
Di Kostan Dita...
Tok..tok..tok..
"Dita, buka pintunya", panggil Charly saat mengetuk pintu kostan Dita.
"Dita...", panggil Charly lagi karena si empunya nama tidak menjawab.
"Coba aku telepon dia", batin Charly sambil mencari kontak Dita dan berniat meneleponnya.
Panggilan Charly juga tidak direspon oleh Dita.
"Kemana perginya gadis ini?", batin Charly lagi.
Tok..tok..tok..
Charly kembali mengetuk pintu..
"Dita...", panggil Charly lagi.
"Mas, ngapain kesini?", tiba-tiba suara Dita terdengar dari belakang Charly.
"Kamu dari mana aja sih, Dit?", tanya Charly yang sedikit kesal namun juga khawatir, karena takut terjadi sesuatu dengan Dita.
"Aku habis dari bengkel, Mas, servis motorku, terus sekalian beli makan siang", jawabnya sambil menunjukkan bungkusan yang dia bawa.
"Sama siapa?", selidik Charly.
"Sendirian lah, Mas, emangnya mau sama siapa lagi", jawab Dita.
__ADS_1
"Terus motor kamu mana?", tanya Charly melihat Dita pulang berjalan kaki.
"Aku tinggal di bengkel langgananku. Soalnya lagi rame banget. Daripada aku tunggu di sana, mending aku titip lah, aku bisa istirahat di rumah", jawab Dita sambil membuka kunci pintu kostan nya.
"Mas mau masuk, atau tetap di luar?", tanya Dita karena Charly masih berdiri di teras sambil menatapnya.
"Aku di teras aja", jawab Charly datar.
"Mau berdiri terus disitu? Di teras gak ada bangku loh, Mas", ucap Dita, namun Charly hanya diam sambil melihat punggung kaki Dita yang memar.
"Yaudahlah, aku masuk dulu, mau makan siang", kata Dita.
Baru saja Dita mau membalik badannya, Charly menerobos masuk ke dalam kostan Dita.
"Katanya tadi gak mau masuk, dasar lelaki aneh", gumam Dita.
"Kenapa gak kabarin aku kalau kamu jatuh dari motor?", tanya Charly yang saat ini duduk di kursi makan, di depan Dita.
"Setidaknya biar aku tahu keadaanmu. Aku hanya gak mau, pas hari pernikahan nanti luka-lukamu masih terlihat. Bisa malu aku sama teman-temanku kalau punya istri yang ternyata banyak bekas luka di tubuhnya", ucap Charly yang membuat Dita menghentikan aktivitas makannya.
"Kamu lebih memikirkan penilaian orang, kamu lebih memikirkan dirimu sendiri, tapi kamu sama sekali tidak memikirkan perasaanku, Mas", balas Dita.
"Aku yakin, kamu pasti mengetahui keadaanku dari Dave. Tapi setelah kamu tahu, kamu pun tidak langsung menanyakan keadaanku, kamu tidak ada menghubungiku", kata Dita yang kini matanya sudah berlinang butiran bening, hanya tinggal menunggu butiran itu tumpah.
"Untuk apa aku menanyakan dan memikirkanmu?! Jangan bermimpi, Dita!", ucap Charly dengan teganya.
"Jangan kamu pikir, mentang-mentang aku mau menikahimu, lantas aku tertarik denganmu. Itu tidak akan terjadi, Dita. Kamu bukan wanita idamanku. Sangat jauh dari kriteriaku. Jangan pernah berharap kamu akan aku perlakukan sebagai Nyonya Charly Brotoseno. Pernikahan ini hanya perayaan saja. Semua aku lakukan demi Almarhum mamaku. Satu-satunya wanita yang aku cintai", tambah Charly yang membuat air mata Dita tak terbendung lagi, tumpah sudah.
"Mas, aku memang hanya seorang yatim piatu. Aku hanya wanita miskin. Aku jelek, aku tidak punya apa-apa, bahkan aku tidak punya siapa-siapa. Biar kamu tahu, Mas, aku pun sebenarnya tidak mau menikah denganmu. Lelaki yang tidak punya perasaan. Aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi Nyonya Charly Brotoseno. Aku pun melakukan ini semua demi membalas budi kepada Pak Edward dan Bu Klara. Karena mereka sangat baik kepadaku", ucap Dita sambil terisak. Walaupun sebenarnya, Dita sangat mencintai Charly. Yaa, dari awal melihat Charly, wanita itu sudah menaruh hati padanya, meskipun Charly tidak pernah melihatnya.
__ADS_1
Mendengar pernyataan Dita, ada sedikit rasa perih di hati Charly. Bagaimana bisa dia melontarkan kata-kata kasar seperti itu? Entah dorongan dari mana yang membuat dia mengucapkan kata-kata yang membuat Dita berurai air mata.
"Hapus air mata kamu. Aku tidak suka dengan wanita cengeng", ucap Charly dengan suara yang melemah.
"Sekali pun aku tidak cengeng, kamu memang tidak suka denganku. Jadi untuk apa aku berhenti menangis", balas Dita yang masih terisak.
"Lanjutkan makan siangmu, setelah itu akan akan mengecek luka yang ada di lengan dan punggung kakimu", titah Charly.
"Sok perhatian", batin Dita.
"Aku sudah kenyang. Pulanglah, Mas. Aku mau istirahat", Dita berjalan ke arah washtafel untuk menaruh piring kotor. Nafsu makan Dita hilang karena Charly.
"Maafkan aku, Dita", ucap Charly yang berdiri di belakang Dita yang sedang mencuci piring.
"Apa aku tidak salah dengar?", batin Dita.
"Sudahlah, Mas. Pulanglah. Aku lelah", ucap Dita lagi.
"Biarkan aku mengobati lukamu", kata Charly yang saat ini kembali duduk di kursi makan, karena Dita juga sudah kembali duduk.
"Mas, aku mohon. Pulanglah. Setidaknya, biarkan aku menikmati kesendirianku di kostan ini selama beberapa hari ke depan, sampai aku menjadi istrimu", ucap Dita yang kini matanya kembali berlinang.
"Oke, aku akan pulang. Setelah menikah nanti, kamu ikut denganku, kita tinggal di apartemen. Oh iya, Ini obat untukmu, tadi aku sempatkan mampir ke apotek ketika menuju kesini. Jangan lupa dimakan obatnya, supaya lukamu cepat kering", Charly mengambil obat dari saku bajunya dan memberikannya kepada Dita.
"Hhmm, terimakasih", ucap Dita.
"Aku pulang ya", pamit Charly sambil mengelus pucuk kepala Dita lalu berjalan ke pintu.
"Ada angin apa dia mengelus kepalaku?", batin Dita.
__ADS_1
"Mas", panggil Dita yang membuat langkah Charly terhenti tanpa membalikkan badannya.
"Hati-hati", sambung Dita lalu dibalas anggukan oleh Charly.