
Dengan wajah menunjukkan ketakutan, Ayu duduk di atas bednya. Tirai yang membatasi bednya ditutup rapat oleh suaminya. Adi duduk di atas bed dengan raut wajah yang terlihat menakutkan. Kebetulan bed di sebelahnya kosong. Jadi pria itu leluasa untuk mengancam sang istri.
“Apa yang kamu katakan pada dokter muda tadi?” tanya Adi.
“Ti.. tidak ada.”
“Tapi kenapa dia tahu kalau aku memukulimu? Kamu mengatakannya, iya?”
Refleks Ayu menutupi wajahnya dengan tangan begitu melihat tangan Adi terangkat dan sudah mengarah padanya. Pria itu mengurungkan niatnya memukuli istrinya. Bisa-bisa dia terkena masalah jika melakukannya di sini.
“Bangun. Ikut aku,” ujar Adi.
“Ma.. mau kemana, mas?” tanya Ayu takut-takut.
“Ikut saja, tidak usah banyak tanya,” mata Adi melotot pada Ayu.
Perlahan Ayu turun dari ranjang. Punggungnya masih terasa nyeri akibat pukulan suaminya tadi siang. Dengan langkah pelan Ayu berjalan keluar kamar. Adi terus berada di sampingnya, membimbing wanita itu, seolah dia adalah suami yang perhatian.
Awalnya Adi membawa Ayu berjalan-jalan di koridor rumah sakit. Sebenarnya dia masih mencari tempat yang tepat untuk melampiaskan amarahnya pada sang istri. Apalagi tadi Arsy sempat menyakiti tangannya. Dan semua itu karena istrinya yang mengadu pada dokter tersebut.
Adi melihat ke kanan dan kiri. Suasana di sekitarnya nampak sepi. Para suster tengah berkumpul di meja perawat. Dengan cepat Adi membuka pintu menuju tangga darurat lalu menyuruh Ayu masuk ke dalamnya. Ayu berjongkok di sudut dekat tangga, hatinya mulai ketar-ketir. Pasti sang suami hendak melampiaskan amarahnya lagi padanya.
Perlahan Adi mendekat lalu berjongkok di depan Ayu. Diraihnya dagu Ayu, memaksa istrinya itu untuk melihat padanya. Mata Ayu sudah berkaca-kaca, tubuhnya gemetar. Entah apakah dia masih bisa menahan pukulan yang akan mendera tubuhnya.
“Siapa yang menyuruhmu ke rumah sakit, hah?”
“Ma.. maaf mas. Badanku sa.. sakit semua, maaf,” Ayu menangkupkan kedua tangannya di depan sang suami.
“Kamu tahu berapa biaya yang harus kukeluarkan di sini? Apa kamu punya uang untuk membayarnya?”
“Maaf mas.”
“Pikirkan dulu jika mau bertindak,” beberapa kali Adi menoyor kepala istrinya.
“Maaf mas.. maaf..”
Ayu menjatuhkan tubuhnya, dia bersujud di hadapan Adi. Pria itu bangun dari posisinya tadi, lalu tanpa memiliki perasaan sedikit pun, dia mengangkat kakinya dengan kencang hingga menyentuh dagu Ayu. Tubuh Ayu terjengkang, kepalanya membentur tembok di belakangnya.
Terdengar ringisan wanita itu saat merasakan sakit di kepalanya. Adi mendekat lalu menjambak rambut istrinya hingga kepalanya terdongak. Airmata Ayu jatuh mengalir, matanya menatap sang suami penuh permohonan.
“Jangan macama-macam denganku. Besok kamu harus keluar dari rumah sakit. Kalau kamu menolak, maka bersiaplah untuk berpisah dengan Angga. Aku akan membawanya pergi darimu.”
“Jangan mas, jangan bawa Angga,” mohon Ayu.
“Makanya jangan macam-macam. Tidak ada yang peduli padamu kecuali aku, tidak ada yang bisa menolongmu kecuali aku. Kalau kamu macam-macam, aku akan membunuhmu dan membuang mayatmu ke laut. Mengerti?”
“I.. iya, mas.”
“Bangun!”
Dengan tertatih Ayu bangun. Adi menarik lengan Ayu keluar dari tangga darurat tersebut. Kemudian keduanya kembali ke ruang perawatan. Tangan Adi memeluk bahu sang istri. Ketika melintasi meja perawat, dia sengaja mengucapkan kata-kata manis pada istrinya itu. Ayu hanya menundukkan kepalanya saja sampai mereka kembali ke kamar.
🍁🍁🍁
Irzal duduk di atas ranjang sambil menyandarkan punggung ke headboard ranjang. Pria itu tengah fokus dengan ponsel di tangannya. Dia baru saja mendapatkan data kiriman dari Fathir tentang Adi, berikut rekaman cctv di dekat pintu masuk IGD. Bahkan rekaman cctv di dekat tangga darurat yang tadi dimasuki Adi sudah diterima oleh Irzal.
Rahangnya mengeras melihat bagaimana pria itu menjambak kepala sang istri. Matanya langsung melihat pada Arsy yang tengah memakai krim malamnya. Dia kemudian kembali fokus pada ponselnya. Pria itu berbalas chat dengan Daffa. Sepupunya itu mengatakan kalau Ayu korban kekerasan dalam rumah tangga, dilihat dari sejumlah luka yang diderita wanita itu.
Usai berbalas pesan pada Daffa. Dia kemudian mencari nomor Tamar. Pria itu mengirimkan data-data Adi pada sahabatnya itu. Tak lupa dia meminta Tamar datang ke rumah sakit esok hari untuk menjemput Adi.
From PolKam :
Apa-apaan nih? Laporan belum ada main suruh ciduk aja.
To PolKam :
Sanggup ngga? Kalo ngga, gue suruh Fathir aja yang jemput, biar dia dijadiin rujak bebek.
From PolKam :
Kan harus ada laporan dulu, nyet.
To Polkam :
Ya lo minta sama bininya. Kaga bisa? Berhenti aja lo, jadi polisi ngga guna.
Senyum Irzal mengembang membayangkan wajah kesal Tamar membaca chat darinya. Arsy yang sudah selesai mengaplikasikan krim malam ke wajahnya, merangkak naik ke atas ranjang. Dia langsung melihat pada ponsel suaminya karena curiga melihat pria itu tersenyum.
“Polkam siapa, mas?”
“Tamar.”
“Kok polkam?”
“Singkatan dari polisi kampret,” Irzal terkekeh. Arsy juga tidak bisa menahan tawanya. Setelah sang sepupu menamainya Tamara belepotan, ternyata sang suami tak kalah sadis memberi julukan.
“Mas suruh dia jemput Adi. Dia harus dikasih pelajaran.”
“Aku setuju mas. Dia pikir istrinya samsak apa.”
__ADS_1
Mendengar nama Adi, Arsy kembali dibuat kesal. Bukan hanya pria itu sering melakukan KDRT pada istrinya. Dia juga kesal karena Adi sudah menarik rambutnya. Bahkan sampai sekarang dia masih merasakan sedikit sakit. Sepertinya ada beberapa helai rambutnya yang tercabut akibat jambakannya.
Irzal menaruh ponsel di atas nakas. Arsy terjengit ketika sang suami mengusap-ngusap kepalanya. Tak lupa dia mendaratkan ciuman di bagian kepalanya yang terasa sakit. Setelahnya Irzal memeluk erat sang istri.
“Kepalamu masih sakit?”
“Sedikit.”
“Beraninya dia menjambak rambutmu dan membuatmu sakit.”
“Dia itu banci, bukan laki-laki.”
“Dia bukan manusia. Dia ngga lebih dari kodok burik yang pakai casing manusia.”
Mendengar istilah Irzal membuat Arsy tak bisa untuk tidak terkikik geli. Ternyata suaminya yang dingin dan irit bicara dengan orang lain, bisa memberikan julukan yang lucu. Wanita itu menyandarkan kepala ke dada Irzal. Setelah lelah bekerja mengobati pasien yang berdatangan ke IGD, dia ingin bermanja pada suaminya.
“Hari ini aku cape banget, mas. Banyak pasien yang datang. Ditambah kasus bu Ayu.”
“Jangan lupa minum vitamin. Nanti kamu malah sakit.”
“Iya, mas. Mas gimana di kantor?”
“Sama aja. Mas lagi pusing ngurus satu perusahaan yang tiba-tiba muncul dan beberapa kali mengambil proyek Humanity Corp.”
“Perusahaan apa, mas?”
“Infinity Corp. Perusahaan itu sudah berdiri 10 tahun lamanya, tapi baru tiga tahun ini eksis dan ikut dalam tender. Ayah meminta mas mengurus proyek terbaru, dan kami lagi-lagi akan berhadapan dengan Infinity Corp. Jangan sampai mereka mengambil kembali proyek Humanity.”
“Mas butuh bantuan papa?”
“Ngga usah, sayang. Mas cuma butuh dukungan kamu aja.”
“Aku selalu mendukungmu, mas.”
“Mas tahu.”
“Mau kukasih vitamin?”
“Vitamin apa?”
Arsy menegakkan tubuhnya, kemudian berpindah duduk di atas pangkuan suaminya. Tangannya memeluk leher pria tersebut kemudian memcium bibir Irzal dengan lembut. Irzal memeluk pinggang sang istri, membuat tubuh mereka merapat. Ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut.
🍁🍁🍁
Sambil bersenandung kecil Stella memasuki gedung rumah sakit. Suzy yang juga ikut bersamanya, berjalan di samping gadis itu. Dia baru saja mendapat bocoran dari Arsy kalau Tamar diminta datang ke rumah sakit untuk memproses seorang suami durjana yang telah melakukan KDRT pada istrinya.
Senyumnya mengembang melihat Tamar berdiri menunggu lift bersama pengunjung yang lain. Dia mempercepat langkahnya dan kini sudah berada di belakang sang polisi tampan tapi pemarah. Ditepuknya pundak Tamar hingga sang empu menoleh padanya.
“Abang mau nangkep penjahat kan?” Stella menaik turunkan alisnya.
“Sok tau,” Tamar kembali memutar tubuhnya membelakangi Stella. Gadis itu langsung berpindah ke samping Tamar.
“Tau dong, aku kan punya banyak informan. Aku ikut ya, bang.”
“Haaiisshh.. kamu kenapa senang banget ganggu aku.”
“Aku gabut, bang. Lagian abang belum mau buka kasus yang istri yang bunuh suaminya. Aku jadi luntang lantung ngga jelas gini.”
“Kamu ngga kuliah apa?”
“Aku hari ini libur.”
Perbincangan mereka terpotong ketika pintu lift terbuka. Tamar segera masuk ke dalamnya, disusul oleh Stella dan Suzy tentunya. Tamar hanya bisa pasrah saat Stella mengintilinya. Dilarang pun dia pasti akan tetap mengikutinya. Stella terkejut ketika tiba-tiba dari arah atas muncul penampakan perempuan berwajah seram dengan posisi terbalik.
“Aaaaa..”
Semua yang ada di lift terkejut, termasuk Tamar. Refleks Stella memeluk lengan Tamar. Makhluk halus yang tadi mengganggunya termasuk Suzy langsung menghilang. Tamar hanya memandangi gadis yang tengah memeluk lengannya sambil menyembunyikan wajahnya.
“Kenapa? Lihat teman kamu lagi ya?”
“Ish..”
Dengan cepat Stella melepaskan pelukannya. Kemudian sedikit menjauh dari Tamar. Dia sedikit kesal karena Suzy tidak menghalau makhluk menyeramkan yang tadi mengganggunya. Dia jadi harus memegang Tamar.
Dasar jin ngga guna. Katanya mau bantuin gue, eh malah diem aja. Ikutan hilang kan dia. Lumayan juga nih si Tamara belepotan, bisa gue jadiin satpam. Dasar Suzy ngga guna.
Tamar keluar dari lift saat sudah tiba di lantai tujuh. Stella bergegas mengikuti pria itu. Tamar yang sudah mendapat informasi dari Irzal segera menuju ruangan Halima. Dia menuju bed paling pojok yang tirainya tertutup rapat.
SREK
Dengan cepat Tamar membuka tirai. Adi yang tengah mencengkeram erat dagu Ayu segera melepaskannya ketika tirai pembatas terbuka. Stella memandangi Adi dari atas sampai bawah, lalu pandangannya tertuju pada Ayu. Wanita itu nampak ketakutan.
“Oii.. om.. situ banci apa waria, beraninya nyiksa perempuan,” celetuk Stella.
“Siapa kamu? Jangan asal tuduh,” kesal Adi.
“Lah itu tadi apa? Mata saya ngga buta loh. Om kan megang dagu tante kenceng banget. Lihat tuh dagunya merah,” Stella menunjuk dagu Ayu yang terlihat merah.
“Bapak Adi, bisa ikut saya?” Tamar membuka suaranya.
__ADS_1
“Buat apa? Kamu mau apa?”
“Ikut saya baik-baik atau perlu saya paksa?”
Adi menelan ludahnya kelat. Mau tak mau pria itu mengikuti langkah Tamar keluar dari kamar. Hal tersebut dimanfaatkan Stella untuk mendekati Ayu. Dia ingin membuat wanita itu membuka mulutnya akan kekerasan sang suami. Jika Ayu mau mengaku, maka dia bisa membantu tugas Tamar dan pria itu akan menjadikan dirinya additional partner.
Adi terus mengikuti Tamar masuk ke dalam lift. Petugas polisi itu membawa Adi ke rooftop. Tak berapa lama kemudian mereka sudah tiba di atas rooftop. Tidak seperti biasanya, suasana rooftop nampak sepi. Hanya ada satu orang di sana, seorang pria yang berdiri membelakangi pintu masuk.
“Bie..” panggil Tamar.
Pria yang ternyata Irzal itu membalikkan tubuhnya. Kening Adi mengernyit melihat seorang pria yang baru ditemuinya. Kemarin pria itu tidak memperhatikan wajah Irzal saat menenangkan Arsy.
“Gue kasih waktu lima menit. Jangan bonyok-bonyok, repot gue nanti ditanya atasan.”
“Bilang aja dia ketahuan mukulin istrinya terus dikeroyok tetangga,” jawab Irzal asal.
“Awas aja kalo sampe jadi rempeyek.”
Tamar membalikkan tubuhnya. Sebelum pria itu meninggalkan rooftop, dia berdiam sebentar di dekat Adi yang masih bingung dengan situasi yang dialaminya kini.
“Tahan sebentar aja, ya,” Tamar menepuk bahu Adi kemudian keluar dari rooftop. Dia menunggu di dekat tangga sambil memperhatikan jamnya.
“Ka.. kamu siapa?” tanya Adi dengan perasaan ketar-ketir.
“Saya? Ooh.. maaf saya lupa memperkenalkan diri. Saya adalah suami dari dokter yang kamu jambak rambutnya kemarin.”
Wajah Adi mendadak pucat mendengarnya. Refleks dia berjalan mundur menjauhi Irzal. Istrinya saja sudah menyeramkan, bagaimana dengan suaminya. Kira-kira seperti itulah yang ada dalam benak Adi.
“Kamu ngga mau pukul saya? Biar saya enak balesnya,” cetus Irzal.
“Ma.. maaf.. ke.. kemarin hanya kesalahpahaman.”
“Salah paham? Tapi istri saya mengeluh kepalanya masih sakit.”
BUGH
Tubuh Adi terdorong ke belakang, terdengar suara batuknya beberapa kali ketika tendangan Irzal mendarat di perutnya. Irzal terus mendekatinya. Tangan Adi terangkat meminta pria itu untuk berhenti.
“Kenapa? Sakit? istrimu juga kesakitan mendapat pukulan darimu. Di mana kamu memukulnya? Di sini?”
BUGH
Bogeman Irzal mendarat di wajah Adi. Sudut bibir pria itu sampai mengeluarkan darah. Masih belum puas memberikan pelajaran pada Adi, Irzal terus mendekatinya. Adi terus mundur sampai punggungnya menyentuh tembok di belakangnya. Ditariknya kerah kemeja Adi kemudian melemparkannya sampai tersungkur di lantai.
“Aaarrghhh..”
Teriakan Adi terdengar ketika punggungnya diinjak dengan keras oleh Irzal. Pria itu menekan kuat kakinya, hingga terdengar seperti suara tulang patah. Di saat bersamaan Tamar kembali ke rooftop, dia hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan sahabatnya.
“Udah, Bie.. tar mampus dia.”
“Biar dia ngerasain sakitnya seperti apa. Jangan cuma berani sama istrinya yang lemah.”
BUGH
Irzal kembali menendang Adi hingga tubuhnya terpental beberapa meter. Pria itu meringkuk sambil meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama di bagian punggung. Sepertinya tulang rusuknya ada yang patah.
“Oh iya lupa, tangannya belum gue buat patah.”
“Haaiisshh.. udah-udah.. nanti gue yang kena tegor.”
Tamar segera menghalangi Irzal yang hendak menyiksa Adi lagi. Wajah Adi terlihat pucat, dia menangkupkan kedua tangannya tanda memohon ampun. Pria itu hanya pasrah saja ketika Irzal dan Tamar berjongkok di depannya.
“Istri itu untuk disayang dan dilindungi, bukan untuk disiksa dan menjadi pelampiasan amarahmu. Berapa pun uang yang kamu berikan pada istrimu, tidak sebanding dengan luka fisik dan mental yang sudah kamu torehkan padanya. Dia yang akan menjaga dan merawatmu kalau dirimu sudah tidak berguna.”
Dengan kesal Irzal menoyor kencang kepala pria yang sudah tak berdaya itu. Sejenak dia melupakan kesopanan kalau usia Adi berada di atasnya. Tingkah pria itu yang sudah menyiksa istrinya sendiri dan menyakiti Arsy benar-benar membuatnya muak. Dengan cepat dia berdiri.
“Kalo jaksa ngga bisa kasih hukuman maksimal buat dia. Minta om Duta kirim dia ke pulau Rinca. Biar dia sparing partner sama komodo.”
Setelah mengatakan itu, Irzal berdiri kemudian meninggalkan Adi begitu saja. Tamar segera menarik tubuh Adi, membuat pria itu meringis kesakitan. Jalannya sedikit membungkuk karena sakit di punggungnya.
🍁🍁🍁
Sambil mengendap-endap Yuke memasuki pekarangan rumahnya. Dia tak punya pilihan selain kembali ke rumahnya. Hadiah yang dia menangkan dari bermain game, akan dikirimkan langsung oleh kurir. Pria itu tak mungkin memberikan alamat tempatnya bersembunyi. Dan di sinilah dia, kembali ke rumah orang tuanya.
Yuke bersembunyi di bagian samping rumah. Beberapa kali dia melihat ke arah pintu gerbang saat mendengar suara motor atau mobil. Kurir yang mengantarkan hadiahnya mengatakan sedang dalam perjalanan, dan sebentar lagi akan sampai. Wajah pria itu terlihat senang akan mendapatkan perangkat game terbaru.
Sambil menunggu kurir datang, Yuke membakar rokoknya. Sambil menyesap rokoknya dia melihat keadaan rumahnya yang sepi. Sejak dirinya menjadi buronan keluarga Hikmat, Yuke tak pernah pulang ke rumah. Kedua orang tuanya memilih pindah keluar kota daripada berurusan dengan keluarga Hikmat. Dan rumah ini hanya dihuni oleh penjaga rumah saja.
Yuke membuang rokoknya lalu menginjaknya. Dia keluar dari persembunyiannya ketika melihat sebuah mobil dengan stiker salah satu perusahaan kargo berhenti di depan rumah. Seorang pria turun dari dalamnya, dengan cepat Yuke mendekati.
“Dengan bapak Yuke?” tanya sang kurir.
“Iya, saya sendiri.”
“Silahkan dicek dulu barangnya, pak.”
Sang kurir membuka pintu mobil dengan cara menggesernya. Yuke melihat sebuah kotak besar di dalamnya. Ketika dirinya tepat berada di depan pintu, kurir tersebut menendang bokong Yuke hingga pria tersebut terjerembab masuk ke dalam mobil. Dengan cepat dia masuk ke dalam mobil lalu menutup pintunya. Tak lama mobil bergerak maju.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Kodok burik yg kaya gimana ya😂
Yuke udah ketangep, sisa 2 ya😉**