
“Stel..”
“Astaghfirullah.”
Stella memegangi dadanya yang berdebar kencang. Suzy alias Malika datang tiba-tiba lalu muncul di hadapannya. Sejak mereka pulang dari kantor bareskrim, Suzy menghilang entah kemana. Dan kini jin wanita itu muncul di hadapan Stella.
“Kita ke apartemen Ferdi sekarang.”
“Sekarang?” Stella melihat jam di pergelangan tangannya.
“Iya.”
“Gila lu, Ndro. Udah malem ini, mana boleh gue keluar.”
“Kalau kita ngga bergerak sekarang, takutnya yang bunuh Ferdi dateng buat ambil barang bukti. Sekarang apartemen itu udah ngga dijaga polisi. Ayo, Stel.”
Gadis itu menggaruk kepalanya. Bagaimana dia bisa keluar rumah di saat malam begini, sudah pasti dia tidak akan diijinkan oleh kedua orang tuanya. Tapi melihat wajah Suzy yang memelas, dia tak tega juga.
“Ya udah.”
Stella bangun dari duduknya, kemudian memakai sweater untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin. Suzy hanya diam memperhatikan Stella yang sudah siap pergi. Gadis itu menyambar kunci mobilnya.
“Kamu mau pergi pake piyama?”
“Kalo gue ganti baju, yang ada ortu gue curiga. Udah ayo.”
Bergegas Stella keluar dari kamar. dia menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Nampak di ruang keluarga, kedua orang tua serta kedua eyangnya sedang duduk menonton televisi. Anya menolehkan kepalanya ketika melihat sang anak hendak keluar rumah.
“Stella.. mau kemana kamu?”
“Mau beli martabak, mi. Yang dekat lampu merah sana, boleh ya, mi?”
“Minta anter Dipa.”
“Dekat ini, ngapain juga dianter sama dia. Aku pergi dulu ya, mi. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Anya hanya menggelengkan kepalanya saja melihat sang anak yang keras kepala ingin pergi sendiri untuk membeli martabak. Stella segera masuk ke dalam mobilnya. Setelah memasang sabuk pengaman, gadis itu segera melajukan kendaraannya. Di dekat perempatan, dia berhenti sebentar di tukang martabak langganannya.
“Mang martabak telor 1 yang spesial. Nanti aku ambil ya,” ujar Stella dari dalam mobil.
“Siap, neng.”
Penjual martabak itu hanya mengangkat jempolnya saja pada Stella. Setelah itu Stella kembali melajukan kendaraannya. Kebetulan apartemen di mana Ferdi tinggal memang tidak terlalu jauh dari kompleks di mana dia tinggal. Kurang dari 10 menit, gadis itu sudah sampai di sana.
Sebisa mungkin Stella mencoba bersikap biasa ketika memasuki gedung apartemen. Dia melemparkan senyuman pada security yang berjaga, kemudian masuk ke dalam lift. Tangannya langsung memencet tombol tujuh. Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sweater, matanya terus melihat ke panel.
“Astaghfirullah.”
Stella terekjut ketika tiba-tiba sesosok makhluk muncul dari dinding lift yang ada di depannya. Wajahnya sangat menyeramkan, refleks gadis itu mundur dari posisinya sampai punggungnya membentur dinding lift di belakangnya. Dia menahan nafas ketika makhluk menyeramkan itu terus mendekatinya. Lalu Suzy muncul dan berdiri membelakangi Stella. Jin wanita itu menatap makhluk di depannya. Tak lama makhluk tersebut menghilang.
“Eh kemana dia?”
“Udah pergi. Aku bilang sama dia jangan ganggu kamu.”
“Kapan ngomongnya? Kok ngga kedengeran. Ooh.. pake bahasa kalbu ya, hehehe..”
Mayan juga nih si kacang kedele hitam Malika, bisa ngusir setan yang gangguin gue. Eh tapi kan dia lagi butuh gue. Kalo udah ngga butuh pasti ngga bakalan bantuin gue.
TING
Pintu lift terbuka ketika sampai di lantai tujuh. Dengan langkah pelan, Stella keluar dari lift kemudian menuju unit apartemen Ferdi. Garis kuning masih ada di depan pintu apartemen, tapi polisi yang berjaga sudah tidak ada. Suzy berjalan menembus pintu. Sesampainya di dalam, dia melihat ke belakang tapi Stella tidak mengikutinya. Dia pun kembali keluar.
“Kamu kenapa ngga ikut masuk?”
“Eh elo polos atau dongo? Ya mana bisa gue jalan nimbus pintu. Emangnya gue sejenis elo apa,” sewot Stella.
“Oh iya, hehehe..”
“Terus gue masuknya gimana? Ini kan pake kode.”
“Aku tahu kodenya.”
“Berapa?”
Stella mengangkat penutup kode akses. Jarinya mulai memencet angka yang disebutkan oleh Suzy. Sementara itu dari arah lift muncul Tamar dan Aji. Mendengar penuturan Irzal dan Zar, pria itu memutuskan untuk melihat apartemen Ferdi untuk mencari bukti yang disebutkan Stella. Pria itu terkejut melihat Stella yang tengah membuka kunci apartemen. Baru saja Stella hendak membuka pintu, terdengar suara Tamar.
“Berani kamu buka pintu itu, aku akan menuntutmu atas tuduhan perusakan TKP.”
“Astaghfirullah.”
Mendengar suara Tamar yang tiba-tiba, tentu saja membuat Stella terkejut. Otomatis gadis itu menjauhkan tangannya dari handle pintu. Tamar bergegas mendekati gadis itu.
“Ngapain kamu di sini?”
“Mau ambil bukti biar bapak percaya.”
“Lebih baik kamu pulang. Biar aku yang urus.”
“Emang bapak tau di mana buktinya?”
Terdengar desisan kesal Tamar. Pria itu segera menggerakkan handle pintu, kemudian menundukkan tubuhnya demi melewati garis kuning dan masuk ke dalam. Aji mempersilahkan Stella masuk lebih dulu, baru dirinya. Di dalam, Suzy sudah menunggu.
__ADS_1
“Ji.. kamu geledah semua kamar. Kamu.. ikut aku.”
Tamar menarik tangan Stella dan seketika wujud Suzy menghilang. Stella menengokkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari jin wanita itu, tapi tidak terlihat di mana-mana. Tamar yang masih menariknya berhenti di depan ruang tengah.
“Di mana buktinya?” tanya Tamar seraya melepaskan pegangannya.
Stella masih belum menjawab pertanyaan Tamar. Gadis itu masih sibuk mencari keberadaan Suzy. Tapi dia sudah menghilang entah kemana. Stella melihat kesal pada Tamar.
“Di mana?”
“Ngga tau.”
“Kamu bilang tahu di mana buktinya.”
“Suzy yang tau, sekarang dia ngilang. Ini gara-gara bapak yang pegang-pegang saya!”
“Eh kamu pikir aku laki-laki kegatelan apa pegang-pegang kamu?” berang Tamar.
“Lah tadi bapak narik tanganku. Kalo bukan pegang-pegang apa namanya?” jawab Stella tak kalah galak.
“Jadi sekarang kamu ngga tau di mana barangnya?”
“Ya, ngga tau. Si Suzy belum kasih tau.”
“Kalau gitu kamu pulang sekarang.”
“Enak aja. Pokoknya aku mau di sini sampe barang bukti ketemu!”
“Haaiisshh.. Aji!!”
Mendengar Tamar memanggilnya, Aji yang sedang menggeledah kamar, bergegas menemui Tamar. Dia menghampiri Tamar yang terlihat kesal.
“Kasih sarung tangan sama dia. Jangan sampai dia ninggalin sidik jari, nanti malah repot jadinya.”
Tanpa menunggu perintah datang kedua kali, Aji membuka tas pinggangnya lalu memberikan sarung tangan pada Stella. Setelah gadis itu memakai sarung tangannya, dia mulai ikut menggeledah semua ruangan yang ada di unit apartemen ini.
Setengah jam berlalu, namun ketiganya masih belum menemukan bukti pembunuhan Ferdi. Aji mendudukkan dirinya di lantai, dia sudah kelelahan menggeledah hampir semua unit apartemen ini. Tamar melihat pada Stella, gadis itu masih terus mencari keberadaan bukti yang dikatakan Suzy.
“Hei.. mana buktinya? Kamu bohongin kita ya?”
“Kan aku udah bilang, itu bukti di mana cuma si Suzy yang tau. Tuh jin ngga tau ngilang kemana.”
“Haaiisshh.. ngapain juga gue percaya ama nih cewek,” kesal Tamar.
Stella menyandarkan punggungnya ke tembok di belakangnya. Lelah mencari barang bukti, ditambah kesal mendengar Tamar yang terus menyalahkannya, membuat gadis itu lelah lahir batin.
“Ayo pulang. Percuma kita buang waktu di sini.”
Aji berdiri dari duduknya. Dia menepuk-nepuk bagian belakang celananya yang sedikit kotor. Stella yang memang belum berhasil menemukan barang bukti, memutuskan untuk pulang juga. Namun baru saja gadis itu melangkahkan kakinya, Suzy muncul di hadapannya.
Sontak Tamar dan Aji menolehkan kepalanya pada Stella. Mereka melihat gadis itu tengah bertolak pinggang dan berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat wujudnya.
“Maaf.. tadi kamu disentuh tuh polisi, jadi aku mental. Butuh waktu buat bisa balik ke sini lagi.”
“Lama banget, lo nyasar ya?”
“Buktinya. Kamu sudah menemukannya?”
“Ya belumlah. Kan elonya ngilang.”
“Buktinya di sana. Di pinggiran sofa,” Suzy menunjuk sofa yang ada di ruang tengah.
“Buktinya di sana,” ujar Stella pada Tamar.
“Sana di mana? Yang jelas.”
“Itu di pinggiran sofa.”
Bergegas Tamar dan Aji menuju sofa yang dimaksud. Kedua pria itu meraba pinggiran sofa. Kemudian tangannya menyentuh alat suntik yang digunakan untuk menyuntik Ferdi sebelum pria itu dipindahkan ke dalam bath tub dan dibuat meninggal dengan cara over dosis.
“Kata Suzy, Ferdi disuntik dulu pake itu di bagian leher terus dipindahin ke bath tub terus disuntik lagi biar over dosis,” terang Stella.
Tamar memasukkan alat suntik ke dalam plastik putih. Dia akan mengirimkan alat suntik tersebut ke laboratorium untuk diperiksa apa kandungan dalam jarum suntik tersebut dan juga sidik jari yang tertinggal di sana.
“Sudah selesai, ayo pulang.”
Stella segera mengikuti langkah Tamar keluar dari unit apartemen. Aji yang keluar paling belakang menutup pintu lebih dulu sebelum menyusul atasannya dan Stella menuju lift. Stella melihat pada Tamar yang sejak menemukan barang bukti tak mengatakan apapun padanya.
Bilang makasih kek, ini lempeng banget. Dasar polisi rese, udah jutek, watados (wajah tanpa dosa) juga. Bener-bener nyebelin.
Sesampainya di lantai dasar, ketiganya segera keluar dari lift kemudian keluar dari gedung apartemen. Sebelum berpisah dan menuju mobil masing-masing, Stella melihat pada Tamar yang berjalan di sampingnya.
“Terima kasih kembali bapak polisi yang nyebelin!”
Usai mengucapkan kata-kata yang suskses membuat Aji tertawa, Stella bergegas menuju mobilnya. Tamar hanya memandangi gadis itu tanpa berkedip. Kemudian dia melihat pada Aji yang masih tertawa. Spontan tawa Aji langsung berhenti. Pria itu mempersilahkan Tamar kembali ke mobilnya.
🍁🍁🍁
Arsy menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk mengurangi rasa pegal yang melanda. Dia sekarang sedang berada di ruang istirahat dokter IGD. Jam tugasnya sudah berakhir satu jam lalu dan kini dia tengah bersiap untuk pulang. Gadis itu bangun kemudian menuju loker untuk berganti pakaian.
Tak lama Arsy keluar dengan tas punggung kecil tersampir di bahunya. Setelah berpamitan dengan rekannya yang lain, gadis itu segera keluar dari ruang istirahat tersebut. Dia berjalan menuju pintu yang terhubung dengan pelataran parkir. Tangannya bergerak mengarahkan kunci di tangannya pada mobil miliknya.
Setelah menaruh tas di jok sebelah, Arsy masuk kemudian duduk di belakang kemudi. Beberapa saat kemudian, mobilnya mulai bergerak meninggalkan area parkir rumah sakit. Begitu mobil yang dikendarainya keluar dari gerbang, dua buah mobil langsung mengikutinya.
__ADS_1
Tanpa menaruh curiga, Arsy terus melajukan kendaraannya. Saat mobilnya berbelok melewati jalanan yang agak sepi, salah satu mobil yang menguntit tiba-tiba menyusul kemudian berhanti menghalangi jalannya. Secepat kilat Arsy menginjak pedal rem dalam-dalam. Satu mobil yang ada di belakang Arsy menghalangi mobil dari arah belakang.
Dua orang turun dari mobil yang ada di depan, dan seorang turun dari mobil yang ada di belakang. Salah satunya menggedor kaca mobil Arsy dan meminta gadis itu untuk turun. Mau tak mau, Arsy menuruti keinginan mereka. Dia membuka pintu mobil lalu keluar dari dalamnya.
“Siapa kalian?”
“Ada yang mau bertemu denganmu, nona.”
“Siapa? Suruh dia ke sini, jangan beraninya kirim orang kaya pengecut.”
“Banyak bacot, seret dia!”
Salah seorang yang menghadang maju kemudian menarik tangan Arsy, namun gadis itu bergerak cepat membalikkan tubuh kemudian membanting pria yang memegang tangannya. Melihat itu, dua orang lainnya segera menyerbu Arsy. Arsy memutar tubuhnya untuk menghindari serangan, kemudian balas memukul dan menendang dua orang tersebut.
Geram melihat gadis yang diincarnya memberikan perlawanan sengit, pemimpin orang-orang yang menyerang Arsy turun dari mobil. Pria itu berjalan mendekati Arsy yang masih sengit bertarung melawan ketiga orang yang hendak menculiknya. Arsy yang tak menyadari kedatang sang ketua tak kuasa menghindar ketika sebuah pukulan mendarat di tengkuknya dan membuatnya pingsan.
“Bawa dia!”
Salah seorang yang bertubuh paling tegap segera mengangkat Arsy kemudian menaruh ke pundaknya seperti karung beras. Dia meletakkan Arsy di kursi bagian belakang, kemudian naik ke kursi penumpang yang ada di depan. Kedua mobil tersebut segera meluncur meninggalkan lokasi penculikan.
🍁🍁🍁
Zar yang tengah berkumpul bersama dengan Irzal, Aidan, Fathir dan Imron sedari tadi tidak melepaskan pandangan dari ponselnya. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pria itu terlonjak dari duduknya begitu membaca pesan tersebut.
“Daus sudah keluar dari sarangnya,” ujar Zar. Sontak semua mata langsung tertuju pada pria itu.
“Di mana dia?”
“Bentar, dia masih bergerak.”
Dengan cepat Zar menunjukkan titik koordinat yang ada di ponselnya. Titik itu berasal dari chip yang ada di tubuh Diki. Salah satu anak buah Duta itu ikut dalam rombongan orang yang menculik Arsy.
“Kenapa tiba-tiba dia muncul?” tanya Fathir curiga.
“Sebenernya gue yang pancing. Candra sengaja kirim foto-foto gue lagi deketin Pinkan. Dia cemburu dan sekarang dia mau bikin perhitungan sama gue.”
“Bentar. Dia mau bikin perhitungan sama elo. Ngga mungkin dia nongol terus ngajak lo satu lawan satu,” cetus Irzal seraya menatap Zar curiga.
“Emang ngga. Cowok pengecut kaya dia pasti pakai umpan atau ngelampiasinnya ke orang yang dekat sama gue.”
“Siapa?” tanya Irzal. Perasaan cemas mulai merayapi Irzal.
“Arsy.”
“Zar!! Gila lo!!” Irzal langsung berdiri dari duduknya. Matanya menatap tajam pada Zar.
“Tenang aja, Zal. Arsy juga udah tau rencana ini dan dia setuju. Gue ngga mungkin jadiin dia umpan kalau dia ngga mau.”
🍁🍁🍁
Empat hari sebelum penculikan
“Sy.. gue punya ide buat mancing Daus keluar dari persembunyiannya.”
Zar menghampiri Arsy yang tengah duduk santai di halaman belakang. Pria itu mendudukkan diri di samping adik kembarnya. Arsy meletakkan ponselnya kemudian mulai serius menanggapi ucapan Zar.
“Apa ide lo?”
“Dia punya pacar, namanya Pinkan. Nah gue bakalan deketin dia, nanti Candra yang bakalan ambil foto-foto gue sama Pinkan. Candra kan dikasih tugas perdana buat mata-matain gue. Dia pasti bakalan langsung bereaksi.”
“Yakin lo?”
“Yakin. Tapi dia kan pengecut, pasti dia ngga akan langsung ketemu sama gue. Dia pasti ngincer orang yang dekat sama gue. Dan kemungkinan besar elo yang bakal diincer sama gue.”
“Kok gue?”
“Kan elo adek gue. Pasti dia pengen bikin gue menderita lewat elo. Bisa jadi dia bakal bikin elo kaya Rena. Kalo lo setuju jadi umpan, gue bakal jalanin rencana ini. Tapi kalau lo ngga setuju, gue bakal cari cara lain.”
Arsy nampak berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Zar cukup masuk akal. Pasti dia orang pertama yang akan menjadi incaran Daus. Gadis itu juga yakin kalau Zar pasti sudah memperhitungkan segalanya. Tapi yang membuat Arsy ragu adalah Irzal. Apa pria itu setuju kalau dirinya menjadi umpan.
“Gimana, Sy?”
“Ya udah, gue ikut.”
Akhirnya Arsy memilih untuk mengikuti permainan Zar, walau mungkin saja Irzal akan marah dengan keputusannya. Tapi menangkap Daus itu jauh lebih penting. Pria itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya pada Renata.
🍁🍁🍁
“Haaiishhh!!”
Irzal terlihat sangat kesal mendengar cerita dari Zar. Dia segera mengeluarkan ponselnya untuk melacak keberadaan Arsy melalui chip yang tertanam di tubuhnya. Fathir dan Aidan tanpa dikomando mendekat pada Irzal untuk melihat di mana gadis itu berada. Tapi belum sempat mereka melihat di mana keberadaan Arsy, Irzal bergegas pergi.
“Haiishh.. tuh orang main pergi aja,” kesal Aidan.
“Benih-benih bucin sudah melanda,” gumam Fathir pelan.
“Untung lo kakaknya Arsy, kalo ngga udah dibuat samsak hidup lo sama Irzal,” Aidan melihat pada Zar yang sudah bersiap untuk pergi.
“Ayo cabut, gue udah kirim lokasi ke kalian.”
Sambil mengedipkan matanya, Zar segera keluar menyusul Irzal yang sudah pergi lima menit lalu. Bukan tanpa alasan juga dia meminta Arsy yang menjadi umpan. Dia ingin melihat seperti apa reaksi Irzal nantinya. Dan ternyata reaksi pria itu sesuai dengan ekspektasinya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Si Tamar ngeselin ya, getok ajalah🤣
Ehem... Udah ada benih² bucin ya Bie, uhuk😂**