Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Sudah Seperti Anak Sendiri


__ADS_3

"Maaf ya, Al, aku lama bukain pintunya. Hehehe", kata Yura kepada Albert yang sudah berdiri di teras depan.


"Hampir saja aku berubah menjadi patung lilin, Yur", ucap Albert.


"Aku malah pengen lihat kamu jadi patung lilin, Al. Hahaha. Lagian ngapain kamu kesini pagi-pagi gini? Itu apa yang kamu sembunyikan di belakangmu?", tanya Yura yang melihat tangan Albert seperti menyembunyikan sesuatu di belakang badannya.


"Ihh bukannya disuruh masuk dulu. Malah diinterogasi. Nih buat kamu. Semoga kamu suka ya. Selamat Ulang Tahun, Cyntiara Jenya alias Yura cantik", Albert memberikan bucket besar yang berisi cokelat kesukaan Yura.


"Wow, cokelaaat", antusias Yura.


"Akhirnya aku dapat bucket cokelat lagi. Terimakasih ya, Al. Masuk yokk", ajak Yura.


Melihat siapa yang datang, wajah Jerry berubah seketika.


"Hai, Albert. Ternyata kamu. Ayok sekalian ikut sarapan", sapa Pak Bram.


"Halo Om, Tante. Dengan senang hati, Om. Kebetulan aku belum sarapan. Hehehe", kata Albert sambil mencium punggung tangan Pak Bram dan Bu Sinta.


"Hai, Bro", sapa Albert sambil mengulurkan tangannya kepada Jerry yang memandang tidak suka kepadanya.


"Hhmm hai juga", jawab Jerry sambil menjabat tangan Albert.

__ADS_1


"Ngapain dia datang, sih? Perasaan gue gak masukin dia di grup WA untuk buat kejutan Yura hari ini, bisa-bisanya dia kesini. Dasar lelaki sok ganteng", batin Jerry.


Mendengar suara Albert, membuat Bude Rum tersenyum senang. Karena Bude Rum dari dulu sangat mengagumi ketampanan Albert. Astaga Bude Rum. Author sampe geleng-geleng.


"Ehh ada Mas Albert ganteng. Mau Jus Mangga juga gak, Mas Al?", sapa Bude Rum dari dapur yang sedang membuat Jus Mangga, sambil sedikit berteriak.


"Haii, Bude Ruum, ya jelas mau donk. Buatin untuk aku juga ya, Bude", ucap Albert sedikit berteriak juga. Hahaha.


Setelah meletakkan bucket cokelat pemberian Albert di kamarnya, Yura bergabung dengan keluarganya di ruang makan dan duduk di sebelah Jerry.


"Pak Frans kog gak ikut, Al?", tanya Yura.


"Bang Frans lagi ke luar kota, Yur. Tadi pagi-pagi banget berangkatnya. Oh iya, Bang Frans kirim salam buat kamu, Yur, katanya selamat ulangtahun, semoga bahagia selalu", ucap Albert sambil mengunyah nasi goreng buatan Bude Rum.


"Oh iya, Al, ternyata sudah empat tahun yang lalu ya kamu datang membawa bucket cokelat juga, saat ulangtahun Yura", kenang Pak Bram.


"Iya juga ya. Semenjak kamu melanjutkan study S3 di Amerika, setiap ulangtahun Yura, tidak ada yang membawakan bucket cokelat", sambung Bu Sinta.


"Hehehe, iya Om, Tante, mumpung tahun ini pas hari ulangtahunnya, Yura ada di Jakarta, aku datang kesini membawakan bucket cokelat lagi. Kalau tadinya Yura tidak kesini, aku pasti akan terbang ke Makassar untuk menghantarkan bucket cokelat ini", jawab Albert sambil sesekali melirik Jerry seperti mamancing rasa cemburu Jerry.


Jerry sama sekali tidak menanggapi ucapan Albert. Untuk menghindari rasa emosi dan cemburu, dia menyantap nasi goreng sangat banyak sampai nambah berkali-kali.

__ADS_1


"Pa, pelan-pelan makannya. Kamu laper banget ya?", tanya Yura saat melihat Jerry mengunyah sangat cepat.


"Iya, Mam, aku laper banget", jawab Jerry sambil melirik Albert yang dibalas senyum jahil oleh Albert.


"Oh iya, Nak Jerry, Papa harap kamu tidak salah paham melihat keakraban Yura dan Albert. Mereka sudah bersahabat sangat lama. Ketika Yura masih SMP, Albert lah yang selalu melindungi dan menjaga Yura ketika di sekolah maupun di berbagai kegiatan. Maklumlah, istri kamu ini sangat cantik dan pintar, jadi sangat banyak lelaki yang mendekatinya. Bahkan ada juga yang sampai nekat datang ke rumah Papa untuk melamar Yura. Padahal waktu itu mereka masih SMP lho", cerita Pak Bram.


"Iya, Nak Jerry, Frans dan Albert sudah kami anggap seperti anak sendiri. Apalagi orangtua mereka adalah sahabat baik Papa dan Mama, jadi dari kecil Frans dan Albert sudah sangat dekat dengan keluarga kita", tambah Bu Sinta.


"Iya, Pa, Ma. Jerry juga akan menggangap Albert sebagai saudara sendiri", jawab Jerry melirik Albert.


"Papa dan Mama gak tahu aja kalau lelaki yang kalian anggap sebagai anak sendiri ini memiliki perasaan lebih kepada Yura, lebih dari saudara. Apalagi dia cinta pertama Yura, makanya gue harus benar-benar menjaga Yura jangan sampai direbut si lelaki sok ganteng ini", batin Jerry sambil menghabiskan air minumnya.


Melihat ekspresi Jerry, Albert malah mengul*m senyumnya.


"Oh iya, Nak, Papa dan Mama kamu sehat kan? Sudah sangat lama kami tidak bertemu mereka, semenjak mereka pindah ke China", tanya Pak Bram.


"Puji Tuhan, mereka sehat, Om. Hanya semakin tua saja. Hehehe", jawab Albert.


"Ahh kamu bisa aja. Umur ya memang semakin tua, Nak. Yang penting jiwanya muda terus, biar bisa romantis dan mesra terus", balas Pak Bram sambil memainkan mata kepada Bu Sinta yang duduk di sebelahnya dan membuat Bu Sinta mencu-bit tangannya.


"Apaan sih, Pa?", gumam Bu Sinta.

__ADS_1


"Aduuhh, sakit, Ma", ucap Pak Bram yang membuat mereka semua tertawa.


__ADS_2