Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Usaha Jerry


__ADS_3

"Kenapa tidak diangkat teleponnya, Nak? Mama perhatikan dari tadi kamu selalu menolak panggilan yang masuk. Siapa yang menelepon?", tanya Bu Sinta.


"Yura gak tahu itu nomor siapa, Ma. Yura paling males kalau ada telepon dari nomor gak dikenal", bohong Yura. Padahal sedari tadi yang menelepon dia adalah Jerry.


Sesampainya di rumah, Yura dan Bu Sinta langsung menikmati makan siang, sedangkan Pak Bram belum terlihat di rumah. Biasanya sehabis main golf, Pak Bram ngobrol-ngobrol santai bersama para sahabatnya. Mumpung hari Sabtu. Hehehehe.


Setelah selesai menikmati makan siang, Yura kembali ke kamarnya karena memang dia merasa sangat lelah siang ini. Padahal tadi di Mall, Bu Sinta dan Yura hanya memanjakan diri ke s*lon kecantikan untuk cre*mbath dan luluran, setelah itu mereka belanja keperluan pribadi. Yang membuat Yura lelah sebenarnya adalah Jerry. Dari pagi gak ada kabar, sekalinya ketemu malah sama wanita lain yang Yura sama sekali tidak mengenalnya. Yura pun merebahkan tubuhnya di ranjang, lalu mengelus perutnya, "Nak, kita harus sama-sama kuat ya. Bantu Mami biar Mami gak menangis", kata Yura. Namun ternyata air mata Yura tumpah juga. Dia sangat kecewa dengan suaminya. "Kenapa kamu mengkhianatiku, Mas?", gumam Yura. Kemudian Yura mengelus perutnya lagi, "Maaf ya, Nak. Mami ternyata gak bisa menahan air mata Mami", kata Yura. Seolah mengerti apa yang dirasakan Maminya, bayi dalam perut Yura seperti memberi respon berupa gerakan kecil.


Jerry pun akhirnya menyerah. Setelah selama satu jam dia mencari Yura di dalam Mall, teleponnya pun selalu ditolak, bahkan pesan singkatnya tidak dibalas oleh Yura, Jerry memilih untuk pulang.

__ADS_1


"Semoga Yura saat ini sudah di rumah. Aku akan melakukan apapun asalkan dia memaafkanku. Aku tidak seharusnya mendiamkan Yura dari semalam. Yaa semua memang salahku", sesal Jerry.


Tiga puluh menit kemudian Jerry sudah sampai di rumah mertuanya. Ketika Bude Rum membukakan pintu, Jerry langsung menanyakan keberadaan Yura. "Bude Rum, Yura sedang apa?", tanya Jerry.


"Non Yura lagi di kamar, Mas. Kayaknya lagi tidur siang. Mas Jerry dari mana? Non Yura dari tadi pagi nyariin Mas Jerry. Bude Rum sama Bu Sinta kan gak lihat pas Mas Jerry pergi tadi pagi, Non Yura juga kayaknya tadi pagi belum bangun kan?", selidik Bude Rum.


"Iya, Bude. Aku tadi izinnya sama Papa. Tadi aku ketemu teman lamaku, Bude", bohong Jerry. Padahal dia hanya mengelilingi Kota Jakarta karena masih ngambek sama Yura.


"Oh gitu toh. Eh, Mas Jerry sudah makan siang?", tanya Bude Rum lagi.

__ADS_1


"Aku sudah makan kog, Bude. Yasudah, kalau begitu aku ke kamar dulu ya, Bude", kata Jerry lalu langsung berjalan cepat menuju kamar mereka.


Pintu kamar mereka memang tidak dikunci oleh Yura, jadi Jerry bisa langsung membukanya. Perlahan dia membuka pintu kamar itu dengan perasaan bersalah. Ketika di dalam kamar, Jerry terlebih dahulu membersihkan tubuhnya sebelum mendekati istrinya. Sepuluh menit kemudian, setelah selesai mandi dan memakai pakaiannya, Jerry menghampiri Yura yang saat ini sedang tidur. Diusapnya kepala istri yang sangat dia cintai itu. Dipandanginya wajah teduh Yura yang sangat damai ketika sedang tidur. Sesekali dia mencium kening istrinya.


"Maafkan aku, Sayang", bisik Jerry yang tidak didengar oleh Yura.


"Aku sangat mencintaimu", sambungnya masih dengan berbisik.


Kemudian Jerry mengelus perut sang istri sambil mengajak anaknya berbicara, "Nak, bantu Papi untuk membujuk Mami ya. Mami hanya salah paham. Kamu percaya kan sama Papi?", tanya Jerry seolah anak yang masih berada dalam perut Yura mendengar ucapannya.

__ADS_1


Setelah itu Jerry memij*t kaki Yura dengan sangat hati-hati. Dia tahu kalau istri cantiknya itu sedang marah kepadanya. Dia akan melakukan apapun asalkan istrinya mau memaafkannya.


__ADS_2