Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Proses Produksi


__ADS_3

Setelah Charly dan Dita selesai menyiapkan sarapan pagi dan menghidangkannya di meja makan, Dave dan Reza bangun bersamaan.


"Yaelah, bocah berdua, tau aja kalo sarapan udah jadi, langsung bangun tanpa aba-aba. Pake acara barengan pula", gerutu Charly yang membuat Dita menggeleng.


"Yaudah sih, Dad, kan jadinya kamu gak perlu capek-capek cari cara untuk bangunin mereka berdua", ucap Dita.


"Mas, kopinya kok cuma dibuatin satu sih, untuk Papa doank", rengek Dave.


"Kaki dan tangan masih bisa berfungsi dengan baik kan, Dave?", sindir Charly.


"Pa, lihat deh, Mas Charly gitu banget jawabnya", adu Dave kepada Pak Edward.


"Jangan ditanggepin, Nak. Takutnya Mamas kamu usir kita lagi kayak semalam", bisik Pak Edward yang membuat Reza menutup mulutnya menahan tawa.


"Gak usah ketawa lu, Za. Lu juga semalam ikut diusir", omel Dave kepada Reza.


"Dave, Reza, buruan cuci muka kalian, gosok gigi, biar sarapan", titah Charly.


"Aku gak bawa sikat gigi, Mas", jawab Reza polos.


"Iya, sama, aku juga", ucap Dave.


"Yaelaaahh, yah minimal kumur-kumur sana", jawab Charly yang membuat Pak Edward tidak bisa menahan tawanya.


"Kalian kayak anak kecil aja", ucap Pak Edward sambil berusaha berdiri untuk beranjak ke meja makan.


Setelah selesai sarapan, Dave dan Reza langsung bergegas mencuci piring.


"Mbak Dita, duduk aja ya. Biar kami aja yang cuci piringnya", ucap Dave.


"Iya, Dit, kamu duduk aja di ruang tamu sama Om dan Mas Charly", tambah Reza.


"Beneran nih? Yaudah deh, dengan senang hati", balas Dita sambil menebarkan senyum manisnya.


"Cantik banget sih, Dit", gumam Reza.


"Awas lu macem-macem sama Mbak gue ya, Za", bisik Dave.


"Gue tahu lu suka sama Mbak Dita, tapi jangan pernah mencoba untuk menjadi pebinor di antara Mas Charly dan Mbak Dita", bisik Dave lagi.

__ADS_1


"Iya iya. Tenang aja. Lagian kog lu bisa ngomong gitu, Dave?", tanya Reza bingung.


"Gue lelaki normal, Za. Dari mata lu, cara lu ngeliat Mbak Dita, cara lu ngomong sama Mbak Dita, gue bisa tebak kalau lu ada rasa sama dia. Jangankan gue, Papa juga pasti menyadari itu. Dan mungkin Mas Charly juga", jawab Dave.


"Iya sih. Gak bisa gue pungkiri, Dave. Tapi ya gue gak mungkin jadi pebinor juga kali woy", ucap Reza.


"Gue pegang omongan lu ya, Za", balas Dave.


"Iya, Dave, iyaa", jawab Reza sambil berbisik.


Setengah jam kemudian...


"Kami permisi pulang ya, Nak", ucap Pak Edward.


"Terimakasih untuk tumpangan tidur dan sarapan paginya", tambah Pak Edward yang membuat Charly tiba-tiba batuk.


"Tumpangan tidur ya, Pa", sindir Charly sambil melirik Pak Edward yang sedang menggosok-gosok pinggangnya.


"Dave, jangan ajarin Papa joget-joget gak jelas lagi", ucap Charly.


"Iya, Mas", jawab Dave dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Dit, besok pakaian kamu aku anter kesini ya. Kebetulan sudah dilaundry", ucap Reza.


"Ha? Kamu laundry, Za? Semua? Yang di dalam keranjang itu, Za?", tanya Dita yang sedikit terkejut. Bagaimana Dita tidak terkejut, mengingat kain kotornya yang tertinggal di apartemen Reza itu, selain dua stel pakaian tidur, dua stel baju kerja, ada juga pakaian da-lamnya.


"Iya, Dit. Kemarin aku bawa ke laundry semua. Sore ini sudah bisa diambil", jawab Reza polos.


"Baik banget yaa", ucap Charly sambil melihat Reza dengan tatapan yang penuh arti.


"Makasih ya, Za", kata Dita sedikit ragu, karena dia masih shock. Hahaha.


"Sama-sama, Dit", balas Reza yang tidak sadar kalau dari tadi Charly menatapnya.


Seperti sadar kalau anak tertuanya sedang cemburu, Pak Edward langsung mengajak Dave dan Reza segera beranjak.


"Ayok, ayok, jangan lama-lama. Nanti kita mengganggu rencana Charly dan Dita pula. Mumpung hari Minggu, dan Dita juga off hari ini", ucap Pak Edward.


"Papa tahu aja, kalau kami mau proses produksi habis ini", balas Charly yang membuat Dita mencubit pinggangnya.

__ADS_1


"Apaan sih, Dad, sama Papa ngomongnya gitu?", bisik Dita.


"Emang iya kan, Mom?", Charly membesarkan volume suaranya.


"Semoga keponakanku jadi ya, Mbak", goda Dave yang membuat Dita tersenyum kikuk.


Sementara itu di rumah Jerry...


Setelah sarapan, Jerry dan Yura duduk bersama di teras atas, sambil Jerry memangku baby Charlie.


"Panasnya pas ya, Sayang, kamu dijemur dulu, biar semakin sehat", ucap Yura sambil mengelus tangan sang bayi.


"Papi dan Maminya juga ikut dijemur, biar sama-sama sehat", kata Jerry.


"Makasih ya, Mam, udah maafin Papi", bisik Jerry.


Ccupp.


Yura mencium pipi Jerry.


"Maafin Mami juga ya, Pa", ucap Yura yang dibalas senyuman manis ala Jerry.


Setelah dirasa cukup untuk menjemur baby Charlie, Jerry dan Yura membawa sang bayi kembali ke dalam kamar utama.


Yura meletakkan baby Charlie di tempat tidur.


"Sayang, kalau butuh apa-apa, panggil Papi ya. Papi di dapur, mau cuci piring", ucap Jerry.


Seperti biasa, setiap hari minggu Bu Asih libur kerja. Jadi mau tidak mau, Jerry yang mencuci piring, apalagi sekarang sudah ada baby Charlie, jadi Yura lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus sang bayi.


Tadi juga Jerry yang memasak untuk sarapan pagi. Dan tanpa sepengetahuan Yura, Jerry juga sudah membersihkan rumah dan mencuci pakaian.


Hehehe.


"Nanti aku aja yang cuci piringnya, Pa. Kamu disini aja", jawab Yura.


"Sayang, kamu sudah sangat lelah untuk mengurus Charlie. Biarin Papi aja yang kerjain ya.", ucap Jerry.


"Tapi cuci piring aja ya, gak usah kerjain yang lain. Habis cuci piring, Papi balik ke kamar lagi ya, Mami udah kangen mau nonton bareng sama Papi di kamar", pinta Yura.

__ADS_1


"Siap, Nyonya CEO", balas Jerry lalu mengecup kening sang istri.


__ADS_2