Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Sembilan Puluh Hari


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Charly kembali meneguk li-ur nya ketika melihat Dita sedang mengeringkan rambut menggunakan hair dryer di depan meja rias.


"Astaga, cantik banget wanita ini", batin Charly.


Dita yang menyadari kalau Charly sedang memperhatikannya, memutar posisi duduknya yang tadi menghadap kaca, menjadi menghadap ke arah Charly berdiri.


"Maaf, Mas, aku duduk di sini sebentar. Aku hanya mau mengeringkan rambutku. Setelah itu aku akan tidur di sofa", ucap Dita, lalu kembali memutar duduknya menghadap kaca.


Mendengar ucapan Dita, ada rasa sakit di hati Charly. Bagaimana mungkin istrinya tidur di sofa sementara dia tidur di kasur yang sangat empuk? Semua karena surat perjanjian itu.


Charly hanya diam, lalu merebahkan dirinya di ranjang yang sudah ditaburi bunga mawar. Tampaknya pihak WO mengira selama dua malam ini, Charly dan Dita akan melewatkan malam pengantin mereka dengan begitu indah. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya tidak akan pernah ada malam pengantin bagi Charly dan Dita.


"Mas, sesuai dengan kesepakatan yang kamu buat, maka mulai hari ini kita tidak akan bertegur sapa jika sedang berdua. Baik ketika di hotel selama dua malam ke depan, maupun nanti ketika aku sudah tinggal di apartemenmu. Dan maaf karena aku tidak akan mengurusi segala keperluanmu, karena memang itu yang kamu mau", ucap Dita karena melihat Charly tidak tidur, namun sedang memainkan game di handphonenya.


"Hheemm", lagi-lagi Charly hanya berdehem.


Dua jam kemudian, pihak hotel menghantarkan makan malam ke kamar Charly dan Dita. Yaa, ini salah satu servis pihak hotel bagi pengantin baru. Mulai dari sarapan hingga makan malam, akan mereka hantarkan ke kamar pengantin.


"Kenapa kamu makan gak ajak-ajak aku?", protes Charly.


"Kan itu mau kamu, Mas", jawab Dita dengan santai sambil menikmati makan malamnya.


"Istri macam apa kamu ini!", gerutu Charly.


"Kamu barusan ngomong apa, Mas? Istri?", tanya Dita.


"Lupain aja!", jawab Charly ketus.


"Aku akan membuatmu mencintaiku dengan caraku, Mas", batin Dita.


Setelah selesai makan, Dita langsung meninggalkan Charly yang masih duduk di kursi makan.


"Mau kemana kamu?", tanya Charly.


"Tidur", jawab Dita dengan singkat.


"Kamu baru aja selesai makan, Dita. Jangan langsung tidur", oceh Charly.


"Suka-suka aku lah, Mas", balas Dita lalu membaringkan tubuhnya di sofa.


"Bantal, guling, dan selimut, aku yang pakai. Jangan harap aku akan meminjamkannya kepadamu", ucap Charly.


"Aku gak butuh itu semua, Mas", jawab Dita sambil memiringkan tubuhnya menghadap sandaran sofa, lalu dia menutup matanya.

__ADS_1


"Yang aku butuhkan itu cinta kamu, Mas. Walaupun itu mustahil aku dapatkan, tapi aku akan berusaha semampuku, sampai batas kemampuanku, agar kamu bisa mencintaiku", batin Dita yang membuat air matanya menetes, membasahi pipi mulusnya.


Saat ini sudah jam sebelas malam, namun Charly belum juga bisa memejamkan matanya. Dia selalu terbayang akan senyum Dita saat di gereja tadi pagi. Senyum yang begitu manis, saat mereka berhadapan, saat Charly mencium kening sang istri sambil menggenggam tangan Dita.


"Aarrghh, kenapa wajahnya muncul terus di benakku?!", kesal Charly, yang saat ini duduk di headboard ranjang, sambil mengusap wajahnya kasar.


Charly menghidupkan lampu kamar hotel itu, lalu berjalan ke arah sofa tempat Dita tidur. Terlihat Dita tidur meringkuk, seperti bayi dalam rahim.


"Apa aku terlalu jahat membiarkanmu tidur di sofa?", batin Charly.


"Aku gak mengerti perasaan apa ini, Dita, tapi aku takut kalau kamu pergi meninggalkanku lagi", gumam Charly yang saat ini memberanikan diri mengelus kepala Dita.


Dita yang ternyata tidak tidur, tanpa sadar mengusap air matanya yang menetes ketika merasakan tangan Charly sedang mengelus kepalanya.


"Kamu tidak tidur?", tanya Charly yang menyadari bahwa Dita sedang menangis.


Dita hanya diam. Dia tidak merespon pertanyaan Charly.


"Kamu menangis?", tanya Charly lagi sambil memegang pundak Dita yang masih meringkuk di sofa.


Dita pun tetap diam, namun air matanya semakin deras.


"Dita, duduklah. Lihat aku", pinta Charly, namun Dita tetap tidak bergeming.


Akhirnya Dita pun mengalah, dia duduk di sofa sambil memeluk lututnya.


"Dita, lihat aku", suara Charly kembali terdengar sangat lembut.


"Berikan aku waktu selama sembilan puluh hari, agar aku tahu bagaimana sebenarnya perasaanku kepadamu. Aku mohon, jangan menangis lagi", ucap Charly ketika Dita menatap wajah tampannya.


"Kenapa harus sembilan puluh hari, Mas? Dan kenapa kamu tiba-tiba membicarakan soal perasaan?", tanya Dita sambil terisak.


"Agar aku benar-benar yakin dengan perasaanku. Kalau memang dalam waktu itu, aku tetap tidak merasakan apapun terhadapmu, aku akan menceraikanmu. Dan kamu boleh mencari lelaki lain, karena kamu berhak untuk dicintai, Dita", jawab Charly.


"Bagaimana jika dalam sembilan puluh hari, kamu ternyata mencintaiku, tetapi aku tidak mencintaimu, Mas?", tanya Dita.


"Kamu pun boleh menuntut cerai dariku", jawab Charly sambil menatap netra Dita dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Bagaimana dengan surat perjanjian itu, Mas?", tanya Dita lagi.


"Aku akan meralatnya", jawab Charly dengan suara yang lemah.


Dita cukup kecewa dengan jawaban Charly. Padahal yang Dita mau adalah, Charly merobek surat perjanjian itu, dan mereka bisa hidup bahagia layaknya sepasang suami istri.

__ADS_1


"Kamu boleh tidur di ranjang, biar aku yang tidur di sofa", ucap Charly yang membuat Dita terkejut.


"Tidak, Mas. Biarkan aku tidur di sofa, sampai kamu meralat surat perjanjian itu", balas Dita mempertahankan harga dirinya.


"Baiklah, kalau itu maumu", ucap Charly sambil kembali mengelus kepala Dita dan berjalan menuju ranjang pengantin mereka.


Keesokan harinya.


"Kamu tandatangani ini, ya", Charly menyerahkan secarik kertas dan sebuah pena kepada Dita.


"Yang lama sudah aku robek", ucapnya lagi.


Dita yang baru bangun pun menerima dan membaca kertas yang Charly berikan.


Surat Perjanjian Charly Brotoseno dan Anindita Kusuma


Kami yang bertandatangan di bawah ini, melalui surat ini menyepakati perjanjian bersama selama kami menjadi suami istri, yaitu:


1. Pernikahan ini akan berjalan selama sembilan puluh hari. Jika dalam sembilan puluh hari hanya ada satu pihak (suami atau istri) yang mencintai, maka pihak yang satunya berhak mengambil tindakan, mau berpisah atau melanjutkan pernikahan.


2. Charly dan Dita idur di kamar dan ranjang yang sama.


3. Saling menjaga kata-kata agar tidak menyakiti satu sama lain (terkhusus untuk Charly).


4. Dita dibebaskan untuk pergi kemana pun dan pulang jam berapa pun, begitu juga dengan Charly.


5. Dipersilakan untuk dekat dengan lawan jenis, asal tidak melakukan hubungan yang tidak seharusnya.


6. Charly berhak untuk melakukan apapun kepada Dita dan Dita tidak diperbolehkan membantah apalagi menolak.


7. Dita harus mengurusi semua keperluan Charly.


Demikian surat perjanjian ini kami buat dengan sesadar-sadarnya tanpa paksaan dari pihak mana pun. Surat ini berlaku setelah Charly dan Dita menikah.


Tertanda, Charly dan Dita.


Aduh, Charly, udahlah, mengaku aja kalau kamu sebenarnya sudah jatuh cinta sama Dita. Gak usah pake acara nunggu sembilan puluh hari segala. Keburu perasaan Dita berubah sama kamu, baru tahu loh.


"Aku ikuti apa maumu, Mas", ucap Dita lalu menandatangani surat perjanjian tersebut.


Dita tersenyum kepada Charly yang membuat Charly salah tingkah.


"Dalam sembilan puluh hari, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku, Mas. Tapi lihat saja, aku akan membuatmu galau, sampai kamu menyatakan cinta kepadaku", batin Dita.

__ADS_1


__ADS_2