Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Tanpa Batasan Waktu


__ADS_3

"Sampai kapan, Mas?", tanya Dita yang memberanikan diri mengurai pelukan Charly dan menatapnya.


"Tanpa batasan waktu, Dit. Kamu akan selalu bersamaku", jawab Charly meyakinkan.


"Bagaimana kalau pada akhirnya kita tetap tidak saling mencintai?", Dita kembali bertanya yang membuat Charly terdiam.


"Kamu harus tetap bersamaku", jawab Charly dengan tatapam yang sangat dalam.


"Apakah kamu sebenarnya sudah mencintaiku, Mas?", selidik Dita.


"Aku tidak yakin, Dit. Karena aku tidak tahu bagaimana rasanya mencintai dan dicintai seseorang. Yang aku tahu, aku tidak mau kalau kamu meninggalkanku", jawab Charly sambil memegang tangan Dita.


"Kamu egois, Mas", Dita menjauhkan diri dari Charly dan mengemasi barang-barangnya.


"Mau kemana, Dit?", tanya Charly cukup lemah, karena sebenarnya dia tersiksa dengan perasaannya sendiri.


"Sebentar lagi kita harus checkout, Mas. Kamu juga bersiaplah", jawab Dita.


Ting.. Tung..


Bel kamar hotel yang ditempati Charly dan Dita berbunyi.


"Permisi, Bu, saya menghantarkan sarapan", ucap petugas hotel bintang lima tersebut.


"Terimakasih ya, Mas", ucap Dita sambil menerima serving food troley hotel yang berisi berbagai menu sarapan, dan membawanya ke dalam kamar mereka.


"Mas, kamu mau mandi dulu atau langsung sarapan?", tanya Dita.


"Sarapan dulu aja, Dit", jawab Charly sambil berjalan menuju meja makan.

__ADS_1


"Mau makan apa, Mas? Ada nasi goreng nih, kamu mau?", tanya Dita lagi.


"Kamu aja yang milihin aku makan apa. Mulai sekarang, aku akan terima apapun yang kamu siapin untuk aku", jawab Charly yang membuat Dita semakin bingung dengan perasaannya.


Yaa, semakin Charly bersikap manis, Dita pasti akan semakin mencintainya, sementara Charly sendiri tidak mengerti tentang perasaannya kepada Dita. Hempph, membingungkan sekali. Andai saja Charly adalah Reza, pasti Dita sudah diperlakukan seperti seorang ratu.


"Yasudah, kamu makan nasi goreng pake telur mata sapi ya. Mau tambah abon?", tawar Dita.


"Boleh", jawab Charly dengan senyum mengembang.


Di kantor Jerry...


"Ry, kita ke Palembang minggu depan aja ya. Soalnya hari jumat nanti, gue dan Yura mau ke Bali. Honeymoon", ucap Jerry kepada Ryan saat mereka sedang membahas bahan meeting bulanan bersama para kepala cabang yang akan dilaksanakan satu jam lagi.


"Honeymoon, Jer?", tanya Ryan dengan ekspresi yang membuat Dave mengu-lum senyumnya.


"Iyess, honeymoon", jawab Jerry sambil fokus dengan data-data meeting yang ada di tangannya.


"Mas Charly masih di hotel sih, Pak, sampai pagi ini. Saya kurang tahu juga kapan Mas Charly mulai praktik lagi", jawab Dave.


"Kira-kira kalau saya hubungi dia, mengganggu gak ya? Maklum, kan pengantin baru, hehehe", ucap Jerry lagi.


"Dicoba aja, Pak", jawab Dave pasrah, karena dia pun tidak tahu harus menjawab apa.


"Emang waktu lu pengantin baru, ngapain aja, Jer?", sindir Ryan.


"Gue? Ya sayang-sayanganlah sama istri", jawab Jerry asal.


"Yakin?", lagi-lagi Ryan menyindir Jerry.

__ADS_1


"Ry...", Jerry memelototi Ryan yang membuat Ryan memanyunkan bibirnya.


"Yaudah, yok kita lanjutin pembahasannya. Sebentar lagi kita meeting bersama para kepala cabang", ucap Ryan agar Jerry tidak memelototinya lagi.


Yura yang saat ini berada di dalam kamar minimalisnya yang berada di ruang kerja Jerry, sedang asyik dengan handphonenya, melihat-lihat desain interior rumah. Yaa, rencananya Jerry dan Yura akan pindah ke rumah baru mereka yang jauh lebih besar, yang Jerry beli khusus untuk Yura dan anak mereka, Charlie. Sementara rumah yang mereka tempati saat ini akan Jerry jual.


"Aku akan mewujudkan interior rumah impianku", batin Yura sambil tersenyum.


Kring.. Kring..


"Halo, ada apa, Al?", Yura menerima panggilan dari Albert.


"Halo, Cantik, lagi apa nih?", tanya Albert.


"Lagi nyantai aja di kantor suami", jawab Yura santai.


"Enak banget yang jadi Nyonya CEO. Hehehe. Yur, aku dan Bang Frans pagi ini balik ke Jakarta. Jangan kangen ya", ucap Albert.


"Hadeuh, Al. Buruan cari pacar makanya. Biar jangan godain istri orang terus", balas Yura dengan gaya manjanya.


"Kamu aja yang cariin, Yur. Aku percayakan jodohku kepadamu", ucap Albert yang membuat Yura tertawa.


"Ada ada aja kamu ini, Al", jawab Yura.


"Yaudah, kami berangkat ya. Bentar lagi pesawat take off. Kabarin kalau kamu melahirkan ya, Yur. Aku pasti datang melihat keponakanku", ucap Albert.


"Iya, Al. Tuhan memberkati kamu dan Bang Frans ya. Selamat sampai Jakarta. Amin", doa Yura.


"Pasti aku kabarin kalau keponakan kamu lahir ya", tambah Yura.

__ADS_1


"Amin. Yaudah, aku tutup teleponnya ya, Cantik", ucap Albert mengakhiri panggilan teleponnya.


__ADS_2