Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Saran Ryan


__ADS_3

Lima belas menit sudah Pak Yudo mengakhiri panggilan teleponnya, tapi Yura masih tetap mendiamkan Jerry. Wanita cantik itu masih merasa kesal karena chat dari Joanna tadi pagi. Apalagi, sebelum menutup teleponnya tadi, Pak Yudo mengatakan kalau dia tidak mau ikut campur mengenai urusan pecat memecat karyawan Jerry. Karena menurutnya, Jerry lah yang mempunyai hak penuh untuk mengambil keputusan mengenai perusahaannya. Hal itu membuat Jerry bingung, karena kalau dia yang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan Joanna, mau tidak mau dia harus memanggil wanita tersebut dan harus bicara empat mata dengannya. Karena Joanna sudah memiliki jabatan yang cukup baik di perusahaan Jerry yang berada di Palembang, jadi segala keputusan mengenai Joanna, harus dari Jerry.


Upss, tapi tunggu dulu, masih ada Ryan yang bisa dia andalkan.


"Mam, Papi telepon Ryan sebentar ya", ucap Jerry kepada Yura yang sedang memberikan asupan vitamin D kepada baby Charlie, dengan cara berjemur sambil menggendong sang anak, di balkon yang berada di lantai dua.


"Terserah", jawab Yura singkat.


Dua menit kemudian...


"Ry, lama banget sih angkat teleponnya", omel Jerry saat Ryan menerima panggilannya.


"Astaga, bukannya ucapin salam dulu, malah langsung ngomel. Kenapa sih, Jer?", balas Ryan.


"Lu udah di kantor belum?", tanya Jerry.


"Gue baru selesai sarapan di kantin. Ini baru aja pantat gue nih duduk di kursi kerja gue. Ada apa, Jer?", ucap Ryan.


"Gue minta lu pecat si Joanna", jawab Jerry.


"Hah? Joanna? Manajer HRD yang di Palembang?", Ryan memastikan.

__ADS_1


"Hhemmm", Jerry berdehem.


"Tapi kenapa, Jer? Kog mendadak gini?", tanya Ryan.


"Pokoknya gue gak mau tahu, lu harus pecat dia", Jerry kekeh pada pendiriannya.


"Jer, coba lu tenang dulu ya. Pikirkan dengan kepala dingin. Banyak konsekuensi kalau kita memecat seseorang. Okelah kalau pesangon pasti kita kasih. Tapi dampaknya, Jer. Tanpa sebab, lu mau pecat orang. Bisa-bisa dia menaruh dendam ke elu, Jer. Bukan ke elu aja, bisa ke Perusahaan juga. Lu harus pikirkan semua", ucap Ryan.


"Sekarang gue gak mau tanya alasan kenapa lu mau pecat dia. Karena kayaknya lu masih emosi. Saran gue, lu tenangin pikiran lu dulu ya", tambah Ryan.


"Tapi...", Jerry menggantung ucapannya.


Jerry pun mendekati Yura.


"Mam, Ryan mau bicara. Sini Charlie biar Papi yang gendong", ucap Jerry sambil meletakkan handphonenya di atas meja teras yang berada di balkon.


Tanpa menjawab, Yura memberikan Charlie kepada sang suami, lalu mengambil handphone Jerry.


"Halo, Ry", ucap Yura.


"Nyonya CEO yang cantik, gue tahu Joanna pasti berulah kan", kata Ryan.

__ADS_1


"Tahu dari mana, Ry?", tanya Yura.


"Dia bikin status WA, katanya mau ke Makassar menemui pujaan hati. Yah tadinya gue gak kepikiran siapa yang dia maksud. Tapi setelah Jerry nelepon gue tadi, gue sadar kalau yang Joanna maksud itu siapa", jawab Ryan.


"Dia selingkuhan Mas Jerry kan?", tanya Yura sambil melirik Jerry.


"Bukan, Yura. Hubungan mereka hanya sebatas Bos dan karyawan. Dia Manajer HRD di Perusahaan kalian yang ada di Palembang. Dia memang sangat mengidolakan Jerry", jawab Ryan.


"Tapi Mas Jerry merespon dia kan?", tanya Yura lagi.


"Gak, Yura. Jerry malah sangat tidak menyukainya", jawab Ryan.


"Selama ini Joanna memiliki kinerja yang sangat baik. Dia tidak pernah bermasalah dalam hal pekerjaan. Makanya ketika Jerry mau memecat dia, gue agak bingung, gue bingung untuk kasih alasan secara profesional, kenapa dia dipecat", tambah Ryan.


"Mungkin nanti, pas kunjungan ke Palembang lagi, gue tegur dia deh, biar lebih menjaga sikap dan membatasi diri", tambah Ryan lagi.


"Tapi dia kan ke Makassar, liburan, ngehabisin cuti tahunan, terus tadi ngajak Mas Jerry ketemuan", ucap Yura.


"Kan Jerry bisa menolak biar mereka gak ketemu. Blokir aja nomor dia, biar gak bisa akses kontak Jerry", saran Ryan.


"Yah, terserah sahabat elu aja, Ry", balas Yura.

__ADS_1


__ADS_2