anak dari Kenan ini memang ajaib, dia mewarisi sikap percaya dirinya Kenan, dan jangan lupakan tingkahnya yang ajaib, semua menurun dari sang daddy.
__ADS_1
“Aku pulang dulu mama, papa.”
Geya mencium punggung tangan Alisha dan Viren. Kemudian sambil bernyanyi-nyanyi kecil dia berjalan menuju rumahnya yang hanya berselang dua rumah saja dari kediaman Juna. Wajahnya penuh dengan senyuman mengingat percakapannya tadi dengan Daffa.
“I’m falling in love. My dreams are coming true. I’m falling in love. I’m falling, falling for you.”
Terdengar suara merdu Geya menyanyikan lirik lagu yang dipopulerkan jauh sebelum dirinya ada. Lirik lagu yang menggambarkan perasaannya saat ini. Dirinya sungguh berharap bisa menjadi pendamping hidup dokter ganteng yang menjadi incarannya.
🍁🍁🍁
Sabtu pagi Abi bersiap untuk pergi. Hari ini rencananya dirinya, Juna, Jojo, Cakra dan Kevin akan berangkat ke Jakarta. Arya yang akan menemani para tetua berangkat menuju kota yang sampai saat ini masih menyandang status sebagai ibu kota negara Indonesia tercinta. Sesuai janji pria itu pada Shifa yang akan menonton pertandingan secara langsung jika wanita itu bisa sampai ke semifinal.
Dua buah kendaraan sudah siap untuk membawa pandawa lima. Mobil pertama disupiri oleh Arya, sedang mobil kedua disupiri Elvano, anak sulung Ezra. Abi, Cakra dan Jojo ikut di mobil Arya, sedang Kevin dan Juna di mobil Elvano. Mereka ketambahan personil, yakni Anfa. Arya berhasil mengajak kakek yang paling muda untuk ikut menjadi tim suporter kemenangan untuk Shifa.
Setelah berpamitan dengan semua keluarga, kedua kendaraan tersebut mulai meninggalkan kediaman Abi. Selama dalam perjalanan, Abi, Jojo dan Cakra tidak henti-hentinya memberikan dukungan pada Arya untuk terus mengejar Shifa. Apalagi Cakra dan Jojo, karena Arya adalah hasil kolaborasi anak-anak mereka.
Di bagasi mobil juga sudah tersedia aneka perlengkapan untuk mendukung Shifa. Ada balon tepuk, stand banner dan tidak lupa kaos bertuliskan nama Shifa di bagian belakangnya. Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik oleh Arya. Pria itu yakin kalau Shifa akan menjadi pemenang di turnamen super 1000 yang menyediakan hadiah paling besar di antara yang lain.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam lebih, akhirnya mereka tiba di Jakarta. Arya sengaja memilih hotel yang dekat dengan Gelora Bung Karno, tempat dilaksanakan pertandingan. Kebetulan sekali mereka menginap di hotel yang ada dalam naungan Rakan Putra Group.
Sebelum menuju gelora Bung Karno, terlebih dulu mereka beristirahat di hotel untuk makan siang dan juga shalat dzuhur. Pertandingan Shifa sendiri baru akan berlangsung pukul empat sore, jadi mereka masih memiliki waktu istirahat yang cukup. Arya sudah tidak sabar untuk melihat wanita pujaannya bertanding.
🍁🍁🍁
Usai shalat ashar, Arya bersama rombongan langsung berangkat menuju Gelora Bung Karno. Tiket untuk menonton pertandingan semifinal sudah dibeli olehnya. Jadi mereka hanya tinggal masuk saja. Di tangan Arya dan Elvano terdapat tas yang berisikan peralatan untuk memberi semangat pada Shifa.
Sorak sorai penonton langsung menyapa indra pendengaran mereka ketika masuk ke dalam lapangan. Mereka segera menuju kursi yang sudah dipesan sebelumnya. Saat ini masih berlangsung pertandingan ganda campuran. Tim Indonesia melawan tim Thailand. Bunyi suara balon tepuk yang disusul teriakan INDONESIA terus terdengar.
Elvano membantu Arya memasang stand banner yang menampilkan wajah Shifa. Di bawahnya terdapat tulisan besar GO GO SHIFA, MY LOVELY WOMAN. Abi, Juna, Cakra, Jojo, Kevin dan Anfa sudah memakai kaos dan syal bertuliskan nama Shifa. Jangan lupakan balon tepuk di tangan mereka semua.
Setelah selesai memasang stand banner di dekat kursi mereka. Arya dan Elvano segera duduk di kursi masing-masing. Mereka ikut memberi semangat pada tim Indonesia yang sedang bertanding. Suara gemuruh langsung terdengar ketika akhirnya tim ganda campuran Indonesia berhasil memenangkan pertandingan setelah melalui pertandingan ketat sebanyak tiga set.
Kini pertandingan selanjutnya akan segera dilangsungkan. Dari arah pintu tempat keluarnya pada atlit, nampak Shifa keluar dengan menggendong tas yang berisi peralatan bertandingnya. Arya langsung berteriak kencang, namun sayang teriakannya tertelan oleh suara para supporter lain.
Shifa terus berjalan menuju tempatnya. Dia meletakkan tas yang digendongnya, lalu mengeluarkan raket, handuk dan juga minuman. Azriel mendekati putrinya. Sebelum bertanding dia memberikan arahan apa yang harus dilakukan oleh sang anak. Apalagi kali ini Shifa akan menghadapi ranking tiga dunia yang berasal dari Jepang. Tak lupa pria itu meminta sang anak untuk berdoa.
Setelah meneguk sedikit minuman yang dibawanya, Shifa masuk ke dalam lapangan untuk melakukan pemanasan. Arya kembali berteriak kencang dan kali ini berhasil menarik perhatian Shifa. Wanita itu hanya terbengong melihat Arya yang berdiri di dekat stand banner yang memperlihatkan foto dirinya. Tulisan di bawahnya cukup membuatnya salfok.
Wanita itu semakin dibuat tercengang saat secara kompak pandawa lima plus Anfa berbalik dan memperlihatkan nama di kaos yang mereka kenakan. SHIFA CALON CUCU MANTU. Di tangan mereka juga sudah terdapat balon tepuk dengan tulisan sama. Arya dan Elvano membentangkan syal dengan tulisan sama sambil berteriak kencang.
“GO SHIFA GO!” teriak Arya.
“SHIFA KAMU PASTI BISA!,” Elvano.
“SEMANGAT MENANG SHIFA!” Anfa.
“SHIFA PASTI JUARA!” Juna.
“JANGAN KASIH KENDOR, SOSOR ARYA!!” Abi.
“CUCU MANTU PASTI BISA!” Cakra.
“HABIS INI LANGSUNG KE KUA!” Jojo.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Suporter yang dibawa Arya luar biasa ya🤣
Segini dulu aja ya, aku mau anter anak ke dokter gigi dulu😉**