
Mendengar kehamilan para pengantin baru yang hampir bersamaan waktunya tentu saja memberikan kebahagiaan sendiri bagi keluarga besar, teruama bagi pandawa lima. Mereka akhirnya akan kembali memiliki cicit. Kalau tidak ada halangan, mereka akan mendapat tujuh orang cicit dari lima pasang cucu mereka.
Untuk merayakan hari bahagia, mereka mengusulkan untuk membuat acara syukuran sekaligus mendoakan calon cicit mereka sampai hari kelahiran nanti. Karena kehamilan Arsy sekarang sudah masuk minggu ke enam belas.
Setelah melalui perundingan panjang yang tentunya penuh dengan perdebatan, akhirnya mereka memutuskan kalau acara syukuran akan dilaksanakan di kediaman Abi. Tadinya Jojo ngotot ingin syukuran di rumahnya, karena tiga orang cucunya tengah menantikan kelahiran anak-anaknya. Arsy, Zar dan Arya adalah cucu dari mantan playboy itu.
Tapi Juna yang juga sedang menunggu kelahiran cicit dari dua cucunya, Vanila dan Adisty, ngotot mengadakan syukuran di rumahnya. Akhirnya jalan tengah diambil, mereka akan mengadakan di kediaman Abi. Sedang Kevin dan Cakra pasrah saja. Mereka tidak mau ikut terlibat dalam adu mulut Juna dan Jojo.
Persiapan langsung dilakukan. Anak-anak langsung terjun menyiapkan makanan. Nara, Zahra, Anya, Azra dan Naya bertempur di dapur menyiapkan aneka hidangan. Tentu saja mereka dibantu oleh Geya dan Ayumi. Dayana tidak bisa membantu karena masih sibuk mengurusi si kecil. Yumna datang bersama dengan Iza sebagai koki tambahan. Nara sebagai eksekutif chef, memberi arahan apa saja yang harus dilakukan oleh yang lainnya.
Acara pertama yang dilakukan tentu saja mengadakan pengajian dengan mengundang majelis taklim yang ada di kompleks mereka tinggal. Pasangan calon ayah dan ibu datang mengikuti jalannya pengajian, minus Arsy dan Irzal. Di waktu yang sama, pengajian juga tengah digelar di kediaman Elang. Mereka menghadiri acara pengajian empat bulanan di sana lebih dulu, baru kemudian menuju kediaman Abi.
Wajah Zar, Aidan, apalagi Arya nampak berseri. Dalam hati mereka mengamini setiap doa yang dipanjatkan untuk keselamatan anak mereka. Rakan yang juga datang bersama Vanila ikut dalam doa bersama tersebut. Mereka sedang menunggu kelahiran sang anak. Kehamilan Vanila sekarang sudah memasuki usia delapan bulan.
Usai acara pengajian, tuan rumah memberikan bingkisan makanan dan juga buah tangan lain untuk dibawa pulang. Bahkan mereka juga dipersilahkan untuk mencicipi hidangan yang tersedia. Menjelang makan siang, acara pengajian pun selesai digelar. Kini hanya tinggal acara untuk keluarga saja.
Nara meminta asisten rumah tangga dan security di kediaman Abi untuk membagikan makanan pada para tetangganya dan juga security yang menjaga keamanan kompleks. Selain berbagi dengan tetangga dan kerabat. Keluarga Hikmat juga membagikan makanan untuk penghuni panti asuhan yang berada dalam naungan mereka dan keluarga Ramadhan.
“Kek.. dari pas doa, ada nama Arsy juga. Emang Arsy lagi isi juga? Kok tuh anak ngga bilang-bilang?” cerocos Zar sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Mereka sengaja ngga bilang, takut kejadian seperti dulu terulang.”
Zar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Pasti adiknya itu takut kalau harus mengalami keguguran lagi seperti pertama kali. Dalam hatinya bersyukur sang adik akhirnya bisa mendapatkan momongan lagi. Dia penasaran berapa usia kehamilan adik kembarnya itu.
“Arsy hamil berapa bulan, kek?”
“Nanti aja tanya sama orangnya. Masih rahasia katanya.”
Kembali Zar hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian dari arah depan terdengar suara mobil berhenti. Pria itu bergegas keluar begitu mengetahui yang datang adalah adik kembarnya. Mata pria itu langsung tertuju pada perut Arsy yang mulai membesar.
“Sy.. kamu hamil berapa bulan?”
“Alhamdulillah udah jalan empat bulan, bang.”
“What? Wah tokcer juga lo, Zal. Yakin empat bulan? Kok perut lo udah mulai nonjol sih? Biasanya kan empat bulan belum terlalu besar.”
“Kan aku hamil anak kembar.”
“Wah, keren. Selamat ya, Sy.”
Zar segera memeluk adiknya ini. Dia turut bahagia mendengar adiknya dikaruniai anak kembar. Pelukannya tidak terlalu lama, karena Irzal langsung memisahkan. Pria itu hanya berdecak kesal melihat adik iparnya yang terlalu posesif.
“Ya elah, Zal. Gue kan kakaknya, pelit amat lo, peluk bentar doang.”
“Peluk aja Rena,” balas Irzal asal.
“Kasihan gue sama elo, Sy. Punya laki posesif akut kaya gini.”
“Bodo!” jawab Irzal.
Arsy segera mengajak Irzal masuk ke dalam rumah. Kalau tidak dilerai, adu mulut antara suami dan kakak kembarnya pasti tidak akan pernah selesai. Bukan hanya Zar, tapi semua keluarga juga terkejut mendengar kehamilan Arsy. Mereka langsung memberikan ucapan selamat pada pasangan tersebut.
“Wah.. bang Arya ngga jadi juaranya, ternyata berhasil disalip bang Irzal, saudara-saudara,” ujar Geya yang disambut tawa lainnya.
“Biasa aja keles. Gue sih ngga akan gondok disalip sama pengantin expired,” balas Arya.
“Biar expired, soal keromantisan, kita masih berani diadu. Mau bukti?” tantang Irzal.
“Jangaaaaaann!!”
Teriak Ervano, Dipa dan Gilang bersamaan. Hal tersebut juga diamini oleh jomblo lainnya. Mereka tak sanggup melihat adegan uwu pasangan halal, karena sampai saat ini mereka masih belum punya lawan. Hanya Abrisam saja yang tidak bereaksi apapun.
Mata Arsy berkeliling mencari keberadaan kakeknya. Dia menangkap sang kakek berada di halaman belakang. Duduk bersama pandawa lima di gazebo. Dengan cepat wanita itu menghampiri sang kakek. Dia mencium punggung tangan semua yang ada di sana, kemudian mendudukkan diri di dekat Abi.
“Kakek, boleh ngga acara syukuran sekarang kita isi sama acara lain?”
“Acara apa tuh?”
“Acara hiburan sama lomba. Aku pengen bikin lomba masak. Yang masak para calon bapak, gimana kek?”
“Wah boleh juga tuh.”
“Lomba masak apa, Sy?” tanya Juna.
“Yang gampang aja kek. Nasi goreng, bahannya ngga ribet.”
“Nah boleh tuh. Kakek bakal minta pak Yayat siapin peralatannya. Kalau acara hiburannya apa?”
“Nyanyi dong, kek. Aku pengen dengar suamiku nyanyi, kan suaranya bagus. Terus mau lihat Ila duet nyanyi sama bang Rakan. Sama satu lagi..”
“Apa?”
Arsy mengajak pandawa lima mendekat, kemudian mengatakan acara hiburan apa yang diinginkannya. Kepala pandawa lima saling menoleh satu sama lain, kemudian melihat kembali pada Arsy.
“Emang mereka mau?”
“Harus mau. Aku udah kompakan sama Disty, Rena, Ila dan Shifa.”
“Ya udah kalau gitu, kakek oke aja.”
__ADS_1
“Udah kamu pergi dulu. Kita mau berunding,” seru Juna.
“Ok.. makasih ya kakek, KiJo, grandpa, eyang dan opa.”
Sebelum pergi Arsy mencium pipi pandawa lima satu per satu. Dia senang kelima pria itu mau mengabulkan keinginannya. Sudah bisa dibayangkan kehebohan yang akan terjadi. Setelah menemui pandawa lima, dia mendekati sepupunya yang sedang berbadan dua.
“Gimana. Sy? Grandpa dan yang lain setuju?” tanya Adisty.
“Tenang aja, mereka semua setuju.”
“Asiik.. udah ngga sabar nih,” seru Ila.
Dalam waktu kurang dari setengah jam, pak Yayat sudah berhasil menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk perlombaan memasak. Lima buah meja dengan kompor gas portable, wajah, talenan dan pisau sudah siap di atasnya. Abi meminta semua keluarga berkumpul di halaman belakang.
“Untuk merayakan hari bahagia. Kita akan mengadakan lomba memasak khusus untuk para calon ayah. Sebagai jurinya, istri-istri mereka tercinta plus juri kehormatan, Stella dan Geya.”
“Dih.. kenapa aku, kek?” protes Stella.
“Kan kamu yang paling doyan makan, cocok jadi juri.”
“Ya kalau mereka yang masak, ogah. Tar anakku keracunan asi gara-gara masakan mereka.”
Zar mengepalkan tangannya, mengarahkan pada Stella. Wanita itu hanya menjulurkan lidahnya pada sepupunya itu. Sekuat apapun Stella menolak, tetap saja titel juri melekat padanya. Sedang Geya hanya pasrah menerima tugas suci dan mulia tersebut.
“Abang.. doain aku bisa melaksanakan tugas dengan baik. Jangan lupa siapin penawar racun buat aku.”
“Hahahaha..”
Daffa tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan sang istri. Setelah pengumuman dibuat, Abi segera memanggil lima orang calon bapak untuk menempati posisinya masing-masing. Berturut-turut Rakan, Irzal, Zar, Arya dan Aidan maju menuju meja mereka. Mereka langsung berlari menuju dapur mengambil bahan masakan ketika pertandingan dimulai.
Terdengar teriakan para istri menyemangati suami mereka yang sedang berjuang membuat nasi goreng. Gilang sibuk mengabadikan pertandingan tersebut dengan kamera digitalnya. Menu kali ini sangat simple, hanya membuat nasi goreng. Tapi untuk ukuran pria yang tidak pernah terjun ke dapur, tentu saja sangat luar biasa repotnya.
Irzal menggeprek bawang putih lalu mencincangnya. Kemudian memotong bawang bombay dan daun bawang. Sebagai pelengkap, dia memotong sosis dan juga bakso. Nasi yang akan dibuat nasi goreng dicampurkan dengan dua butir telur, lalu diaduk rata. Dia pernah melihat Arsy membuat nasi goreng seperti ini.
Zar mengulek bawang merah, cabe merah dan tomat sebagai bumbu nasi goreng. Tidak lupa dia menyuwir ayam goreng, memotong sosis, bakso dan sawi hijau. Kira-kira begitulah resep Renata saat membuat nasi goreng.
Rakan mencincang bawang putih, mengiris bawang merah dan cabe merah. Kemudian dia lanjut mengiris kol dan sawi hijau. Tak lupa menambahkan sosis dan bakso, serta mengocok telur di mangkok kecil. Dia siap membuat nasi goreng berdasarkan resepnya sendiri.
Aidan mengulek bawang merah, bawang putih, cabe rawit dan kemiri. Setelah halus, dia memotong-motong sosis dan bakso. Tak lupa mengiris sawi hijau, daun bawang dan cabe merah agar lebih berwarna nasi gorengnya. Telur juga sudah disiapkan sebagai pelengkap.
Di antara yang lain, Arya yang paling kelimpungan. Pasalnya sang istri tidak bisa memasak, jadi tidak tahu juga bahan apa yang harus dipakainya. Dia juga tidak pernah masuk ke dapur melihat mama atau asisten rumah tangganya memasak. Pria itu hanya mengiris bawang merah, cabe merah dan tomat. Bakso juga hanya dibagi dua saja, begitu pula dengan sosis yang dipotong dengan ukuran cukup besar.
Selesai menyiapkan bahan, mereka mulai memasak nasi goreng tersebut. Terdengar kembali teriakan para istri menyemangati para suaminya. Tangan kelima pria itu sibuk menggerakkan sutil di tangannya dan menaburkan bumbu juga kecap. Irzal dan Rakan sempat mencicipi nasi goreng buatan mereka, sedang tiga yang lain tidak mau. Mereka mempercayai intuisinya saja.
Akhirnya acara masak memasak selesai. Meja yang dipakai memasak sudah seperti kapal pecah. Nasi yang keluar dari wajah berserakan di sekitar meja, begitu juga bumbu yang berjatuhan dan sampai sisa sayuran. Satu per satu mereka membawa nasi goreng ke hadapan tujuh orang juri.
Pertama-tama nasi goreng buatan Irzal yang dicicipi. Rasanya sebenarnya lumayan, hanya saja kurang garam dan penyedap. Jadi yang terasa hanya rasa manis dari kecap saja. Untuk nasi goreng Rakan, terasa sedikit asin. Pria itu terlalu banyak menambahkan garam dan kecap asin.
Nasib Arya tidak kalah sial. Warna nasi gorengnya sedikit hitam karena kebanyakan kecap, rasa asin, manis dan gurih bercampur tak karuan. Menurut Stella, rasa masakan Arya yang paling mengerikan. Wanita itu sampai meminum banyak air untuk menghilangkan rasa tak enak di lidahnya.
“Jadi siapa juaranya?” tanya Abi.
“Ngga ada! Ngga enak semua!” seru Stella.
“Tumben ppssstt.. biasanya lo kan asal gabres aja semua makanan,” seru Zar.
“Enak aja. Lidah gue masih normal, masih bisa membedakan mana masakan dan yang bikin keracunan.”
“Hahaha..”
“Menurutku juaranya bang Arya,” ceplos Geya. Sontak semua mata melihat pada wanita itu.
“Serius, Ge? Whooaaaa!! Gue juaranya!” Arya bersorak senang.
“Juara bikin kita keracunan,” sambung Geya.
“Kampret!”
“Hahahaha..”
“Oke.. berhubung ngga ada juaranya. Hadiah masih ke kantong lagi!” seru Abi.
“Huuuuu…”
Teriak para peserta yang sudah bersusah payah memasak nasi goreng. Pak Yayat dibantu yang lain segera membereskan peralatan yang digunakan lomba memasak. Kini saatnya acara hiburan. Semua sudah duduk manis di atas karpet, menghadap gazebo yang dijadikan panggung.
Irzal maju dengan gitar di tangannya. Dia siap memberikan hiburan untuk semua atas permintaan sang istri. Pria itu duduk di pinggir gazebo dengan kaki menjuntai ke bawah. Dia melambaikan tangannya, meminta sang istri duduk di sebelahnya.
“Kamu mau dinyanyiin lagu apa, sayang?” tanya Irzal.
“Huuuu… gembel mulu!” celetuk Nalendra.
“Apa aja, mas. Yang penting temanya cinta.”
“Ok.. ini lagu spesial buat kamu. Istri tercintaku.”
Terlihat ekspresi mau muntah dari Zar, Aidan, Daffa dan Arya. Tapi Irzal tak mempedulikan itu semua. Dia mulai memetik gitarnya. Sebuah lagu cinta milik Ada Band, Kau Auraku langsung terdengar dari mulut Irzal.
Sepanjang bernyanyi pria itu tak pernah lepas melihat sang istri. Arsy nampak terbuai mendengar suara merdu suaminya, begitu juga yang lain. Mereka terhanyut dengan lagu yang dibawakan, sekaligus melihat kemesraan pasangan di depan. Irzal mencium pipi sang istri sebelum melanjutkan nyanyiannya. Sontak hal tersebut mendapat teriakan dari para penonton.
__ADS_1
“Tak dapat kusangkali adanya dirimu. Yang s'lalu menaungi pikiran batinku. Ingin miliki hatimu, takkan pernah terlepaskan. Kupersembahkan semua padamu. Kau auraku, oh, pancarkan sepercik harapan. Datanglah merasuk, menjelma, meleburkan cinta. Kubawa kau terbang menembus awan yang beriring. Kembangkan senyuman bagai bunga bawa keindahan.”
Arsy langsung memeluk tubuh suaminya ketika lagu berakhir. Terdengar tepukan tangan dari yang lain. Mereka cukup terhibur dengan penampilan apik Irzal. Walau untuk para jomblo harus gigit jari melihat kemesraan mereka.
Untuk penampilan selanjutnya, Rakan dan Vanila maju. Irzal dan Arsy masih bertahan di tempatnya. Irzal masih harus mengiringi pasangan di sebelahnya untuk bernyanyi duet.
“Saat bahagiaku. Duduk berdua denganmu. Hanyalah bersamamu,” Rakan memulai nyanyiannya.
“Mungkin aku terlanjur. Tak sanggup jauh dari dirimu. Kuingin engkau s'lalu,” Vanila menyambung nyanyiannya.
Semua yang hadir, kecuali Daffa, Aqeel, Irzal, Shifa dan Nalendra terkejut mendengar suara Rakan yang merdu. Dari semua anak Reyhan dan Ayunda, memang hanya Rakan yang mewarisi suara merdu Ayunda.
“Ya ampun, aku baru tahu bang Rakan suaranya bagus ternyata,” seru Geya.
“Bang Rakan emang suaranya bagus. Cuma dia jarang pamer aja,” jawab Daffa.
“Kok abang ngga bisa nyanyi?”
“Tuhan itu maha adil. Kalau aku bisa nyanyi juga, makin banyak cewek yang ngantri, hahaha..”
“Ish.. mulai narsisnya.”
Tak ayal Geya ikut tertawa juga mendengar ucapan suaminya. Tapi ada benarnya juga. Kalau suaminya memiliki suara merdu, maka akan banyak para wanita yang tergila-gila padanya. Dan akan semakin sulit untuknya menghalau para pelakor. Lamunan Geya buyar ketika mendengar Rakan bernyanyi duet dengan Vanila.
“'Tuk jadi milikku. Kuingin engkau mampu. Kuingin engkau selalu bisa. Temani diriku. Sampai akhir hayatmu. Meskipun itu hanya terucap. Dari mulutmu. Dari dirimu yang terlanjur mampu. Bahagiakan aku. Hingga ujung waktuku. Selalu.”
Terdengar tepukan tangan dari yang lainnya begitu pasangan di depan mereka menyelesaikan lagunya. Vanila juga sama terkejutnya dengan yang lain. Dia tidak menyangka sang suami memiliki suara yang merdu. Dengan mesra, wanita itu memeluk suaminya.
“Sekarang hiburan terakhir dan yang paling ditunggu-tunggu. Tanpa berlama-lama, kita panggilkan kakek, grandpa, KiJo, eyang dan opa!” teriak Arsy.
Kembali suara tepukan tangan terdengar. Pandawa lima bangun dari duduknya, kemudian maju ke depan. Nina, Rindu dan Adinda mulai waspada, di luar Cakra dan Juna, suami-suami mereka memiliki suara yang ajaib, apalagi Abi. Nina takut Vanila mengalami kontraksi kalau mendengar suara suaminya bernyanyi.
“Go kakek! Bikin semua telinga kita budeg!” semangat Zar.
“Dasar cucu nujanah!” keki Abi, namun hanya dibalas kekehan saja oleh Zar.
“Sebelum bernyanyi, kami meminta pada Rakan, Zar, Arya dan Aidan maju ke depan. Kalian semua akan menemani kita bernyanyi.”
Keempat pria itu saling berpandangan. Mau tidak mau mereka maju ke depan, walau perasaan mulai tak enak. Apalagi ketika melihat senyuman Abi yang terasa horror untuk mereka.
“Kita nyanyi, kalian yang joged, oke?” seru Cakra.
“Ngga mau ah!” tolak Zar.
“Ini permintaan istri-istri kalian,” sambung Jojo.
“Zal.. sini lo, ikutan joged,” seru Arya melihat pada Irzal yang masih duduk di gazebo.
“Gue yang ngiringin. Emangnya lo bisa main gitar?” kilah Irzal.
“Ayo siap-siap. Kalian nari harus sesuai lirik yang kita nyanyikan, ya. Kita bakalan nyanyi lagu medley,” ujar Juna.
“Iya, grandpa.”
Juna melihat pada Irzal, kemudian menganggukkan kepalanya. Tadi mereka sudah mengatakan pada Irzal, lagu apa saja yang akan mereka nyanyikan. Irzal bersiap dengan gitarnya, memainkan lagu penuh kenangan untuk para pandawa lima. Jojo yang akan pertama bernyanyi.
“Dua mata saya, hidung saya satu. Dua kaki saya pakai sepatu baru. Dua telinga saya, yang kiri dan kanan. Satu mulut saya tidak berhenti makan.”
Keempat calon bapak segera berjoged mengikuti lirik lagu. Mereka memegang mata, hidung, telinga dan mulut sambil menggerakkan tubuh.
“Nih lagu cocok buat elo, psssstttt!!” teriak Zar.
“Hahaha..”
Stella langsung mengepalkan tangannya, lalu mengarahkan pada Zar. Tamar yang duduk di sebelahnya ikutan tertawa. Namun tawanya segera hilang begitu mendengar ucapan sang istri.
“Awas aja, tar malem ngga ada jatah.”
Setelah Jojo selesai membawakan lagu dua mata saya, kini giliran Juna yang akan menyanyi. Mereka masih konsisten membawakan lagu anak-anak, dengan alasan lagu ini mereka persembahkan untuk calon cicit mereka.
“Pada hari Minggu, ku turut Ayah ke kota. Naik delman istimewa, ku duduk di muka. Ku duduk samping Pak Kusir yang sedang bekerja. Mengendali kuda supaya baik jalannya, hai!. Tuk-tik-tak-tik, tuk-tik-tak-tik, tuk-tik-tak-tik, tuk. Tuk-tik-tak-tik, tuk-tik-tak, suara s'patu kuda.”
Cukup sulit kali ini para calon ayah berjoged mengikuti lirik lagu. Ketika Juna menyanyikan lirik ‘duduk di muka’, Zar mendekatkan bokongnya ke wajah Arya. Refleks pria itu mendorong bokong Zar, membuat suami dari Renata itu tersurung ke depan. Suara tawa kembali terdengar melihat tingkah konyol para calon ayah.
“Cicak-cicak di dinding. Diam-diam merayap. Datang seekor nyamuk. Hap! Lalu ditangkap,” kali ini giliran Kevin yang menyanyi.
Untuk lagu kali ini, Zar dan Arya merayap di rumput sambil mendekati istri mereka. Keduanya kompak mengecup bibir para istri ketika Kevin mengucapkan kata ‘hap’. Sontak apa yang mereka lakukan mengundang sorakan. Lagu terus berlanjut, sekarang giliran Cakra yang bernyanyi.
“Bangun tidur kuterus mandi. Tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu. Membersihkan tempat tidurku.”
Gelak tawa tak berhenti ketika melihat keempat orang pria di depan memperagakan gerakan sesua lirik lagu. Aidan membuka mulutnya lebar saat memperagrakan lirik menggosok gigi. Dan saat lirik kutolong ibu, kompak semuanya mengangkat Cakra, membuat pria itu harus menghadiahi pukulan ke kepala para cucunya.
Sekarang giliran Abi yang bernyanyi. Pria itu menyeringai saja melihat keempat sahabatnya, bahkan istrinya menutup telinganya. Dia berdehem beberapa kali sebelum mengeluarkan suara merdunya.
“Potong bebek angsa masak di kuali. Nona minta dansa dansa empat kali. Sorong ke kiri sorong ke kanan. La-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la. Masuk ke hutan, nyolong rambutan. Dikejar-kejar sama orang utan.”
Abi sengaja menambahkan lirik potong bebek angsa, menambah penderitaan orang-orang yang mendengar suaranya. Keempat calon ayah juga terpaksa harus menyiapkan gaya lain mengikuti lirik ciptaan Abi.
Sepanjang pandawa lima bernyanyi, Arsy tidak bisa berhenti tertawa. Tingkah pandawa lima dan empat orang calon ayah benar-benar mengocok perut. Begitu juga ibu hamil lainnya. Mereka ikut tertawa melihat suami mereka berjoged.
__ADS_1
🍁🍁🍁
No comment, hampir 3k kata, takut ngga lolos🏃🏃🏃