
"Mas, lebih baik aku pulang saja", ucap Dita yang masih menangis sambil mencabut jarum infus yang menancap di nadi punggung tangan kirinya.
Karena Dita memang seorang perawat, jadi dia mengerti bagaimana cara mencabut infus agar tidak mengeluarkan da-rah.
Dita mengumpulkan tenaganya lalu turun dari ranjang pasien. Charly yang melihatnya hanya terdiam karena hatinya masih diliputi penyesalan dan rasa bersalah atas kata-kata kasar yang tadi dia lontarkan kepada Dita. Apalagi saat ini Dita masih terus saja menangis.
"Maaf karena hari ini waktumu banyak tersita untuk menjagaku, Mas. Terimakasih. Aku janji, aku akan mengganti uangmu karena telah membayar biaya rumah sakit selama aku dirawat dalam beberapa jam", ucap Dita lalu dia keluar dari kamar VVIP tersebut.
Ketika Dita berjalan menuju pintu keluar, dia melihat Reza yang memakai pakaian bebas, berdiri di dekat pintu sambil berbicara dengan satpam. Yaa, Reza sedang berusaha membujuk satpam agar diperbolehkan menjenguk Dita. Namun karena semua pihak rumah sakit sudah dikabari bahwa Dita tidak boleh dijenguk oleh siapapun tanpa seizin Charly, satpam tersebut pun tidak bisa mengizinkan Reza.
"Pak Reza", sapa Dita yang masih terlihat pucat.
"Loh, Mbak Dita, mau kemana?", tanya Satpam yang melihat Dita berjalan ke arah mereka.
"Dita, kamu masih sangat pucat. Mau kemana?", Reza ikut bertanya.
"Pak Danu, saya mau pulang", jawab Dita dengan ramah kepada satpam tersebut.
"Saya sudah sehat, Pak Reza. Saya tidak apa-apa", Dita melihat ke arah Reza.
"Saya antar ya", Reza menawarkan diri dan dibalas anggukan oleh Dita.
"Pak Danu, kalau Mas Charly nanyain saya, bilang aja saya pulang naik taksi ya. Tolong jangan kasih tahu kalau saya diantar Pak Reza", pinta Dita.
"Saya minta tolong, Pak", tambah Dita sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Baik, Mbak Dita", jawab Pak Danu.
"Kalian hati-hati ya. Mas, saya titip Mbak Dita. Dia perawat terbaik kami, jadi tolong hantar dia sampai ke rumah dengan selamat", tambah Pak Danu.
"Baik, Pak. Kami permisi", jawab Reza.
Dita dan Reza jalan menuju parkiran rumah sakit. Dita menolak untuk menunggu di lobby, sementara Reza mengambil mobil ke parkiran karena dia tidak mau kalau Charly melihatnya.
"Pak..", ucap Dita ragu-ragu.
"Sepertinya kita seumuran, panggil nama saja, Dit", kata Reza.
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih ya, Reza, tadi siang kamu udah nolongin aku", ucap Dita.
"Kamu tahu dari mana?", tanya Reza.
__ADS_1
"Mas Charly, calon suami aku yang kasih tahu", jawab Dita yang membuat Reza bingung.
"Masuk ke mobil dulu ya", Reza membukakan pintu mobil untuk Dita.
"Jadi kamu udah punya calon suami?", tanya Reza sambil mengendarai mobilnya. Reza tampak kecewa dan patah hati karena ternyata gadis yang dia taksir sudah menjadi calon istri orang.
"Iya, Za. Hari Sabtu nanti kami menikah", jawab Dita yang dibalas anggukan oleh Reza.
"Oh iya, tapi calon suami kamu tahu dari mana kalau tadi siang aku yang nolongin kamu?", tanya Reza yang penasaran.
"Aku juga gak tahu, Za. Katanya dia tahu semuanya tentang aku. Dia cuma bilang gitu pas aku tanya dia tau dari mana", jawab Dita yang matanya kini kembali berlinang dan suaranya terdengar serak karena menahan tangis.
"Aneh ya", gumam Reza yang ternyata didengar oleh Dita.
"Begitulah, Za", ucap Dita dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Dit, maaf, aku bukannya mau mencampuri urusan kalian berdua. Tapi maaf nih, kalau boleh aku nanya, apakah tadi calon suami kamu masih ada di rumah sakit itu?", tanya Reza sambil fokus mengendarai mobil.
"Iya, Za. Dia masih disana", jawab Dita singkat yang dibalas anggukan oleh Reza. Tampaknya Reza paham kalau saat ini suasana hati Dita sedang tidak baik, maka dia tidak melanjutkan bertanya walaupun rasa penasarannya masih sangat tinggi.
"Za, boleh anter aku ke Hotel R aja?", ucap Dita.
"Kenapa gak balik ke kostan kamu, Dit?", tanya Reza.
"Oke, Dit, aku antar kamu kesana ya", ucap Reza yang tidak mau mencampuri masalah pribadi Dita.
"Mas Charly? Menikah Sabtu ini? Apakah calon suami Dita ini adalah Mas Charly Brotoseno, Mamasnya Dave?", Reza bertanya-tanya dalam hatinya.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di Hotel R.
"Za, aku turun di sini aja ya. Kamu pulang aja. Terimakasih banyak karena sudah mau aku repotkan", ucap Dita.
"Kamu yakin bisa sendiri? Aku antar ya sampai depan pintu kamar hotel kamu", balas Reza.
"Aku bisa sendiri, Za. Aku turun ya. Kamu hati-hati. Terimakasih banyak", ucap Dita lalu dia turun dari mobil Reza.
"Yaudah, aku langsung ya, Dit. Semoga kita bisa ketemu lagi", harap Reza.
Sebenarnya Reza sangat ingin meminta nomor handphone Dita, tapi dia tahu batasannya, apalagi dia juga sudah tahu kalau Dita akan menikah. Jadi Reza harus mengubur perasaannya dalam-dalam terhadap Dita. Yaa malam ini sepertinya menjadi malam patah hati seorang polisi tampan.
Di tempat lain..
__ADS_1
"Dita...", Charly memanggil sambil mengetuk pintu kamar Dita dengan berteriak.
"Dita...", teriaknya lagi.
"Tapi lampunya mati, apa dia belum sampai kost an?", gumam Charly.
"Ditaaaa", kembali Charly memanggil dan mengetuk pintu kostan Dita, tapi sang empunya nama tidak kunjung keluar.
"Kemana dia? Handphonenya juga gak aktif", ucap Charly yang berusaha menelepon Dita.
Benar dugaan Dita, kalau Charly pasti akan menyusul ke kostan nya. Namun ketika Charly tiba di kostan Dita, Dita tidak ada disana karena memang Dita lebih memilih tidur di hotel untuk menenangkan diri.
"Lebih baik aku tunggu disini, siapa tahu sebentar lagi dia datang", batin Charly lalu dia duduk di lantai dan bersandar pada tembok di bawah jendela.
Di rumah Jerry...
"Papi, besok kita belanja yok. Mami mau beli baju pesta untuk dipakai ke nikahan Dokter Charly hari sabtu nanti", ucap Yura ketika mereka sedang bersantai di sofa depan televisi. Yura menemani Jerry menonton pertandingan bulu tangkis.
"Oke, Sayang. Papi juga mau beli sepatu baru. Udah lama Papi gak nambah koleksi sepatu, hehehe", balas Jerry sambil mencolek hidung mancung Yura dan dibalas senyuman manis oleh Yura.
"Papi, kenapa kamu bisa cinta sama aku?", tanya Yura sambil memeluk perut suaminya yang duduk di sebelahnya.
"Karena cinta", jawab Jerry sambil tersenyum.
"Ya, cinta karena apa? Kayak Mami kan cinta sama Papi karena Papi ganteng, kaya, mapan, punya masa depan cerah", Yura memancing reaksi Jerry.
"Oh, jadi Mami cinta sama Papi karena itu? Jadi kalau suatu saat Papi gak kaya lagi dan gak ganteng lagi gimana?", tanya Jerry yang tahu kalau sebenarnya istrinya sedang bercanda.
"Mami cari yang lain lah", jawab Yura yang membuat Jerry memeluknya erat dan mencium seluruh wajah Yura tanpa jeda.
"Ampun, Papi, hahaha, Mami bercanda", ucap Yura yang berusaha melepaskan diri dari ciuman Jerry yang terus hinggap di wajahnya.
"Mami cinta sama Papi bukan karena apa yang Papi punya", ucap Yura lagi yang berhasil menghentikan ciuman Jerry.
"Mami cinta sama Papi itu bukan karena, tapi walaupun", tambah Yura.
"Maksud Mami?", tanya Jerry bingung.
"Yaa, walaupun Papi sering buat Mami nangis, Mami tetap cinta. Walaupun di awal pernikahan kita, Papi gak pernah menganggap Mami ada, Mami tetap cinta. Walaupun Papi cemburuannya kelewatan, Mami tetap cinta. Mami juga gak tahu kenapa. Yang Mami tahu, Mami cinta sama Papi", jawab Yura yang membuat Jerry tersenyum sumringah. Ketampanannya bertambah berkali-kali lipat deh kalau senyum begini.
"Makasih ya, Sayang, untuk cinta tulusmu. Papi juga sangat mencintaimu. Papi gak tahu apa alasannya. Tapi yang jelas, Papi sangat mencintai Mami. Papi gak akan bisa hidup tanpa Mami. Papi sudah sangat bergantung sama Mami. Separuh hidup Papi adalah Mami", ucap Jerry kemudian mencium bibir Yura dengan rakus dan menuntut.
__ADS_1
"Papi, di kamar aja yok", ajak Yura yang membuat Jerry antusias untuk mematikan TV, walaupun acara pertandingan bulu tangkis masih berlangsung.
"Ayok, Sayang", bisik Jerry.