
Di rumah sakit...
"Untuk sementara lengannya dibalut dengan perban elastis ini dulu ya, Bu, ini bertujuan untuk mengurangi pembengkakan. Tangan kirinya jangan terlalu banyak digerakkan ya, supaya pemulihannya bisa total", kata seorang Dokter Spesialis Ortopedi yang menangani Yura.
"Terimakasih, Dokter. Kalau begitu kami permisi ya", kata Yura.
Setelah keluar dari ruangan dokter dan membayar semua biaya administrasi, Albert menghantarkan Yura pulang ke rumahnya.
Empat puluh lima menit kemudian mereka sampai di rumah...
"Yura, kamu langsung istirahat ya. Oh iya, tapi kamu belum makan siang, apa perlu aku belikan makanan untukmu?", tanya Albert ketika mereka sudah sampai di depan rumah Jerry dan Yura.
"Tidak usah, Al. Aku makan di rumah saja, kebetulan tadi pagi aku masak", jawab Yura.
"Yasudah kalau begitu. Aku bantu bukakan pintu mobilnya sebentar ya", kata Albert lalu dia turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Yura.
"Terimakasih ya, Al. Kamu tidak mau masuk dulu?", Yura menawarkan Albert untuk singgah ke rumahnya.
"Aku langsung balik ke hotel saja ya. Keluargaku sudah pada kumpul karena besok acara pernikahan sepupuhku", kata Albert.
"Selama kamu disini, kamu bisa membawa mobilku, Al", kata Yura.
"Tidak usah, Yur. Keluargaku banyak disini, aku bisa pakai mobil mereka. Lagi pula kalau aku pakai mobilmu bisa-bisa suamimu menghajarku. Hahaha", balas Jerry.
"Maafin sikap Mas Jerry tadi ya, Al. Maaf sudah buat kamu gak nyaman", Yura menyesali apa yang Jerry perbuat beberapa jam yang lalu.
"Yura, justru aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak terima kalau dia berbuat kasar terhadapmu. Kalau ada apa-apa, jangan segan untuk menghubungiku ya. Aku akan selalu ada untukmu", Albert mengelus kepala Yura.
"Tapi, Al, kamu tidak usah terlalu perhatian kepadaku, karena aku sudah menikah, sekarang aku sudah bersuami", kata Yura.
"Iya, aku tau, Yura. Aku tahu aku salah karena masih mencintai dan mengharapkanmu. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku, Yura. Aku tidak akan terima kalau suamimu itu berlaku kasar terhadapmu. Aku akan rela melepasmu kalau kamu sudah menemukan kebahagiaanmu. Yur, jujur sama aku, apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?", pertanyaan Albert membuat air mata Yura berlinang.
__ADS_1
"Al, bagiku pernikahan itu hanya sekali. Aku percaya bahwa apa yang sudah Tuhan persatukan tidak boleh diceraikan manusia kecuali maut yang memisahkan. Jadi bagaimanapun sikap suamiku, aku harus menerimanya. Walaupun dalam empat bulan pertama pernikahan kami sangat banyak hal yang terjadi, selama tiga bulan terakhir ini aku sangat bahagia. Karena Mas Jerry mencintaiku. Tujuh bulan sudah aku menjadi istrinya. Tapi entah darimana datangnya masalah itu, hubungan antara aku dan Mas Jerry sejak kemarin siang sedikit renggang", terang Yura.
Yaa, Yura tidak akan menceritakan tentang Fely kepada Albert. Karena pasti Albert akan menghajar Jerry kalau sampai tahu dia memiliki hubungan dengan wanita lain. Biar bagaimanapun, Yura sangat mencintai suaminya. Dia pasti akan menjaga nama baik suaminya.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kamu masuk ke rumah ya. Aku berharap masalah kamu dan Jerry segera diselesaikan. Aku tidak mau kamu menangis, Yura", Jerry menghapus air mata Yura yang membasahi pipi mulusnya.
"Taksinya sudah datang. Aku balik ke hotel ya. Ingat, kalau ada apa-apa segera hubungi aku", kata Albert.
Setelah taksi yang Albert tumpangi melaju, Yura masuk ke rumahnya. Dan ternyata pintu rumahnya tidak dikunci. Yaa, Yura tahu kalau Jerry ada di dalam, karena mobilnya sudah terparkir di halaman.
Tanpa Yura ketahui, sejak tadi Jerry mengintip dari balik horden jendela ruang tamu dan melihat ketika Albert mengelus kepala Yura bahkan ketika Albert membelai pipi Yura. Sayangnya, percakapan antara Albert dan Yura tidak terdengar dengan jelas.
"Senang ya rasanya berduaan dengan cinta pertama yang berkedok sahabat", Jerry yang duduk di ruang tamu menghentikan langkah Yura.
"Apa maksud kamu, Mas?", tanya Yura.
"Albert menghantarku ke dokter dan menghantarku kembali ke rumah. Dan sekarang dia balik ke hotel menggunakan taksi. Apa maksud kamu berduaan?", kata Yura.
"Kamu pikir aku tidak melihat kalau dia tadi mengelus kepalamu bahkan membelai pipimu", Jerry seperti mengibarkan bendera perang.
"Kamu lihat apa yang kamu perbuat terhadapku?", Yura menunjukkan lengan kirinya yang kini dibalut perban elastis.
"Kamu bahkan tidak ada niat sedikit pun untuk mengobati tanganku. Terimakasih, Mas. Terimakasih", jawab Yura sambil berlalu meninggalkan Jerry menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Yura menangis sejadi-jadinya. Dia merasa sangat kecewa dengan perkataan Jerry.
Begitu juga dengan Jerry, bukannya mencoba membujuk dan meminta maaf kepada Yura, dia malah masuk ke kamarnya.
"Aarrgghhh. Ada apa denganku?", Jerry memukul ranjangnya.
"Aku terlalu cemburu melihat kedekatan Albert dan Yura. Maafkan aku, Yura. Hari ini aku sudah sangat menyakitimu", Jerry berbicara sendiri dan tanpa dia sadari air matanya menetes.
__ADS_1
Pukul lima sore, Yura keluar dari kamarnya dengan kondisi mata yang sembab.
"Aku lapar sekali", batin Yura.
Ketika dia menuju dapur untuk mengambil makanan, dia melihat Jerry yang sedang duduk di depan TV sambil menikmati Salad Buah kiriman mamanya kemarin siang.
Ternyata Jerry menyadari keberadaan Yura yang saat ini berada di meja makan. Namun dia bersikap seolah dia tidak melihat Yura.
"Mas, kamu sudah makan?", Yura membesarkan hatinya untuk menyapa Jerry.
"Terimakasih untuk masakanmu. Aku sudah makan", jawab Jerry tanpa melihat Yura.
Yura hanya mengangguk, tidak lagi menanggapi jawaban Jerry.
Setelah Yura selesai makan, dia bermaksud untuk mencuci perabotan makan yang dia gunakan.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Tanganmu masih cidera. Biar aku yang mencucinya nanti", Jerry datang mendekati Yura yang saat ini berada di dekat washtafel sambil membawa segelas jus mangga.
"Minumlah ini. Aku yang membuatnya. Tadi pagi aku ke supermarket untuk berbelanja Buah. Aku tahu kamu sangat menyukai Jus Mangga", kata Jerry.
Terjawab sudah kan kemana perginya Jerry tadi pagi. Hehehe
Tanpa banyak bicara, Yura langsung menghabiskan Jus Mangga buatan Jerry.
"Terimakasih, Mas", kata Yura sambil meletakkan gelasnya ditumpukan perabot makan yang kotor.
"Kamu mau makan Salad Buah?", tanya Jerry ketika Yura kembali duduk di kursi makan.
"Tidak, Mas. Aku masih kenyang", Yura menjawab Jerry tapi matanya mengarah entah kemana.
"Sayang, maafkan aku", Jerry duduk di sebelah Yura.
__ADS_1
"Sikapku dan kata-kataku hari ini sangat keterlaluan. Bahkan tadi pagi aku bersikap acuh ketika kamu muntah-muntah. Aku juga sudah membuat tanganmu cidera", sesal Jerry.
"Sayang, aku mohon maafkan aku", Jerry menggenggam tangan kanan Yura.