Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Amplop Coklat


__ADS_3

"Papi, besok kita ke rumah Papa Yudo yok. Tadi Mama nelepon aku, katanya tadi siang sudah sampai di Indonesia. Bahagia benar kayaknya Mama habis liburan dari Korea", ucap Yura ketika mereka bersiap untuk tidur, setelah selesai berdoa malam.


"Oke, Sayang. Besok pulang dari kantor, kita langsung ke rumah Papa ya. Papi juga gak sabar mau nagih oleh-oleh sama Mama", jawab Jerry yang dibalas anggukan oleh Yura.


"Sekarang kita tidur ya. Selamat tidur, Mami", ucap Jerry lalu mencium kening Yura.


"Selamat tidur, Papi", balas Yura lalu memeluk tubuh Jerry.


Keesokan paginya...


"Halo, Dita, aku di depan sekarang. Buka pintunya", Charly menelepon Dita.


"Depan mana, Mas? Depan gang?", tanya Dita malas.


"Gang mana yang ada pintunya, Dita?", tanya Charly ketus.


"Lagian Mas ngapain pagi-pagi datang ke kostan ku?", tanya Dita lagi.


"Gak usah banyak tanya. Bukain pintu sekarang", titah Charly.


"Iya iya, bentar", jawab Dita.


Dua menit kemudian, Dita membuka pintu kostan nya, hanya menggunakan kaos over size dan hot pants, dengan rambut yang masih dibungkus handuk. Yaa, sepertinya Dita baru selesai mandi. Untung saja ketika Charly menelepon, Dita sudah mengenakan pakaiannya.


"Cantik banget", batin Charly ketika melihat Dita.


"Tumben banget kamu pagi-pagi sudah mandi?", tanya Charly.


"iih, apaan sih, Mas? Aku emang setiap hari selalu mandi pagi", jawab Dita santai.


"Kamu tuh tumben banget kesini, pagi-pagi pula. Mau ngapain?", tanya Dita.


"Nih aku bawain sarapan buat kamu. Dihabisin. Terus obatnya jangan lupa dimakan", ucap Charly sambil menyerahkan bungkusan makanan kepada Dita.


"Kesambet apa kamu, Mas? Kog jadi baik sama aku?", tanya Dita.


"Aku bukannya jadi baik sama kamu. Ini tadi Papa yang paksa aku untuk anterin makanan buat kamu", bohong Charly. Padahal memang inisiatif Charly sendiri yang mau mengunjungi Dita pagi-pagi begini. Dengan alibi menghantarkan makanan, padahal sebenarnya dia mau memastikan keadaan Dita.


"Aku gak disuruh masuk nih?", tanya Charly.


"Gak", jawab Dita singkat.

__ADS_1


"Masih ada lagi, Mas? Kalau sudah selesai, aku tutup pintunya ya. Mau sarapan, terus mau siap-siap kerja", ucap Dita.


"Kamu belum mulai cuti?", tanya Charly.


"Lagian, emangnya kamu sudah sehat?", tambah Charly.


"Aku cuti mulai hari Kamis nanti, Mas. Emangnya aku lagi gak sehat? Aku sehat kog", jawab Dita yang sudah bersiap untuk menutup pintu.


"Emang motor kamu sudah selesai diservis?", tanya Charly sambil menahan pintu dengan satu tangannya.


"Motorku masih di bengkel, Mas. Aku nanti bisa naik angkot", jawab Dita.


"Jam berapa kamu berangkat kerja?", tanya Charly lagi.


"Sekitar setengah jam lagi. Udah ahh, aku tutup pintunya ya, Mas. Oh iya, makasih untuk sarapannya ya", jawab Dita lalu menutup pintu kostan nya.


Setengah jam kemudian...


"Astaga, kamu masih disini, Mas?", tanya Dita yang terkejut melihat Charly yang duduk di lantai terasnya, ketika dia hendak mengunci pintu, mau berangkat kerja.


"Hhmm", Charly hanya berdehem.


"Kamu kenapa jadi aneh sih, Mas?", tanya Dita yang merasa ada yang berubah dari sikap Charly terhadap dirinya semenjak kemarin. Bagaimana tidak, kemarin siang setelah pulang dari kostan Dita, Charly rutin mengirimnya pesan singkat.


"Kamu jangan terlalu banyak gerak dulu"


"Lukanya harus dibersihin pake kassa steril dan air hangat"


"Jangan lupa makan malam"


"Obatnya diminum"


"Jangan tidur terlalu malam"


Bahkan pagi ini, sebelum Charly datang ke kostan Dita lagi, dia juga mengirim pesan yang sangat singkat.


"Bangun".


Sekarang si Charly malah duduk di lantai teras setelah Dita menutup pintu kostan nya tadi.


"Jangan bilang kalau kamu ternyata mulai menyukaiku, Mas", Dita menggoda Charly.

__ADS_1


"Kamu jangan terlalu percaya diri, Dita. Aku duduk disini karena ada sesuatu yang mau aku kasih sama kamu. Nih", ucap Charly sambil mengeluarkan sebuah amplop coklat dari tasnya dan memberikannya kepada Dita.


"Apa ini, Mas?", tanya Dita setelah menerima amplop coklat itu.


"Simpan aja dulu, bukanya nanti pas kamu pulang dari dinas aja", jawab Charly sambil berdiri.


"Yasudah, aku duluan ya", ucap Charly lagi sambil berjalan meninggalkan Dita.


"Sebenarnya apa isinya?", batin Dita sambil membolak-balik amplop coklat tersebut lalu memasukkan ke dalam tasnya.


Dita pun berangkat ke rumah sakit tempat dia bekerja, tepatnya rumah sakit milik Pak Edward Brotoseno, menggunakan angkot. Tanpa dia sadari, ternyata Charly sedari tadi mengikutinya dari belakang menggunakan motor, lengkap dengan jaket kulit berwarna hitam, masker, dan helm yang kacanya menutup wajahnya dengan rapat. Jadi wajar saja kalau Dita tidak menyadari keberadaan Charly. Bahkan Charly pun mengikuti angkot yang Dita tumpangi.


"Pak, stop di sini aja ya", ucap Dita.


"Oh iya, Non", jawab Pak Supir yang membawa angkot yang Dita tumpangi.


"Ini ongkosnya, Pak. Terimakasih", Dita memberikan ongkos lalu turun dari angkot sekitar lima puluh meter dari gerbang rumah sakit.


Saat ini Charly sudah berada di parkiran motor yang berada di sebelah kiri di halaman rumah sakit. Entah apa maksud Charly sampai dia mengikuti Dita seperti ini. Apa sebenarnya dia memang mulai menyukai Dita? Entahlah. Hanya Charly dan Author yang tahu. Hehehe.


Lima menit lamanya Charly menunggu Dita di parkiran, namun wanita cantik itu tidak kunjung lewat bahkan belum memasuki halaman rumah sakit.


"Kemana dia?", gumam Charly sambil matanya melihat ke sekeliling.


Akhirnya Charly memutuskan untuk berjalan kaki ke gerbang halaman rumah sakit, masih menggunakan jaket kulit berwarna hitam dan masker.


Sesampainya di pintu gerbang, Charly menghentikan langkahnya karena melihat orang bergerombol seperti sedang menyaksikan sesuatu. Dan tiba-tiba seorang polisi muda keluar dari gerombolan orang itu berjalan terburu-buru sambil menggendong seorang wanita yang terlihat pingsan.


Yaa, ketika turun dari angkot, Dita merasa pandangannya seperti berkunang-kunang. Ketika berjalan menaiki trotoar, tidak jauh dari gerbang rumah sakit, Dita jatuh pingsan.


"Tolooong, ada yang jatuh pingsan", teriak seorang Ibu yang sedang berjalan melewati trotoar tersebut.


Orang-orang pun berdatangan. Karena tidak ada yang mau dijadikan saksi, jadi mereka hanya melihat Dita yang saat itu sedang pingsan. Hingga lewatlah sebuah mobil polisi yang sedang berpatroli dan melihat ada gerombolan orang. Seorang polisi muda nan tampan turun dari mobil tersebut dan menghampiri orang-orang yang sedang berkerumun.


"Ada apa ini?", tanya Polisi tersebut, yang tak lain adalah Reza.


"Ada yang pingsan, Pak", jawab seorang Ibu paruh baya.


"Kenapa cuma dilihatin? Bukannya ditolong. Itu kan rumah sakit", ucap Reza yang sedikit kesal karena tidak ada satu pun yang mau menolong wanita yang pingsan tersebut.


"Astaga, Dita", ucap Reza ketika melihat siapa yang pingsan. Reza pun langsung mengangkat Dita dan bergegas membawanya ke Rumah Sakit.

__ADS_1


"Reza? Dia kan sahabatnya Dave", batin Charly ketika Reza melewatinya.


Yaa, Reza tidak sadar bahwa dia baru saja melewati Charly, kakak dari sahabatnya. Karena memang Charly menggunakan masker dan jaket kulit, tidak seperti Charly biasanya yang selalu tampil rapi dan formal.


__ADS_2