
"Mas Jerry, halooo, apakah dengar suara saya?", tanya wanita itu lagi.
"Maaf, sebenarnya Anda siapa ya? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Karena saya benar-benar tidak tahu Anda siapa", ucap Jerry dengan bahasa yang formal layaknya seorang Bos.
"Astaga, maaf saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Karmila, saya dari developer Sinar Land and property Z. Bukankah kemarin sore Anda mengirim email ke kantor kami, menanyakan tentang Sinar Land Z? Dan Mas Jerry mengatakan berencana akan membeli dua rumah sekaligus", jawab wanita tersebut yang membuat Jerry bernafas lega.
Pasalnya, dari tadi Yura terus memelototi dirinya. Sudah pasti Yura mengira kalau suaminya bermain api di belakangnya.
"Oh, ya saya ingat. Maaf karena saya tidak mengetahui nomor telepon Anda, makanya saya bingung. Baiklah, saya dan istri saya akan datang sekitar dua jam lagi", jawab Jerry dengan yakin.
"Baik, Mas Jerry, kami tunggu kehadirannya. Terimakasih", jawab wanita tersebut kemudian menutup sambungan teleponnya.
Jerry meletakkan handphonenya di atas meja, kemudian bermaksud untuk melanjutkan niatnya yang sempat tertunda tadi.
Baru saja dia akan memeluk istrinya yang masih setia duduk di sebelahnya, Yura langsung berdiri dan berjalan ke arah meja makan.
"Aku laper", ucap Yura.
__ADS_1
"Yaudah kita sarapan dulu, Mam", kata Jerry yang ternyata mengekor di belakang Yura.
"Papi, mandi. Papi boleh sarapan kalau sudah mandi", titah Yura yang membuat Jerry membuang nafas kasar.
"Yaudah deh, Papi mandi kalau gitu. Tapi kalau minum susu sekarang bolehkan, Mam? Nanti keburu dingiiin", ucap Jerry menirukan gaya anak kecil.
Yura hanya berdehem. Jerry pun menghabiskan segelas susu cokelatnya setelah itu dia bergegas mandi agar diizinkan menikmati sarapan pagi. Hahaha.
Dua jam kemudian Jerry dan Yura sudah tiba di Sinar Land Z dan bertemu dengan Karmila, wanita yang menghubungi Jerry tadi, beserta beberapa orang tim nya.
Benar saja, Jerry memang memesan dua rumah sekaligus.
"Iya, Mami. Ini kado dari Papi untuk ulang tahun pernikahan kita besok. Tadinya Papi mau memberikan surprise, tapi berhubung tadi Papi sempat bingung karena yang menelepon seorang wanita dan Mami terus saja memelototi Papi, dan Mami mendengar sendiri percakapan di telepon tadi, yasudah, Papi batalin aja surprise nya. Toh semua ini memang untuk Mami dan anak kita", jawab Jerry dengan senyum menawannya.
Adduuhh, meleleh deh hati Nyonya CEO. Hehehe.
"Terimakasih, Sayang. Aku malah belum menyiapkan kado apapun untuk besok", Yura terharu dan matanya sudah basah.
__ADS_1
"Justru kamu yang lebih dulu memberikan kado untuk Papi, Mam", ucap Jerry sambil mengusap lembut perut Yura.
"Penerusku ada disini. Anak kita. Dia kado terindah, Mam. Lebih mahal dari apapun", tambah Jerry yang kemudian mencium kening istrinya.
Setelah merasa yakin dengan pilihannya, Jerry mengurus semua administrasi dan melakukan transaksi pembayaran.
Sekitar pukul dua siang, Jerry dan Yura sudah kembali ke rumah mereka. Yura merasa sedikit lelah. Untung tadi di jalan mereka mampir ke salah satu warung makan sederhana untuk makan siang. Yaa, walaupun bergelimang harta, Jerry dan Yura tetap mau makan di warung makan biasa dengan makanan sederhana ala rumahan.
"Mam, mau Papi urut kakinya?", tanya Jerry yang saat ini berbaring di sebelah Yura.
Yura menggeleng. Kemudian dia menggeser badannya mendekati Jerry.
"Papi mau Mami manjain?", tanya Yura yang membuat Jerry tersenyum senang.
"Mami serius?", Jerry pura-pura bertanya, padahal si adik kecilnya sudah bersiap di bawah sana.
"Yah kalau Papi gak mau, biar Mami tidur siang aja", jawab Yura dengan santai dan menggeser tubuhnya berniat akan memunggungi Jerry.
__ADS_1
"Mami.. Papi mauuu", ucap Jerry sambil menahan Yura agar jangan memunggunginya, dengan gaya bicara sangat manja yang membuat Yura tertawa.
Secepat kilat, Jerry pun langsung mencium bibir sang istri dan langsung mendapatkan balasan dari si empunya bibir. Yahh, sudah tahu sendiri kan, bukan Jerry namanya kalau tidak pintar memanfaatkan situasi. Tangannya langsung bergerilya ke daerah favoritnya. Tidak ada bagian tubuh Yura yang terlewat dari ciuman Jerry. Hingga akhirnya dia menghentikan bibirnya di buah dada sang istri untuk menikmatinya. Yaa, Jerry sedang menjadi anak bayi yang sedang menyusu pada ibunya. Yura tersenyum melihat tingkah suaminya. Dia membayangkan bahwa tidak lama lagi akan ada penguasa baru yang akan menguasai payud*ranya, yang sudah pasti menjadi saingan Jerry. Untuk adegan selanjutnya, Author tidak usah ceritakan dengan rinci lah ya. Takutnya Author malah kepikiran dan jadi kepengen. Hahahaha. Pokoknya Yura dan Jerry sama-sama mencapai puncak kepuasan mereka deh.