Hate Is Love

Hate Is Love
Duda & Gadis


__ADS_3

Seminggu setelah pernikahan Tamar dan Stella, pernikahan kedua dilangsungkan. Pasangan Dayana dan Rafa kini bersiap bertemu dengan penghulu untuk mengikat janji suci. Perhelatan pernikahan kali ini diadakan di hotel Yudhistira.


Nuansa serba putih menghiasi ballroom hotel bintang lima tersebut. Meja akad sudah siap di dekat panggung pelaminan. Di sana sudah duduk penghulu, Ravin, Rafa, Kenzie dan Reyhan selaku saksi dari pihak Rafa. Semuanya sudah siap untuk melakukan prosesi ijab Kabul.


Penghulu yang menikahkan pasangan Dayana dan Rafa bukanlah penghulu yang menikahkan Stella dan Tamar dahulu. Penghulu kali ini usianya masih muda, baru 26 tahun dan baru tiga tahun bertugas di kantor urusan agama.


“Nama pengantin pria Rafardhan Syahreza, umur 33 tahun, status duda. Nama pengantin wanita, Dayana Nerissa, umur 22 tahun, status gadis. Betul?”


“Iya,” jawab Ravin.


“Duh akang Rafa tos bade mindo, ai abe masih jomblo, kumaha atuh? (aduh kang Rafa udah mau dua kali, kalau saya masih jomblo, gimana atuh?).”


Ucapan sang penghulu sontak mengundang tawa semua yang hadir. Rafa sendiri hanya mengulum senyum saja. Sang penghulu yang akan menikahkannya usianya memang masih di bawah dirinya.


“Sok langsung dimulai aja. Pasti sudah hafal ya tata caranya.”


Sang penghulu segera memulai acara ijab kabul. Ravin langsung menggenggam erat tangan Rafa. Nampak calon menantunya itu menarik nafas panjang ketika tangannya tergenggam. Walau ini adalah pernikahan keduanya, namun tetap membuat pria itu gugup.


“Ananda Rafardhan Syahreza, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Dayana Nerissa binti Ravindra Arkana Sanjaya dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan gelang emas seberat 25 gram dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Dayana Nerissa binti Ravindra Arkana Sanjaya dengan mas kawin tersebut tunai!”


Dengan satu tarikan nafas, Rafa berhasil menjawab ijab yang dilontarkan oleh Ravin. Pria itu menghembuskan nafas lega begitu selesai mengatakannya tanpa jeda dan tanpa salah.


“Bagaimana para saksi? Sah?”


“Saaaahhhh!!”


Jawaban Kenzie dan Reyhan teredam dengan teriakan dari pihak keluarga yang melihat jalannya ijab kabul. Sontak semua langsung mengucapkan hamdalah bersama-sama. Rafa mengusap wajah dengan kedua tangannya tanda syukur.


“Pak dokter lancar ijabnya, ngga kaya pakpol!” celetuk Zar.


Celetukan Zar langsung mendapat pelototan dari Tamar dan mengundang gelak tawa lainnya. Rafa hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Zar. Sepertinya mulai saat ini dia harus mulai terbiasa mendengar kata-kata nyeleneh dari keluarga Hikmat.


“Aseeekkk pak dokter bisa buka puasa,” ujar Aqeel.


Kompak semua mata langsung memandang pada Aqeel. Tak biasanya pria itu melontarkan kalimat seperti itu. Sang pelaku hanya tertawa saja melihat ekspresi bingung yang lainnya. Sedang Rafa jangan ditanya lagi, wajahnya sudah memerah seperti udang rebus.


Dari kanan Rafa, Dayana muncul didampingi oleh Freya dan Nara. Ketiga wanita cantik itu terus berjalan menuju meja akad. Jantung Rafa langsung berdegup kencang melihat Dayana yang terlihat begitu cantik dalam balutan kebaya putih. Wanita itu didudukkan di samping Rafa.


Bukan hanya Rafa yang terpesona, tapi penghulu yang masih berstatus jomblo pun tak kalah terpesonanya melihat mempelai wanita yang begitu cantik. Rafa sampai harus berdehem demi mengalihkan perhatian penghulu tersebut. Pria itu tersenyum kikuk, kemudian melanjutkan tugasnya.


“Silahkan dipasang cincin pernikahannya,” ujar sang penghulu.



Rafa mengambil cincin yang ada di atas meja, kemudian memasangkannya ke jari manis Dayana. Tangan Dayana mengambil cincin yang tersisa, kemudian memasangkan ke jari Rafa. Wanita itu kemudian mencium punggung tangan suaminya setelah memakaikan cincin. Sebuah kecupan diberikan Rafa ke kening Dayana sebagai balasannya.


Wajah Dayana memerah saat merasakan ciuman pertamanya dari sang suami. Jantung Rafa pun tak kalah ikut berdegup kencang. Keduanya lalu menandatangani buku pernikahan dan mengambil foto berdua dengan gaya yang diarahkan sang fotografer. Sang penghulu meneruskan tugasnya memberikan tausyiah tentang hak dan kewajiban suami istri. Kedua pengantin mendengarkan dengan serius.


Usai acara ijab kabul, acara dilanjutkan dengan pemberian wejangan dari para tetua. Ravin memeluk anak gadis satu-satunya ini. Rasanya berat harus melepaskan putri kesayangannya secepat ini. Apalagi Rafa akan langsung mengajaknya tinggal bersama di rumahnya.


“Anak papa sudah besar. Sekarang suamimu yang mengambil tanggung jawab papa. Jadilah istri solehah, ingat sekarang suamimu adalah prioritas utama dalam hidupmu.”


“Iya, papa,” suara Dayana terdengar tercekat.


“Kalau kamu ada masalah, jangan segan datang pada papa. Sampai kapan pun papa adalah papamu dan akan menjadi orang pertama yang akan membelamu.”


Dayana hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Dia sudah tak mampu berkata-kata lagi. Airmatanya sudah meluncur bebas membasahi pipinya. Kemudian gadis itu menghampiri sang mama yang juga sudah berkaca-kaca matanya.


“Mama doakan semoga rumah tanggamu senantiasa dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan. Mama percaya pilihanmu, jalanilah tugasmu sebagai istri dengan baik. Doa mama akan selalu menyertaimu.”


“Makasih, mama.”


Hanya pelukan yang dapat diberikan Dayana. Dia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Rafa yang berdiri di dekatnya juga hanya bisa terdiam. Ravin menghampiri Rafa kemudian menepuk pundak menantunya itu.


“Papa titip Aya. Sayangi dan jaga dia seperti kami menyayangi dan menjaganya.”

__ADS_1


“Iya, pa.”


“Kalau Aya melakukan salah, tegur dan nasehati dia dengan kata-kata yang baik,” sambung Freya.


“Iya, ma.”


Rafa mengulurkan tangannya pada Dayana, kemudian mengajak istrinya itu untuk menemui kedua orang tuanya. Ibunda Rafa memeluk Dayana dengan erat. Dia sangat bersyukur Dayana bisa membuka hati Rafa, hingga sang anak mau melanjutkan hidupnya yang sempat terhenti sejak kematian istrinya. Begitu pula dengan ayah Rafa yang bahagia melihat pernikahan kedua anak lelakinya.


Mertua Rafa yang ikut hadir juga turut memberikan nasehatnya pada pengantin baru tersebut. Diana yang sangat menyayangi Rafa berharap pernikahan kedua menantunya ini akan menjadi pernikahan terakhirnya.


“Cepat berikan mama cucu,” ujar Diana seraya melepaskan pelukannya dari Dayana.


“In Syaa Allah, ma,” jawab Dayana malu-malu.


Setelah suasana mengharu biru mendengar nasehat dari kedua orang tua kedua pengantin, Dayana langsung menghambur ke arah Kevin. Gadis ini menangis dalam pelukan opanya. Kevin adalah orang pertama yang menyetujui hubungannya dengan Rafa dan mendukungnya.


“Opa.. makasih..”


“Iya, sayang. Opa bahagia, kamu bisa menikah dengan laki-laki yang kamu inginkan. Rafa, tolong jaga cucu opa.”


“Iya, opa.”


Usai menemui Kevin, Dayana menghampiri Abi. Gadis itu juga tahu, sang kakek banyak berperan dalam hubungannya dengan Rafa. Dia memeluk kakek dari pihak sang ibu dengan erat.


“Kakek.. makasih..”


“Iya, sayang. Kakek doakan kamu bahagia selalu dengan pria pilihanmu. Dan jangan lupa cepat kasih kakek cicit. Rafa.. jangan kasih kendor ya.”


“I.. iya, kek,” jawab Rafa dengan canggung dan wajah memerah. Nina menepuk pelan pundak suaminya yang tanpa saringan jika berbicara.


Setelah berterima kasih pada Kevin dan Abi, Dayana segera menghampiri Rena. Wanita itulah yang menjadi kunci kesuksesan hubungannya dengan Rafa. Berkat ide briliannya, dia bisa membuat Rafa bertekuk lutut di hadapannya. Rena menyambut Dayana lalu memeluknya.


“Nenek.. makasih. Tanpa bantuan nenek, ini ngga akan terjadi.”


“Semua sudah kehendak Allah. Jodohmu memang Rafa, nenek hanya membuka jalan saja. Sekarang kalian sudah menikah, jalanilah kewajiban kalian masing-masing dengan baik. Teruslah saling mencintai, landasi rumah tangga dengan kepercayaan.”


Selesai berurusan dengan para tetua, kini giliran saudara sepupunya yang memberikan ucapan selamat. Arsy memeluk Dayana cukup lama. Dia dan Stella menjadi saksi bagaimana jungkir baliknya sang sepupu demi bisa meluluhkan hati Rafa. Stella juga langsung memeluk Dayana setelah Arsy mengurai pelukannya.


“Nah sekarang tinggal tunggu nih, cebong siapa yang netes duluan,” celetuk Arsy.


“Beuh.. mentang-mentang cebongnya bang Irzal udah netes, songong dia, Ay,” celetuk Stella.


“Kalau kataku kayanya cebong dokter Rafa duluan yang netes,” ujar Aqeel.


“Kok bisa?” protes Stella.


“Suami kamu kan rada dongo, Stel,” ceplos Irzal yang langsung mendapat toyoran dari Tamar.


Gelak tawa kembali terdengar. Semua langsung bersahutan melontarkan celetukan absurd yang membuat wajah Rafa dan Dayana memerah. Rakan yang biasanya diam pun ikut menggoda pasangan pengantin baru tersebut.


“Aku megang pak dokter yang netes duluan cebongnya, secara udah pengalaman. Kalo Tamar masih nyari-nyari lokasi cebongnya, hahaha…”


“Bener. Syukur-syukur ngga nyasar, hahaha..” sambung Daffa.


“Heleh ikutan komen, jomblo juga,” cetus Tamar sambil melihat pada Daffa.


“Biar jomblo, kalau urusan begituan itu mah naluri lelaki, bang. Hahaha…”


“Bentar-bentar.. emang si Tamar udah jebol gawang?” tanya Irzal dengan wajah meledek.


“Nah harus dipertanyakan tuh. Secara pas malam pertama, bukannya jebol gawang malah ngejar napi, hahaha…” Zar.


“Udah gitu pake keserempet mobil juga, hahaha..” Aidan.


“Eh tapi kan waktu di rumah sakit dimandiin sama Stella. Pastilah udah kenalan.”


Ucapan Daffa sukses membuat wajah Stella dan Tamar memerah. Pasangan pengantin baru tersebut dibuat mati kutu oleh dokter muda, rekan Arsy di IGD. Rafa juga tak bisa menahan tawanya melihat wajah Tamar yang terlihat kesal bin gondok.

__ADS_1


Puas menggoda Tamar, kini bola panas mulai bergulir pada pasangan Rafa dan Dayana. Para lelaki mulai bergantian mengeluarkan celetukan-celetukan absurd.


“Dok.. nanti pas buka puasa pelan-pelan ya. Maklum, pengantin perempuannya masih perawan ting ting,” Rakan.


"Bener, dok. Alon-alon asal kelakon, yang penting sampai tujuan," Irzal.


"Satu ronde aja dulu, yang penting durasinya panjang, hahaha.." Aqeel.


"Ngga perlu tissu magic kan? Hahaha," Zar.


"Welcome to the club bro," Tamar menepuk pundak Rafa, memberikan dukungan akan nasib Rafa yang sama seperti dirinya.


Dayana menarik tangan suaminya untuk menjauh dari komplotan durjana tersebut. Dia mengajak Rafa mengisi perut dahulu sebelum berganti pakaian untuk acara resepsi nanti.


🍁🍁🍁


Selesai makan bersama keluarga, pasangan pengantin dipersilahkan kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Keduanya masuk ke kamar masing-masing yang letaknya bersebelahan. Nuanasa serba putih masih diusung kedua mempelai, mereka memilih pakaian berawarna putih untuk resepsi pernikahan.



Gaun putih panjang nan elegan sudah tersedia untuk Dayana. Dua orang penata rias membantunya berganti pakaian. Dayana terlihat cantik bak putri dari kahyangan mengenakan dress pengantin tersebut.



Sementara itu di kamar sebelah, Rafa dengan dibantu adik sepupunya juga tengah mengenakan tuxedo dengan warna putih, senada dengan gaun pengantin yang dikenakan oleh Dayana.


Pria itu mematut dirinya di depan cermin, memastikan kalau tidak ada yang kurang dari penampilannya sekarang. Kedua jempol sepupunya terangkat menandakan kalau penampilan dokter spesialis bedah jantung tersebut sudah maksimal. Kedua pria itu segera meninggalkan kamar. Rafa meminta saudara sepupunya lebih dulu pergi ke ballroom, sedang dirinya hendak menjemput sang istri di kamar sebelah.


Tangan Rafa terangkat memijit bel yang ada di sisi pintu. Tak berapa lama pintu terbuka, salah satu penata rias mempersilahkan Rafa untuk masuk. Nampak Dayana sudah selesai mengenakan gaun pengantinnya. Rambutnya yang dicepol sederhana membuat sang istri terlihat begitu cantik.


“Sudah selesai?” tanya Rafa.


“Tinggal memakaikan tiara aja, pak.”


“Biar saya saja.”


Sang penata rias hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia memberi kode pada teman yang satunya untuk keluar dari kamar. Untuk sejenak Rafa hanya memandangi wajah cantik istrinya yang berdiri di hadapannya. Perlahan kakinya bergerak mendekati Dayana. Diambilnya tiara yang ada di atas nakas, lalu memakaikannya ke kepala sang istri.



“Cantik.. sudah seperti putri raja,” puji Rafa.


“Mas juga ganteng, seperti pangeran.”


Senyum keduanya mengembang mendengar pujian yang keluar dari mulut masing-masing. Rafa meraih kedua bahu Dayana, kemudian mendaratkan ciuman di kening istrinya itu. Mata Dayana terpejam, jantungnya berdetak tak karuan ketika mendapatkan ciuman di kening untuk kedua kalinya.


“Aku mencintaimu, Aya.”


“Aku juga mencintaimu, mas Rafa.”


“Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Dulu hanya ada warna hitam dan putih dalam hidupku. Tapi sejak kedatanganmu, hidupku lebih berwarna. Terima kasih sudah sabar menungguku,” Rafa menggenggam erat tangan Dayana.


“Aku hanya berharap kita hidup bahagia selamanya, dikarunia anak dan cucu, saling mencintai sampai maut memisahkan.”


“Aamiin..”


Rafa mendekatkan tubuhnya kemudian memeluk Dayana sebentar. Usai mengurai pelukannya, pria itu menyatukan kening mereka. Sebuah kecupan lembut diberikan pria itu di bibir sang istri. Dayana seperti terkena aliran listrik ketika bibir mereka bertemu walau dengan durasi yang singkat.


“Sudah siap?” tanya Rafa dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Dayana.


Rafa menaruh tangannya ke dekat pinggang, Dayana segera memeluk lengan suaminya itu. Keduanya lalu keluar dari kamar. Di dekat lift, dua orang staf L’amour sudah menunggu. Mereka akan memandu pasangan pengantin menuju ballroom. Pesta resepsi akan dimulai beberapa saat lagi.


🍁🍁🍁


**Selamat Aya dan Rafa, akhirnya kalian sah juga ya🥳🥳🥳


Besok aku ijin ngga up ya, puasa pertama pasti riweuh dan bertepatan dengan hari Kamis juga.

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Mohon maaf lahir dan batin🙏 semoga puasa kita tahun ini lebih baik dari tahun² sebelumnya, aamiin**...


__ADS_2