Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
David Brotoseno


__ADS_3

Enam hari kemudian...


"Selamat Pagi Bapak CEO yang paling tampan di dunia", sapa Ryan saat melihat Jerry memasuki ruangan kerjanya.


"Wooww", Jerry takjub melihat perubahan desain interior ruang kerjanya. Dia akui memang Ryan bisa diberi empat jempol kalau urusan pekerjaan.


"Bagaimana, Bapak CEO? apakah puas dengan ruangannya?", tanya Ryan yang ternyata mengekor di belakang Jerry.


"Bintang tujuh deh untuk kamu, Ry. Empat jempol", Jerry menepuk pundak Ryan yang saat ini berdiri di sebelahnya.


"Udah kayak obat aja, Jer. Buyer enam belas bintang tujuh", Ryan menirukan bintang iklan yang membintangi sponsor obat tersebut.


"By the way, Nyonya CEO mana, Jer? Gak ikut ya? Padahal kamarnya sudah siap loh", tanya Ryan.


"Istri gue hari ini gak ikut ke kantor, katanya mager, males gerak. Pengen rebahan aja di rumah", jawab Jerry.


"Sendirian donk di rumah? Gak kesepian apa nungguin lu balik dari kantor sampe sore?", tanya Ryan lagi.


"Ada Bu Asih di rumah, yang bantu-bantu beresin rumah. Bu Asih udah kayak keluarga kami, Ry. Waktu gue kecil, beliau juga yang jagain gue. Makanya gue gak perlu terlalu mencemaskan Yura kalau dia tinggal di rumah. Karena Yura gak kesepian juga, mereka pasti ngobrol lah. Apalagi Bu Asih hobi dangdutan. Yura pasti terhibur sih. Ya walaupun gue lebih tenang kalau dia ikut gue ke kantor, biar gue bisa lihat dia terus", jawab Jerry yang dibalas anggukan oleh Ryan.


"Mau juga donk ikut dangdutan", gumam Ryan.

__ADS_1


"Oh iya, Sekretaris baru gue, apakah hari ini sudah masuk?", tanya Jerry yang saat ini sudah duduk di kursi kerjanya yang sangat empuk.


"Sudah donk. Masih muda. Anaknya juga cerdas dan ganteng banget. Tapi masih gantengan gue sih. Hehehe. Tuh dia lagi duduk di kursi kerjanya, Jer. Gue minta dia mempelajari apa-apa yang menjadi tugas-tugasnya", jawab Ryan.


"Iya deh iya. Lu emang ganteng. Tapi masih gantengan gue. Hahaha. Panggilin donk, Ry. Gue pengen kenalan", titah Jerry.


"Siap, Bos. Tunggu sebentar ya, gue panggilin dia. Tapi gue nanti gak ikut masuk lagi ya, Jer. Gue langsung balik ke ruang kerja gue aja. Oh iya, berkas lamaran nya ada di atas meja lu tuh. Sudah gue siapin", ucap Ryan yang dibalas deheman oleh Jerry.


Ryan berjalan menuju pintu untuk keluar memanggil Sekretaris Baru Jerry.


Tok..tok..tok...


"Permisi, Pak", izin seorang lelaki yang masih sangat muda.


"Oh iya, silahkan", jawab Jerry yang sedang mengecek berkas-berkas untuk meeting nanti siang.


"Duduk donk, kamu kayak lagi menagih hutang ke saya saja kalau berdiri begitu", ucap Jerry kepada lelaki muda itu yang masih berdiri di depan mejanya, namun dia belum melihat wajahnya.


"Terimakasih, Pak", balas lelaki muda itu yang terlihat sangat gugup.


"Perkenalkan diri kamu", kata Jerry sambil membuka map berisi berkas lamaran sekretaris barunya itu.

__ADS_1


"Selamat pagi, Pak. Nama saya David Brotoseno. Saya biasa dipanggil Dave. Umur saya 22 tahun", ucap Dave.


"Oke, Dave. Kenapa kamu ingin menjadi sekretaris pribadi saya?", tanya Jerry sambil melihat sekretarisnya itu.


"Sepertinya gue pernah lihat dia, tapi dimana ya?", batin Jerry.


"Maaf, Pak. Saya ingin mencari pengalaman kerja. Sebenarnya saya juga sedang menunggu jadwal ujian untuk beasiswa S2. Jadi untuk mengisi waktu saya, saya bekerja, Pak", jawab Dave yang memberanikan diri menatap mata Jerry.


"Berapa lama lagi jadwal ujian kamu?", tanya Jerry dengan tegas.


"Sekitar enam bulan lagi, Pak", jawab Dave yang kembali gugup. Dia takut Jerry marah karena ternyata dia tidak akan lama menjadi Sekretaris Pribadinya.


"Oke", jawab Jerry singkat sambil menganggukkan kepalanya yang membuat Dave merasa lega.


"Tidak apa-apalah kalau pun dia hanya sebentar jadi sekretaris gue. Nanti kalau Yura sudah melahirkan anak kami, dan anak kami sudah mulai bisa ditinggal dengan baby sitter, semoga aja Yura mau balik jadi sekretaris gue lagi", batin Jerry.


Yaa, dia sangat berharap Yura akan menjadi sekretarisnya lagi. Karena sepertinya Jerry memang tidak akan pernah bisa lepas dari istrinya itu. Walaupun dalam urusan pekerjaan di kantor. Dia sudah sangat bergantung kepada Yura.


"Baiklah, Dave. Kamu boleh kembali ke meja kerja kamu. Siang ini sebenarnya ada meeting dengan client, tapi kayaknya kamu tidak usah ikut dulu ya. Hari ini kamu fokus pelajari apa yang menjadi tugas-tugas kamu saja. Mulai besok, baru kamu ikut kemana pun saya pergi meeting", ucap Jerry.


"Baik, Pak Jerry. Terimakasih. Saya permisi kembali ke meja kerja saya, Pak", kata Dave yang dibalas anggukan kepala oleh Jerry.

__ADS_1


__ADS_2