
Rakan baru saja pulang dari masjid setelah menunaikan shalat isya berjamaah. Sejak pindah ke rumah barunya, pria itu langsung berbaur dengan tetangga di sekitar rumahnya. Salah satunya dengan membiasakan diri shalat berjamaah di masjid jika sudah berada di rumah. Dia membuka pintu pagar dan langsung menguncinya. Kondisi rumahnya terlihat sepi, karena memang hanya dirinya, Vanila dan dua orang asisten rumah tangganya saja yang tinggal di sana.
Mata Rakan langsung melihat istrinya yang sedang melipat mukenanya begitu masuk ke dalam kamar. Senyumnya mengembang mengetahui tamu yang datang berkunjung pada sang istri sudah pergi. Itu artinya, malam ini dia bisa berbuka puasa, melakukan malam pertama yang tertunda selama enam hari.
Pria itu melepaskan kopiah dan baju kokonya, menggantinya dengan kaos oblong. Dia juga melepaskan sarung yang dikenakannya. Tubuh bagian bawahnya hanya terbalut bokser selutut. Kemudian pria itu mendudukkan diri di sisi ranjang.
“Abang mau makan sekarang?” tawar Vanila.
“Nanti aja. Abang mau yang lain dulu.”
“Mau apa?”
“Kamu udah selesai datang bulannya, kan?”
Wajah Vanila merona mendengar pertanyaan Rakan. Itu artinya sang suami sudah bisa menyentuhnya sekarang. Selama enam hari ini mereka memang baru mencicil saja, itu pun Rakan hanya berani menciumnya saja. Dia masih belum mau menjamah bagian tubuh istrinya yang lain karena takut kebablasan.
Rakan merangkak naik ke atas kasur, lalu menepuk ruang kosong di sebelahnya. Dengan jantung berdebar tak karuan, Vanila naik ke atas kasur lalu merebahkan diri di samping sang suami. Rakan langsung mengubah posisinya, menghadap pada Vanila. Tangannya mengusap pipi mulus istrinya itu. Perlahan pria mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Vanila. Gayung bersambut, Vanila langsung membalas ciuman sang suami. Setelah enam hari berlatih, kini wanita itu sudah lihai membalas ciuman suaminya.
Sambil terus memagut bibir istrinya, tangan Rakan mulai bergerilya menjamah tubuh sang istri sedikit demi sedikit. Tangannya menelusup masuk ke dalam baby doll yang dikenakan Vanila. Bulu di tubuh wanita itu berdiri ketika merasakan usapan hangat tangan suaminya. Debaran di jantung Vanila bertambah kencang ketika tangan Rakan sudah berada di atas bukit kembarnya yang masih terbungkus rapih.
Rakan mengakhiri ciumannya, kemudian dengan gerakan pelan melepaskan pakaian atas yang dikenakan Vanila. Jantungnya juga tak kalah berdebar melihat pemandangan indah di bawahnya. Tubuh bagian atas sang istri kini hanya terbungkus kain berenda berwarna hitam saja.
Perlahan namun pasti, Rakan menelusupkan tangannya ke balik punggung Vanila, lalu membuka pengait kain penutup bukit kembarnya. Mata Vanila terpejam ketika Rakan melepaskan kain penutup itu lalu membuangnya sembarang arah. Cukup lama Rakan memandangi bulatan kenyal yang selama ini selalu menggodanya. Kemudian tangannya bergerak mengusap dan meremat bulatan yang seperti squishy.
Des*han dari mulut Vanila lolos ketika Rakan memberikan ciuman di bukit kembarnya. Cumbuan pria itu terus berlanjut, hingga semua pakaian yang membalut tubuh istrinya tidak bersisa lagi. Vanila menegakkan diri lalu membuka kaos yang dikenakan Rakan. Dia juga membantu Rakan melepaskan semua benang yang masih melekat di tubuhnya.
Cumbuan Rakan terus berlanjut, suara des*han dan lenguhan Vanila terdengar memenuhi sesisi ruangan. Puas mencumbu, Rakan kini bersiap untuk melakukan ritual suami istri. Sejenak dia memandangi bagian bawah istrinya. Dia seakan melihat keindahan lapangan golf yang dipenuhi rerumputan hijau, kolam dan jangan lupakan lubang untuk memasukkan bola ke dalamnya.
Rakan mulai menjajaki lapangan golf tersebut. Menelusuri rumput hijau yang terlihat begitu terawat. Sesekali dia memasukkan jarinya ke lubang ke tempat bola golfnya nanti akan bersarang. Setelah cukup menyusuri lapangan golf nan asri tersebut, pria itu bersiap untuk melakukan pukulan.
Setelah mengucapkan doa dengan suara pelan, Rakan mulai ambil posisi untuk memukul bolanya. Matanya terus melihat pada lubang yang menjadi tujuannya. Stik golf sudah siap berada di dekat bola miliknya. Sesekali dia mengayunkan stick golfnya untuk menjajal kekuatan tangannya.
Tangan Vanila mulai meremat seprai ketika Rakan mengayun-ngayunkan stick golfnya. Setelah yakin dengan tujuannya, pria itu mulai memukul bola berwarna putih tersebut dengan stick golfnya. Keakuratan pukulan dan kecepatan yang pas membuat bola menggelinding dengan cepat dan akhirnya masuk ke dalam lubang. Mata Vanila terpejam ketika bola Rakan akhirnya masuk ke dalam lubang.
Sengaja pria itu tidak langsung melanjutkan permainan. Dia memberi waktu pada sang istri untuk menyesuaikan diri. Beberapa saat kemudian, pria itu melanjutkan permainannya. Pada awalnya Vanila tidak menikmati permainan suaminya, rasa sakit lebih banyak mendominasi. Tapi lama kelamaan, rasa sakit tersebut berangsur menghilang. Suara rintihan sakitnya berubah menjadi des*han yang membuat Rakan semakin bersemangat untuk bermain.
Sebuah pukulan keras diberikan oleh Rakan, membuat bola yang dipukulnya masuk ke dalam kolam. Seketika bola miliknya basah terkena air. Vanila nampak terkulai lemas. Mata sayunya memandang Rakan yang masih ingin melanjutkan permainan karena lubang terakhinya belum sampai.
Sambil menyusuri dataran berwarna hijau itu, Rakan terus memukul bolanya. Hingga akhirnya dia sampai di lubang terakhir. Jaraknya tidak jauh, hanya tinggal sedikit lagi. Sekali pukul bola tersebut meluncur dan masuk ke dalam lubang terakhir. Terdengar erangan Rakan ketika dirinya berhasil melepaskan lahar panas miliknya ke dalam rahim sang istri.
Rakan membaringkan tubuhnya di samping Vanila. Nafasnya masih terdengar memburu akibat aktivitas yang dilakukannya. Begitu pula dengan Vanila. Ketika Rakan sampai ke puncaknya, wanita itu juga kembali dihantam gelombang hangat. Tangan Rakan memeluk tubuh Vanila dari belakang, seraya menciumi punggung polosnya.
“Terima kasih, sayang. I love you,” bisik Rakan.
“Love you too,” balas Vanila.
Wajah wanita itu memerah, lelah karena pergulatan yang mereka lakukan ditambah rasa malu yang mendera. Akhirnya dia bisa juga memberikan miliknya yang berharga pada sang suami, setelah harus tertunda selama beberapa hari. Sekarang dia bisa merasakan sendiri nikmat dunia yang sering diceritakan sepupunya.
Rakan bangun dari tidurnya lalu mengajak Vanila ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena sakit yang dirasakannya, Rakan membopong tubuh sang istri lalu masuk ke kamar mandi. Beberapa kali terdengar teriakan Vanila ketika Rakan terus menciumi dan memainkan bukit kembarnya saat sedang membersihkan diri.
Setelah tubuh bagian bawah mereka bersih, keduanya segera berpakaian. Selesai melakukan olahraga ranjang, perut Rakan mulai meraung-raung minta diisi. Pelan-pelan Vanila berjalan keluar kamar. Dia masih kesulitan berjalan, seperti ada yang mengganjal dan membatasi pergerakan kakinya.
Kembali Rakan membopong tubuh Vanila lalu menurunkannya di dapur. Wanita itu memanaskan sop buntut yang dibuatnya tadi. Sambil menunggu sop hangat, dia menggoreng perkedel kentang sebagai teman makan. Dalam waktu singkat, dua menu tersebut sudah tersaji di atas meja.
“Gimana bang, sop buntutnya?”
“Enak. Kamu emang pinter masak.”
Mendengar suara-suara dari arah ruang makan, salah satu asisten rumah tangga keluar dari kamarnya. Dia terkejut melihat majikannya sedang makan bersama. Dengan cepat wanita berusia tiga puluhan itu mendekati Rakan dan Vanila.
“Ibu kenapa tidak panggil saya?”
“Ngga apa-apa, bi. Kan Cuma manasin sop sama goreng perkedel aja. Bibi udah makan?”
“Udah, bu. Saya permisi dulu kalau begitu.”
Sepeninggal sang asisten, Vanila dan Rakan kembali melanjutkan makannya. Untuk urusan masak, Vanila memilih melakukannya sendiri. Kedua asistennya hanya diberikan tugas untuk membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika saja. Selebihnya menemani dirinya di rumah jika Rakan pergi bekerja.
“Kamu ngga ada niatan kerja atau mau buka usaha apa gitu?” tanya Rakan di sela-sela makannya.
“Usaha apa, bang?”
__ADS_1
“Yang sesuai dengan keahlian kamu, memasak.”
“Maunya sih, bang. Aku mau buka tempat makan kecil-kecilan aja. Tapi masih mikirin menunya. Kira-kira apa yang enak dan ngga terlalu ribet cara masaknya.”
“Coba konsultasi sama om Gavin atau om Gibran. Biar abang cari tempatnya yang strategis. Dari pada kamu bosan di rumah.”
“Iyam boleh bang. Makasih ya.”
CUP
Sebuah ciuman mendarat di pipi Rakan. Dia sangat bersyukur memiliki suami seperti Rakan yang sangat mengerti dirinya dan juga tidak banyak menuntut. Untung saja dia tidak jadi melanjutkan acara tinggal terpisah selama sebulan. Jangankan sebulan, sehari saja dia tidak siap berpisah dari Rakan. Suaminya itu terlalu manis untuk diajak tinggal berjauhan.
Selesai makan malam, pasangan pengantin tidak langsung kembali ke kamar. Mereka memilih bersantai di ruang tengah sambil menonton tayangan televisi. Sambil menyandarkan kepalanya di dada sang suami, mata Vanila terus melihat pada layar datar di depannya yang sedang menayangkan film bergenre action.
“Bang Zar masih di rumah sakit ya.”
“Iya, lusa katanya baru boleh pulang.”
“Kak Rena masih cuti selama bang Zar di rumah sakit?”
“Iya. Kayanya abang harus cepat-cepat cari sekretaris pengganti. Zar kayanya bakalan langsung ngelamar Rena setelah keluar dari rumah sakit. Kerjaan abang bakalan keteter kalau ngga ada Rena.”
“Sekretarisnya mending laki-laki aja, bang. Kalau perempuan, aku cuma percaya kak Rena. Yang lain aku ngga percaya.”
“Agak susah cari sekretaris laki-laki.”
“Susah tapi bukannya ngga mungkin, kan?”
“Iya, sayang. Abang bakal cari sekretaris laki-laki buat gantiin Rena.”
“Gitu, dong.”
Senyum Vanila mengembang mendengar Rakan menyetujui usulannya. Dia tidak rela ada perempuan lain yang dekat-dekat dengan suaminya. Sudah banyak cerita perselingkuhan antara atasan dengan sekretarisnya. Vanila tidak mau pernikahannya mengalami hal seperti itu. Makanya dia harus melakukan pencegahan mulai dari sekarang.
“Yang.. olahraga lagi yuk.”
“Lagi, bang?”
“Iya, buat bakar lemak yang barusan masuk.”
“Hahaha.. mau ya?”
“Tapi masih sakit, bang.”
“Yang kedua ngga akan sakit lagi, malah tambah enak.”
“Kata siapa?”
“Coba aja kamu tanya Arsy, Stella atau Aya.”
Setelah berpikir sejenak, Vanila menganggukkan kepalanya. Selain dosa menolak keinginan suami, dia juga ingin merasakan kembali surga dunia yang diberikan Rakan tadi. Rakan bangun kemudian membopong Vanila kembali ke kamar. Pelan-pelan dia membaringkan tubuh Vanila di kasur dan memposisikan dirinya di atas sang istri. Pria itu memulai cumbuannya dengan sebuah ciuman panjang.
🍁🍁🍁
Dua buah mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang di depannya terdapat spanduk bertuliskan PEMANCINGAN KELUARGA SABAR MENANTI. Dari kedua mobil tersebut, berturut-turut, Juna, Abi, Cakra, Jojo dan Kevin. Supir yang mengantar mereka segera membukakan bagasi. Alat pancing dan juga umpan sudah siap untuk mereka bawa.
Setelah memperlihatkan kartu keanggotaan, kelima orang tua tersebut segera masuk. Mereka memang sudah membayar biaya memancing selama satu tahun penuh. Pemancingan keluarga ini terdiri dari beberapa kolam. Ada kolam ikan mas, ikan gurame, ikan lele dan ikan nila. Masing-masing kolam memiliki area yang cukup luas. Satu kolam bisa menampung 20 orang pemancing.
Selain kolam ikan, di sana juga terdapat saung untuk makan. Di sana menyediakan jasa memasak ikan yang berhasil dipancing oleh pengunjung. Mereka hanya membayar biaya untuk masak dan bumbu saja. Selain itu, di sana juga terdapat taman yang cukup luas untuk melepaskan penat. Di sana terdapat beberapa fasilitas bermain, seperti perosotan, jungkat-jungkit dan ayunan. Di dekat taman terdapat kolam ikan terapi. Keluarga yang ikut mendampingi suaminya memancing bisa bersantai di taman atau di kolam terapi. Mushola dan toilet juga terdapat di sana.
Abi dan yang lain berjalan menuju kolam ikan gurame. Lima buah kursi sudah dikosongkan untuk mereka. Kelimanya duduk di posisinya masing-masing dan mulai menyiapkan alat pancingnya. Tak lupa mengaitkan umpan ke pancingan.
Hobi memancing ini diperkenalkan oleh Dharmawan. Sejak diajak mertua Kenan itu untuk memancing, pandawa lima mulai keranjingan memancing. Terkadang mereka pulang membawa banyak ikan dan dibagikan kepada semua keluarganya. Tentu saja ikan yang mereka bawa pulang bukan hasil memancing, tetapi membelinya. Mereka gengsi pulang dengan tangan kosong.
Abi melemparkan tali pancingnya dan memposisikan pancingan dalam posisi sedikit tegak. Total, dia dan para sahabatnya sudah memancing selama lima kali. Sampai aktivitas mereka yang terakhir, dia belum bisa mendapatkan ikan satu ekor pun. Berharap kali ini ada ikan yang mau memakan umpannya.
Di antara pandawa lima, hanya Juna yang berhasil mendapatkan ikan. Itu pun hanya seekor, namun begitu pria itu sudah cukup bangga karena bisa unggul dari para sahabat dan adiknya. Jojo lebih banyak berkicau selama memancing, mungkin itu yang membuat ikan enggan mendekati pancingannya.
Begitu pula dengan Cakra yang lebih banyak bergerak dan meninggalkan pancingannya begitu saja. Apalagi Kevin, dengan wajah datarnya, pria itu hanya menunggu pancingannya bergerak. Bahkan tak jarang pria itu sampai ketiduran.
Sudah dua jam lamanya pandawa lima duduk menunggu pancingannya disambar oleh ikan. Namun belum ada pergerakan sama sekali. Abi dengan kesal menarik tali pancingannya. Dia bertambah kesal saat melihat umpannya sudah hilang.
__ADS_1
“Ikan di kolam ini licik semua. Lihat nih, umpannya hilang, ikannya ngga dapet. Dasar ikan koruptor!” maki Abi.
“Tenang, Bi. Harus sabar kalo mancing,” ujar Juna. Padahal dia juga sudah kesal, pancingannya tidak kunjung bergerak.
“Ikan oh ikan kenapa kau tak makan. Macam mana ikan nak makan, umpannya dah habis.. umpannya dah habis.”
“Berisik, Jo!” kesal Abi.
“Besok-besok bawa lakban buat nutup mulutnya Jojo,” ujar Cakra sambil menggoyang-goyang pancingannya ke kanan dan kiri.
“Cak.. bisa diem, ngga? Gimana ikan mau nyantol kalo pancingannya gerak terus?” tegur Juna.
Cakra hanya mengangkat bahunya saja. Dia terus menggerak-gerakkan pancingan karena kesal belum mendapatkan ikan satu pun. Berbeda dengan Kevin, pria itu tak mengatakan apapun, matanya menatap lurus pada pancingannya.
“Vin.. masih hidup kan?” tanya Jojo.
“Jangan berisik, nanti ikannya kabur.”
Baru selesai Kevin bicara, nampak pancingannya bergerak-gerak. Dengan cepat Kevin memegang batang pancingannya lalu menarik tali pancingnya. Abi, Jojo, Juna dan Cakra yang melihat itu segera mendekat.
“Tarik terus, Vin!” Abi.
“Kevin.. Kevin.. Kevin… Kevin..” Jojo.
“Tenaganya kencengin dikit, elah lemah amat,” Cakra.
“Senyum, Vin. Tar ikannya kabur lagi lihat muka datar kamu.”
Tanpa mempedulikan yel-yel dari para sahabatnya, Kevin terus berkonsentrasi menarik tali pancingnya. Seekor ikan gurame dengan ukuran cukup besar tersangkut di kailnya. Juna membantu Kevin, agar ikannya tidak lepas. Dengan semangat Jojo dan Cakra memberi semangat.
“Go Kevin.. Go Kevin.. Go.. Go.. Go..” teriak Cakra dan Jojo bersamaan.
Kehebohan kedua orang tersebut sampai menarik perhatian beberapa orang yang satu kolam dengan mereka. Sedangkan Abi hanya diam saja sambil melihat ikan tersebut tanpa berkedip. Dalam hatinya berdoa, semoga saja ikan itu lepas.
“Yaaaahhhh!!!”
Ungkapan kekecewaan terdengar dari Jojo, Cakra dan Juna, ketika ikan yang sebentar lagi berhasil ditangkap oleh Kevin ternyata berhasil lepas. Abi tertawa senang melihat kegagalan sahabatnya. Dia kembali mendudukkan diri di tempatnya. Kevin menarik kail kemudian memasang kembali umpan lalu melemparnya lagi. Pria itu duduk menunggu seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
“Dari pada nungguin ikan yang ngga dateng-dateng, mendingan kita obrolin soal Arya sama Shifa,” usul Cakra.
“Boleh juga. Ayo.”
Abi yang memang sudah bosan meninggalkan pancingannya begitu saja. Dia berjalan menuju salah satu saung dan mendudukkan diri di sana. Tak lama, keempat sahabatnya menyusul. Seorang pelayan datang dan memberikan buku menu pada mereka.
“Saya pesan jus apel malang dan wortel aja, tanpa gula,” ujar Abi.
“Saya jus tomat,” Juna.
“Sama, jus apel malang dan wortel,” Cakra.
“Idem,” Jojo.
“Jus alpukat, no sugar, pake madu aja.”
Dengan cepat pelayan tersebut mencatat pesanan semuanya kemudian segera meninggalkan saung tersebut. Cakra mengeluarkan ponselnya kemudian mengetikkan sesuatu di kolom pencarian.
“Piala Sudirman dua bulan lagi. Pertandingannya digelar di senayan. Kita perlu kasih dukungan lagi nih buat Shifa,” usul Cakra.
“Bukan cuma buat Shifa, tapi semua tim. Biar Arya bisa langsung lamar Shifa,” ujar Abi.
“Nah benar tuh. Kita harus ngajak yang lain buat jadi supporter juga. Biar tambah rame, kan tambah enak buat intimidasi lawan,” seru Juna.
“Anak sama cucu kita suruh pada dateng. Kan rame tuh pasti. Shifa juga bakalan tambah semangat. Gimana, Vin?” Jojo melihat pada Kevin.
“Aku sih, yes.”
“Dasar Ujang Hermansyah,” dumel Abi.
“Hahaha..”
Gelak tawa mereka langsung terdengar menyambut ucapan Abi. Kevin melihat kesal pada sahabatnya itu. Setelah sekian lama, nama Ujang kembali terdengar. Dengan wajah tanpa dosa, Abi melihat pada Kevin lalu mengangkat bahunya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Pengantin baru mancing kenikmatan, pandawa lima mancing kerusuhan😂