Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Enam Belas Perjanjian Aneh


__ADS_3

"Menyebalkan banget sih", batin Dita.


"Oh iya, Mas, aku minta tolong donk", ucap Dita lagi setelah dia selesai makan obat.


"Apaan?", tanya Charly.


"Tolong ambilkan amplop coklat yang tadi pagi Mas Charly kasih buat aku. Ada di dalam tasku, Mas. Ada yang mau aku tanyain sama kamu", pinta Dita.


"Amplop coklat? Oh itu. Mau nanya apa? Emang kamu sudah baca?", tanya Charly dengan suara yang sedikit melemah.


"Sudah, Mas", jawab Dita lalu menjauhkan pandangannya dari Charly.


"Andai kamu tahu, Mas, aku tadi pingsan karena aku terkejut setelah membaca surat perjanjian aneh yang kamu buat", batin Dita yang matanya kini sudah berlinang.


Tadi pagi ketika di angkot, karena terlalu penasaran, Dita membuka amplop coklat pemberian Charly. Seketika suasana hatinya berubah menjadi sendu dan sedih bahkan pikirannya menjadi kacau setelah membaca isi surat tersebut.


"Nih", ucap Charly sambil memberikan amplop coklat yang Dita maksud.


"Kalau kamu sudah membacanya, kamu tanda tangani surat itu", Charly memberikan sebuah ballpoint.


"Bahkan kita belum menikah loh, Mas. Kamu sudah buat perjanjian aneh kayak gini", jawab Dita dengan air mata yang sudah berlinang membasahi pipinya.


"Aku tahu kamu tidak menyukaiku, tapi tidak begini caranya, Mas. Sekalian saja kamu tidak usah menyetujui pernikahan ini. Mumpung masih ada waktu empat hari lagi, kamu masih bisa membatalkannya, Mas", ucap Dita yang mulai terisak.


"Tidak semudah itu, Dita. Aku tidak mau dianggap sebagai anak yang tidak berbakti kepada orangtua. Karena hanya ini yang mereka inginkan dariku", jawab Charly yang saat ini sedang sibuk bermain game online di handphonenya.


"Tapi kalau seperti ini, sama saja kamu mempermainkan perasaan orangtua kamu, Mas. Kamu juga mempermainkan pernikahan. Dosa loh, Mas", ucap Dita.

__ADS_1


"Kamu tidak usah menceramahiku. Sekarang sebaiknya kamu tanda tangani perjanjian itu, Dita!", titah Charly dengan suara yang sedikit meninggi.


"Asalkan kamu tidak menyesali keputusanmu ini suatu hari nanti, Mas", ucap Dita yang masih menangis, lalu menandatangani surat perjanjian yang Charly berikan dan memberikannya kepada Charly yang sudah lebih dulu menandatangani surat tersebut.


"Aku tidak akan pernah menyesalinya", jawab Charly.


Yaa, surat perjanjian yang Charly berikan memang sangat aneh. Karena isinya sangat berada di luar nalar Dita.


Surat Perjanjian Charly Brotoseno dan Anindita Kusuma


Kami yang bertandatangan di bawah ini, melalui surat ini menyepakati perjanjian bersama selama kami menjadi suami istri, yaitu:


1. Setelah menikah, tinggal di apartemen Charly, tapi tidak tidur dalam satu kamar yang sama.


2. Charly tidur di kamar, Dita tidur di sofa yang berada di ruang tamu.


4. Tidak ada kontak fisik apapun.


5. Tidak ada hubungan suami istri.


6. Charly tidak akan makan masakan Dita.


7. Tidak ada tegur sapa selama di dalam apartemen (ketika sedang berdua).


8. Charly tetap akan memberikan uang bulanan.


9. Dita tetap boleh bekerja.

__ADS_1


10. Charly bebas mau pergi dan pulang jam berapa pun dia mau. Sedangkan Dita harus di rumah apabila sedang tidak bekerja, dan pulang kerja harus langsung kembali ke apartemen.


11. Apabila ada di depan pihak keluarga atau pun teman-teman, wajib berlaku pura-pura romantis agar terlihat bahagia (kontak fisik hanya sebatas pegangan tangan).


12. Selama masih dalam ikatan pernikahan, tidak boleh ada hubungan dengan lawan jenis manapun dan siapapun (baik Charly maupun Dita).


13. Charly bebas mengatakan apa pun kepada Dita.


14. Dita tidak boleh menceritakan apa pun mengenai pernikahannya kepada pihak mana pun.


15. Tidak ada yang namanya mencintai.


16. Kapan pun Charly minta berpisah, Dita harus menyetujuinya.


Demikian surat perjanjian ini kami buat dengan sesadar-sadarnya tanpa paksaan dari pihak mana pun. Surat ini berlaku setelah Charly dan Dita menikah.


Tertanda, Charly dan Dita.


"Tapi kenapa sekarang kamu malah menjagaku di ruangan ini? Dan tidak memperbolehkan siapa pun menjengukku?", tanya Dita yang memberanikan diri menatap kedua netra Charly.


"Karena tidak akan ada yang menjagamu. Siapa yang mau kamu harapkan? Keluarga? Kamu bahkan tidak punya orangtua.Teman? Teman-temanmu hanya orang-orang yang berada di dalam rumah sakit ini, mereka pun sibuk bekerja. Pacar? Aku bahkan tidak yakin ada lelaki yang menyukaimu" jawab Charly dengan begitu tega.


Mendengar jawaban Charly, hati Dita terasa sangat sakit. Lelaki yang tidak punya perasaan itu sepertinya memang memiliki hobi baru, yaitu melukai hati Dita.


"Mas, aku memang sebatang kara, aku tidak punya keluarga, aku miskin, aku jelek, aku tidak punya segalanya. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya berbicara kepadaku. Apa salahku, Mas? Apa karena aku yang tidak kamu sukai ini, yang sangat jauh dari kriteria wanita yang kamu idamkan, akan menjadi istrimu? Mas, aku sudah pernah katakan, bahwa aku pun sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini. Dan sekarang, kenapa kamu harus merepotkan dirimu sendiri dengan duduk disini untuk merawatku? Oh iya, aku tahu, supaya kamu bisa bebas mengucapkan kata-kata pedas kepadaku, agar hatimu merasa bahagia", kata Dita yang kembali menangis.


"Menurutmu, kamu mungkin tahu segalanya, Mas. Termasuk bagaimana aku bisa sampai ada di rumah sakit ini pun kamu tahu. Mungkin mata-matamu ada dimana-mana. Tapi ada satu hal yang kamu tidak ketahui dan itu tidak kamu sadari, Mas. Kamu tidak tahu bagaimana caranya berbicara kepada seorang anak yatim piatu seperti aku. Andai kamu tahu, Mas, aku sangat ingin memiliki keluarga yang utuh, aku ingin tahu rasanya dicintai, tapi harapan itu sudah sirna, karena aku harus menikah denganmu, lelaki yang tidak punya perasaan, yang selalu merendahkanku dengan kata-katamu", tambah Dita yang membuat Charly terdiam dan menatap Dita dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.

__ADS_1


__ADS_2