Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Mengenang Masa Pengantin Baru


__ADS_3

Empat hari kemudian...


"Papi, ini kan kamar yang sama waktu kita jadi pengantin baru. Kamu inget gak, Pa, waktu itu Mami tidur disitu", ucap Yura sambil menunjuk sofa kamar hotel tempat mereka menghabiskan malam pengantin waktu itu.


Yaa, saat ini mereka sudah tiba di Bali. Mereka pun menginap di hotel dan kamar yang sama seperti saat mereka melewati malam pengantin waktu itu.


"Bagaimana kalau malam ini kita ulangi lagi saat-saat kita baru menikah, Mam? Sofa ini akan menjadi saksi perubahan sikap Papi terhadap Mami. Papi yang dulu sangat tidak mempedulikan Mami, sekarang menjadi bu-dak cinta seorang Cyntiara Jenya", ucap Jerry sambil memangku Yura duduk di sofa yang Yura tunjuk tadi.


"Maksud Papi, malam ini Mami tidur di sofa ini lagi dan Papi tidur di ranjang, kayak waktu itu?", tanya Yura seperti ingin melayangkan protes.


"Bukan begitu, Sayang. Jika malam itu sofa ini menjadi saksi air mata Mami, maka malam ini sofa ini juga akan menjadi saksi kebahagiaan Mami. Kita akan menghabiskan malam di sofa ini, Sayang", jawab Jerry sambil memeluk perut istrinya yang sedang duduk di pangkuannya.


"Jadi malam ini kita tidur di sofa?", tanya Yura lagi.


"iihh, bukan loh, Mam. Kita akan bercinta di sofa ini. Setelah puas, kita akan pindah ke ranjang", jawab Jerry sambil berbisik.


"Dasar, Papi mes-um. Pikirannya kesana terus", Yura mencubit paha suaminya.


"Aduh, Mam, sakit. Tapi Mami juga suka kan?", goda Jerry sambil mere-m*as dada sang istri.


"Tapi gak sekarang kan, Pa? Masih siang ini loh. Kita jalan-jalan dulu yok. Mami pengen banget beli baju Joger Jelek", pinta Yura.


"Kalau Mami mau jalan-jalan, ayok, kita pergi sekarang. Kalau Papi sih maunya habisin waktu di kamar hotel seharian sama Mami. Hehehe", ucap Jerry yang membuat Yura kembali mencubit paha Jerry.


Akhirnya kedua sejoli yang selalu dima-buk cinta itu pun mengitari kota Bali. Dan tidak lupa untuk mampir membeli baju Joger Jelek khas Bali. Malam harinya, setelah mereka makan malam di sekitar Pantai Kuta, Jerry dan Yura kembali ke hotel. Mereka berdua mandi bersama, saling membersihkan diri satu sama lain, bahkan bath up dan shower pun ikut menjadi saksi cinta mereka berdua. Setelah puas dari kamar mandi, mereka melanjutkan aktivitas malamnya di sofa. Sofa yang dulu menjadi saksi air mata Yura, malam ini menjadi saksi kebahagiaan Yura. Desah*n halus terdengar dari keduanya, memenuhi kamar Presidential Suite Room tersebut.


"Mam, Papi masih mau nambah, kita lanjut di ranjang ya", ajak Jerry yang sudah sangat kecanduan dengan pelayanan sang istri.

__ADS_1


"Mami ikuti apa maunya Papi", bisik Yura.


Mereka pun berpindah ke ranjang, dan melanjutkan kegiatan penuh gairah itu.


"Terimakasih, Sayang. Akhirnya kita melakukan apa yang waktu itu seharusnya kita lakukan di kamar ini. Papi sangat mencintai kamu, Mam", bisik Jerry yang kini berbaring di samping Yura, masih dengan tubuh yang polos.


"Sama-sama, Papi. Mami juga sangat mencintai Papi", ucap Yura lalu memeluk suaminya.


Keesokan harinya...


"Papi, bangun, kita sarapan yokk", Yura membangunkan Jerry.


"Hei, Mam, kamu sudah mandi?", tanya Jerry ketika membuka matanya, dan melihat Yura mengenakan handuk di kepalanya.


"Udah donk, gak nyium apa kalau Mami udah wangi? Rambut Mami juga masih dibungkus handuk", jawab Yura sambil menggunakan lotion ke tangannya.


"Yakin mau sarapan kayak gitu? Mandi dulu donk, Pa", titah Yura, karena memang saat ini Jerry tidak mengenakan sehelai benang pun. Karena semalam, sehabis bertempur, saat tidur, tubuh mereka hanya ditutupi oleh bed cover. Hahaha.


"Mandiin", rengek Jerry yang membuat Yura tertawa.


"Papi, gak malu sama Charlie?", ledek Yura sambil mengelus perutnya.


"Nak, Maminya gak mau mandiin Papi nih", ucap Jerry setelah mencium perut Yura, seolah dia sedang mengadu kepada anaknya.


"Papi, kalau Papi gak mandi, Mami sarapan sendiri nih ke bawah", Yura seperti memberi ultimatum.


"Iya deh iya. Papi mandi", jawab Jerry sambil memanyunkan bibirnya dan berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, Jerry sudah kembali segar dan harum, dia pun memakai pakaian casual yang membuat aura tampannya semakin keluar.


"Gantengnya, suami aku. Awas ya kalau matanya jelalatan. Disini kan banyak bule seksi", ucap Yura.


"Itung-itung dapet durian runtuh, Mam, kalau bisa melihat bule seksi secara bebas. Hahaha", ucap Jerry yang membuat Yura menggelitiki perutnya.


"Aduh, Mam, ampun. Papi bercanda", balas Jerry.


"Papi gak mungkin ngelirik wanita lain, Mam. Karena istriku lebih cantik dari wanita manapun", gombal Jerry.


"Awas ya, kalau Papi berani macam-macam", ultimatum Yura dengan wajah cemberutnya.


"Gak, Sayang. Papi akan jadi anak yang baik, yang selalu mengikuti Maminya kemana pun", jawab Jerry yang membuat Yura tersenyum.


"Nah gitu donk, senyum. Kan semakin cantik. Yaudah, yok kita sarapan", ajak Jerry.


Sesampainya di restoran hotel..


"Pa, bukannya waktu itu kita juga sarapan di kursi ini? Posisi duduk kita juga sama", kenang Yura.


"Iya juga ya, Mam. Bisa kebetulan gini ya. Padahal Papi tidak ada memesan kursi khusus untuk sarapan pagi kita loh", ucap Jerry.


"Sepertinya kita memang diminta untuk mengenang masa pengantin baru kita, Mam", tambah Jerry sambil menggenggam tangan istrinya.


"Iya, Pa. Oh iya, habis sarapan, kita ke Tanah Lot yok, Pa", ajak Yura.


"Dengan senang hati, Sayang", jawab Jerry lalu mencium tangan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2