
Sebuah kotak bekal diletakkan di atas meja kerja Tamar. Pria itu mengangkat kepalanya dan melihat Stella sudah berdiri di depan mejanya seraya melemparkan senyum manisnya. Gadis itu menarik kursi di depan meja, kemudian mendudukkan dirinya di sana.
“Ini apa?”
“Kotak bekal, isinya makan siang buat pakpolgan,” Stella menggerakkan alisnya turun naik.
Terdengar helaan nafas panjang Tamar. Ini sudah hari ketiga Stella terus mendatanginya ke kantor sambil membawakan makanan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kemudian melipat kedua tangannya.
“Maksud aku, apa yang kamu mau dengan bawa makanan ini sebagai sogokan?”
Stella tidak langsung menjawab. Dia sedikit menggeser kotak bekal, lalu menaruh kedua tangannya di atas meja. Gadis itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke meja. Matanya menatap netra Tamar dalam-dalam.
“Kasus istri yang bunuh suaminya, kapan kita mau usut?”
“Yaa.. kamu pikir aku tidak punya pekerjaan lain? Aku masih harus menangani kasus pembunuhan Ferdi dan juga kasus Yogi. Aku belum sempat membongkar kasus itu lagi. Lebih baik kamu pulang sekarang,” Tamar mengibaskan tangannya pada Stella, namun gadis itu bergeming.
“Kalau begitu kasih tau aja aku harus mulai menyelidiki dari mana. Biar aku yang kerjakan duluan. Setelah pekerjaanmu selesai baru kita selidiki bersama.”
Kali ini giliran Tamar yang mencondongkan tubuhnya ke dekat Stella. Pria itu melemparkan senyum manisnya, kemudian tangannya bergerak mendekati kening gadis tersebut.
PLETAK
“Adaw!!”
Sambil menatap Tamar dengan kesal, Stella mengusap keningnya yang terkena sentilan Tamar. Tapi dia sudah bertekad untuk mendapatkan ijin dari pria itu untuk menyelidiki kasus yang disebutkan Tamar di depan sang kakek.
“Pakpolgan.. seribu kali anda menyentil kening saya sampai kentop sekali pun, aku ngga akan menyerah. Janji is janji, anda sudah berjanji pada kakekku akan mengajakku bekerja sama memecahkan kasus yang katanya mencurigakan tersebut.”
“Astaga.”
Tamar menepuk keningnya, kejadian seperti ini sudah diduga sebelumnya. Jika ondel-ondel model Stella diberi kesempatan untuk bekerja sama dengannya maka gadis itu akan selalu mendesaknya melakukan hal-hal yang menurutnya menyenangkan dan menantang.
“Stella, aku ngga ada maksud untuk mengingkari janji soal penyelidikan bersama. Tapi tolong kasih aku waktu menyelesaikan kasus yang saat ini sedang aku tangani. Setidaknya sampai berkasnya masuk ke pengadilan, oke?”
“Berapa lama?”
“Aku tidak tahu. Bisa jadi seminggu atau dua minggu.”
“Itu kelamaan,” Stella mengusak-ngusakkan sepatunya di lantai.
“Kamu kan masih kuliah. Lebih baik kamu kuliah yang benar. Kalau kamu libur, baru kita tangani kasus ini bersama. Deal?”
Tamar mengulurkan tangannya pada Stella. Gadis itu tidak langsung menyetujuinya. Dia berpikir sejenak, baru kemudian menyambut uluran tangan Tamar. Dalam hatinya Tamar bersyukur Stella menyetujui usulannya. Setidaknya selama dua minggu ke depan, dia tidak akan diganggu lagi olehnya.
“Ok, deh. Sampai ketemu dua minggu lagi,” Stella berdiri kemudian mengambil kembali otak bekal yang dibawanya.
“Kenapa dibawa lagi?” tanya Tamar.
“Kan kita ngga jadi kerjasama hari ini. Jadi makanan ini batal juga.”
Dengan santai Stella berjalan menuju pintu. Tamar hanya menghela nafas panjang saja. Sebenarnya dia lapar, karena pagi tidak sarapan dan melewatkan jam makan siang juga. Tiba-tiba Stella kembali kemudian meletakkan kotak bekal di depan Tamar.
“Makan yang banyak ya pakpolgan, jangan sampai sakit.”
Stella mengedipkan matanya kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut. Dengan cepat Tamar membuka kotak bekal. Di dalamnya terdapat nasi, capcay, sapi lada hitam dan udang tempura. Dengan cepat pria itu melahap makanan yang dibawakan oleh Stella.
🍁🍁🍁
Seorang wanita berjalan tertatih memasuki pintu IGD. Seorang suster yang melihat kedatangan wanita tersebut langsung membawanya menuju blankar. Dia memanggil Arsy yang baru selesai memeriksa pasien. Bergegas Arsy menuju bilik pemeriksaan. Dia terkejut melihat wajah wanita tersebut yang terdapat memar di beberapa bagian, termasuk mata dan mulutnya.
Arsy mendekat kemudian memeriksa dengan seksama keadaan wanita itu. Selain wajah, di tangannya juga terdapat luka memar. Sang wanita meringis kesakitan ketika Arsy menyentuh punggungnya. Dengan cermat Arsy memeriksa semua luka di tubuh pasiennya. Dia memerintahkan suster untuk menyuntikkan obat pereda nyeri.
“Setelah diberi obat pereda nyeri. Bawa pasien untuk dirontgen. Sepertinya ada cedera di tulang rusuknya.”
“Baik, dok.”
Setelah memberikan arahan, Arsy kembali ke meja perawat. Dia menulis dulu laporan tentang pasien yang ditanganinya tadi. Sang pasien sudah diperbolehkan pulang. Sedang pasien yang baru akan segera menjalani pemeriksaan.
“Pasien itu kenapa, dok?” suster yang bertugas menunjuk pasien wanita yang sedang dibawa menuju ruang rontgen.
“Kalau dilihat dari luka-lukanya, sepertinya dia korban KDRT.”
“KDRT? Duh aku paling sebal kalau dengar itu. Cuma laki-laki banci yang berani ngelukai perempuan.”
“Betul banget. Kekuatannya cuma digunakan untuk melukai yang lemah.”
“Dan yang paling ngenes, korban KDRT banyak yang tutup mulut dan ngga mau melapor.”
“Mungkin mereka takut atau malu. Kalau mereka lapor, secara tidak langsung membuka aib rumah tangganya. Padahal dalam Islam juga tidak membenarkan adanya KDRT.”
“Betul itu. Tapi ya, semua kembali pada pribadi masing-masing sih.”
“Faktor lingkungan juga mendukung. Ketidakpedulian keluarga pada korban KDRT membuat korban seolah sendirian, tidak ada tempat mengadu. Dan dominasi pelaku semakin kuat saja.”
Para suster yang berada di meja perawat hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja menyetujui semua yang dikatakan Arsy. Tak lama pasien wanita itu kembali, Arsy masuk kembali ke bilik pemeriksaan.
“Nama ibu siapa?” tanya Arsy sambil melanjutkan pemeriksaan. Dia mengarahkan senter ke depan mata wanita itu.
“Ayu.”
__ADS_1
“Bu Ayu, bagaimana bisa mendapatkan luka banyak seperti ini?”
“Saya… terjatuh di tangga.”
“Hmm.. jatuh di tangga. Kapan kejadiannya?”
“Tadi siang.”
“Tapi sepertinya luka lebam ini sudah lama. Mungkin sudah dua atau tiga hari. Apa ibu jatuh dari tangga tiap hari?”
Wanita bernama Ayu itu hanya menundukkan kepalanya saja. Dia menutup rapat mulutnya. Tak berani menceritakan perilaku kasar suaminya. Jika sampai orang lain tahu, bisa jadi anaknya yang masih berusia enam tahun akan menjadi sasaran kemarahannya. Selama ini Ayu selalu menerima pukulan untuk melindungi anaknya.
“Bu Ayu. Saya memang tidak tahu apa yang terjadi pada ibu. Tapi menyembunyikan keberanan bukanlah solusi terbaik. Kalau sekarang ibu diam, maka luka yang akan ibu terima setiap harinya akan bertambah. Apa ibu tidak sayang dengan diri ibu sendiri? Lalu anak ibu? Ibu pasti sudah punya anak kan?”
Ayu menganggukkan kepalanya. Airmatanya jatuh mengalir mengingat anaknya yang saat ini dititipkan di rumah tetangganya. Sang suami masih belum pulang dari bekerja. Tadi saat jam makan siang dia pulang dan melampiaskan kekesalan karena ditegur oleh atasan pada dirinya. Karena tak kuat menahan sakit, Ayu memutuskan pergi ke rumah sakit.
“Apa ibu mau menceritakannya?” Arsy memegang kedua tangan Ayu.
“Saya bisa memanggilkan orang yang tepat untuk menceritakan masalah ibu. Tenang saja, bukan polisi, tapi seorang psikiater,” Arsy berusaha meyakinkan wanita itu.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya kepala Ayu terangguk. Arsy tersenyum lega, dia segera menuju meja perawat kemudian menghubungi psikiater yang bertugas untuk datang ke IGD. Arsy kembali ke bilik pemeriksaan, dia terus mengajak Ayu berbincang sambil mengobati lutut dan kakinya yang terluka.
🍁🍁🍁
Seorang lelaki berlari memasuki ruang IGD. Disibaknya semua tirai yang menutupi bilik pemeriksaan untuk mencari keberadaan sang istri. Karena tak menemukan sang istri, dia segera mendekati meja perawat.
“Sus.. ada pasien masuk namanya Ayu Perwita?”
“Ibu Ayu sudah masuk ruang perawatan.”
“Di mana, sus?”
“Ruang Halimah, kamar nomer lima. Lantai tujuh.”
“Terima kasih, sus.”
Pria itu segera meninggalkan meja perawat. Dia segera menuju lift yang ada di dekat IGD. Tadi sepulang kerja, tetangganya mengatakan kalau sang istri pergi ke rumah sakit setelah jatuh dari tangga. Dia harus segera menemui istrinya itu, memastikan kalau wanita itu tidak membuka mulutnya.
Sesampainya di lantai tujuh, dia segera menuju ruangan yang dimaksud. Tiga buah bed berjajar rapih dan saling berhadapan. Rupanya sang istri masuk ke ruangan kelas 3, di mana terdapat enam penghuni di dalamnya. Dia menuju bed paling pojok dekat jendela. Melihat kedatangan suaminya, wajah Ayu berubah pucat.
Arsy yang tengah bersama Ayu, menatap curiga pada pria yang baru saja datang. Melihat ketakutan di wajah Ayu, Arsy sudah bisa menebak kalau pria itu adalah suaminya. Melihat keberadaan orang lain di dekat bed istrinya, sang pria berusaha bersikap baik.
“Kamu ngga apa-apa, sayang?” tanya sang pria seraya mengusap kepala istrinya.
“Cih..”
Walau pelan, namun pria itu masih bisa mendengar suara decih Arsy, yang sudah pasti ditujukan padanya. Pria tersebut menatap Arsy kemudian mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri.
“Arsy. Saya dokter IGD yang memeriksa bu Ayu. Saya heran, ibu Ayu jatuh dari tangga tapi banyak sekali luka memarnya.”
“Istri saya memang cukup ceroboh. Dia sering terjatuh atau tersandung.”
“Hem..”
Itu saja yang keluar dari bibir Arsy. Dia benar-benar tidak bisa beramah tamah pada pria yang berani menyiksa wanita. Arsy segera berpamitan pada Ayu, karena Irzal sudah mengirimkan pesan padanya. Suaminya itu sebentar lagi sampai ke rumah sakit untuk menjemputnya.
Sepeninggal Arsy, Adi segera mendekati Ayu. Wajahnya yang tadi manis berubah menyeramkan. Wajah Ayu bertambah pucat, dia memejamkan matanya melihat wajah Adi semakin mendekat padanya.
“Apa kamu mengatakan hal lain pada dokter tadi?” tanya Adi tepat di telinga Ayu. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya seraya menunduk.
“Kamu pasti bohong. Tunggu saja pembalasanku di rumah nanti.”
Setelah melontarkan ancamannya, Adi meninggalkan ruang perawatan sang istri. Dia mencari keberadaan Arsy. Emosinya tadi sempat terpancing melihat sikap dokter muda tersebut. Pria itu bermaksud memberikan pelajaran pada wanita itu. Dengan cepat Adi masuk ke dalam lift untuk mengejar Arsy.
Sesampainya di lantai bawah, pria itu bergegas mencari keberadaan Arsy. Dia masuk ke dalam IGD. Karena tak kunjung menemukannya, Adi keluar dari IGD. Kemudian matanya menangkap Arsy seperti tengah menunggu seseorang. Dengan cepat pria itu menghampiri kemudian menarik rambut Arsy hingga kepalanya terdongak ke belakang.
“Hai dokter sombong. Aku peringatkan jangan berani-berani kamu ikut campur urusanku. Mengerti?”
Arsy menangkap tangan Adi yang menarik rambutnya. Kemudian dengan cepatnya dia berbalik dan mendorong tubuh Adi hingga merapat ke tembok. Sebelah tangannya ditekuk ke belakang. Arsy menekan punggung Adi dengan lututnya. Terdengar erangan pria itu tersebut, mencoba melepaskan diri dari Arsy.
“Aaargghhh.. lepas..”
“Lepas?” Arsy semakin menarik tangan pria itu ke belakang.
“Aaarrgghh.. sakiiittt.. ampuunn… aaarrgghh.”
“Ampun? Apa kamu memberi ampun pada istrimu ketika kamu menyiksanya?!”
“Aaarrggghhhh…”
“Arsy.. lepas..”
Karena dilingkupi emosi, Arsy tidak mendengar perkataan suaminya. Pria itu segera menarik Arsy hingga pegangannya terlepas. Sambil meringis kesakitan, Adi segera pergi menjauh. Melihat pria itu pergi, Arsy berusaha mengejarnya tapi Irzal segera menahannya.
“Dia itu laki-laki brengsek, mas. Dia harus diberi pelajaran! Dia sudah menyiksa istrinya. dasar laki-laki banci! Aku..”
Kata-kata Arsy tak beranjut ketika Irzal memeluknya. Tangan Irzal mengusap lembut punggung sang istri, sambil membisikkan kata-kata untuk menenangkannya.
“Tenang sayang. Istighfar.. ngga baik kamu emosi seperti ini.”
__ADS_1
Bagai tersiram air, emosi Arsy langsung menguap entah kemana. Irzal terus memeluk istrinya sampai keadaannya benar-benar tenang. Setelah dirasa sang istri sudah tidak dilingkupi emosi lagi. Perlahan Irzal melepaskan pelukannya.
“Maaf, mas.”
“Lupakan saja. Masalah orang tadi bisa diurus besok. Kamu bilang saja siapa namanya, mas akan cari tahu tentang dia. Sekarang kita pulang.”
Arsy hanya menganggukkan kepalanya. Sambil memeluk bahu sang istri, Irzal membawanya ke mobil. Melihat Arsy yang tengah memberi pelajaran pada Adi, Irzal meninggalkan mobilnya begitu saja di dekat pintu masuk IGD. Setelah memasangkan sabuk pengaman di tubuh sang istri, Irzal melajukan kendaraannya keluar dari area parkir rumah sakit Ibnu Sina.
🍁🍁🍁
Zar terus memandangi Darren dan Fikry yang tengah sibuk dengan laptopnya. Kedua orang tersebut tengah bermain game. Darren dan Fikry membuat game yang bentuknya seperti judi online. Mereka sengaja membuatnya untuk memancing Yuke keluar dari sarangnya. Yuke adalah penggemar game, dan juga senang sekali melakukan judi online. Dia akan mengeluarkan uang berapa pun untuk kepuasannya yang satu itu.
“Gimana?” tanya Zar penasaran.
“Ikan sudah terkena pancingan. Dia aktif banget main di game ini. Awalnya kita akan buat dia menang biar ketagihan. Setelahnya kita akan buat dia kalah beruntun. Kalau sudah kecanduan, dia pasti bakalan terus main dan bakalan top up poin untuk taruhan.”
“Mancing dia keluar dari sarang gimana?”
“Kita bakal buat dia menang jackpot. Hadiah akan dikirimkan via paket. Mau tidak mau dia bakalan kasih alamat dia tinggal. Dan penerima harus langsung dirinya, tidak boleh diwakilkan orang lain, kalau ngga hadiah hangus.”
“Tapi bisa aja dia nyuruh orang.”
“Saat klaim hadiah, harus verifikasi tanda pengenal. Tenanglah, kita udah atur semua,” Fikry mengedipkan mata pada Zar.
“Berisik lo, Zar. Udah diem aja, tau-tau tuh berudu keluar dari sarangnya,” celetuk Darren yang konsentrasinya pecah gara-gara cerocosan Zar.
Sambil menoyor kepala Darren, Zar keluar dari ruangan. Dia berniat menemui Rena di kantor Rakan. Setelah Daus terciduk, terkena hukuman dibuang di pulau tak berpenghuni dan sekarang menjadi penghuni pulau Rinca, kini giliran target kedua. Pria itu ingin tahu apa rencana Renata untuk Yuke nanti.
Dengan kecepatan sedang Zar memacu kendaraannya. Tak butuh waktu lama untuk Zar sampai di kantor Rakan Putra Group. Saat ini Renata memang bekerja di sana sebagai sekretaris Rakan. Setelah memarkirkan kendaraannya, Zar segera menuju lift untuk sampai ke lantai 15.
Suasana di lantai 15 cukup sepi. Di lantai ini hanya ada ruangan Rakan, ruangan asisten Rakan, meeting room dan ruangan untuk sekretaris CEO yang sekarang dijabat oleh Renata. Tangan Zar mengetuk pintu ruangan Renata yang terbuat dari kaca. Wanita itu mengangkat kepalanya, dia terkejut melihat Zar mengunjunginya. Renata segera bangun dari duduknya untuk membukakan pintu.
“Zar,” tegurnya.
“Bisa kita bicara, Ren?”
“Ayo masuk.”
Zar masuk ke dalam ruang lalu mendudukkan diri di sofa. Matanya melihat sekeliling ruangan yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman. Bahkan di sudut ruangan terdapat area untuk shalat. Renata mendudukkan diri di depan Zar.
“Ada apa?”
“Yuke.. sebentar lagi aku akan mendapatkannya. Bagaimana kamu akan menghukumnya? Aku sendiri tidak akan menyerahkannya ke polisi. Terlalu lunak hukuman untuk orang seperti dia.”
Tak ada jawaban dari Renata. Dia masih belum memikirkan apa yang akan dilakukannya pada Yuke. Salah satu pria yang sudah menghancurkan hidupnya. Dengan sabar Zar menunggu jawaban yang keluar dari mulut wanita itu.
“Aku masih belum tahu. Aku akan pikirkan. Dia harus mendapatkan hukuman yang layak. Mungkin aku akan diskusi dulu dengan bang Rakan.”
“Kenapa harus bang Rakan?”
“Bang Rakan itu orang yang bijak. Dia pasti bisa memberikan saran yang bagus untukku.”
Ada rasa tidak suka merayapi Zar mendengar Renata memuji Rakan. Pria itu menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan raut ketidaksukaannya. Tapi tiba-tiba ada rasa penasaran yang menggelitik hatinya. Dia ingin tahu apa hubungan Renata dan Rakan, apakah ada hubungan spesial di antara keduanya.
“Kamu dan bang Rakan pacaran?”
Renata terkejut mendengar pertanyaan frontal Zar. Wanita itu memandangi wajah Zar lekat-lekat. Zar balas menatap Renata, untuk sesaat keduanya saling memandang dan mengunci.
“Kenapa? Ada yang salah dengan pertanyaanku?”
“Tidak. Hanya saja kamu menanyakannya pada orang yang salah. Aku sudah tidak pernah memikirkan hal seperti itu lagi. Tidak bersama bang Rakan atau yang lain. Dan kamu pasti sudah tahu apa alasannya.”
“Ren…. Hidupmu harus terus berjalan seperti biasanya. Kamu jangan seperti ini, bang Rakan orang yang baik. Rasanya tidak ada salahnya kamu mencoba.”
Dalam hati Zar merutuki kenapa mulutnya bisa melontarkan kalimat tersebut. Kenapa justru dirinya menyuruh Renata menjalin hubungan dengan Rakan.
“Bang Rakan memang baik, tapi aku tidak. Kalau kamu jadi bang Rakan, apa kamu mau menerima perempuan seperti aku? Aku tidak cukup percaya diri menjalin hubungan dengan siapa pun.”
Melihat wajah Renata yang terlihat sendu, Zar mengalihkan pembicaraan pada hal lain. Dia menanyakan pekerjaan yang dilakukan Renata di sini, juga menanyakan apa yang sering dilakukan wanita itu di kediaman Jojo.
“KiJo orangnya baik, aku suka tinggal dengan KiJo, Ninda juga.”
“Syukur deh kalau kamu betah. Oh ya, kalau Yuke berhasil ditangkap, aku boleh ya minta hadiah.”
“Hadiah apa?”
“Belum aku pikirin, lagian Yukenya juga belum nongol. Tapi siap-siap aja, kayanya ngga lama lagi dia bakal ketangkep. Aku pulang dulu, salam buat bang Rakan.”
Renata menganggukkan kepalanya. Dia ikut berdiri ketika Zar berdiri lalu berjalan keluar ruangan. Sebelum meninggalkan ruangan, Zar berbalik kemudian menatap mata wanita itu dengan dalam.
“Aku pulang, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Zar segera melangkah meninggalkan ruangan. Dia berjalan menuju lift yang pintunya langsung terbuka ketika pria itu memijit tombol. Selama berada di dalam lift, Zar terus memikirkan perbincangannya dengan Renata. Kedekatan antara Renata dengan Rakan membuat hatinya sedikit terusik.
🍁🍁🍁
**Zar cemburu?🤔
__ADS_1
Kalo kalian jadi Adi mending ketemu ama polisi apa Irzal?🤭
Tamar... Tarik nafas, hembus... Siapin stok sabar banyak²🤣**