Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Hari Pernikahan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju salon, suasana di dalam mobil Charly sangat hening. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua.


"Lebih baik aku diam saja, dari pada kata-kataku kembali menyakiti dirinya", batin Charly sambil fokus menyetir mobil.


Lima belas menit kemudian...


"Mas, aku turun ya. Maaf sudah merepotkan", ucap Dita ketika mereka sudah sampai di salon yang dituju.


"Aku akan menunggumu sampai selesai", jawab Charly dengan pandangan ke depan tanpa menoleh ke arah Dita yang berada di sampingnya.


"Kamu pasti bosan menunggu selama tiga jam, Mas. Lebih baik kamu pulang. Besok adalah hari pernikahan kita. Kamu harus menjaga kesehatanmu, supaya besok terlihat segar di depan keluarga dan teman-temanmu", balas Dita yang masih duduk di mobil, di sebelah Charly.


"Tidak, aku akan tetap disini", ucap Charly kekeuh.


"Kenapa kamu mau menungguku? Apa kamu mulai menyukaiku?", Dita meledek Charly yang membuat Charly mengernyitkan dahinya.


"Jangan terlalu pede kamu, Dita. Aku hanya tidak mau kalau kamu kabur dan menghilang lagi. Besok adalah hari yang sangat dinantikan kedua orangtuaku. Aku tidak mau keluargaku menanggung malu hanya karena pernikahanku batal gara-gara kamu kabur. Itu saja. Jadi kamu jangan terbawa perasaan", ucap Charly dengan dingin.


"Aduh, bicara apa aku ini?", batin Charly, lalu dia reflek menutup matanya.


"Kamu tenang saja, Mas. Aku tidak akan menghilang lagi. Aku akan tetap menikah denganmu. Aku pun ingat, bahwa mulai besok, aku akan menjadi istrimu, dan mulai besok pula perjanjian aneh itu akan dimulai. Jadi sekarang lebih baik kamu pulang", jawab Dita sambil membuka pintu mobil dan akan turun tapi Dita kembali menutup pintu mobil itu karena merasa masih ada yang harus dia katakan.


"Oh iya, satu lagi, jangan kamu pikir aku terbawa perasaan kepadamu. Karena aku pun tidak menyukaimu. Aku tidak mungkin menaruh perasaanku kepada lelaki yang tidak berperasaan seperti kamu, Mas. Aku akan menunggu waktu, dimana kamu mau berpisah denganku, sesuai perjanjian aneh yang sudah kamu buat, agar aku bisa menemukan lelaki yang tepat yang mau menerimaku, menyayangiku, dan memperlakukanku layaknya seorang wanita yang dicintai. Kamu harus tahu, Mas, sebenarnya aku sangat berat dengan pernikahan ini. Karena aku harus tinggal dengan lelaki yang akan disebut sebagai suamiku, tapi tidak akan mengubah statusku menjadi istri yang sesungguhnya. Bahkan, tidak akan ada percakapan di dalam rumah tanggaku nanti. Sesuai dengan perjanjian itu, Mas", Dita memborong pembicaraan mereka. Sesungguhnya hatinya sangat sakit mengatakan semua ini, karena dia sangat mencintai Charly. Saat ini Dita sedang berusaha agar perasaan itu bisa hilang, karena sampai kapan pun Charly tidak akan membalas perasaan Dita.


Benarkah begitu?


"Ya, semua yang sudah tertulis dalam surat perjanjian itu akan terlaksana. Sekarang kamu turunlah. Tiga jam lagi aku akan datang menjemputmu. Jangan pulang sebelum aku datang. Nanti malam juga kita harus ke Gereja, bertemu dengan Pendeta", titah Charly.


"Terserah kamu saja, Mas. Bukan aku yang meminta", ucap Dita, lalu dia benar-benar turun dari mobil dan masuk ke dalam salon.


Tiga jam kemudian ketika Charly sudah kembali ke salon untuk menjemput Dita.


Kring.. Kring..


"Selamat siang, Mas Charly, saya dari tim WO, saya mau menginformasikan, Mas, mulai malam ini Mbak Dita mulai menginap di Hotel D ya. Supaya besok subuh bisa langsung di make up", ucap seorang lelaki dari ujung telepon.

__ADS_1


"Apakah Dita akan menginap di kamar pengantin malam ini?", tanya Charly.


"Oh, bukan, Mas Charly. Kamar pengantin malam ini akan kami hias. Malam ini Mbak Dita menginap di kamar lain, yang akan dipakai untuk mendandaninya. Jadi kamar pengantin Mas Charly dan Mbak Dita besok malam baru akan ditempati", jawab lelaki tersebut.


"Baiklah kalau begitu, nanti malam saya akan antar Dita ke hotel D", balas Charly.


Yaa, jasa WO yang mereka gunakan memang tidak diragukan lagi. Semua urusan untuk hari pernikahan, tim WO yang siapkan. Mulai dari urusan catatan sipil, sewa hotel, kamar pengantin, mobil pengantin, supir mobil pengantin, luluran, meni pedi, make up pengantin, dekorasi gereja dan gedung resepsi, rangkaian acara resepsi, konsumsi, bahkan souvenir pun mereka yang menangani. Kecuali baju pengantin yang memang Dita sendiri yang memilih butik dan desainernya. Tapi dari semua paket lengkap yang diberikan pihak WO, ada satu yang kurang, yaitu foto prewedding. Bukan karena tidak ada di dalam paket, tapi karena memang Charly yang tidak mau melakukan sesi foto prewedding.


Sudah dapat dipastikan bahwa Charly mengeluarkan cukup banyak biaya untuk menggunakan jasa WO yang satu ini, WO yang sudah sangat terkenal di kota tempat mereka tinggal.


"Dita, aku sudah diluar. Kalau sudah selesai, ayo aku antar kamu pulang. Kita ke kostan mu untuk ambil pakaianmu selama dua malam. Karena mulai malam ini kamu menginap di hotel D. Tadi pihak WO menghubungi aku", ucap Charly dari ujung telepon.


"Oke, Mas. Aku keluar sekarang", jawab Dita lalu mematikan sambungan teleponnya.


Keesokan harinya di hari pernikahan, semua mata terpana melihat kecantikan Dita. Gadis itu disulap menjadi barbie. Sangat cantik. Tidak terkecuali Charly yang tidak berhenti melirik Dita dari saat mereka di dalam mobil pengantin tadi.


"Papi, istrinya Dokter Charly cantik banget", bisik Yura kepada Jerry.


"Mam, lihat deh", Jerry mengaktifkan kamera depan yang ada di handphone nya.


"Foto berdua donk, Pa. Masa' Mami aja yang difoto. Papi juga ganteng banget kog", ucap Yura. Kemudian Jerry dan Yura melakukan selfie menggunakan handphone Jerry.


"Bagaimana kalau kita bulan madu, Mam", ajak Jerry dengan berbisik.


"Dokter Charly yang menikah, kenapa kita yang bulan madu, Pa?", tanya Yura.


"Papi mau memperbaiki masa bulan madu kita yang dulu gak ada indah-indahnya, Mam. Papi ingin sekali menikmati suasana bulan madu yang romantis", jawab Charly.


"iihh, dulu kan Papi yang buat suasana jadi kelam. Gara-gara Papi benci sama Mami", ucap Yura sambil mencubit paha suaminya.


"Maafin Papi ya, Mam. Pokoknya minggu depan kita ke Bali ya. Sebelum Charlie lahir, Papi ingin berbulan madu dengan Mami", ucap Jerry sambil mengelus perut Yura.


"Kalau itu mau Papi, Mami ikut aja", jawab Yura dengan berbisik.


"Makasih ya, Sayang", ucap Jerry lalu mencium tangan Yura.

__ADS_1


Albert, yang merupakan sepupuh Charly, yang tidak lain adalah sahabat dan cinta pertama Yura, yang ternyata duduk dua bangku di belakang Jerry dan Yura, dari tadi tersenyum memperhatikan cinta pertamanya tersebut.


"Kamu semakin cantik, Yur. Aku berharap kamu selalu bahagia", batin Albert.


"Kamu kenapa senyum-senyum, Al?", tanya Frans yang duduk di samping Albert.


"Lihat tuh, Bang, Jerry dan Yura, mereka barusan selfie. Narsis juga ternyata si Jerry itu", bisik Albert sambil menunjuk ke arah Jerry dan Yura, yang membuat Frans terkekeh.


"Jangan cemburu ya, Al. Yura sudah jadi istri orang", ledek Frans.


"Aman, Bang. Aku lagi mencoba menata hati nih", balas Albert yang membuat Frans menepuk lengan kiri Albert.


"Makanya cari pacar, biar bisa dinikahin. Jangan lihatin istri orang terus", Frans kembali meledek Albert.


"Bang Frans juga donk. Kalau Abang sudah dapat pengganti Mbak Vicha, aku akan mencari pendamping. Beneran ini mah", bisik Albert yang membuat keduanya tertawa kecil.


"Keduanya sudah sah menjadi suami istri, apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, tidak dapat diceraikan oleh manusia, kecuali maut yang memisahkan", demikian yang diucapkan Pendeta yang memberkati Charly dan Dita.


"Mempelai laki-laki dipersilakan mencium kening mempelai wanita sambil menggenggam erat tangan sang istri", ucap Pendeta.


Semua jemaat berdiri, tepuk tangan terdengar di dalam gereja ketika Charly mencium kening Dita. Keduanya saling menggenggam erat dan berpandangan. Tampak senyum tulus terpancar dari wajah Charly ketika memandang Dita, dan Dita pun membalas senyuman itu.


"Kamu terlalu cantik, Dita", batin Charly.


"Seandainya kamu selalu tersenyum begini kepadaku, Mas", batin Dita.


Semua pasti mengira bahwa mereka adalah pasangan yang saling mencintai. Tidak terkecuali Pak Edward dan Dave, yang sesekali menyeka air mata mereka karena terharu dan bahagia. Akhirnya Charly menikah dengan Dita.


"Mama, anak kamu sudah menikah dengan wanita pilihanmu", batin Pak Edward dengan raut wajah yang terus tersenyum.


"Mam, akhirnya Mas Charly menikah dengan Mbak Dita. Semoga Mama melihat dari Surga Sana ya", batin Dave lalu dia kembali menyeka air matanya.


Di bangku nomor tiga dari belakang, tampak seorang lelaki muda dan tampan tersenyum tipis sambil bertepuk tangan bersama jemaat yang lain. Dia adalah Reza, sahabat baik Dave yang juga hadir di hari pernikahan Charly dan Dita, karena Dave yang mengundangnya.


"Dita, sejujurnya aku sangat patah hati, karena aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Awalnya aku kira, aku bisa memilikimu. Tapi ternyata hari ini kamu sudah menjadi istri orang lain. Aku berdoa untuk kebahagiaanmu. Semoga Mas Charly tidak menyakitimu lagi, Dit", batin Reza lalu dia menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengatur emosinya.

__ADS_1


__ADS_2