
"Mas, aku tidak selingkuh", Yura menoleh ke arah Jerry yang duduk di sebelahnya, yang masih mengenggam erat tangan Yura.
"Iya, Sayang. Ampuni aku. Aku tahu ucapanku tadi tidak bisa dimaafkan. Aku sudah berdosa, Sayang", Jerry masih terus menangis sambil menciumi tangan Yura.
"Maafkan aku", ucap Jerry lagi, dan kini tangisannya semakin keras, sambil dia memeluk Yura.
Yura membuang nafas pelan.
"Aku lelah, Mas. Aku mau tidur", ucap Yura lemah.
"Kamu mau makan atau mau minum susu dulu, Sayang?", tanya Jerry dengan suara yang serak, sesekali dia masih terisak.
Yura hanya menggeleng.
"Aku mau tidur, Mas", jawab Yura.
"Baiklah, Sayang. Aku temani kamu di sini ya", Jerry mencium kening istrinya.
Yura pun tertidur sambil kepalanya dielus lembut oleh Jerry.
Jerry terus memandangi wajah cantik istrinya yang sangat damai ketika sedang tidur.
Sesekali air matanya menetes mengingat perkataan kasarnya kepada Yura beberapa jam yang lalu.
"Ampuni aku, Tuhan. Aku sudah sangat jahat kepada istriku", gumam Jerry.
"Maafkan aku, Sayang", Jerry mencium pipi istrinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
__ADS_1
Jerry baru saja selesai mandi. Yura yang masih berbaring, membuka matanya dan melihat Jerry sedang memakai pakaiannya.
Spontan Yura langsung membuang pandangannya ketika Jerry melihat ke arahnya.
"Sayang", Jerry tersenyum dan mendekati Yura.
"Kamu mau mandi?", tanya Jerry yang tidak mendapat respon dari Yura.
"Mam..", panggil Jerry sambil memegang tangan istrinya.
"Mam, Papi tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang. Bahkan mendapat maaf darimu pun sepertinya Papi tidak layak", air mata Jerry kembali menetes.
"Aku mau duduk", Yura berusaha bangun dan duduk bersandar di headboard.
"Kamu mau aku buatkan jus mangga?", tanya Jerry yang kini duduk di pinggir ranjang.
Yura hanya menggeleng.
"Jangan panggil aku seperti itu, Mas, karena aku tidak pantas menerima panggilan itu dari dirimu", kata Yura.
"Maksud kamu apa, Sayang?", tanya Jerry.
"Sepertinya aku tidak bisa bertahan denganmu lagi, Mas. Setiap kali kamu marah dan cemburu, sikap dan kata-katamu selalu menyakitiku", jawab Yura dengan suara yang lemah.
"Apa maksud kamu, Sayang?", tanya Jerry yang merasa ada sesuatu yang membuat hatinya perih.
"Aku mau kita bercerai saja, Mas", ucap Yura yang membuat air matanya kembali menetes dan berhasil membuat Jerry mematung.
"Aku tahu ini salah. Tuhan juga sangat tidak menyukai perceraian, tapi aku juga harus memikirkan hidupku, Mas", ucap Yura.
__ADS_1
"Kamu terus saja membuat hatiku terluka setiap kali merasa cemburu. Aku pun bingung kenapa kamu selalu cemburu setiap aku bertemu lelaki lain. Padahal mereka hanya temanku. Sama Albert, kamu cemburu. Sama Dokter Charly, kamu pun cemburu", Yura berusaha berbicara dengan tegar.
"Mas, kamu ingat kata-katamu tadi? Kamu meragukan bayi yang ada dalam kandunganku adalah anakmu. Kamu menilaiku sangat buruk, Mas. Bahkan bayi yang tidak berdosa ini menjadi sasaran kecemburuanmu", Yura mengelus perutnya dan menatap Jerry dengan tatapan tajam.
"Sayang", Jerry menggelengkan kepalanya dengan lemas.
"Aku gak mau berpisah denganmu. Aku tahu ucapan dan sikapku tidak bisa dimaafkan. Tapi aku mohon, jangan pernah meninggalkanku. Aku lebih baik kehilangan seluruh hartaku dari pada aku harus kehilanganmu dan anak kita, Sayang", ucap Jerry yang kembali menangis.
"Anak kita? Sudah sadar kamu sekarang kalau ini adalah anakmu?", tanya Yura dengan menatap Jerry.
"Iya, Sayang. Anak kita. Anakku", jawab Jerry lemah.
"Kamu boleh marah padaku, kamu boleh mendiamkanku, tapi aku mohon jangan pernah tinggalkan aku, Sayang. Aku mohon. Aku sangat menyesal, Sayang", Jerry tertunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Yura berdiri dan berjalan untuk mengambil koper berisi pakaian yang tadi dia kemas.
"Sayang, aku mohon, jangan tinggalkan aku", Jerry memeluk Yura dari belakang.
"Beri aku waktu, Mas", jawab Yura.
"Tapi kamu mau kemana?", tanya Jerry.
"Selama satu minggu ini biarkan aku tidur di kamar lamaku,", jawab Yura sambil melepas pelukan Jerry.
"Kalau begitu aku juga ikut tidur di sana", Jerry mengekor di belakang Yura.
"Tidak, Mas, kamar kamu di sini", ucap Yura sambil menghentikan langkahnya.
"Mas, beri aku waktu untuk sendiri. Kamu pilih, aku tidur di kamar lamaku, atau aku pergi dari rumah ini?", tanya Yura yang membuat Jerry terdiam.
__ADS_1
"Kamu mau aku keluar dari rumah ini?", tanya Yura lagi.
"Baiklah, Sayang. Kamu boleh tidur di kamar lamamu. Dan aku akan tidur di sofa. Aku tidak akan mau tidur di kamar ini sendiri", jawab Jerry pasrah.