Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Mendalami Peran


__ADS_3

Masih lima hari sebelumnya, saat Dita pergi meninggalkan Charly...


Charly mencari Dita hingga larut malam. Luka di tangannya akibat dari meninju kaca washtafel tadi tidak terasa perih, karena fokusnya hanya mencari Dita.


"Dita, aku lebih baik mati daripada harus kehilangan kamu. Kembalilah, Sayang. Aku mencintaimu", gumam Charly sambil menyetir mobilnya dan melihat ke sekitar jalan, berharap dia bisa menemukan Dita.


Satu jam, dua jam, tiga jam, bahkan sampai subuh menjelang, Charly tidak juga menemukan sang istri.


Jam tiga subuh, akhirnya Charly putuskan untuk pulang.Tapi entah angin apa yang membawanya justru pulang ke rumah Pak Edward.


Ting.. Tung..


Ting.. Tung...


Charly memencet bel.


"Tuan, apakah terjadi sesuatu? Anda pucat sekali, Tuan", Satpam yang menjaga rumah Pak Edward menghampiri Charly yang masih berdiri di teras.


"Aku tidak apa-apa, Pak. Kembalilah ke Pos ya", jawab Charly.


"Baik, Tuan", balas Satpam tersebut.


Ting.. Tung...


Ting.. Tung..


Charly kembali memencet bel.


Pak Edward yang kebetulan sedang turun menuju dapur, bermaksud hendak mengambil air minum, mengurungkan niatnya karena mendengar suara bel lalu berjalan ke arah ruang tamu untuk membukakan pintu.


"Charly..", Pak Edward terkejut melihat Charly yang datang dengan wajah yang sangat lesu dan seperti orang yang sedang frustasi.


"Papa, maafkan Charly", tangis Charly sambil tersungkur di kaki Pak Edward.


"Ada apa, Nak? Ayo kita masuk dulu. Tenangkan dirimu", Pak Edward berusaha mengangkat tubuh Charly.


Setelah duduk di ruang tamu, Pak Edward yang sebenarnya tahu alasan dari kondisi Charly saat ini, berusaha tenang dan bersikap seolah dia tidak tahu apa-apa.


"Mau papa buatkan teh hangat?", tanya Pak Edward, namun Charly hanya menggeleng.

__ADS_1


"Kalau begitu, cerita sama Papa, kenapa kamu kesini subuh seperti ini? Dan dimana Dita? Apakah kamu meninggalkannya sendirian di apartemenmu?", Pak Edward memborong pertanyaannya.


"Dita pergi, Pa", jawab Charly sambil mengacak rambutnya kasar.


"Aku kehilangan Dita", tambahnya lagi.


"Apa maksud kamu, Charly?", Pak Edward bersikap seolah dia terkejut dengan ucapan Charly.


"Aku jahat sama dia, Pa. Aku marah karena Dita selalu minta pisah dari aku. Dita ingin mencari lelaki lain yang bisa mencintainya", ucap Charly.


"Lalu apa yang kamu lakukan sehingga dia pergi darimu?", suara Pak Edward meninggi.


"Aku berkata kasar kepadanya, Pa. Bahkan aku berbuat kasar. Aku juga menidurinya dengan tidak selayaknya", jawab Charly.


"Apa maksud kamu, Charly?", Pak Edward membentak anak sulungnya tersebut.


Wahh, Pak Edward mendalami peran nih. Hehehe.


"Aku melecehkannya, Pa. Aku benar-benar jahat sama Dita", Charly semakin menangis.


Mendengar sedikit kegaduhan, Dave yang baru saja selesai melakukan ritual di toilet yang ada di kamarnya pun keluar dari kamarnya.


Charly menggeleng.


"Tadi juga ada wanita yang datang ke apartemenku, mengaku kalau dia sedang mengandung anakku, Pa", jujur Charly.


"Apa??!!", teriak Pak Edward.


Plakk.. Plakk..


Dua tamparan keras mendarat di pipi Charly.


"Aduh, keras banget aku nampar pipi anakku", batin Pak Edward.


"Papa malu punya anak sepertimu! Kalau kamu memang tidak menyukai Dita, seharusnya kamu katakan kalau kamu tidak mau menikahinya. Bukan malah seperti ini, Charly!", teriak Pak Edward lagi.


"Papa, tenang, Pa", Dave yang akhirnya turun ke lantai satu pun menenangkan papanya.


"Aku bersum-pah, Pa, aku tidak pernah meniduri wanita lain. Aku bersum-pah", Charly tersungkur di kaki Pak Edward.

__ADS_1


"Lantas siapa wanita itu?!", Pak Edward menarik baju Charly agar dia berdiri.


"Aku tidak tahu dia siapa, Pa. Gara-gara fitnah dia, Dita pergi. Dan sekarang aku gak tahu Dita dimana", Charly tertunduk.


"Pa, sudah, Pa. Jangan marah lagi. Kasihan Mas Charly", ucap Dave sambil memainkan mata kepada Pak Edward.


"Charly, bukankah dari awal kamu tidak pernah menginginkan pernikahan ini? Lantas, sekarang saat Dita pergi meninggalkanmu, kenapa kamu harus menangis?", selidik Pak Edward yang sangat ingin mendengar pengakuan dari Charly.


"Aku sadar kalau aku mencintai Dita, Pa. Aku hancur, benar-benar hancur saat dia meninggalkanku", jawab Charly yang masih menangis.


"Jangan anggap aku Papamu, kalau kamu tidak membawa Dita kembali. Jangan pernah datang ke rumah ini, kalau kamu belum menemukan Dita. Sekarang pergilah. Saat ini Papa tidak mau melihatmu!", seru Pak Edward.


"Pa, biarkan Mas Charly istirahat disini, setidaknya sampai besok pagi", pinta Dave.


"Tidak. Kalau kamu memang mencintai istrimu, pergi dan cari Dita sampai ketemu", titah Pak Edward kepada Charly.


"Baik, Pa. Charly permisi", ucap Charly lalu pergi meninggalkan Pak Edward dan Dave.


Ketika Charly sudah melajukan mobilnya, Pak Edward malah melakukan tos dengan Dave.


"Akhirnya dia mengakui perasaannya, Dave", ucap Pak Edward.


"Iya, Pa. Tapi apakah Papa tadi tidak terlalu kasar kepada Mas Charly?", tanya Dave.


"Papa hanya mendalami peran, Nak. Suatu hari nanti Papa akan mengakuinya dan meminta maaf kepada Mamasmu", jawab Pak Edward yang membuat Dave menggeleng.


"Papa sudah bisa main film nih. Actingnya bagus banget", ucap Dave yang membuat Pak Edward tertawa.


Berhubung Author lagi baik, nih Author munculin lagi visualnya Pak Edward dan Dave yang gantengnya puoll.



Ini Pak Edward Brotoseno alias Pak Edward.



Kalau ini ingat siapa? Yaa, ini David Brotoseno alias Dave.


Ganteng-ganteng banget ya. Author kalau berhalusinasi ria gak tanggung-tanggung buat visual para tokohnya. Hehehe.

__ADS_1


__ADS_2