
Keesokan harinya..
"Selamat Pagi, Pa", Charly menyapa papanya yang sudah lebih dulu duduk di kursi makan.
"Kayaknya cerah banget pagi ini", ledek Pak Edward.
"Apaan sih, Pa", ucap Charly sambil mengolesi selai nanas pada roti tawar.
"Hemm, ada yang lagi berbunga-bunga nih", Dave yang baru saja bergabung dengan mereka di ruang makan ikut meledek Charly.
Charly pura-pura tidak mendengar ledekan Dave.
"Reza gak ikut turun, Dave?", tanya Pak Edward.
"Reza mah dari tadi udah di dapur, Pa. Katanya mau bantuin Bu Tini dan Mbak Dita", jawab Dave sambil melirik Charly.
"Bantuin ngapain?", tanya Pak Edward lagi.
"Gak tahu tuh, Pa. Paling juga akal-akalan Reza aja biar bisa deketin Mbak Dita", jawab Dave.
Charly yang mendengar pernyataan Dave langsung berhenti mengunyah dan berdiri dari kursi makannya.
"Mau kemana, Mas?", tanya Dave.
"Mau ke..", belum selesai Charly menjawab, Dita, Reza, dan Bu Tini datang bersama ke ruang makan dengan masing-masing membawa makanan di tangan mereka.
"Selamat sarapan", ucap Bu Tini lalu kembali ke dapur.
__ADS_1
"Wah, makanan sudah jadi. Kita langsung sarapan aja yok", ajak Pak Edward.
"Charly, kamu gak jadi sarapan bareng?", tanya Pak Edward.
"Jadi kog, Pa", jawab Charly, lalu kembali duduk.
Tanpa rasa bersalah, Reza duduk di kursi yang berada di sebelah Charly.
"Mbak Dita, sini duduk di sebelahku", ajak Dave.
"Dave, kamu disini aja", titah Charly lalu beranjak lagi dari duduknya, bermaksud bertukar tempat duduk dengan Dave.
"Buruaaan", ucap Charly lagi karena Dave belum juga bergerak.
"Apaan sih, Mas?", protes Dave.
"Kamu mau makan apa, Mas?", tanya Dita setelah Charly duduk di sebelahnya.
"Nasi goreng aja, Sayang", jawab Charly yang membuat Pak Edward, Dave, dan Reza sama-sama membelalakkan matanya melihat Charly. Sedangkan Dita sudah bisa dipastikan kalau saat ini pipinya memerah karena merasa malu dipanggil Sayang oleh Charly di depan keluarganya.
"Sayang?", gumam Reza yang keceplosan.
"Bawang gorengnya yang banyak ya, Sayang", pinta Charly yang dibalas anggukan oleh Dita.
"Dit, aku juga mau donk nasi gorengnya", ucap Reza.
Tak disangka, respon Charly malah membuat Pak Edward dan Dave geleng-geleng kepala, karena Charly langsung mengangkat tempat nasi goreng tersebut dan menaruhnya di depan Reza.
__ADS_1
"Gak usah manja sama istri orang, nih ambil sendiri", ucap Charly yang membuat Reza memanyunkan bibirnya.
"Heemm, ada aroma-aroma cemburu nih", sindir Dave yang dibalas lirikan tajam oleh Charly.
"Jadi rencana kalian setelah ini gimana?", tanya Pak Edward sambil mereka menikmati sarapannya.
"Pulang ke apartemen, Pa. Dita mau ambil pakaian kerja, terus aku mau anterin Dita ke rumah sakit", jawab Charly.
"Pakaian kerja kamu kan ada di apartemenku, Dit", Reza keceplosan lalu reflek menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Gimana-gimana?", tanya Charly.
"Nanti aku jelasin ya, Mas. Kita selesaikan sarapan dulu. Aku takut telat ke rumah sakit", jawab Dita.
"Oh iya, Bu Tini di belakang ya? Udah belanja keperluan dapur belum ya? Papa lihat sebentar", Pak Edward seperti mau menghindar dari pembahasan terakhir yang membuat Charly sedikit curiga.
"Pa, tunggu, salam dulu. Aku mau berangkat ke kantor, ada meeting pagi ini", ucap Dave sambil mencium punggung tangan Pak Edward.
Padahal pagi ini tidak ada meeting pagi di kantor, itu hanya alasan Dave saja agar bisa segera meninggalkan ruang makan.
"Om om, aku juga berangkat ya", Reza juga mencium punggung tangan Pak Edward.
"Kalian hati-hati ya", ucap Pak Edward lalu berjalan ke arah dapur.
Saat ini hanya tinggal Charly dan Dita saja yang berada di ruang makan.
"Mas, nanti aku jelasin ya, jangan pikir yang macam-macam", ucap Dita sambil memegang tangan Charly.
__ADS_1
"Iya, Sayang", jawab Charly.