
Selesai makan malam, Pak Edward izin keluar sebentar, katanya mau menemui client di lobby apartemen Charly.
Hemm, client atau client nih?
Siapa ya kira-kira yang ditemui Pak Edward?
Sementara Dave, Reza, Charly, dan Dita sedang berkaraoke ria di dalam apartemen.
π€πΆ
Aku tak mengerti apa yang kurasa
Rindu yang tak pernah begitu hebatnya
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu
Aku persembahkan hidupku untukmu
Telah kurelakan hatiku padamu
Namun kau masih bisu, diam seribu bahasa
Dan hati kecilku bicara (oh-wo)
Baru kusadari
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk s'luruh hatiku
Semoga waktu akan mengilhami
Sisi hatimu yang beku
Semoga akan datang keajaiban
Hingga akhirnya kau pun mau
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu
Baru kusadari
__ADS_1
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk s'luruh hatiku
Baru kusadari
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk s'luruh hatiku
Baru kusadari (uh, baru kusadari)
Cintaku bertepuk sebelah tangan
(bertepuk sebelah tangan)
Kau buat remuk s'luruh hatiku
S'luruh hatiku, oh-ho, yeah
πΆπ€
Dengan penuh penghayatan, Reza menyanyikan lagu milik Dewa 19 tersebut.
"Za, lu kayaknya nyanyi dari hati banget. Cinta lu bertepuk sebelah tangan beneran ya?", canda Dave.
"Sepertinya begitu, Dave", jawab Reza lalu meneguk soft drink yang ada di depannya.
"Sabar, Za, cewek mah banyak di dunia ini. Apalagi lu ganteng, polisi pula kan, pasti banyak yang mau sama lu", Charly seolah menghibur Reza yang membuat Dita mengu-lum senyumnya.
"Iya, Mas. Tapi cari cewek yang bisa buat klik itu yang susah, Mas", jawab Reza.
"Jangan galau gitu donk, Za", ucap Dita.
"Gak kog, Dit. Melihat dia bahagia aja, aku udah seneng banget kog", Reza menegarkan diri.
"Andai kamu tahu, Dit, lagu ini untukmu", batin Reza.
"Sekarang giliran gue yang nyanyi", ucap Dave.
Ketika Dave sedang memilih lagu, bel apartemen Charly berbunyi.
Ting.. Tung..
Ting.. Tung..
__ADS_1
"Aku buka pintu dulu, Dad", ucap Dita.
"Papa, kog sama wanita ini?", tanya Dita saat pintu apartemennya sudah dibuka.
"Boleh kami masuk dulu, Nak?", tanya Pak Edward.
"Oh iya, Pa, silahkan", jawab Dita.
Pak Edward pun masuk ke dalam apartemen diikuti wanita yang datang bersamanya.
"Dave, nyanyinya boleh dilanjutin nanti?", ucap Pak Edward yang masih berdiri.
Saat Charly menoleh ke arah sumber suara Papanya, dia terkejut melihat siapa yang datang.
"Kamu!!", Charly sedikit berteriak.
"Mas, tenang dulu. Kayaknya Papa mau jelasin sesuatu", ucap Dave.
"Duduk dulu, Om. Mbak, duduk dulu", ajak Reza.
"Maksudnya apa nih, Pa? Kenapa Papa bisa sama dia?", tanya Charly sinis.
"Dad, sabar", Dita menenangkan suaminya.
"Jadi ini client yang Papa maksud?", tanya Charly.
"Ada hubungan apa Papa sama dia? Jangan bilang kalau dia kekasih Papa", selidik Charly.
"Hush, sembarangan kamu", jawab Pak Edward.
"Mas, jangan interogasi Papa gitu donk, dengar dulu penjelasan Papa", ucap Dave.
"Dave, kamu tahu gak sih siapa wanita ini?", Charly meninggikan suaranya.
"Dia ini yang memfitnah Mas, yang mengaku-ngaku sedang mengandung anaknya Mas. Gara-gara dia, Dita waktu itu pergi ninggalin Mas, buat Mas jadi kayak orang stress", ucap Charly.
"Tapi kan Mas, gara-gara itu Mas jadi sadar kalau Mas cinta banget sama Mbak Dita", balas Dave.
"Iya tapi tetap aja, Dave, dia sudah berniat untuk merusak rumah tangga Mas dan Dita", jawab Charly.
"Maafkan saya, Tuan", wanita itu akhirnya bersuara.
"Saya hanya melakukan perintah", tambahnya.
"Perintah?", tanya Charly dan Dita bersamaan.
__ADS_1