Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Bertemu Dita


__ADS_3

Dua hari kemudian..


Tok..tok..tok..


"Charly, bisa Papa masuk?", Pak Edward mengetuk pintu kamar Charly.


Karena tidak ada jawaban, Pak Edward kembali mengetuk pintu.


"Nak, Papa buka ya pintunya", Pak Edward pun membuka pintu kamar Charly yang tidak dikunci.


Melihat anaknya yang sedang duduk di sofa, sambil melihat tivi yang sedang menyiarkan acara berita pagi tetapi dengan tatapan kosong, Pak Edward hanya tersenyum.


"Papa perhatiin dari semalam kamu di kamar terus, Nak. Ini sudah jam sepuluh loh, kamu belum sarapan. Kamu juga terlihat murung, gak kayak biasanya. Oh iya, kemarin seharian kamu pergi kemana? Papa kira kamu akan kembali ke rumah kemarin pagi. Papa tungguin seharian, gak tahunya baru malam harinya kamu pulang. Sebenarnya apa yang terjadi, Nak?", Pak Edward selalu saja memborong pembicaraan. Hehehe.


"Charly gak apa-apa kog, Pa", jawab Dokter Tampan tersebut dengan suara yang lemas.


"Yakin?", selidik papanya, dan Charly hanya mengangguk.


"Sekarang kamu mandi, biar segar ya. Calon pengantin itu gak boleh malas mandi. Apa kata calon istrimu nanti kalau kamu menemuinya dengan penampilan kusut seperti ini? Dia aja terlihat sangat cantik pagi ini", ucap Pak Edward yang membuat Charly menoleh ke arahnya.


"Maksud Papa?", tanya Charly yang sedikit bersemangat setelah mendengar ucapan papanya.


"Dita udah dari jam tujuh tadi kesini. Malah tadi kami sarapan bareng. Dave juga sempat ketemu Dita sebelum berangkat kerja", jawab Pak Edward yang kini malah melihat ke arah tivi.


Yaa, Pak Edward yang meminta Dita untuk datang ke rumah mereka. Pak Edward mengundang Dita untuk sarapan bersama.


"Dita? Dia kesini? Papa lagi gak bercanda kan?", tanya Charly sambil berdiri hendak menuju pintu kamar.


"Kamu mau kemana? Mandi dulu. Dita lagi bantuin Bu Tini nyiram taman tuh", titah Pak Edward.


"Iya deh, Pa. Charly mandi dulu", ucap Charly yang kini senyuman sudah terlihat di wajah tampannya.


Pak Edward menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak pertamanya yang sedang jatuh cinta. Walaupun Author yakin, kalau Charly belum juga sadar akan perasaannya terhadap Dita. Yang dia tahu, dia hanya mencemaskan Dita. Dan Pak Edward tahu kalau kemarin sebenarnya Charly seharian mencari keberadaan Dita.

__ADS_1


"Semoga kamu segera menyadari dan mengakui perasaanmu, Nak", gumam Pak Edward sambil keluar dari kamar Charly.


Sepuluh menit kemudian...


"Kamu cari siapa? Kenapa clingak-clinguk begitu?", tanya Pak Edward yang kini sedang bersantai di ruang tengah.


"Mana, Pa?", tanya Charly sambil menunjuk ke sembarang arah.


"Mana apanya? Kamu cari siapa?", tanya Pak Edward lagi.


"Tadi Papa bilang ada...", Charly menggantung ucapannya.


"Dita? Barusan aja dia pergi. Katanya mau ke gedung resepsi kalian. Udah janji sama tim dekorasi", ucap Pak Edward sambil matanya menatap handphone.


"Sama siapa perginya?", tanya Charly dengan wajah yang sedikit kecewa.


"Kayaknya ada lelaki yang jemput tadi. Gak tahu siapa", jawab Pak Edward yang sedang memancing reaksi Charly.


"Tidak bisa dibiarkan", batin Charly.


"Charly pergi dulu, Pa", ucap Charly yang terburu-buru mengambil kunci mobil lalu pergi menyusul Dita.


Pak Edward tersenyum bahagia melihat reaksi Charly.


"Lihat, Ma, anak kita sudah jatuh cinta sama wanita pilihanmu. Semoga Mama bahagia di Surga Sana ya", batin Pak Edward sambil memandangi foto Bu Karla, istri yang sangat dia cintai.


Satu jam kemudian, Charly sudah sampai di gedung resepsi pernikahan mereka. Namun dia belum juga bertemu dengan Dita. Charly mencoba menelepon Dita, tapi handphonenya tetap tidak bisa dihubungi. Yaiyalah, Dita kan memblokir kontak Charly.


"Selamat siang, Mas Charly, silahkan masuk, gedungnya lagi didekorasi", sapa seorang wanita yang merupakan tim Wedding Organizer yang mengurusi acara pernikahan Charly dan Dita.


"Oh iya, Mbak", ucap Charly lalu dia berjalan ke dalam gedung, namun matanya sambil mencari keberadaan sang calon istri.


"Mas, kamu datang juga?", tanya Dita saat Charly sedang duduk memperhatikan tim Dekorasi sedang bekerja.

__ADS_1


"Oh, kamu disini toh", ucap Charly mencoba bersikap dingin, padahal dalam hatinya ingin menangis karena akhirnya dapat bertemu lagi dengan sang calon istri.


"Waktu itu kamu bilang sibuk, Mas, gak bisa datang. Kenapa sekarang malah kesini?", tanya Dita lagi.


"Suka-suka aku lah. Kenapa jadi kamu yang repot?", jawab Charly ketus.


"Seharusnya aku gak usah melanjutkan pernikahan ini, Mas. Seharusnya aku minta izin sama Pak Edward untuk membatalkan pernikahan ini. Aku pikir kamu bakal berubah setelah aku pergi. Ternyata sama aja", gumam Dita, yang didengar oleh Charly, kemudian Dita balik badan ingin meninggalkan gedung tersebut.


"Dita, maafkan aku", ucap Charly sambil tertunduk dan menahan satu tangan Dita.


"Tolong lepasin tanganku, Mas. Aku tidak mau bersamamu terlalu lama dalam satu ruangan. Aku takut kamu kembali berkata kasar kepadaku", jawab Dita yang kini pipinya sudah basah.


"Jangan pergi lagi. Aku mohon", lirih Charly yang ternyata juga ikut menangis.


"Biarkan aku pergi, Mas. Aku mau ke salon. Sudah janjian untuk luluran dan meni pedi. Tolong lepasin tanganku", pinta Dita.


"Hufth, syukurlah dia hanya mau pergi ke salon. Aku kira bakal menghilang lagi", batin Charly.


"Tunggu sebentar lagi, sampai dekorasi ini selesai. Aku akan menghantarmu", ucap Charly yang kini sudah melepas tangan Dita.


"Gak usah, Mas. Aku bisa pergi sendiri", jawab Dita.


"Kata Papa, kamu tadi kesini diantar lelaki ya? Siapa dia?", selidik Charly.


"Hah? Aku tadi naik taksi kog", ucap Dita.


"Oh, baguslah", balas Charly.


"Papa ngerjain aku nih berarti", batin Charly.


"Aku pergi ya, Mas", pamit Dita.


"Dita, pliss. Biar aku yang menghantarmu", pinta Charly.

__ADS_1


"Yasudah, kalau itu maumu, Mas. Bukan aku yang meminta", kata Dita mengalah.


__ADS_2