
"Aku sangat menyukai wangi ini" batin Jerry ketika Yura baru saja menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi.
Kring..kring..
"Halo, selamat sore" Yura menerima panggilan telepon.
"Hai.. kamu apa kabar? Sudah kembali ke Indonesia? Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya. Apa? Kamu berencana ke Makassar? Kapan? Wahh,, dengan senang hati.. kita akan bertemu ya. Kabarin aku kalau kamu sudah di Makassar ya karena aku harus minta izin dari suamiku dulu untuk bisa keluar. Hehehehe" Yura sangat bersemangat berbicara melalui sambungan teleponnya.
Tanpa Yura sadari, sedari tadi Jerry masih duduk di pinggir ranjang tempat tidurnya dan mendengar apa yang dibicarakan Yura melalui teleponnya.
"Siapa yang menelepon Yura tadi? Mau bertemu? Apakah itu tadi seorang wanita atau laki-laki?" batin Jerry bertanya-tanya.
"Eh, Mas, kenapa belum mandi?" tanya Yura yang sedikit mengagetkan Jerry yang sedang menatap layar handphonenya.
"Suka-suka aku donk. Mau mandi, mau main handphone, mau ngapain juga, bukan urusan kamu." Jerry menjawab Yura dengan ketus sambil berjalan menuju kamar mandi.
Yura menggeleng. "Kenapa lagi pria galak ini?" batin Yura.
Tiga jam kemudian setelah mereka selesai makan malam dan berbincang santai...
__ADS_1
"Pa, Ma, kami pulang dulu ya. Besok harus kembali ke kantor" Jerry meminta izin kepada kedua orangtuanya.
"Apa tidak lebih baik kalau kalian berdua menginap disini, nak?" pinta Bu Mery.
"Kapan-kapan pasti kami menginap disini. Sekarang kami pulang ya, Pa, Ma" jawab Jerry lagi.
"Sudahlah, Ma. Biarkan anak-anak kita kembali ke rumah mereka. Berikan waktu untuk mereka menikmati masa-masa berdua. Mama seperti tidak mengerti pengantin baru saja. Biar kita bisa cepat dapat cucu, Ma", Pak Yudo berbisik kepada istrinya dan itu membuat mereka berdua tertawa kecil.
"Papa bisa aja" kata Bu Mery.
"Baiklah kalau kalian mau pulang, hati-hati di jalan ya, Nak" Pak Yudo memberi izin kepada Jerry dan Yura.
Di rumah Jerry dan Yura...
"Iya, Mas" jawab Yura.
Jerry pun masuk ke dalam kamarnya. Tapi entah kenapa dia merasa ada yang aneh. Rasa sepi. Yaa sepi sekali.
Sementara Yura, dia tidak langsung beristirahat di kamarnya. Seperti biasa, setiap malam dia melakukan aktivitas malamnya untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian, apalagi selama tiga hari mereka di Singapura, tidak sedikit mereka membawa pakaian kotor dari sana. Setelah selesai, barulah Yura masuk ke kamarnya dan beristirahat.
__ADS_1
Enam hari kemudian..
"Mas, nanti siang aku izin bertemu teman lamaku ya." Yura meminta izin kepada suaminya ketika mereka sedang sarapan pagi.
"Terserah kamu, tidak perlu minta izin denganku. Kamu mau kemana dan bertemu siapa, itu bukan urusanku" Jerry menjawab Yura dengan datar.
"Baiklah kalau begitu, Mas" kata Yura dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
"Hai Cyntiara Jenya.. akhirnya kita bertemu lagi. Kamu semakin cantik, Yura", Albert memuji Yura yang saat ini duduk di depannya.
"Terimakasih. Kamu tidak berubah juga ya, dari dulu selalu mengatakan kalau aku semakin cantik. Padahal wajahku gini-gini saja", Yura tertawa menjawab pujian Albert.
Yaa, dia adalah Albert Juanda. Teman kecil Yura yang baru saja kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan S3 nya di Amerika.
Albert sangat pintar. Sewaktu di sekolah, dia selalu bersaing dengan Yura. Bersaing dalam hal prestasi akademik maupun non akademik tentunya. Dan Albert adalah adik dari Pak Frans Juanda, Bos Yura sebelum dia pindah ke Makassar menjadi Sekretaris Pribadi Jerry.
"Jadi apa rencana kamu setelah ini, Al?" tanya Yura.
"Aku akan kembali ke Jakarta membantu Abang Frans untuk mengembangkan Perusahaan keluarga kami, Yur" terang Albert.
__ADS_1
"Oh iya, baguslah kalau begitu. Sampaikan salamku kepada Pak Frans ketika kamu sudah di Jakarta ya, Al", kata Yura.
"Siap, Nona Cantik", kata Albert sambil memandang Yura dengan tatapan yang penuh arti.