
"Kamu sedih, Pa?", tanya Yura saat Jerry melihat foto-foto dan video yang dikirim Ryan di handphonenya.
"Aku hanya gak menyangka dia meninggal secepat ini dengan cara yang mengenaskan pula, Sayang", jawab Jerry.
"Yahh, Fely sudah tenang sekarang. Pelakunya juga sudah ditangkap, Pa", balas Yura yang dibalas anggukan oleh Jerry.
Keesokan harinya...
"Papi, kenapa sepi sekali? Papa, Mama, dan Bude Rum kemana ya? Apa mereka sudah berangkat duluan ke Gereja?", Yura melihat sekeliling rumah yang terlihat sangat sunyi.
"Tumben banget Bude Rum belum siapin sarapan. Biasanya jam segini sudah banyak makanan yang terhidang di meja makan", kata Yura lagi.
Yaa, Bude Rum tidak mengizinkan Yura menyentuh dapur, karena bagi Bude Rum, dapur adalah wilayah kekuasaannya. Segala kegiatan dapur hanya Bude Rum yang boleh melakukannya. Makanya selama di Jakarta, Yura tidak memasak sarapan untuk Jerry. Mau tidak mau, Jerry harus menikmati masakan Bude Rum. Hehehe.
"Papi, kog diam aja sih? Mami dari tadi ngomong loh", Yura menoleh ke belakangnya ternyata Jerry tidak ada.
"Lah, dari tadi aku ngomong sendiri donk. Mas Jerry kemana ya?", batin Yura yang bingung dan kembali melihat sekeliling karena tiba-tiba suaminya menghilang.
"Papiii...", panggil Yura namun tidak ada sahutan dari suaminya.
"Papiiiii...", kali ini Yura berteriak memanggil suaminya namun tetap tidak ada sahutan.
"Iihh, kenapa semuanya menyebalkan sih? Papa, Mama, Bude Rum gak ada. Ditambah lagi Mas Jerry yang tiba-tiba menghilang. Bikin bad mood aja", oceh Yura.
"Papiiiii", teriak Yura lagi.
Karena tidak juga mendapat sahutan, Yura memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
"Agh bodo agh", Yura memutar badannya dan menaiki anak tangga.
Sesampainya di kamar, Yura mendapat panggilan telepon dari Bude Rum.
"Halo, Bude Rum, kalian kemana sih? Pergi gak ngabarin aku", tanya Yura dengan jutek.
"Bapak dan Ibu tadi lagi jalan pagi, Non. Kalau Bude lagi di pasar. Bude Rum cuma mau tanya, Non Yura ada yang mau dititip gak? Ada lagi pengen sesuatu gak, Non?", tanya Bude Rum yang belum bisa menghibur kekesalan hati Yura.
__ADS_1
"Gak usah, Bude. Aku lagi gak pengen apa-apa", jawab Yura kemudian langsung mengakhiri sambungan telepon dari Bude Rum.
"Yahh, dimatiin. Kayaknya Non Yura bete, Bu", bisik Bude Rum kepada Bu Sinta yang berdiri di sampingnya.
Dua menit kemudian...
"Mam, kamu dimana? Kog gak ada di ruang makan?", Jerry menelepon Yura.
"Aku di Korea Utara", jawab Yura dengan ketus.
"Harusnya aku yang nanya, kamu dimana? Kenapa tiba-tiba menghilang?", tanya Yura sambil memanyunkan bibirnya.
"Ha? Kapan Mami berangkat ke Korea Utara? Kog gak ajak-ajak Papi", ucap Jerry yang membuat Yura semakin bete.
"Ihh, apaain sih?! Ga lucu agh", jawab Yura.
"Jangan marah-marah donk, Sayang, tadi Papi...", belum selesai Jerry berbicara, Yura memutus sambungan teleponnya.
"Apaan sih, buat makin bad mood aja", gumam Yura.
Ttiinnn... Ttiinnn.. Ttiiinnn...
Tttiinnn... Ttiiinnn... Ttiiiinnnn...
"Siapa sih? Berisik banget", oceh Yura sambil mengintip dari balik jendela kamarnya yang terbuka, yang berada di lantai dua.
"Albert? Ngapain dia pagi-pagi kesini?", batin Yura saat melihat Albert melambaikan tangannya ke arah kamar Yura dari jendela mobil.
Ttiinnn... Ttiiinnnn... Ttiinnnn...
Sedikit merasa kesal dengan tingkah Albert, Yura berteriak dari jendela kamarnya, "Albert!!! Berisiikkk!!! Kamu apa-apaan sih?! Masih pagi ini!".
"Yura, bukain pintu depan donk, aku mau ngasih sesuatu", teriak Albert dari bawah sambil mengeluarkan kepalanya dari kaca mobilnya.
"Bentar bentar", jawab Yura kemudian menutup kembali jendela kamarnya.
__ADS_1
"Lah, bukannya Mas Jerry sudah berada di ruang makan sekarang? Seharusnya dia bisa bukain pintu depan donk. Apa dia sengaja gak bukain pintu karena tahu Albert yang datang?", batin Yura sambil berjalan menuju pintu kamarnya.
Ketika Yura membuka pintu kamarnya Yura terkejut karena ternyata Jerry, Pak Bram, Bu Sinta, dan Bude Rum sudah menunggu di depan pintu kamar, dengan posisi Bu Sinta memegang kue ulangtahun, Pak Bram memegang bucket bunga mawar, Bude Rum memegang kado spesial yang dia persiapkan untuk Yura, sementara Jerry mengangkat dan mengepalkan tangan kanannya bersiap untuk mengetuk pintu kamar Yura.
"Astagaaa, aku bahkan lupa kalau hari ini ulangtahunku", ucap Yura yang dengan antusias. Dia lupa kalau tadi dia lagi bete. Hehehe.
"Selamat Ulangtahun, Mami", Jerry mencium pipi istrinya.
"Ayo tiup lilin dulu, Non", kata Bude Rum.
Setelah make a wish dan tiup lilin, Yura memotong kue ulangtahunnya dan menyuapi Jerry, Pak Bram, Bu Sinta, dan Bude Rum.
Setelah itu mereka memberi kado mereka masing-masing. Bude Rum memberikan kado spesialnya, Pak Bram dan Bu Sinta memberikan bucket bunga mawar dan liontin emas, sedangkan Jerry??
"Papi, kadonya mana?", Yura menadahkan tangannya seperti anak kecil yang sedang menagih sesuatu.
Dengan senyum andalannya yang membuat Author klepek-klepek, Jerry meraih sesuatu dari saku celananya. Ternyata sebuah kotak kecil. Kemudian diberikannya kepada Yura.
"Wow, cantik sekali, Pa", ucap Yura ketika membuka kotak berisi anting berlian tersebut.
"Akan lebih cantik kalau kamu memakainya, Mam", kata Jerry sambil memasangkan anting tersebut di telinga Yura.
"Terimakasih Papa, Mama, Bude Rum, Papi", kata Yura sambil memeluk mereka satu per satu.
"Papa, Mama, Bude Rum tadi kemana sebenarnya? Aku sempat bete tauuu. Papi juga tadi tiba-tiba menghilang", kata Yura saat mereka semua berjalan menuruni anak tangga.
"Ini semua rencana Mas Jerry, Non", jawab Bude Rum polos.
"Mas Jerry sampai buat grup di WA untuk kasih kejutan buat Non Yura pagi ini. Kami tadi sembunyi di garasi, Non. Hehehe", tambah Bude Rum lagi.
"Kamu ya, Mas", gumam Yura sambil melirik ke arah Jerry yang dibalas kedipan genit oleh Jerry yang membuat Pak Bram dan Bu Sinta tertawa.
Setelah mereka duduk di meja makan untuk sarapan, terdengar lagi suara klakson mobil dari halaman rumah Pak Bram.
Ttiiinnnn... Ttiiinnn...
__ADS_1
Seketika Yura sadar kalau dia telah melupakan sesuatu.
"Yaampuun, aku lupa", katanya sambil berlari kecil ke arah pintu depan dan membukanya.