
Sekitar pukul lima sore, Charly dan Dave tiba di rumah sang Papa.
Ting.. Tung...
Ting.. Tung...
Dave memencet bel.
"Tuan Charly dan Tuan Dave, silahkan masuk", sapa Bu Tini yang membukakan pintu.
"Makasih, Bu Tini. Oh iya, Papa dimana, Bu?", tanya Charly yang terlihat tidak tenang.
"Pak Edward ada di kamarnya, Tuan", jawab Bu Tini.
Charly pun dengan cepat menaiki anak tangga.
"Ada apa dengan Tuan Charly ya, Tuan Dave?", tanya Bu Tini.
"Biasalah, Bu, orang kasmaran yang lagi galau. Jadi bawaannya grasak-grusuk", canda Dave yang membuat Bu Tini bingung.
"Udah, Bu Tini, gak usah dipikirin. Aku ke kamar dulu ya", ucap Dave.
"Tuan, sebentar deh. Non Dita juga kesini, tadi dianter sama Mas Reza", kata Bu Tini.
"Oh, mereka sudah sampai toh. Mbak Dita nya mana, Bu?", tanya Dave.
"Kayaknya ada di kamar deh, Tuan. Tadi habis bicara dengan Pak Edward di ruang keluarga, kayaknya mata Non Dita sembab gitu, terus gak lama langsung ke kamar", jawab Bu Tini.
"Kamar mana nih, Bu?", Dave memastikan.
"Kamar Tuan Charly lah, kan suaminya. Masa' iya ke kamar tamu", jawab Bu Tini polos.
__ADS_1
"Iya juga sih. Ngomong-ngomong, Reza mana, Bu? Di kamar juga?", tanya Dave yang tidak melihat Reza.
"Kalau Mas Reza, ada di kamar Tuan Dave. Pas Pak Edward dan Non Dita ngobrol tadi, Mas Reza langsung masuk kamar kog", jawab Bu Tini.
"Paling juga molor tuh anak", gumam Dave.
"Yaudah, Bu Tini, aku ke kamar dulu ya. Tolong tutupin pintu ya, Bu", ucap Dave.
"Oke, Tuan Dave", jawab Bu Tini.
Di kamar Pak Edward.
"Pa, dimana Dita, Pa?", tanya Charly.
"Kamu terlambat, Charly. Dita sudah pergi", jawab Pak Edward.
"Pergi kemana, Pa? Biar Charly kejar dia sekarang", ucap Charly sambil beranjak dari duduknya.
"Gimana aku bisa tenang kalau Dita pergi, Pa?", Charly sedikit meninggikan suaranya.
"Kamu yakin kalau kamu mencintai Dita?", selidik Pak Edward.
"Iya, Pa. Aku tidak bisa mengingkari perasaanku lagi. Aku mencintai istriku, Pa", jawab Charly dengan menggebu-gebu karena khawatir dengan sang istri.
"Bagaimana dengan wanita yang mengaku sedang mengandung anakmu itu?", tanya Pak Edward lagi.
"Papa, aku bersum-pah kalau aku benar-benar tidak mengenal wanita aneh itu. Aku tidak pernah membawa wanita lain ke apartemenku, apalagi tidur dengan wanita lain, Pa. Aku gak tahu kenapa dia bisa-bisanya mengaku sedang mengandung anakku", jawab Charly dengan wajah yang kesal.
Pak Edward mengangguk.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau Dita tetap ingin berpisah denganmu, Nak?", tanya Pak Edward yang membuat Charly menunduk dan mengacak rambutnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan bisa memaafkan diriku, Pa. Lebih baik aku mati daripada aku harus kehilangan istriku. Karena aku sangat mencintainya", jawab Charly.
"Charly, lihat Papa", titah Pak Edward, dan Charly pun menegakkan kepalanya.
"Masuklah ke kamarmu, Dita ada disana", ucap Pak Edward.
"Papa serius?", Charly seperti menemukan semangat hidup kembali.
Pak Edward hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Bujuk dia agar tidak pergi, Nak. Papa gak mau melihat kamu mati konyol karena ditinggal pergi oleh istrimu", ucap Pak Edward.
"Oke Oke, Pa", jawab Charly sambil berjalan cepat keluar dari kamar Papanya.
Pak Edward tersenyum senang melihat tingkah anak sulungnya itu.
Di kamar Charly, Dita sedang duduk bersandar di headboard ranjang, sambil melihat foto-foto sang suami yang terlihat sangat memprihatinkan. Yaa, tadi di ruang keluarga, Pak Edward menunjukkan foto-foto Charly dan mengirimnya ke WA Dita. Pak Edward dapat foto-foto itu dari Dave dan Reza. Pak Edward juga menceritakan kalau Charly hanya makan mie instan dan minum kopi selama lima hari ini. Charly hanya mau makan nasi dan lauk serta sayuran, apabila Dita yang memasaknya. Bahkan Charly tidak tidur sama sekali karena terus mencari Dita. Dan hari ini kondisi Charly sangat drop karena terpukul ditinggalkan Dita.
"Kenapa kamu melakukan semua ini, Mas?", gumam Dita sambil menyeka air matanya.
"Apa kabar kamu sekarang? Aku merindukanmu, Mas. Tapi egoku masih terlalu tinggi untuk menemuimu di apartemen. Aku harap kamu sehat ya, Mas", ucap Dita seorang diri.
Ketika Dita akan merebahkan tubuhnya, terdengar suara ketukan pintu kamar.
Tok..tok..tok..
"Iya, sebentar", ucap Dita.
Dia pikir Bu Tini, Pak Edward, atau Reza yang mengetuk pintu. Namun ketika pintu kamar dibuka, tubuh Dita langsung didekap dengan erat oleh seseorang, yang tidak lain adalah Charly.
"Dita...", ucap Charly sambil memeluk erat sang istri.
__ADS_1